“Well, kalau Astrid
berdialektika karena kecintaannya dengan alam, maka aku berdialektika
karena..hmm..apa..ya, namanya, budaya, mungkin, atau..gaya hidup dan sistem
sosial dan kehidupan manusia”, Dinta memulai, Astrid tampak tertarik dengan
cerita Dinta,
“Maksudnya gimana, tuh Dinta?”
“Seperti yang kalian sudah pada
tau, aku memang sering ke Amerika, kadang menghabiskan liburan disana dengan
orangtuaku. Akupun juga punya teman-teman di Amerika, kalian kan sudah lihat
foto-fotoku dulu di akun sosmedku”, Dinta melanjutkan ceritanya, ia masih
menyetir dengan santai di jalan tol, sementara sahabat-sahabatnya menyimak
ceritanya
“Dulu, aku suka dengan gaya hidup American
sytle yang bebas, terutama bebas berekspresi, itulah makanya dulu aku tidak
ragu memposting foto-fotoku dengan sexy dresses di sosial media”, Dinta
menghela nafas pelan, tapi Rima menyela,
“Tapi kamu kelihatan anggun dan
keren dengan semua busana sexy itu lho, Dinta”
“Iya, foto-foto kamu di acara-acara
pesta dengan dress, udah kayak artis aja”, Astrid ikut menimpali, “dan, nggak
keliatan porno kok, cuma seperti cewek-cewek pada umumnya aja, yang suka pake sexydress”
“Itulah makanya aku bingung, kenapa
orang Indonesia suka menjustifikasi orang lain dari penampilan luarnya aja”,
sahut Dinta, “Well, American style yang bebas disini maksudku
bukan bebas tanpa aturan sama sekali. Kalian kan tau, Amerika Serikat sering
mengklaim dirinya sebagai masyarakat dunia bebas, dimana setiap orang bebas
untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai budayanya, value dirinya
masing-masing”
“Ya..ya, betul, dan mereka bangga
dengan itu”, jawab Rima
“Ya, kalau dibilang, bebas dari
nilai-nilai atau aturan Islami bagi yang muslim, iya, dan memang lebih bebas
daripada nilai-nilai budaya masyarakat Timur”, sambung Dinta, “dan aku terbiasa
hidup dengan cara seperti itu, dimana setiap orang bisa bebas berpikir, memilih
dan menentukan, akan menjadi seperti apa dirinya, bahkan soal penampilan, kalau
untuk perempuan, sebab perempuan lebih banyak memperhatikan penampilan
dibanding laki-laki”, Dinta mulai menceritakan asal-mula perjalanan
pemikirannya hingga ia memutuskan untuk berhijab, Dinta melirik ke arah Rima,
Astrid dan teman-temannya yang lain melalui kaca spion. Tampak mereka semua
mulai menyimak cerita Dinta
“Yah, kalau kita nemuin temen-temen
dan komunitas yang asyik, ya di Amrik memang asyik”, lanjut Dinta, “tapi
sebenernya dimana-mana juga gitu, kan. Sama aja di Indonesia, juga gitu”, dia
menjeda sebentar karena Astrid dan Rima, dua sahabatnya itu tertawa dan
membenarkan pernyataannya
“Dan kalau orang-orang pikir,
masyarakat Amerika itu lebih egaliter, lebih open-minded, lebih punya
empati dan menghargai perbedaan…enggak juga”, sambung Dinta, “itu semua
tergantung orang-orang dan komunitasnya..,sama aja seperti di Indonesia”,Dinta
masih melanjutkan ceritanya, “pokoknya, kalau soal circle-circle gitu,
sama aja kok, seperti di Indonesia, walaupun memang ada macam-macam agama dan
budaya yang tidak dikenal di Indonesia, karena di Indoensia tidak semua diakui
sebagai agama resmi di Indonesia, tapi di Amrik, tetap ada namanya kalangan
jet-set dengan gaya hidup mereka yang
super glamour dan mewah, ada kaum bangsawan juga, komunitas artis, masyarakat
kaum menengah dan, juga ada masyarakat miskin dan gelandangan”, Dinta
memaparkan sambil melirik teman-temannya yang tampak semakin asyik mendengar
penjelasannya,maka ia melanjutkan, “malah orang Amerika tuh banyak juga yang
lebih rasis daripada masyarakat manapun di dunia ini.., dan mereka juga
membentuk impian-impian semacam American Dream, dimana kebanyakan kaum muda
dan masyarakat bermimpi menggapai American Dream itu..sama aja lah, dan
kurang lebih di Indonesia”
“Nah, jadi dengan semua penjelasan
lo yang panjang ini..kita diajak merenung dulu sebelum kamu to the point soal kenapa kamu berhijab?”, tanya Rima sambil
senyum kepada Dinta, Astrid manggut-manggut dengan menatap Dinta sambil masih
mikir
“Ya iya, karena menggunakan hijab
buat aku itu dengan mikir, mempertimbangkan dan memutuskan, consider and
decide, gitu. Nggak cuma ikut-ikut seperti kebanyakan orang, atau disuruh
keluarga. Aku emang bener-bener pake mikir”, jawab Dinta serius
“Hmmm..ya sama aja kan, aku juga
pake mikir”, celetuk Astrid, membuat Dinta tertawa, Astrid dan Rima jadi
tertawa, Ira, Erin dan Vita sama-sama ikut tertawa
Tapi Dinta kemudian melanjutkan
lagi, “dan dari dulu sampai sekarang, aku bukan orang yang, memandang rendah,
orang-orang yang menurut orang-orang muslim dan orang beriman pada umumnya, itu
pendosa atau hobi melakukan perbuatan dosa, gitu lho
“Seperti Zelda gitu, yang
ngerendahin kamu karena kamu dulu suka pake baju sexy?”, Vita tiba-tiba
nyeletuk dari duduknya di bagian belakang
“Ya, kira-kira gitu. Buat aku,
setiap orang bisa aja punya alasan masing-masing kenapa mereka melakukan yang
menurut orang lain, tampak seperti perbuatan dosa, dan siapa tahu alasan mereka
sebenarnya, dan siapa tahu ternyata dia punya kebaikan dan kelebihan lain yang
tidak kita tahu”, Dinta melanjutkan, “Dan lagian gue sebenernya bukan orang
yang hobi rempong ma urusan orang lain yang none of my concern gituuu..”,
selorohnya lagi, temen-temennya mengangguk, tanda setuju dengan pernyataannya
“Jadi kamu memutuskan untuk
berhijab, untuk bertobat dari perasaan berdosa, gituu..?”, tanya Astrid dengan
senyum nakal menggoda Dinta, membuat Dinta menengok ke arahnya dengan lirikan
sebal dan mendelik, tapi Dinta kemudian terkikik, membuat Astrid tertawa
“Jadi, aku berkesimpulan, di
Amerika, di Indonesia, dimanapun, secara garis besar lah yaa, manusia dari manapun sama aja. Kurang lebih
susunan, tatanan, dan pola gaya hidupnya sama aja. Semua manusia akan
mengharamkan pembunuhan, pencurian, penganiayaan, kekerasan,..hal-hal semacam
itu, lah”, Dinta melanjutkan lagi penjelasannya, “jadi jelas, sebenarnya nggak
pake label agama, pun, kita sebagai manusia pasti sepakat untuk hal-hal yang
dipandang baik dan buruk, benar dan salah”, Dinta menarik nafas, “begitu juga
aku. Duu, walaupun aku kelihatan tidak relijius, suka pakai baju sexy, main
sama teman-teman cowok, tapi aku, tidak berzina, mencuri, judi, atau bahkan,
walaupun aku sering di Amrik, aku nggak suka minuman beralkohol, lho. Dan untuk
makan, kalian kan tahu, aku cenderung vegetarian, mengurangi makan
daging-dagingan sebisa mungkin”
“Mengurangi..???”, Rima sedikit
berbisik, lalu dia memandang Dinta sambil tersenyum geli, “maksud kamu yang
seperti kamu makan 4 potong ayam, dan 2 cheeseburger, waktu di kafe depan
masjid Al-Barkah itu, Din?”
Astrid jadi tertawa, begitu juga
dengan Vita, sementara pipi Dinta jadi bersemu merah karena malu,
teman-temannya masih ingat dengan nafsu makannya yang sering gila-gilaan,
terutama kalau ia marah atau stress, “kan kata aku tadi..cenderung
mengurangi..jadi ya.., kan nggak selalu”, katanya membela diri, membuat
teman-temannya semakin tertawa.
Tapi Dinta meneruskan
penjelasannya, “Jadi buat aku sejujurnya, mengikuti dan taat pada syariah itu
bukan turning pont atau plot twist, yang kayak-kayak gitu”,
dilihatnya teman-temannya menyimak lagi penjelasannya, ‘karena, setelah melihat
banyak komunitas, budaya dan orang dengan berbagai ideologi, aku sadar, Islam
bukan suatu hal yang berbeda. Karena ternyata, tanpa kita berhijab dan taat
pada syariat juga, tiap budaya, komunitas dan masyarakat punya nilai atau value,
dan kode budaya serta gaya hidup masing-masing”
“Maksudnya gimana tuh?”, celetuk
Rima
“Maksud aku, misalnya soal hijab, tanpa
kita berhijab pun, sebenernya dress code itu selalu ada. Kalau soal
berpakaian yang pantas, itu kan semua paham, walaupun bukan orang yang mengaku
beragama”, Dinta langsung menjawab, “Tapi maksud aku, ini buka soal pantas
dalam berpakaian aja. Tapi, memang dress code itu selalu ada. Seperti pakai jas atau blazer itu
seperti kudu, baju resmi dan pantas yang diterima sebagai dresscode bagi
bussinessman, profesional dan para pekerja kantoran. Dulu aku memang
nggak berhijab, dan aku pikir itu adalah kebebasan, dan dulu aku melihat Islam
itu mengekang dan pakai hijab itu ribet banget”, Dinta meneruskan dengan
penjelasan-penjelasan panjangnya, “tapi ternyata, nggak pake hijab pun,
ternyata sama ribet dan juga nggak bebas amat. Bahkan seringkali lebih ribet
daripada itu”
“Mmm..,aku mulai ngerti”, Rima
menyela, “Ya memang, tiap orang, komunitas, punya dress code sendiri,
bahkan Bank dan Universitas punya ‘baju resmi’ yang doterima sebagai pantas
atau tidak pantas di lingkungannya masing-masing”, kata Rima, yang disusul oleh
Erin yang ikut menimpali,
“Ya, seperti di restoku dulu. Aku
diminta oleh outsource untuk tidak berhijab, karena tidak berhijab
adalah aturan dan dress code mereka yang harus diikuti tentang ‘busana
resmi’ di tempat kerja, artinya busana kerja yang dianggap pantas dan diterima
di lingkungan resto, itu semacam kode berbusana yang baik, dan dalam hal resto
tempatku kerja, dengan tidak berhijab, begitu kan maksudnya?”
Dinta tersenyum mendengar
penjelasan Erin, iya segera mengangguk “Ya bener,begitu. Dulu aku justru
berfikir, kenapa harus menggunakan label agama segala, padahal tanpa label
agama, aku sama saja dengan orang lain pada umumnya mengenai hal yang benar dan
salah, semisal menganggap buruk dan jahat, nggak benar meenai pembunuhan,
mencuri, penganiayaan dan kekerasan. Dan bahkan, tanpa aku sibuk dengan soal
agama, toh aku juga nggak minum-minuman beralkohol, makan babi ataupun riba dan
berjudi. Bahkan, walaupun teman dan sahabat cowok banyak, tapi aku tidak suka
pacaran dan berzina. Bukan karena aku LGBT, tapi memang waktu-waktuku dan hobi
serta kesenanganku, bukan ke arah sana, mungkin seperti Astrid, yang lebih
bersemangat, merasa asyik dan memberikan effort lebih untuk hobinya naik
gunung daripada sekedar pacaran”, Dinta menguraikan penjelasannya dengan tanpa
ragu-ragu, sambil melirik ke arah Astrid
“Ya, kamu bener, Dinta”, Astrid
yang dilirik Dinta segera menyahut, “trus, kalo
gitu, kenapa kamu malah mendalami Islam dan berhijab?”
“Nah, balik ke soal kode nilai dan value,
gaya hidup masing-masing budaya”, Dinta cepat melanjutkan penjelasannya,
“tadinya aku memang merasa cukup, dengan standar value yang aku jalani.
Toh, aku berbikini, itu cuma kalau di Amerika, dan cuma kalau lagi main ke
pantai bareng temen-temen disana, yang temen-temen cewek aku disana juga
berbikini. Dan disana, banyak pantai tempat orang-orag berjemur, perempuan
memakai bikini itu biasa. Jadi, aku hidup seperti banyak orang lain hidup. Di
sekolah, di tempat lain, aku jarang memakai busana yang terbuka, hanya
kadang-kadang, dan definisi “terlalu terbuka” itu untuk ukuran orang Indonesia,
untuk orang Amerika, tidak se-sarkas itu”, Dinta menengok sebentar ke arah
Astrid sebelum melanjutkan fokus pandangannya menyetir mobil
“Tapi”, lanjutnya, “balik lagi ke
soal tadi, ternyata, dengan gaya hidup seperti itu pun, tetap masih ada semacam
aturan tidak nyata dan dipahami semua orang, semacam standar, seperti itulah.
Makanya kemudian ada istilah circle, dengan standar mereka
masing-masing. Misalnya, tetap ada standar apa yang dikatakan perempuan cantik
dan tidak cantik, dan ternyata ukurannya, menurutku, menjelaskan bahwa
masyarakat seperti di Eropa dan Amerika masih rasis, misalnya dari soal warna
kulit, rambut, bentuk tubuh, dan lain-lain. Dan, ternyata bahkan di Jawa yang
terkenal sangat mengutamakan toto kromo untuk perempuan, di Amerika juga kayak
gitu, kok. Di Eropa juga begitu”, Dinta menghela nafas sebelum melanjutkan
penjelasannya, “Kaum bangsawan dan beberapa kelas elit, memiliki standar
tentang perempuan dengan adab-adabnya. Makanya mereka, maksudnya
perempuan-perempuannya, diajari table manner, cara menjadi perempuan yang baik
dan menarik di mata laki-laki. Dan bahkan, zaman dulu tuh, di sekolah-sekolah
khusus perempuan di Eropa, seperti di Inggris misalnya, perempuan-perempuan
sekolah di sekolah berasrama khusus perempuan dengan biaya mahal yang hanya bisa
diakses oleh orang-orang kaya dan kaum bangsawan Inggris, untuk diajari semua
hal seperti table manner itu, dan dipersiapkan untuk menikah dengan laki-laki
dari golongan bangsawan dan kelas atas atau laki-laki kaya”, Dinta melirik
Rima, yang tampak asyik menyimak, tapi Rima diam saja dan tersenyum ke arahnya,
yang maksudnya, Rima masih mendengar semua penjelasan Dinta, begitu juga dengan
teman-temannya yang lain, Vita yang duduk di bagian belakang mobil dengan Erin
juga tampak serius menyimak
“Jadi, sebenarnya sama aja, semua
orang punya standar value dan gaya hidup masing-masing, lalu apa
bedanya..??!”, Dinta melanjutkan dengan pertanyaan retoris, yang langsung
disela oleh Rima,
“Iyyaa..tapi pertanyaannya tadi,
kenapa kamu milih hijrah dan berhijaab..?”,
Astrid pun ga mau kalah, dengan nggak sabar ia
ikut menimpali, “Iyya..kenapaaa..?”
Dinta jadi terkikik, membuat
teman-temannya menghembuskan nafas
Dinta lalu melanjutkan, “karena
Islam itu justru bikin aku lebih bebas. Bebas dari standar kece dan nggak kece,
sexy, bahkan bebas dari menjaga penampilan karena validasi orang khususnya
laki-laki, bebas dari trend fashion, bebas dari keharusan bahwa kita harus
selalu bersikap sesuai aturan komunal dan berkomunal”
“Maksudnya???”, Vita menyahut
“Ya, kita nggak harus selalu bareng
sama orang. Rasulullah, para sahabat, para tabiin dan salafus saleh juga sering
menyendiri”, Dinta menjawab cepat, “hidup bermasyarakat itu memang kudu banget,
tapi tidak menafikan sikap individual, dan Islam juga menjaga hak pribadi. Dan
soal kece, aku bukan minder, tapi, aku kan nggak pernah rempong tuh soal itu,
yang rempong biasanya orang lain yang menilai penampilan kita, kece atau
enggak”, sambung Dinta, yang disela oleh Astrid
“Iya, kamu nggak jelek Dinta,
justru kamu cantik, dan kulitmu, toh, putih, bahkan putihnya sama seperti bule”
“Makasih Astrid,aku juga suka
dengan kulit coklatmu, bahkan kadang membayangkan gimana kalau sekali-sekali
aku punya kulit coklat seperti kamu”, Dinta menjawab sambil tersenyum manis
pada Astrid sebelum melanjutkan penjelasannya, “Iya, tapi aku dibesarkan tidak
dengan merepotkan soal penampilan belaka, apalagi penampilan fisik dan
merendahkan orang lain karena fisiknya. Nah, sewaktu aku hijrah, aku suka
banget, di dalam Islam, seseorang itu tidak dinilai dari apapun, tapi Allah
melihat hati seorang hamba”, Dinta tersenyum lagi pada Astrid yang menyela,
“makasih Dinta, emang kulit coklat gue ini karunia keren yang kudu disyukuri”,
sambil terkikik
“Kalau dinamakan bebas, ya harus
bebas, tidak sesuai dengan standar aturan tertentu. Artinya bebas kudu dua
sisi. Kalau orang berfikir bebas untuk berbaju terbuka, maka orang juga bebas
untuk berbaju tertutup. Jadi bebas itu, bener-bener bebas, mau milih berbaju
terbuka atau tertutup. Itu namanya bebas. Kalau bebas diartikan, bahwa tertutup
tidak bebas, yang bebas artinya yang milih berbaju terbuka, itu namanya nggak
bebas. Yang namanya bebas itu kan, bebas tanpa aturan. Jadi harus balance,
bebas terbuka atau tertutup”, Dinta menjeda,lalu melanjutkan, “Itu soal simple
penampilan, ya. Tapi dalam semua hal, ketika kita memilih Islam menjadi gaya,
jalan hidup kita, dibanding yang lain, itu juga ekspresi kebebasan. Jadi kita
bebas, mau milih makan babi atau tidak, mau milih minum beralkohol atau tidak.
Itu namanya bebas. Misalnya kita dikasi jus atau bir. Bukan berarti kalau kita
minum bir, kita langsung jadi mahluk yang bebas, tapi memilih jus juga bebas,
karena itu ada diantara dua pilihan, bukannya dengan dua pilihan, jus tiba-tiba
menjadi aturan dan bir tiba-tiba menjadi pilihan bebas, sementara keduanya
disajikan sebagai pilihan”
“Hmm…analisa yang menarik dari
pemikiranmu dalam memutuskan berhijab,nak”, Rima menyahut dengan gaya pura-pura
mengelus jenggot dan sok orangtua bijak, “tapi, kamu nggak merasa ribet, dengan
berhijab, kalau cuma ke warung, pakai celana pendek dan kaos aja, kan beres?”
“Pertanyaan menarik”, jawab Dinta
cepat, “Dan karena aku biasa di Amerika, dan sudah sering mengalami musim
dingin disana, dan setelah aku pelajari sejarah masa lalu, jilbab tuh, seperti coat
atau mantel, gitu, lho. Kita dalemnya, pakai celana pendek dan kaos, kalau
keluar tinggal ditutup mantel, dan mantel panjang menutupi kepala itu biasa
buat orang-orang zaman dulu, laki-laki dan perempuan di di negara-negara yang
iklimnya dingin, bahkan sampai sekarang”
“Ya, tapi kamu sekarang tinggal di
Indonesia dengan iklim tropis yang panasnya seringkali luar biasa, sumuk!”,
sela Rima, yang disusul tertawa Dinta dan Astrid soal sumuk
“Nah, ini dia yang aku mau cerita”,
sambung Dinta, “tentu aja, setelah berfikir seperti itu, aku nggak langsung
berhijab, tapi aku butuh keyakinan, dong. Maka, aku mulai ikut kajian Islam di
masjid Al-Barkah, dan sewaktu ada tawaran Umroh, aku minta orangtuaku dan Kak
Cinta untuk umroh, dan alhamdulillah, walaupun kaget dengan permintaanku untuk
Umroh bareng tiba-tiba, tapi orangtuaku mau menuruti permintaanku”
“Dasar orang kaya!”, celetuk
Astrid, yang membuat Rima, Vita, Erin dan Ira terkikik, Dinta jadi tertawa
dengan selorohan Astrid
“Alhamdulillah,Astrid,
setelah uang ortu aku buang-buang buat liburan ke Amerika, main ke pantai nggak
jelas denga temen-temen bule disana, akhirnya, aku bisa bikin satu keluarga dan
uang ortu kepake buat Umroh”, Dinta menjawab santai, sambil tersenyum bijak pada Astrid dan
Rima
“Oh, jadi Dinta merasa berdosa juga
dengan soal itu”, celetuk Rima sambil terkikik dan mengedipkan mata menggoda
Dinta
“Iyaa..”, jawab Dinta cepat tapi
sambil tersenyum bijak dan tertawa dengan ledekan Rima, ia kemudian
melanjutkan,
“Di Medinah dan Mekkah, aku justru
menemukan, bahwa, kalau Amerika bilang mereka open buat semua orang dari jenis
ras, bangsa, warna kulit apapun, itu nonsense. Mereka masih tetap ada
rasis-nya. Bahkan sejarah mereka dulu ada Klux- Klux Klan. Tapi di Madinah dan
Mekkah, semua ras, bangsa, warna kulit, bahasa, budaya, jadi satu, menghargai
perbedaan semua jenis manusia dan unite dalam satu hal : iman”
“Oooh..jadi mulai dari situ ya,
Dinta memutuskan berhijab?”, celetuk Astrid
“Ya. Dan aku juga jadi sadar,
dengan kondisi alam Mekkah dan Medinah yang gersang, bukan cuma padang pasir,
tapi padang batu yang panas, perjuangan Rasulullah pastilah sangat serius”,
lanjutnya,”Cuma orang gila atau orang yang memang punya misi dan amanah khusus
yang harus banget dijalananin, yang mau disiksa untuk jalanin amanah itu. Dan
rumahnya Rasul ituu..ya Allah, sampai nangis liatnya. Kalau tujuan Rasulullah kenyamanan
dunia, ketika Islam sudah jaya, kok tidak tampak kenyamanan dalam gaya
hidupnya”, lanjut Dinta lagi, “sementara kita, di Indonesia yang subur dan ga
sepanas di Medinah dan Mekkah, baru panas dikit aja, kayak udah males keluar
rumah n males mau ngapa-ngapain,..udah gitu bawaannya cepet emosi. Kok bisa ya,
Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalaam sesabar itu??”, sambil menyetir, Dinta
jadi merenung sendiri, teringat dengan perjalanan Umrohnya
“Dan di depan Ka’bah, sewaktu
berdoa, aku jadi ingat dengan satu ayat dari surat Az-Zumar, bahwa Allah
mengampuni dosa-dosa hambaNya yang melampaui batas. Dan hadits-hadits Rasul
bahwa rahmat dan kasih sayang Allah itu lebih luas dari murkaNya”, Dinta mengakhiri
penjelasannya, dia jadi terdiam, ingatannya yang kembali pada saat umroh,
membuat dia jadi haru, mengingat semua kesadarannya tentang keberagamaannya, “Aku
jadi bermuhasabah dengan diriku dan berdialektika dengan pemikiranku mengenai
standar hidup dan pilihan gaya hidup, aku bertekad, pulang Umroh akan lebih
rajin kajian di Masjid Al-Barkah, lebih rajin mempelajari Islam, taat kepada
Allah dan Rasul-Nya..dan…berhijab”
“Akhir yang cukup mengharukan dan
simple, dengan perjalanan pemikiran yang panjang”, simpul Rima, “tapi keren,
karena kamu berhijrah bukan untuk menjadikan agama sebagai tameng ataupun
pembenaran”
“Alhamdulillah, Rima”, jawab Dinta
singkat
“Iya betul”, Astrid nyeletuk,
“banyak orang menjadikan agama sebagai tameng dan pembenaran, lalu sok suci,
dan kemudian seenaknya menjustifikasi orang lain, dan bersikap seenak-enaknya
mengatur orang lain agar sesuai dengan keberagamaan mereka. Seakan-akan kita
beragama disuruh untuk terus mengejar standar mereka, seperti kuda yang terus
dilecut dan dipaksa berlari, kayaknya masih kurang melulu”
“Ya, tapi orang yang tidak beragama
atau mengklaim dirinya ‘biasa saja’, juga bisa sarkatis, dengan menjustifikasi
orang yang beragama, kok beragama masih marah-marah, masih sering kesal, masih
ini dan itu, seakan-akan kalau kita mau bertaubat, taat, kita harus jadi orang
suci, yang malaikat aja kalah, kudu nggak punya emosi, nggak punya rasa marah,
harus lembut selembut-lembutnya, pokoknya bener-bener orang suci”, jawab Dinta
lagi
“Ya, tapi dalam Islam, Rasulullah
Shalallahu Alayhi Wassalam menyuruh kita untuk lebih banyak musahabah, ke diri
kita sendiri, daripada rempong ngurusin, membanding-bandingkan, menilai dan
menjustifikasi orang lain. Bahkan dalam Al-Qur’an Allah berfirman, tidak ada
paksaan dalam beragama, dan Rasul menyuruh kita untuk berlaku adil dan bergaul
dengan baik dengan orang-orang yang tidak seagama”, Rima menjawab semua
pernyataan temannya yang tersirat keresahan didalamnya
“Ya bener, Rima. Itu lah yang bikin
aku yakin untuk berhijab”, lanjut Dinta, “karena dalam Islam kita bukan disuruh
tunduk dengan fanatik, tapi Islam menyediakan ruang bebas untuk berfikir,
bahkan Rasulullah sangat menyuruh umatnya untuk rajin belajar, banyakin
wawasan, biar nggak kuper, kudet dan bodoh”
“Hmmm..penjelasan kalian semua
menarik. Aku nggak pernah ngerasa rugi, deh kumpul-kumpul sama kalian bertiga”,
Vita nyeletuk tiba-tiba, Erin dan Ira menimpali, “Iya, bener”, lalu mereka
bertiga tertawa bareng, terkejut dengan kekompakan mereka menjawab Dinta. Rima,
Astrid dan Dinta ikut tertawa, dan kompak mengatakan, “Alhamdulillah”
******************************************************************
Tidak terasa, mereka pun sudah
sampai di rumah Astrid. Astrid mengajak Dinta dan sahabat-sahabatnya untuk
turun sebentar, dan berkenalan dengan keluarganya. Dinta oke saja, apalagi
bawaan Astrid cukup banyak, jadi memang perlu dibantu untuk membawa barang
masuk ke dalam rumah. Ira ikut turun dan pamit pada Dinta, Rima, Vita dan Erin.
Dia hanya membawa ransel dan mau segera pulang, supaya tidak kemalaman sampai
rumahnya. Astrid memberikan peluk perpisahan dan janji kepada Ira untuk main ke
MIPA sebelum mereka berpisah dan Ira menuju stasiun untuk pulang.
“Lagi kutuan, ya??”, tanya Bang
Dino, sewaktu membukakan pintu untuk adiknya Astrid, sambil memandang Astrid
dengan binar mata jahil
“Wek, enak ajaa!!”, balas Astrid
sambil menjulurkan lidahnya pada kakaknya, lalu dengan cueknya ia melihat ke
arah dalam rumahnya, melepas sepatunya dan berteriak agak keras,
“Assalamualaikuum..!!”
“Waalaikumsalaam..!!”, beberapa
orang menjawab dari dalam
Rima, Dinta, Erin dan Vita ikut
mengucapkan salam dan mengangguk memberi salam dengan sopan kepada Bang Dino,
Bang Dino menjawab salam sahabat-sahabat Astrid dengan sopan pula, ia kemudian
memandang Astrid,
“Trus, tu ngapain kepala
dikerudungin??”, tanya Bang Dino lagi, memandang adiknya dengan sok bossy
“Ini berhijab!! Astrdi sekarang
berhijab! Wek!!!”, jawab Astrid lagi, sambil menjulurkan lidahnya lagi, meledek
dan mendelik ke Abangnya, tapi Abangnya malah tertawa,
“Hahahaha…sejak kapann..??? Kemaren
juga ke Kerinci pake celana tigaperempat!!”, Abangnya tertawa dengan wajah
setengah tak percaya
“Ih,Iyaa..Astrid sekarang berhijab!
sejak turun gunung”, jawab Astrid sambil mendelik lagi ke Abangnya, lalu
memanggil Ibunya, “Bundaaa…”
Seorang perempuan paruh baya,
diikuti dengan dua orang gadis remaja yang lebih kecil dan lebih muda dari
Astrid keluar
“Astrid! Kok malem banget pulangnya,
padahal Bunda udah siapin makan malam buat kamu, takut kamu kelaperan abis dari
jalan jauh”, Bunda Astrid muncul. Rima, Dinta, Erin dan Vita segera salim
kepada Bundanya Astrid
“Bunda, ini sahabat- sahabat
Astrid”, kata Astrid mengenalkan sahabat-sahabatnya pada Ibunya, “Ini Rima dan
ini Dinta, yang sering Astrid ceritain ke Bunda”, Astrid mengenalkan Rima dan
Dinta kepada Ibunya. Ibu Astrid tersenyum ramah yang dibalas senyum ramah pula
oleh Rima dan Dinta
“Bun, Astrid berhijab lho, sejak
turun gunung”, celetuk Bang Dino, “kutuan tuh kayaknya”, sambung Dino lagi,
masih tetap dengan kejahilannya yang sama
“Enak aja!!!”, Astrid mendelik lagi
pada Abangnya, yang membuat Abangnya tertawa lagi, “Ya udaah…, bukan kutuan,
tapi abis latian militer dengan GAM dan Al-Qaeda”, candanya lagi, sambil
tertawa
“Terserah lo aja deh! Wek!!”, jawab
Astrid cuek, ia ikut masuk dengan Ibunya, diikuti dua anak perempuan yang lebih
kecil dan lebh muda dari Astrid itu.
Rupanya kedua anak perempuan itu
adalah adik-adik Astrid, yang juga diperkenalkan Astrid kepada
sahabat-sahabatnya. Yang paling kecil namanya Geva, masih kelas 2 SMP, yang
satunya lagi namanya Asti, kelas 1 SMA. Astrid sebenarnya merupakan keluarga
besar. DIa anak kelima dari tujuh bersaudara. Asti dan Geva adalah anak ke enam
dan ke tujuh. Bang Dino anak keempat, dan masih mahasiswa tingkat akhir. Kakak
Astrid yang tiga lagi sudah bekerja semua. Kakak pertama dan kedua sudah
menikah, mempunyai anak-anak dan rumah sendiri, jadi tidak tinggal di rumah itu
lagi dengan orangtua dan keluarga. Kakak Astrid semua laki-laki, yang perempuan
hanya Astrid, Asti dan Geva. Kakak ketiga sudah bekerja tapi masih tinggal
dengan orangtua dan keluarga.
“Yuk, masuk dulu”, ajak Ibunya
Astrid, “Tante sudah bikinkan bubur kacang ijo ketan item, bolen keju dan
brownies, untuk syukuran kecil-kecilan kepulangan Astrid”, Ibunya Astrid
menarik tangan Dinta, untuk mengajak sahabat-sahabat Astrid masuk ke ruang makan
keluarga Astrid. Dinta segera menarik tangan Rima. Rima pun jadi ikut dan
segera ia menarik Erin dan Vita. Mereka semua mengikuti Astrid dan Ibunya ke
ruang makan keluarga.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar