Senin, 23 Februari 2026

Bab VII- Astrid Berhijab! (Bagian 2)

 

Well, kalau Astrid berdialektika karena kecintaannya dengan alam, maka aku berdialektika karena..hmm..apa..ya, namanya, budaya, mungkin, atau..gaya hidup dan sistem sosial dan kehidupan manusia”, Dinta memulai, Astrid tampak tertarik dengan cerita Dinta,

“Maksudnya gimana, tuh Dinta?”

“Seperti yang kalian sudah pada tau, aku memang sering ke Amerika, kadang menghabiskan liburan disana dengan orangtuaku. Akupun juga punya teman-teman di Amerika, kalian kan sudah lihat foto-fotoku dulu di akun sosmedku”, Dinta melanjutkan ceritanya, ia masih menyetir dengan santai di jalan tol, sementara sahabat-sahabatnya menyimak ceritanya

“Dulu, aku suka dengan gaya hidup American sytle yang bebas, terutama bebas berekspresi, itulah makanya dulu aku tidak ragu memposting foto-fotoku dengan sexy dresses di sosial media”, Dinta menghela nafas pelan, tapi Rima menyela,

“Tapi kamu kelihatan anggun dan keren dengan semua busana sexy  itu lho, Dinta”

“Iya, foto-foto kamu di acara-acara pesta dengan dress, udah kayak artis aja”, Astrid ikut menimpali, “dan, nggak keliatan porno kok, cuma seperti cewek-cewek pada umumnya aja, yang suka pake sexydress

“Itulah makanya aku bingung, kenapa orang Indonesia suka menjustifikasi orang lain dari penampilan luarnya aja”, sahut Dinta, “Well, American style yang bebas disini maksudku bukan bebas tanpa aturan sama sekali. Kalian kan tau, Amerika Serikat sering mengklaim dirinya sebagai masyarakat dunia bebas, dimana setiap orang bebas untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai budayanya, value dirinya masing-masing”

“Ya..ya, betul, dan mereka bangga dengan itu”, jawab Rima

“Ya, kalau dibilang, bebas dari nilai-nilai atau aturan Islami bagi yang muslim, iya, dan memang lebih bebas daripada nilai-nilai budaya masyarakat Timur”, sambung Dinta, “dan aku terbiasa hidup dengan cara seperti itu, dimana setiap orang bisa bebas berpikir, memilih dan menentukan, akan menjadi seperti apa dirinya, bahkan soal penampilan, kalau untuk perempuan, sebab perempuan lebih banyak memperhatikan penampilan dibanding laki-laki”, Dinta mulai menceritakan asal-mula perjalanan pemikirannya hingga ia memutuskan untuk berhijab, Dinta melirik ke arah Rima, Astrid dan teman-temannya yang lain melalui kaca spion. Tampak mereka semua mulai menyimak cerita Dinta

“Yah, kalau kita nemuin temen-temen dan komunitas yang asyik, ya di Amrik memang asyik”, lanjut Dinta, “tapi sebenernya dimana-mana juga gitu, kan. Sama aja di Indonesia, juga gitu”, dia menjeda sebentar karena Astrid dan Rima, dua sahabatnya itu tertawa dan membenarkan pernyataannya

“Dan kalau orang-orang pikir, masyarakat Amerika itu lebih egaliter, lebih open-minded, lebih punya empati dan menghargai perbedaan…enggak juga”, sambung Dinta, “itu semua tergantung orang-orang dan komunitasnya..,sama aja seperti di Indonesia”,Dinta masih melanjutkan ceritanya, “pokoknya, kalau soal circle-circle gitu, sama aja kok, seperti di Indonesia, walaupun memang ada macam-macam agama dan budaya yang tidak dikenal di Indonesia, karena di Indoensia tidak semua diakui sebagai agama resmi di Indonesia, tapi di Amrik, tetap ada namanya kalangan jet-set  dengan gaya hidup mereka yang super glamour dan mewah, ada kaum bangsawan juga, komunitas artis, masyarakat kaum menengah dan, juga ada masyarakat miskin dan gelandangan”, Dinta memaparkan sambil melirik teman-temannya yang tampak semakin asyik mendengar penjelasannya,maka ia melanjutkan, “malah orang Amerika tuh banyak juga yang lebih rasis daripada masyarakat manapun di dunia ini.., dan mereka juga membentuk impian-impian semacam American Dream, dimana kebanyakan kaum muda dan masyarakat bermimpi menggapai American Dream itu..sama aja lah, dan kurang lebih di Indonesia”

“Nah, jadi dengan semua penjelasan lo yang panjang ini..kita diajak merenung dulu sebelum kamu to the point  soal kenapa kamu berhijab?”, tanya Rima sambil senyum kepada Dinta, Astrid manggut-manggut dengan menatap Dinta sambil masih mikir

“Ya iya, karena menggunakan hijab buat aku itu dengan mikir, mempertimbangkan dan memutuskan, consider and decide, gitu. Nggak cuma ikut-ikut seperti kebanyakan orang, atau disuruh keluarga. Aku emang bener-bener pake mikir”, jawab Dinta serius

“Hmmm..ya sama aja kan, aku juga pake mikir”, celetuk Astrid, membuat Dinta tertawa, Astrid dan Rima jadi tertawa, Ira, Erin dan Vita sama-sama ikut tertawa

Tapi Dinta kemudian melanjutkan lagi, “dan dari dulu sampai sekarang, aku bukan orang yang, memandang rendah, orang-orang yang menurut orang-orang muslim dan orang beriman pada umumnya, itu pendosa atau hobi melakukan perbuatan dosa, gitu lho

“Seperti Zelda gitu, yang ngerendahin kamu karena kamu dulu suka pake baju sexy?”, Vita tiba-tiba nyeletuk dari duduknya di bagian belakang

“Ya, kira-kira gitu. Buat aku, setiap orang bisa aja punya alasan masing-masing kenapa mereka melakukan yang menurut orang lain, tampak seperti perbuatan dosa, dan siapa tahu alasan mereka sebenarnya, dan siapa tahu ternyata dia punya kebaikan dan kelebihan lain yang tidak kita tahu”, Dinta melanjutkan, “Dan lagian gue sebenernya bukan orang yang hobi rempong ma urusan orang lain yang none of my concern gituuu..”, selorohnya lagi, temen-temennya mengangguk, tanda setuju dengan pernyataannya

“Jadi kamu memutuskan untuk berhijab, untuk bertobat dari perasaan berdosa, gituu..?”, tanya Astrid dengan senyum nakal menggoda Dinta, membuat Dinta menengok ke arahnya dengan lirikan sebal dan mendelik, tapi Dinta kemudian terkikik, membuat Astrid tertawa

“Jadi, aku berkesimpulan, di Amerika, di Indonesia, dimanapun, secara garis besar lah yaa,  manusia dari manapun sama aja. Kurang lebih susunan, tatanan, dan pola gaya hidupnya sama aja. Semua manusia akan mengharamkan pembunuhan, pencurian, penganiayaan, kekerasan,..hal-hal semacam itu, lah”, Dinta melanjutkan lagi penjelasannya, “jadi jelas, sebenarnya nggak pake label agama, pun, kita sebagai manusia pasti sepakat untuk hal-hal yang dipandang baik dan buruk, benar dan salah”, Dinta menarik nafas, “begitu juga aku. Duu, walaupun aku kelihatan tidak relijius, suka pakai baju sexy, main sama teman-teman cowok, tapi aku, tidak berzina, mencuri, judi, atau bahkan, walaupun aku sering di Amrik, aku nggak suka minuman beralkohol, lho. Dan untuk makan, kalian kan tahu, aku cenderung vegetarian, mengurangi makan daging-dagingan sebisa mungkin”

“Mengurangi..???”, Rima sedikit berbisik, lalu dia memandang Dinta sambil tersenyum geli, “maksud kamu yang seperti kamu makan 4 potong ayam, dan 2 cheeseburger, waktu di kafe depan masjid Al-Barkah itu, Din?”

Astrid jadi tertawa, begitu juga dengan Vita, sementara pipi Dinta jadi bersemu merah karena malu, teman-temannya masih ingat dengan nafsu makannya yang sering gila-gilaan, terutama kalau ia marah atau stress, “kan kata aku tadi..cenderung mengurangi..jadi ya.., kan nggak selalu”, katanya membela diri, membuat teman-temannya semakin tertawa.

Tapi Dinta meneruskan penjelasannya, “Jadi buat aku sejujurnya, mengikuti dan taat pada syariah itu bukan turning pont atau plot twist, yang kayak-kayak gitu”, dilihatnya teman-temannya menyimak lagi penjelasannya, ‘karena, setelah melihat banyak komunitas, budaya dan orang dengan berbagai ideologi, aku sadar, Islam bukan suatu hal yang berbeda. Karena ternyata, tanpa kita berhijab dan taat pada syariat juga, tiap budaya, komunitas dan masyarakat punya nilai atau value, dan kode budaya serta gaya hidup masing-masing”

“Maksudnya gimana tuh?”, celetuk Rima

“Maksud aku, misalnya soal hijab, tanpa kita berhijab pun, sebenernya dress code itu selalu ada. Kalau soal berpakaian yang pantas, itu kan semua paham, walaupun bukan orang yang mengaku beragama”, Dinta langsung menjawab, “Tapi maksud aku, ini buka soal pantas dalam berpakaian aja. Tapi, memang dress code  itu selalu ada. Seperti pakai jas atau blazer itu seperti kudu, baju resmi dan pantas yang diterima sebagai dresscode bagi bussinessman, profesional dan para pekerja kantoran. Dulu aku memang nggak berhijab, dan aku pikir itu adalah kebebasan, dan dulu aku melihat Islam itu mengekang dan pakai hijab itu ribet banget”, Dinta meneruskan dengan penjelasan-penjelasan panjangnya, “tapi ternyata, nggak pake hijab pun, ternyata sama ribet dan juga nggak bebas amat. Bahkan seringkali lebih ribet daripada itu”

“Mmm..,aku mulai ngerti”, Rima menyela, “Ya memang, tiap orang, komunitas, punya dress code sendiri, bahkan Bank dan Universitas punya ‘baju resmi’ yang doterima sebagai pantas atau tidak pantas di lingkungannya masing-masing”, kata Rima, yang disusul oleh Erin yang ikut menimpali,

“Ya, seperti di restoku dulu. Aku diminta oleh outsource untuk tidak berhijab, karena tidak berhijab adalah aturan dan dress code mereka yang harus diikuti tentang ‘busana resmi’ di tempat kerja, artinya busana kerja yang dianggap pantas dan diterima di lingkungan resto, itu semacam kode berbusana yang baik, dan dalam hal resto tempatku kerja, dengan tidak berhijab, begitu kan maksudnya?”

Dinta tersenyum mendengar penjelasan Erin, iya segera mengangguk “Ya bener,begitu. Dulu aku justru berfikir, kenapa harus menggunakan label agama segala, padahal tanpa label agama, aku sama saja dengan orang lain pada umumnya mengenai hal yang benar dan salah, semisal menganggap buruk dan jahat, nggak benar meenai pembunuhan, mencuri, penganiayaan dan kekerasan. Dan bahkan, tanpa aku sibuk dengan soal agama, toh aku juga nggak minum-minuman beralkohol, makan babi ataupun riba dan berjudi. Bahkan, walaupun teman dan sahabat cowok banyak, tapi aku tidak suka pacaran dan berzina. Bukan karena aku LGBT, tapi memang waktu-waktuku dan hobi serta kesenanganku, bukan ke arah sana, mungkin seperti Astrid, yang lebih bersemangat, merasa asyik dan memberikan effort lebih untuk hobinya naik gunung daripada sekedar pacaran”, Dinta menguraikan penjelasannya dengan tanpa ragu-ragu, sambil melirik ke arah Astrid

“Ya, kamu bener, Dinta”, Astrid yang dilirik Dinta segera menyahut, “trus, kalo  gitu, kenapa kamu malah mendalami Islam dan berhijab?”

“Nah, balik ke soal kode nilai dan value, gaya hidup masing-masing budaya”, Dinta cepat melanjutkan penjelasannya, “tadinya aku memang merasa cukup, dengan standar value yang aku jalani. Toh, aku berbikini, itu cuma kalau di Amerika, dan cuma kalau lagi main ke pantai bareng temen-temen disana, yang temen-temen cewek aku disana juga berbikini. Dan disana, banyak pantai tempat orang-orag berjemur, perempuan memakai bikini itu biasa. Jadi, aku hidup seperti banyak orang lain hidup. Di sekolah, di tempat lain, aku jarang memakai busana yang terbuka, hanya kadang-kadang, dan definisi “terlalu terbuka” itu untuk ukuran orang Indonesia, untuk orang Amerika, tidak se-sarkas itu”, Dinta menengok sebentar ke arah Astrid sebelum melanjutkan fokus pandangannya menyetir mobil

“Tapi”, lanjutnya, “balik lagi ke soal tadi, ternyata, dengan gaya hidup seperti itu pun, tetap masih ada semacam aturan tidak nyata dan dipahami semua orang, semacam standar, seperti itulah. Makanya kemudian ada istilah circle, dengan standar mereka masing-masing. Misalnya, tetap ada standar apa yang dikatakan perempuan cantik dan tidak cantik, dan ternyata ukurannya, menurutku, menjelaskan bahwa masyarakat seperti di Eropa dan Amerika masih rasis, misalnya dari soal warna kulit, rambut, bentuk tubuh, dan lain-lain. Dan, ternyata bahkan di Jawa yang terkenal sangat mengutamakan toto kromo untuk perempuan, di Amerika juga kayak gitu, kok. Di Eropa juga begitu”, Dinta menghela nafas sebelum melanjutkan penjelasannya, “Kaum bangsawan dan beberapa kelas elit, memiliki standar tentang perempuan dengan adab-adabnya. Makanya mereka, maksudnya perempuan-perempuannya, diajari table manner, cara menjadi perempuan yang baik dan menarik di mata laki-laki. Dan bahkan, zaman dulu tuh, di sekolah-sekolah khusus perempuan di Eropa, seperti di Inggris misalnya, perempuan-perempuan sekolah di sekolah berasrama khusus perempuan dengan biaya mahal yang hanya bisa diakses oleh orang-orang kaya dan kaum bangsawan Inggris, untuk diajari semua hal seperti table manner itu, dan dipersiapkan untuk menikah dengan laki-laki dari golongan bangsawan dan kelas atas atau laki-laki kaya”, Dinta melirik Rima, yang tampak asyik menyimak, tapi Rima diam saja dan tersenyum ke arahnya, yang maksudnya, Rima masih mendengar semua penjelasan Dinta, begitu juga dengan teman-temannya yang lain, Vita yang duduk di bagian belakang mobil dengan Erin juga tampak serius menyimak

“Jadi, sebenarnya sama aja, semua orang punya standar value dan gaya hidup masing-masing, lalu apa bedanya..??!”, Dinta melanjutkan dengan pertanyaan retoris, yang langsung disela oleh Rima,

“Iyyaa..tapi pertanyaannya tadi, kenapa kamu milih hijrah dan berhijaab..?”,

 Astrid pun ga mau kalah, dengan nggak sabar ia ikut menimpali, “Iyya..kenapaaa..?”

Dinta jadi terkikik, membuat teman-temannya menghembuskan nafas

Dinta lalu melanjutkan, “karena Islam itu justru bikin aku lebih bebas. Bebas dari standar kece dan nggak kece, sexy, bahkan bebas dari menjaga penampilan karena validasi orang khususnya laki-laki, bebas dari trend fashion, bebas dari keharusan bahwa kita harus selalu bersikap sesuai aturan komunal dan berkomunal”

“Maksudnya???”, Vita menyahut

“Ya, kita nggak harus selalu bareng sama orang. Rasulullah, para sahabat, para tabiin dan salafus saleh juga sering menyendiri”, Dinta menjawab cepat, “hidup bermasyarakat itu memang kudu banget, tapi tidak menafikan sikap individual, dan Islam juga menjaga hak pribadi. Dan soal kece, aku bukan minder, tapi, aku kan nggak pernah rempong tuh soal itu, yang rempong biasanya orang lain yang menilai penampilan kita, kece atau enggak”, sambung Dinta, yang disela oleh Astrid

“Iya, kamu nggak jelek Dinta, justru kamu cantik, dan kulitmu, toh, putih, bahkan putihnya sama seperti bule”

“Makasih Astrid,aku juga suka dengan kulit coklatmu, bahkan kadang membayangkan gimana kalau sekali-sekali aku punya kulit coklat seperti kamu”, Dinta menjawab sambil tersenyum manis pada Astrid sebelum melanjutkan penjelasannya, “Iya, tapi aku dibesarkan tidak dengan merepotkan soal penampilan belaka, apalagi penampilan fisik dan merendahkan orang lain karena fisiknya. Nah, sewaktu aku hijrah, aku suka banget, di dalam Islam, seseorang itu tidak dinilai dari apapun, tapi Allah melihat hati seorang hamba”, Dinta tersenyum lagi pada Astrid yang menyela, “makasih Dinta, emang kulit coklat gue ini karunia keren yang kudu disyukuri”, sambil terkikik

“Kalau dinamakan bebas, ya harus bebas, tidak sesuai dengan standar aturan tertentu. Artinya bebas kudu dua sisi. Kalau orang berfikir bebas untuk berbaju terbuka, maka orang juga bebas untuk berbaju tertutup. Jadi bebas itu, bener-bener bebas, mau milih berbaju terbuka atau tertutup. Itu namanya bebas. Kalau bebas diartikan, bahwa tertutup tidak bebas, yang bebas artinya yang milih berbaju terbuka, itu namanya nggak bebas. Yang namanya bebas itu kan, bebas tanpa aturan. Jadi harus balance, bebas terbuka atau tertutup”, Dinta menjeda,lalu melanjutkan, “Itu soal simple penampilan, ya. Tapi dalam semua hal, ketika kita memilih Islam menjadi gaya, jalan hidup kita, dibanding yang lain, itu juga ekspresi kebebasan. Jadi kita bebas, mau milih makan babi atau tidak, mau milih minum beralkohol atau tidak. Itu namanya bebas. Misalnya kita dikasi jus atau bir. Bukan berarti kalau kita minum bir, kita langsung jadi mahluk yang bebas, tapi memilih jus juga bebas, karena itu ada diantara dua pilihan, bukannya dengan dua pilihan, jus tiba-tiba menjadi aturan dan bir tiba-tiba menjadi pilihan bebas, sementara keduanya disajikan sebagai pilihan”

“Hmm…analisa yang menarik dari pemikiranmu dalam memutuskan berhijab,nak”, Rima menyahut dengan gaya pura-pura mengelus jenggot dan sok orangtua bijak, “tapi, kamu nggak merasa ribet, dengan berhijab, kalau cuma ke warung, pakai celana pendek dan kaos aja, kan beres?”

“Pertanyaan menarik”, jawab Dinta cepat, “Dan karena aku biasa di Amerika, dan sudah sering mengalami musim dingin disana, dan setelah aku pelajari sejarah masa lalu, jilbab tuh, seperti coat atau mantel, gitu, lho. Kita dalemnya, pakai celana pendek dan kaos, kalau keluar tinggal ditutup mantel, dan mantel panjang menutupi kepala itu biasa buat orang-orang zaman dulu, laki-laki dan perempuan di di negara-negara yang iklimnya dingin, bahkan sampai sekarang”

“Ya, tapi kamu sekarang tinggal di Indonesia dengan iklim tropis yang panasnya seringkali luar biasa, sumuk!”, sela Rima, yang disusul tertawa Dinta dan Astrid soal sumuk

“Nah, ini dia yang aku mau cerita”, sambung Dinta, “tentu aja, setelah berfikir seperti itu, aku nggak langsung berhijab, tapi aku butuh keyakinan, dong. Maka, aku mulai ikut kajian Islam di masjid Al-Barkah, dan sewaktu ada tawaran Umroh, aku minta orangtuaku dan Kak Cinta untuk umroh, dan alhamdulillah, walaupun kaget dengan permintaanku untuk Umroh bareng tiba-tiba, tapi orangtuaku mau menuruti permintaanku”

“Dasar orang kaya!”, celetuk Astrid, yang membuat Rima, Vita, Erin dan Ira terkikik, Dinta jadi tertawa dengan selorohan Astrid

Alhamdulillah,Astrid, setelah uang ortu aku buang-buang buat liburan ke Amerika, main ke pantai nggak jelas denga temen-temen bule disana, akhirnya, aku bisa bikin satu keluarga dan uang ortu kepake buat Umroh”, Dinta menjawab  santai, sambil tersenyum bijak pada Astrid dan Rima

“Oh, jadi Dinta merasa berdosa juga dengan soal itu”, celetuk Rima sambil terkikik dan mengedipkan mata menggoda Dinta

“Iyaa..”, jawab Dinta cepat tapi sambil tersenyum bijak dan tertawa dengan ledekan Rima, ia kemudian melanjutkan,

“Di Medinah dan Mekkah, aku justru menemukan, bahwa, kalau Amerika bilang mereka open buat semua orang dari jenis ras, bangsa, warna kulit apapun, itu nonsense. Mereka masih tetap ada rasis-nya. Bahkan sejarah mereka dulu ada Klux- Klux Klan. Tapi di Madinah dan Mekkah, semua ras, bangsa, warna kulit, bahasa, budaya, jadi satu, menghargai perbedaan semua jenis manusia dan unite dalam satu hal : iman”

“Oooh..jadi mulai dari situ ya, Dinta memutuskan berhijab?”, celetuk Astrid

“Ya. Dan aku juga jadi sadar, dengan kondisi alam Mekkah dan Medinah yang gersang, bukan cuma padang pasir, tapi padang batu yang panas, perjuangan Rasulullah pastilah sangat serius”, lanjutnya,”Cuma orang gila atau orang yang memang punya misi dan amanah khusus yang harus banget dijalananin, yang mau disiksa untuk jalanin amanah itu. Dan rumahnya Rasul ituu..ya Allah, sampai nangis liatnya. Kalau tujuan Rasulullah kenyamanan dunia, ketika Islam sudah jaya, kok tidak tampak kenyamanan dalam gaya hidupnya”, lanjut Dinta lagi, “sementara kita, di Indonesia yang subur dan ga sepanas di Medinah dan Mekkah, baru panas dikit aja, kayak udah males keluar rumah n males mau ngapa-ngapain,..udah gitu bawaannya cepet emosi. Kok bisa ya, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalaam sesabar itu??”, sambil menyetir, Dinta jadi merenung sendiri, teringat dengan perjalanan Umrohnya

“Dan di depan Ka’bah, sewaktu berdoa, aku jadi ingat dengan satu ayat dari surat Az-Zumar, bahwa Allah mengampuni dosa-dosa hambaNya yang melampaui batas. Dan hadits-hadits Rasul bahwa rahmat dan kasih sayang Allah itu lebih luas dari murkaNya”, Dinta mengakhiri penjelasannya, dia jadi terdiam, ingatannya yang kembali pada saat umroh, membuat dia jadi haru, mengingat semua kesadarannya tentang keberagamaannya, “Aku jadi bermuhasabah dengan diriku dan berdialektika dengan pemikiranku mengenai standar hidup dan pilihan gaya hidup, aku bertekad, pulang Umroh akan lebih rajin kajian di Masjid Al-Barkah, lebih rajin mempelajari Islam, taat kepada Allah dan Rasul-Nya..dan…berhijab”

“Akhir yang cukup mengharukan dan simple, dengan perjalanan pemikiran yang panjang”, simpul Rima, “tapi keren, karena kamu berhijrah bukan untuk menjadikan agama sebagai tameng ataupun pembenaran”

“Alhamdulillah, Rima”, jawab Dinta singkat

“Iya betul”, Astrid nyeletuk, “banyak orang menjadikan agama sebagai tameng dan pembenaran, lalu sok suci, dan kemudian seenaknya menjustifikasi orang lain, dan bersikap seenak-enaknya mengatur orang lain agar sesuai dengan keberagamaan mereka. Seakan-akan kita beragama disuruh untuk terus mengejar standar mereka, seperti kuda yang terus dilecut dan dipaksa berlari, kayaknya masih kurang melulu”

“Ya, tapi orang yang tidak beragama atau mengklaim dirinya ‘biasa saja’, juga bisa sarkatis, dengan menjustifikasi orang yang beragama, kok beragama masih marah-marah, masih sering kesal, masih ini dan itu, seakan-akan kalau kita mau bertaubat, taat, kita harus jadi orang suci, yang malaikat aja kalah, kudu nggak punya emosi, nggak punya rasa marah, harus lembut selembut-lembutnya, pokoknya bener-bener orang suci”, jawab Dinta lagi

“Ya, tapi dalam Islam, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam menyuruh kita untuk lebih banyak musahabah, ke diri kita sendiri, daripada rempong ngurusin, membanding-bandingkan, menilai dan menjustifikasi orang lain. Bahkan dalam Al-Qur’an Allah berfirman, tidak ada paksaan dalam beragama, dan Rasul menyuruh kita untuk berlaku adil dan bergaul dengan baik dengan orang-orang yang tidak seagama”, Rima menjawab semua pernyataan temannya yang tersirat keresahan didalamnya

“Ya bener, Rima. Itu lah yang bikin aku yakin untuk berhijab”, lanjut Dinta, “karena dalam Islam kita bukan disuruh tunduk dengan fanatik, tapi Islam menyediakan ruang bebas untuk berfikir, bahkan Rasulullah sangat menyuruh umatnya untuk rajin belajar, banyakin wawasan, biar nggak kuper, kudet dan bodoh”

“Hmmm..penjelasan kalian semua menarik. Aku nggak pernah ngerasa rugi, deh kumpul-kumpul sama kalian bertiga”, Vita nyeletuk tiba-tiba, Erin dan Ira menimpali, “Iya, bener”, lalu mereka bertiga tertawa bareng, terkejut dengan kekompakan mereka menjawab Dinta. Rima, Astrid dan Dinta ikut tertawa, dan kompak mengatakan, “Alhamdulillah”

******************************************************************

Tidak terasa, mereka pun sudah sampai di rumah Astrid. Astrid mengajak Dinta dan sahabat-sahabatnya untuk turun sebentar, dan berkenalan dengan keluarganya. Dinta oke saja, apalagi bawaan Astrid cukup banyak, jadi memang perlu dibantu untuk membawa barang masuk ke dalam rumah. Ira ikut turun dan pamit pada Dinta, Rima, Vita dan Erin. Dia hanya membawa ransel dan mau segera pulang, supaya tidak kemalaman sampai rumahnya. Astrid memberikan peluk perpisahan dan janji kepada Ira untuk main ke MIPA sebelum mereka berpisah dan Ira menuju stasiun untuk pulang.

“Lagi kutuan, ya??”, tanya Bang Dino, sewaktu membukakan pintu untuk adiknya Astrid, sambil memandang Astrid dengan binar mata jahil

“Wek, enak ajaa!!”, balas Astrid sambil menjulurkan lidahnya pada kakaknya, lalu dengan cueknya ia melihat ke arah dalam rumahnya, melepas sepatunya dan berteriak agak keras, “Assalamualaikuum..!!”

“Waalaikumsalaam..!!”, beberapa orang menjawab dari dalam

Rima, Dinta, Erin dan Vita ikut mengucapkan salam dan mengangguk memberi salam dengan sopan kepada Bang Dino, Bang Dino menjawab salam sahabat-sahabat Astrid dengan sopan pula, ia kemudian memandang Astrid,

“Trus, tu ngapain kepala dikerudungin??”, tanya Bang Dino lagi, memandang adiknya dengan sok bossy

“Ini berhijab!! Astrdi sekarang berhijab! Wek!!!”, jawab Astrid lagi, sambil menjulurkan lidahnya lagi, meledek dan mendelik ke Abangnya, tapi Abangnya malah tertawa,

“Hahahaha…sejak kapann..??? Kemaren juga ke Kerinci pake celana tigaperempat!!”, Abangnya tertawa dengan wajah setengah tak percaya

“Ih,Iyaa..Astrid sekarang berhijab! sejak turun gunung”, jawab Astrid sambil mendelik lagi ke Abangnya, lalu memanggil Ibunya, “Bundaaa…”

Seorang perempuan paruh baya, diikuti dengan dua orang gadis remaja yang lebih kecil dan lebih muda dari Astrid keluar

“Astrid! Kok malem banget pulangnya, padahal Bunda udah siapin makan malam buat kamu, takut kamu kelaperan abis dari jalan jauh”, Bunda Astrid muncul. Rima, Dinta, Erin dan Vita segera salim kepada Bundanya Astrid

“Bunda, ini sahabat- sahabat Astrid”, kata Astrid mengenalkan sahabat-sahabatnya pada Ibunya, “Ini Rima dan ini Dinta, yang sering Astrid ceritain ke Bunda”, Astrid mengenalkan Rima dan Dinta kepada Ibunya. Ibu Astrid tersenyum ramah yang dibalas senyum ramah pula oleh Rima dan Dinta

“Bun, Astrid berhijab lho, sejak turun gunung”, celetuk Bang Dino, “kutuan tuh kayaknya”, sambung Dino lagi, masih tetap dengan kejahilannya yang sama

“Enak aja!!!”, Astrid mendelik lagi pada Abangnya, yang membuat Abangnya tertawa lagi, “Ya udaah…, bukan kutuan, tapi abis latian militer dengan GAM dan Al-Qaeda”, candanya lagi, sambil tertawa

“Terserah lo aja deh! Wek!!”, jawab Astrid cuek, ia ikut masuk dengan Ibunya, diikuti dua anak perempuan yang lebih kecil dan lebh muda dari Astrid itu.

Rupanya kedua anak perempuan itu adalah adik-adik Astrid, yang juga diperkenalkan Astrid kepada sahabat-sahabatnya. Yang paling kecil namanya Geva, masih kelas 2 SMP, yang satunya lagi namanya Asti, kelas 1 SMA. Astrid sebenarnya merupakan keluarga besar. DIa anak kelima dari tujuh bersaudara. Asti dan Geva adalah anak ke enam dan ke tujuh. Bang Dino anak keempat, dan masih mahasiswa tingkat akhir. Kakak Astrid yang tiga lagi sudah bekerja semua. Kakak pertama dan kedua sudah menikah, mempunyai anak-anak dan rumah sendiri, jadi tidak tinggal di rumah itu lagi dengan orangtua dan keluarga. Kakak Astrid semua laki-laki, yang perempuan hanya Astrid, Asti dan Geva. Kakak ketiga sudah bekerja tapi masih tinggal dengan orangtua dan keluarga.

“Yuk, masuk dulu”, ajak Ibunya Astrid, “Tante sudah bikinkan bubur kacang ijo ketan item, bolen keju dan brownies, untuk syukuran kecil-kecilan kepulangan Astrid”, Ibunya Astrid menarik tangan Dinta, untuk mengajak sahabat-sahabat Astrid masuk ke ruang makan keluarga Astrid. Dinta segera menarik tangan Rima. Rima pun jadi ikut dan segera ia menarik Erin dan Vita. Mereka semua mengikuti Astrid dan Ibunya ke ruang makan keluarga.

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab VII- Astrid Berhijab! (Bagian 2)

  “ Well, kalau Astrid berdialektika karena kecintaannya dengan alam, maka aku berdialektika karena..hmm..apa..ya, namanya, budaya, mungkin,...