Senin, 23 Februari 2026

Bab VII- Astrid Berhijab! (Bagian 2)

 

Well, kalau Astrid berdialektika karena kecintaannya dengan alam, maka aku berdialektika karena..hmm..apa..ya, namanya, budaya, mungkin, atau..gaya hidup dan sistem sosial dan kehidupan manusia”, Dinta memulai, Astrid tampak tertarik dengan cerita Dinta,

“Maksudnya gimana, tuh Dinta?”

“Seperti yang kalian sudah pada tau, aku memang sering ke Amerika, kadang menghabiskan liburan disana dengan orangtuaku. Akupun juga punya teman-teman di Amerika, kalian kan sudah lihat foto-fotoku dulu di akun sosmedku”, Dinta melanjutkan ceritanya, ia masih menyetir dengan santai di jalan tol, sementara sahabat-sahabatnya menyimak ceritanya

“Dulu, aku suka dengan gaya hidup American sytle yang bebas, terutama bebas berekspresi, itulah makanya dulu aku tidak ragu memposting foto-fotoku dengan sexy dresses di sosial media”, Dinta menghela nafas pelan, tapi Rima menyela,

“Tapi kamu kelihatan anggun dan keren dengan semua busana sexy  itu lho, Dinta”

“Iya, foto-foto kamu di acara-acara pesta dengan dress, udah kayak artis aja”, Astrid ikut menimpali, “dan, nggak keliatan porno kok, cuma seperti cewek-cewek pada umumnya aja, yang suka pake sexydress

“Itulah makanya aku bingung, kenapa orang Indonesia suka menjustifikasi orang lain dari penampilan luarnya aja”, sahut Dinta, “Well, American style yang bebas disini maksudku bukan bebas tanpa aturan sama sekali. Kalian kan tau, Amerika Serikat sering mengklaim dirinya sebagai masyarakat dunia bebas, dimana setiap orang bebas untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai budayanya, value dirinya masing-masing”

“Ya..ya, betul, dan mereka bangga dengan itu”, jawab Rima

“Ya, kalau dibilang, bebas dari nilai-nilai atau aturan Islami bagi yang muslim, iya, dan memang lebih bebas daripada nilai-nilai budaya masyarakat Timur”, sambung Dinta, “dan aku terbiasa hidup dengan cara seperti itu, dimana setiap orang bisa bebas berpikir, memilih dan menentukan, akan menjadi seperti apa dirinya, bahkan soal penampilan, kalau untuk perempuan, sebab perempuan lebih banyak memperhatikan penampilan dibanding laki-laki”, Dinta mulai menceritakan asal-mula perjalanan pemikirannya hingga ia memutuskan untuk berhijab, Dinta melirik ke arah Rima, Astrid dan teman-temannya yang lain melalui kaca spion. Tampak mereka semua mulai menyimak cerita Dinta

“Yah, kalau kita nemuin temen-temen dan komunitas yang asyik, ya di Amrik memang asyik”, lanjut Dinta, “tapi sebenernya dimana-mana juga gitu, kan. Sama aja di Indonesia, juga gitu”, dia menjeda sebentar karena Astrid dan Rima, dua sahabatnya itu tertawa dan membenarkan pernyataannya

“Dan kalau orang-orang pikir, masyarakat Amerika itu lebih egaliter, lebih open-minded, lebih punya empati dan menghargai perbedaan…enggak juga”, sambung Dinta, “itu semua tergantung orang-orang dan komunitasnya..,sama aja seperti di Indonesia”,Dinta masih melanjutkan ceritanya, “pokoknya, kalau soal circle-circle gitu, sama aja kok, seperti di Indonesia, walaupun memang ada macam-macam agama dan budaya yang tidak dikenal di Indonesia, karena di Indoensia tidak semua diakui sebagai agama resmi di Indonesia, tapi di Amrik, tetap ada namanya kalangan jet-set  dengan gaya hidup mereka yang super glamour dan mewah, ada kaum bangsawan juga, komunitas artis, masyarakat kaum menengah dan, juga ada masyarakat miskin dan gelandangan”, Dinta memaparkan sambil melirik teman-temannya yang tampak semakin asyik mendengar penjelasannya,maka ia melanjutkan, “malah orang Amerika tuh banyak juga yang lebih rasis daripada masyarakat manapun di dunia ini.., dan mereka juga membentuk impian-impian semacam American Dream, dimana kebanyakan kaum muda dan masyarakat bermimpi menggapai American Dream itu..sama aja lah, dan kurang lebih di Indonesia”

“Nah, jadi dengan semua penjelasan lo yang panjang ini..kita diajak merenung dulu sebelum kamu to the point  soal kenapa kamu berhijab?”, tanya Rima sambil senyum kepada Dinta, Astrid manggut-manggut dengan menatap Dinta sambil masih mikir

“Ya iya, karena menggunakan hijab buat aku itu dengan mikir, mempertimbangkan dan memutuskan, consider and decide, gitu. Nggak cuma ikut-ikut seperti kebanyakan orang, atau disuruh keluarga. Aku emang bener-bener pake mikir”, jawab Dinta serius

“Hmmm..ya sama aja kan, aku juga pake mikir”, celetuk Astrid, membuat Dinta tertawa, Astrid dan Rima jadi tertawa, Ira, Erin dan Vita sama-sama ikut tertawa

Tapi Dinta kemudian melanjutkan lagi, “dan dari dulu sampai sekarang, aku bukan orang yang, memandang rendah, orang-orang yang menurut orang-orang muslim dan orang beriman pada umumnya, itu pendosa atau hobi melakukan perbuatan dosa, gitu lho

“Seperti Zelda gitu, yang ngerendahin kamu karena kamu dulu suka pake baju sexy?”, Vita tiba-tiba nyeletuk dari duduknya di bagian belakang

“Ya, kira-kira gitu. Buat aku, setiap orang bisa aja punya alasan masing-masing kenapa mereka melakukan yang menurut orang lain, tampak seperti perbuatan dosa, dan siapa tahu alasan mereka sebenarnya, dan siapa tahu ternyata dia punya kebaikan dan kelebihan lain yang tidak kita tahu”, Dinta melanjutkan, “Dan lagian gue sebenernya bukan orang yang hobi rempong ma urusan orang lain yang none of my concern gituuu..”, selorohnya lagi, temen-temennya mengangguk, tanda setuju dengan pernyataannya

“Jadi kamu memutuskan untuk berhijab, untuk bertobat dari perasaan berdosa, gituu..?”, tanya Astrid dengan senyum nakal menggoda Dinta, membuat Dinta menengok ke arahnya dengan lirikan sebal dan mendelik, tapi Dinta kemudian terkikik, membuat Astrid tertawa

“Jadi, aku berkesimpulan, di Amerika, di Indonesia, dimanapun, secara garis besar lah yaa,  manusia dari manapun sama aja. Kurang lebih susunan, tatanan, dan pola gaya hidupnya sama aja. Semua manusia akan mengharamkan pembunuhan, pencurian, penganiayaan, kekerasan,..hal-hal semacam itu, lah”, Dinta melanjutkan lagi penjelasannya, “jadi jelas, sebenarnya nggak pake label agama, pun, kita sebagai manusia pasti sepakat untuk hal-hal yang dipandang baik dan buruk, benar dan salah”, Dinta menarik nafas, “begitu juga aku. Duu, walaupun aku kelihatan tidak relijius, suka pakai baju sexy, main sama teman-teman cowok, tapi aku, tidak berzina, mencuri, judi, atau bahkan, walaupun aku sering di Amrik, aku nggak suka minuman beralkohol, lho. Dan untuk makan, kalian kan tahu, aku cenderung vegetarian, mengurangi makan daging-dagingan sebisa mungkin”

“Mengurangi..???”, Rima sedikit berbisik, lalu dia memandang Dinta sambil tersenyum geli, “maksud kamu yang seperti kamu makan 4 potong ayam, dan 2 cheeseburger, waktu di kafe depan masjid Al-Barkah itu, Din?”

Astrid jadi tertawa, begitu juga dengan Vita, sementara pipi Dinta jadi bersemu merah karena malu, teman-temannya masih ingat dengan nafsu makannya yang sering gila-gilaan, terutama kalau ia marah atau stress, “kan kata aku tadi..cenderung mengurangi..jadi ya.., kan nggak selalu”, katanya membela diri, membuat teman-temannya semakin tertawa.

Tapi Dinta meneruskan penjelasannya, “Jadi buat aku sejujurnya, mengikuti dan taat pada syariah itu bukan turning pont atau plot twist, yang kayak-kayak gitu”, dilihatnya teman-temannya menyimak lagi penjelasannya, ‘karena, setelah melihat banyak komunitas, budaya dan orang dengan berbagai ideologi, aku sadar, Islam bukan suatu hal yang berbeda. Karena ternyata, tanpa kita berhijab dan taat pada syariat juga, tiap budaya, komunitas dan masyarakat punya nilai atau value, dan kode budaya serta gaya hidup masing-masing”

“Maksudnya gimana tuh?”, celetuk Rima

“Maksud aku, misalnya soal hijab, tanpa kita berhijab pun, sebenernya dress code itu selalu ada. Kalau soal berpakaian yang pantas, itu kan semua paham, walaupun bukan orang yang mengaku beragama”, Dinta langsung menjawab, “Tapi maksud aku, ini buka soal pantas dalam berpakaian aja. Tapi, memang dress code  itu selalu ada. Seperti pakai jas atau blazer itu seperti kudu, baju resmi dan pantas yang diterima sebagai dresscode bagi bussinessman, profesional dan para pekerja kantoran. Dulu aku memang nggak berhijab, dan aku pikir itu adalah kebebasan, dan dulu aku melihat Islam itu mengekang dan pakai hijab itu ribet banget”, Dinta meneruskan dengan penjelasan-penjelasan panjangnya, “tapi ternyata, nggak pake hijab pun, ternyata sama ribet dan juga nggak bebas amat. Bahkan seringkali lebih ribet daripada itu”

“Mmm..,aku mulai ngerti”, Rima menyela, “Ya memang, tiap orang, komunitas, punya dress code sendiri, bahkan Bank dan Universitas punya ‘baju resmi’ yang doterima sebagai pantas atau tidak pantas di lingkungannya masing-masing”, kata Rima, yang disusul oleh Erin yang ikut menimpali,

“Ya, seperti di restoku dulu. Aku diminta oleh outsource untuk tidak berhijab, karena tidak berhijab adalah aturan dan dress code mereka yang harus diikuti tentang ‘busana resmi’ di tempat kerja, artinya busana kerja yang dianggap pantas dan diterima di lingkungan resto, itu semacam kode berbusana yang baik, dan dalam hal resto tempatku kerja, dengan tidak berhijab, begitu kan maksudnya?”

Dinta tersenyum mendengar penjelasan Erin, iya segera mengangguk “Ya bener,begitu. Dulu aku justru berfikir, kenapa harus menggunakan label agama segala, padahal tanpa label agama, aku sama saja dengan orang lain pada umumnya mengenai hal yang benar dan salah, semisal menganggap buruk dan jahat, nggak benar meenai pembunuhan, mencuri, penganiayaan dan kekerasan. Dan bahkan, tanpa aku sibuk dengan soal agama, toh aku juga nggak minum-minuman beralkohol, makan babi ataupun riba dan berjudi. Bahkan, walaupun teman dan sahabat cowok banyak, tapi aku tidak suka pacaran dan berzina. Bukan karena aku LGBT, tapi memang waktu-waktuku dan hobi serta kesenanganku, bukan ke arah sana, mungkin seperti Astrid, yang lebih bersemangat, merasa asyik dan memberikan effort lebih untuk hobinya naik gunung daripada sekedar pacaran”, Dinta menguraikan penjelasannya dengan tanpa ragu-ragu, sambil melirik ke arah Astrid

“Ya, kamu bener, Dinta”, Astrid yang dilirik Dinta segera menyahut, “trus, kalo  gitu, kenapa kamu malah mendalami Islam dan berhijab?”

“Nah, balik ke soal kode nilai dan value, gaya hidup masing-masing budaya”, Dinta cepat melanjutkan penjelasannya, “tadinya aku memang merasa cukup, dengan standar value yang aku jalani. Toh, aku berbikini, itu cuma kalau di Amerika, dan cuma kalau lagi main ke pantai bareng temen-temen disana, yang temen-temen cewek aku disana juga berbikini. Dan disana, banyak pantai tempat orang-orag berjemur, perempuan memakai bikini itu biasa. Jadi, aku hidup seperti banyak orang lain hidup. Di sekolah, di tempat lain, aku jarang memakai busana yang terbuka, hanya kadang-kadang, dan definisi “terlalu terbuka” itu untuk ukuran orang Indonesia, untuk orang Amerika, tidak se-sarkas itu”, Dinta menengok sebentar ke arah Astrid sebelum melanjutkan fokus pandangannya menyetir mobil

“Tapi”, lanjutnya, “balik lagi ke soal tadi, ternyata, dengan gaya hidup seperti itu pun, tetap masih ada semacam aturan tidak nyata dan dipahami semua orang, semacam standar, seperti itulah. Makanya kemudian ada istilah circle, dengan standar mereka masing-masing. Misalnya, tetap ada standar apa yang dikatakan perempuan cantik dan tidak cantik, dan ternyata ukurannya, menurutku, menjelaskan bahwa masyarakat seperti di Eropa dan Amerika masih rasis, misalnya dari soal warna kulit, rambut, bentuk tubuh, dan lain-lain. Dan, ternyata bahkan di Jawa yang terkenal sangat mengutamakan toto kromo untuk perempuan, di Amerika juga kayak gitu, kok. Di Eropa juga begitu”, Dinta menghela nafas sebelum melanjutkan penjelasannya, “Kaum bangsawan dan beberapa kelas elit, memiliki standar tentang perempuan dengan adab-adabnya. Makanya mereka, maksudnya perempuan-perempuannya, diajari table manner, cara menjadi perempuan yang baik dan menarik di mata laki-laki. Dan bahkan, zaman dulu tuh, di sekolah-sekolah khusus perempuan di Eropa, seperti di Inggris misalnya, perempuan-perempuan sekolah di sekolah berasrama khusus perempuan dengan biaya mahal yang hanya bisa diakses oleh orang-orang kaya dan kaum bangsawan Inggris, untuk diajari semua hal seperti table manner itu, dan dipersiapkan untuk menikah dengan laki-laki dari golongan bangsawan dan kelas atas atau laki-laki kaya”, Dinta melirik Rima, yang tampak asyik menyimak, tapi Rima diam saja dan tersenyum ke arahnya, yang maksudnya, Rima masih mendengar semua penjelasan Dinta, begitu juga dengan teman-temannya yang lain, Vita yang duduk di bagian belakang mobil dengan Erin juga tampak serius menyimak

“Jadi, sebenarnya sama aja, semua orang punya standar value dan gaya hidup masing-masing, lalu apa bedanya..??!”, Dinta melanjutkan dengan pertanyaan retoris, yang langsung disela oleh Rima,

“Iyyaa..tapi pertanyaannya tadi, kenapa kamu milih hijrah dan berhijaab..?”,

 Astrid pun ga mau kalah, dengan nggak sabar ia ikut menimpali, “Iyya..kenapaaa..?”

Dinta jadi terkikik, membuat teman-temannya menghembuskan nafas

Dinta lalu melanjutkan, “karena Islam itu justru bikin aku lebih bebas. Bebas dari standar kece dan nggak kece, sexy, bahkan bebas dari menjaga penampilan karena validasi orang khususnya laki-laki, bebas dari trend fashion, bebas dari keharusan bahwa kita harus selalu bersikap sesuai aturan komunal dan berkomunal”

“Maksudnya???”, Vita menyahut

“Ya, kita nggak harus selalu bareng sama orang. Rasulullah, para sahabat, para tabiin dan salafus saleh juga sering menyendiri”, Dinta menjawab cepat, “hidup bermasyarakat itu memang kudu banget, tapi tidak menafikan sikap individual, dan Islam juga menjaga hak pribadi. Dan soal kece, aku bukan minder, tapi, aku kan nggak pernah rempong tuh soal itu, yang rempong biasanya orang lain yang menilai penampilan kita, kece atau enggak”, sambung Dinta, yang disela oleh Astrid

“Iya, kamu nggak jelek Dinta, justru kamu cantik, dan kulitmu, toh, putih, bahkan putihnya sama seperti bule”

“Makasih Astrid,aku juga suka dengan kulit coklatmu, bahkan kadang membayangkan gimana kalau sekali-sekali aku punya kulit coklat seperti kamu”, Dinta menjawab sambil tersenyum manis pada Astrid sebelum melanjutkan penjelasannya, “Iya, tapi aku dibesarkan tidak dengan merepotkan soal penampilan belaka, apalagi penampilan fisik dan merendahkan orang lain karena fisiknya. Nah, sewaktu aku hijrah, aku suka banget, di dalam Islam, seseorang itu tidak dinilai dari apapun, tapi Allah melihat hati seorang hamba”, Dinta tersenyum lagi pada Astrid yang menyela, “makasih Dinta, emang kulit coklat gue ini karunia keren yang kudu disyukuri”, sambil terkikik

“Kalau dinamakan bebas, ya harus bebas, tidak sesuai dengan standar aturan tertentu. Artinya bebas kudu dua sisi. Kalau orang berfikir bebas untuk berbaju terbuka, maka orang juga bebas untuk berbaju tertutup. Jadi bebas itu, bener-bener bebas, mau milih berbaju terbuka atau tertutup. Itu namanya bebas. Kalau bebas diartikan, bahwa tertutup tidak bebas, yang bebas artinya yang milih berbaju terbuka, itu namanya nggak bebas. Yang namanya bebas itu kan, bebas tanpa aturan. Jadi harus balance, bebas terbuka atau tertutup”, Dinta menjeda,lalu melanjutkan, “Itu soal simple penampilan, ya. Tapi dalam semua hal, ketika kita memilih Islam menjadi gaya, jalan hidup kita, dibanding yang lain, itu juga ekspresi kebebasan. Jadi kita bebas, mau milih makan babi atau tidak, mau milih minum beralkohol atau tidak. Itu namanya bebas. Misalnya kita dikasi jus atau bir. Bukan berarti kalau kita minum bir, kita langsung jadi mahluk yang bebas, tapi memilih jus juga bebas, karena itu ada diantara dua pilihan, bukannya dengan dua pilihan, jus tiba-tiba menjadi aturan dan bir tiba-tiba menjadi pilihan bebas, sementara keduanya disajikan sebagai pilihan”

“Hmm…analisa yang menarik dari pemikiranmu dalam memutuskan berhijab,nak”, Rima menyahut dengan gaya pura-pura mengelus jenggot dan sok orangtua bijak, “tapi, kamu nggak merasa ribet, dengan berhijab, kalau cuma ke warung, pakai celana pendek dan kaos aja, kan beres?”

“Pertanyaan menarik”, jawab Dinta cepat, “Dan karena aku biasa di Amerika, dan sudah sering mengalami musim dingin disana, dan setelah aku pelajari sejarah masa lalu, jilbab tuh, seperti coat atau mantel, gitu, lho. Kita dalemnya, pakai celana pendek dan kaos, kalau keluar tinggal ditutup mantel, dan mantel panjang menutupi kepala itu biasa buat orang-orang zaman dulu, laki-laki dan perempuan di di negara-negara yang iklimnya dingin, bahkan sampai sekarang”

“Ya, tapi kamu sekarang tinggal di Indonesia dengan iklim tropis yang panasnya seringkali luar biasa, sumuk!”, sela Rima, yang disusul tertawa Dinta dan Astrid soal sumuk

“Nah, ini dia yang aku mau cerita”, sambung Dinta, “tentu aja, setelah berfikir seperti itu, aku nggak langsung berhijab, tapi aku butuh keyakinan, dong. Maka, aku mulai ikut kajian Islam di masjid Al-Barkah, dan sewaktu ada tawaran Umroh, aku minta orangtuaku dan Kak Cinta untuk umroh, dan alhamdulillah, walaupun kaget dengan permintaanku untuk Umroh bareng tiba-tiba, tapi orangtuaku mau menuruti permintaanku”

“Dasar orang kaya!”, celetuk Astrid, yang membuat Rima, Vita, Erin dan Ira terkikik, Dinta jadi tertawa dengan selorohan Astrid

Alhamdulillah,Astrid, setelah uang ortu aku buang-buang buat liburan ke Amerika, main ke pantai nggak jelas denga temen-temen bule disana, akhirnya, aku bisa bikin satu keluarga dan uang ortu kepake buat Umroh”, Dinta menjawab  santai, sambil tersenyum bijak pada Astrid dan Rima

“Oh, jadi Dinta merasa berdosa juga dengan soal itu”, celetuk Rima sambil terkikik dan mengedipkan mata menggoda Dinta

“Iyaa..”, jawab Dinta cepat tapi sambil tersenyum bijak dan tertawa dengan ledekan Rima, ia kemudian melanjutkan,

“Di Medinah dan Mekkah, aku justru menemukan, bahwa, kalau Amerika bilang mereka open buat semua orang dari jenis ras, bangsa, warna kulit apapun, itu nonsense. Mereka masih tetap ada rasis-nya. Bahkan sejarah mereka dulu ada Klux- Klux Klan. Tapi di Madinah dan Mekkah, semua ras, bangsa, warna kulit, bahasa, budaya, jadi satu, menghargai perbedaan semua jenis manusia dan unite dalam satu hal : iman”

“Oooh..jadi mulai dari situ ya, Dinta memutuskan berhijab?”, celetuk Astrid

“Ya. Dan aku juga jadi sadar, dengan kondisi alam Mekkah dan Medinah yang gersang, bukan cuma padang pasir, tapi padang batu yang panas, perjuangan Rasulullah pastilah sangat serius”, lanjutnya,”Cuma orang gila atau orang yang memang punya misi dan amanah khusus yang harus banget dijalananin, yang mau disiksa untuk jalanin amanah itu. Dan rumahnya Rasul ituu..ya Allah, sampai nangis liatnya. Kalau tujuan Rasulullah kenyamanan dunia, ketika Islam sudah jaya, kok tidak tampak kenyamanan dalam gaya hidupnya”, lanjut Dinta lagi, “sementara kita, di Indonesia yang subur dan ga sepanas di Medinah dan Mekkah, baru panas dikit aja, kayak udah males keluar rumah n males mau ngapa-ngapain,..udah gitu bawaannya cepet emosi. Kok bisa ya, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalaam sesabar itu??”, sambil menyetir, Dinta jadi merenung sendiri, teringat dengan perjalanan Umrohnya

“Dan di depan Ka’bah, sewaktu berdoa, aku jadi ingat dengan satu ayat dari surat Az-Zumar, bahwa Allah mengampuni dosa-dosa hambaNya yang melampaui batas. Dan hadits-hadits Rasul bahwa rahmat dan kasih sayang Allah itu lebih luas dari murkaNya”, Dinta mengakhiri penjelasannya, dia jadi terdiam, ingatannya yang kembali pada saat umroh, membuat dia jadi haru, mengingat semua kesadarannya tentang keberagamaannya, “Aku jadi bermuhasabah dengan diriku dan berdialektika dengan pemikiranku mengenai standar hidup dan pilihan gaya hidup, aku bertekad, pulang Umroh akan lebih rajin kajian di Masjid Al-Barkah, lebih rajin mempelajari Islam, taat kepada Allah dan Rasul-Nya..dan…berhijab”

“Akhir yang cukup mengharukan dan simple, dengan perjalanan pemikiran yang panjang”, simpul Rima, “tapi keren, karena kamu berhijrah bukan untuk menjadikan agama sebagai tameng ataupun pembenaran”

“Alhamdulillah, Rima”, jawab Dinta singkat

“Iya betul”, Astrid nyeletuk, “banyak orang menjadikan agama sebagai tameng dan pembenaran, lalu sok suci, dan kemudian seenaknya menjustifikasi orang lain, dan bersikap seenak-enaknya mengatur orang lain agar sesuai dengan keberagamaan mereka. Seakan-akan kita beragama disuruh untuk terus mengejar standar mereka, seperti kuda yang terus dilecut dan dipaksa berlari, kayaknya masih kurang melulu”

“Ya, tapi orang yang tidak beragama atau mengklaim dirinya ‘biasa saja’, juga bisa sarkatis, dengan menjustifikasi orang yang beragama, kok beragama masih marah-marah, masih sering kesal, masih ini dan itu, seakan-akan kalau kita mau bertaubat, taat, kita harus jadi orang suci, yang malaikat aja kalah, kudu nggak punya emosi, nggak punya rasa marah, harus lembut selembut-lembutnya, pokoknya bener-bener orang suci”, jawab Dinta lagi

“Ya, tapi dalam Islam, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam menyuruh kita untuk lebih banyak musahabah, ke diri kita sendiri, daripada rempong ngurusin, membanding-bandingkan, menilai dan menjustifikasi orang lain. Bahkan dalam Al-Qur’an Allah berfirman, tidak ada paksaan dalam beragama, dan Rasul menyuruh kita untuk berlaku adil dan bergaul dengan baik dengan orang-orang yang tidak seagama”, Rima menjawab semua pernyataan temannya yang tersirat keresahan didalamnya

“Ya bener, Rima. Itu lah yang bikin aku yakin untuk berhijab”, lanjut Dinta, “karena dalam Islam kita bukan disuruh tunduk dengan fanatik, tapi Islam menyediakan ruang bebas untuk berfikir, bahkan Rasulullah sangat menyuruh umatnya untuk rajin belajar, banyakin wawasan, biar nggak kuper, kudet dan bodoh”

“Hmmm..penjelasan kalian semua menarik. Aku nggak pernah ngerasa rugi, deh kumpul-kumpul sama kalian bertiga”, Vita nyeletuk tiba-tiba, Erin dan Ira menimpali, “Iya, bener”, lalu mereka bertiga tertawa bareng, terkejut dengan kekompakan mereka menjawab Dinta. Rima, Astrid dan Dinta ikut tertawa, dan kompak mengatakan, “Alhamdulillah”

******************************************************************

Tidak terasa, mereka pun sudah sampai di rumah Astrid. Astrid mengajak Dinta dan sahabat-sahabatnya untuk turun sebentar, dan berkenalan dengan keluarganya. Dinta oke saja, apalagi bawaan Astrid cukup banyak, jadi memang perlu dibantu untuk membawa barang masuk ke dalam rumah. Ira ikut turun dan pamit pada Dinta, Rima, Vita dan Erin. Dia hanya membawa ransel dan mau segera pulang, supaya tidak kemalaman sampai rumahnya. Astrid memberikan peluk perpisahan dan janji kepada Ira untuk main ke MIPA sebelum mereka berpisah dan Ira menuju stasiun untuk pulang.

“Lagi kutuan, ya??”, tanya Bang Dino, sewaktu membukakan pintu untuk adiknya Astrid, sambil memandang Astrid dengan binar mata jahil

“Wek, enak ajaa!!”, balas Astrid sambil menjulurkan lidahnya pada kakaknya, lalu dengan cueknya ia melihat ke arah dalam rumahnya, melepas sepatunya dan berteriak agak keras, “Assalamualaikuum..!!”

“Waalaikumsalaam..!!”, beberapa orang menjawab dari dalam

Rima, Dinta, Erin dan Vita ikut mengucapkan salam dan mengangguk memberi salam dengan sopan kepada Bang Dino, Bang Dino menjawab salam sahabat-sahabat Astrid dengan sopan pula, ia kemudian memandang Astrid,

“Trus, tu ngapain kepala dikerudungin??”, tanya Bang Dino lagi, memandang adiknya dengan sok bossy

“Ini berhijab!! Astrdi sekarang berhijab! Wek!!!”, jawab Astrid lagi, sambil menjulurkan lidahnya lagi, meledek dan mendelik ke Abangnya, tapi Abangnya malah tertawa,

“Hahahaha…sejak kapann..??? Kemaren juga ke Kerinci pake celana tigaperempat!!”, Abangnya tertawa dengan wajah setengah tak percaya

“Ih,Iyaa..Astrid sekarang berhijab! sejak turun gunung”, jawab Astrid sambil mendelik lagi ke Abangnya, lalu memanggil Ibunya, “Bundaaa…”

Seorang perempuan paruh baya, diikuti dengan dua orang gadis remaja yang lebih kecil dan lebih muda dari Astrid keluar

“Astrid! Kok malem banget pulangnya, padahal Bunda udah siapin makan malam buat kamu, takut kamu kelaperan abis dari jalan jauh”, Bunda Astrid muncul. Rima, Dinta, Erin dan Vita segera salim kepada Bundanya Astrid

“Bunda, ini sahabat- sahabat Astrid”, kata Astrid mengenalkan sahabat-sahabatnya pada Ibunya, “Ini Rima dan ini Dinta, yang sering Astrid ceritain ke Bunda”, Astrid mengenalkan Rima dan Dinta kepada Ibunya. Ibu Astrid tersenyum ramah yang dibalas senyum ramah pula oleh Rima dan Dinta

“Bun, Astrid berhijab lho, sejak turun gunung”, celetuk Bang Dino, “kutuan tuh kayaknya”, sambung Dino lagi, masih tetap dengan kejahilannya yang sama

“Enak aja!!!”, Astrid mendelik lagi pada Abangnya, yang membuat Abangnya tertawa lagi, “Ya udaah…, bukan kutuan, tapi abis latian militer dengan GAM dan Al-Qaeda”, candanya lagi, sambil tertawa

“Terserah lo aja deh! Wek!!”, jawab Astrid cuek, ia ikut masuk dengan Ibunya, diikuti dua anak perempuan yang lebih kecil dan lebh muda dari Astrid itu.

Rupanya kedua anak perempuan itu adalah adik-adik Astrid, yang juga diperkenalkan Astrid kepada sahabat-sahabatnya. Yang paling kecil namanya Geva, masih kelas 2 SMP, yang satunya lagi namanya Asti, kelas 1 SMA. Astrid sebenarnya merupakan keluarga besar. DIa anak kelima dari tujuh bersaudara. Asti dan Geva adalah anak ke enam dan ke tujuh. Bang Dino anak keempat, dan masih mahasiswa tingkat akhir. Kakak Astrid yang tiga lagi sudah bekerja semua. Kakak pertama dan kedua sudah menikah, mempunyai anak-anak dan rumah sendiri, jadi tidak tinggal di rumah itu lagi dengan orangtua dan keluarga. Kakak Astrid semua laki-laki, yang perempuan hanya Astrid, Asti dan Geva. Kakak ketiga sudah bekerja tapi masih tinggal dengan orangtua dan keluarga.

“Yuk, masuk dulu”, ajak Ibunya Astrid, “Tante sudah bikinkan bubur kacang ijo ketan item, bolen keju dan brownies, untuk syukuran kecil-kecilan kepulangan Astrid”, Ibunya Astrid menarik tangan Dinta, untuk mengajak sahabat-sahabat Astrid masuk ke ruang makan keluarga Astrid. Dinta segera menarik tangan Rima. Rima pun jadi ikut dan segera ia menarik Erin dan Vita. Mereka semua mengikuti Astrid dan Ibunya ke ruang makan keluarga.

Bersambung....

Senin, 02 Februari 2026

BAB VII- Astrid Berhijab! (Bagian 1)

Tidak terasa sudah akhir semester. Tapi Rima masih belum bisa pulang kampung, sebab perkuliahan masih belum libur, walaupun Ujian Akhir Semester sudah selesai, tapi masih ada waktu seminggu untuk yang remedial ataupun yang ujian susulan, bagi mahasiswa yang izin, atau sakit. Karena Rima mengikuti semua ujian akhir tanpa izin ataupun dia pernah sakit, maka jadwal ujiannya juga sudah selesai. Begitu juga Dinta dan Astrid. Jadi mereka bertiga sebenarnya sudah libur, hanya ke kampus untuk melihat nilai ujian, dan menyelesaikan pembayaran semester depan. Selain itu, mereka libur.

Rima sebenarnya ingin cepat-cepat izin kantor dan pulang ke rumahnya. Walaupun hanya dua atau tiga hari mendapat izin dari Pak Dahlan, itu sudah cukup baginya. Yag penting baginya, ia bisa pulang dan bertemu keluarga. Sayangnya, perkuliahan belum libur, jadi Rima masih harus ke kampus untuk melihat nilai-nilai ujiannya, kalau-kalau ada yang harus remedial. Ia juga harus mempersiapkan mengisi form rencana studi semester depan, pembayaran semester depan dan berbagai urusan administrasi lainnya. Rima bersyukur, kedua orangtuanya sangat mengerti kondisi Rima, bahkan segera mengirim uang semester, sewaktu Rima mengirimkan jadwal pembayaran dan rencana studi semester depan. Orangtuanya juga mengerti, Rima mungkin tidak bisa pulang, dan kalaupun pulang, mungkin hanya dua atau tiga hari, karena bagaimanapun, ia juga punya pekerjaan di kantor yang tidak bisa ditinggal libur seenaknya.

Jadilah Rima mengisi seminggu setelah Ujian Akhir dengan lebih banyak mengisi waktunya bekerja di kantor. Ia bekerja dengan lebih giat dan rajin, untuk menggantikan semua waktunya di kantor yang terpakai untuk kuliah pada bulan-bulan sebelumnya. Rupanya Pak Dahlan memperhatikan giat dan rajinnya Rima, jadi ketika ia bertemu Rima, Pak Dahlan menyapa Rima dan mengatakan, kalau libur akhir semester Rima mau pulang kampung, maka Pak Dahlan memberikan izin untuk dua hari selain akhir minggu. Jadi Rima sebaiknya pulang sewaktu akhir minggu, jadi bisa ditambah dua hari izin dari Pak Dahlan. Rima mengucapkan terimakasih, tapi ia menjelaskan sejujurnya, bahwa ia mungkin belum bisa pulang, karena perkuliahan juga belum libur, dan ia ingin mengisi waktu liburnya dengan bekerja di kantor, mengganti waktu-waktu yang terpakai untuk kuliah pada bulan-bulan kemarin. Pak Dahlan tersenyum senang sewaktu Rima menjelaskan keinginannya mengisi libur dengan tetap bekerja di kantor saja. Pak Dahlan kemudian mengatakan, itu terserah Rima, tapi kalau mau pulang kampung, tinggal beritahu ke Bu Lenny, untuk administrasi izin, karena Pak Dahlan sudah mengizinkan. Rima juga mengucapkan terimakasih pada Pak Dahlan dengan pengertian dan izin yang diberikan kepadanya.

Walaupun Rima tidak bisa pulang kampung, tapi Rima tidak sedih. Sebab Erin, sahabatnya di SMK dulu, datang mengunjungi Rima di paviliunnya, sehari sebelum akhir minggu. Erin tahu dari info yang diberikan Rima di chat mereka, setiap akhir minggu, kantor Rima libur, dan dengan jadwal libur di kampus, sementara Rima tidak bisa pulang, maka Rima tidak akan ada kegiatan. Maka Erin berinisiatif untuk mengunjunginya di Depok. Erin datang dengan menggunakan hijab, membuat Rima merasa surprise, dan Erin langsung menjelaskan kenapa ia sudah menggunakan hijab lagi.

Rupanya setelah tamasya mereka ke Taman Safari, Erin cukup merenungkan pertemuan dan obrolannya dengan Rima. Ia kemudian memberanikan diri untuk coba-coba buka katering, yang ia promosikan kepada teman-teman SMK mereka dulu. Ternyata banyak dari teman-teman mereka, yang juga sudah bekerja seperti Erin dan Rima, lebih memilih makan siang dengan katering ketika istirahat kantor, karena lebih menghemat, daripada mencari makan di warung-warung. Erin jadi kebanjiran job, yang membuatnya lebih percaya diri untuk resign dari restoran tempatnya bekerja. Dan karena selama bekerja di restoran ia juga belajar beberapa menu dari restoran tempatnya bekerja, maka ia juga menyediakan menu serupa pada menu kateringnya, yang membuat kateringnya semakin digemari oleh teman-teman SMKnya, bahkan teman-teman SMK mereka juga mempromosikan ke teman-teman kantor mereka, membuat Erin dapat langganan beberapa kantor teman-teman SMK untuk katering siang hari. Erin merasa bersyukur bahwa Allah masih membukakan pintu rezekinya. Ia kemudian segera berhijab lagi, dan berjanji pada dirinya, tidak akan pernah melepas hijabnya sampai kapanpun, walau keadaan bagaimanapun dalam hidupnya.

Rima senang mendengar cerita Erin, bahwa ia dibukakan pintu rizki yang lebih luas, dan itu menjadi jalannya untuk bisa kembali berhijab. Rima juga menyanggupi permintaan Erin untuk mengingatkan Erin kalau Erin mau melepas hijab lagi. Sekalian Rima bilang pada Erin, karena ia mengingat perkataan Erin bahwa ia lebih beruntung daripada Erin, Rima bilang, bukan Rima lebih beruntung, tapi Rima dan Erin sama-sama punya jalan rizki masing-masing, hanya dengan cara yang beda-beda, rizki itu tidak akan tertukar. Kita hanya perlu ikhtiar,berdoa dan tawakal pada Allah Subhanawata’alaa.

Erin berencana menghabiskan waktu di paviliun Rima dan jalan-jalan ke tempat-tempat wisata ataupun mall-mall di Depok, tapi Rima diajak Dinta untuk menginap di rumahnya, sekalian katanya dulu di awal semester, Rima mau belajar renang ke Dinta. Rima sudah terlanjur menyanggupi ajakan Dinta, jadi Rima mengajak Erin untuk ikut ke menginap di rumah Dinta. Rima juga bilang pada Dinta, mungkin ia akan menginap dengan Erin, sahabatnya di SMK. Ternyata Dinta oke saja, ia juga mengajak Vita, sahabatnya di majlis taklim yang Rima sudah kenal, untuk menginap di rumah Dinta. Astrid tidak bisa ikut menginap, sebab ia sedang hiking dan camping ke Gunung Kerinci bersama dengan sahabat sesama Pecinta Alam sewaktu SMA, Ira, yang juga mahasiswa MIPA, yang Rima juga sudah kenal. Sepertinya cuma Erin yang belum dikenal oleh Dinta dan Astrid,maka Rima berencana untuk mengenalkan Erin pada Dinta dan juga Astrid, jadi mereka semua, Rima, Dinta, Astrid, Erin, Vita dan Ira, saling mengenal satu sama lain.

********************************************************************

Jadilah hari Sabtu akhir minggu itu, Rima dan Dinta kumpul di rumah Dinta, minus Astrid, tapi dengan Erin dan Vita. Sabtu pagi, Rima belajar renang dengan Dinta sebagai instruktur. Dinta ternyata jago berenang. Maka Vita dan Erin juga belajar renang pada Dinta. Hari itu, berkat Dinta, dengan kecerdasan dan terampilnya sebagai instruktur, akhirnya Rima, Erin dan Vita sudah cukup menguasai gaya dada, gaya yang paling mudah dalam renang. Kata Dinta, kalau Rima konsisten, setiap libur Rima bisa menginap di rumah Dinta, untuk diajari semua gaya renang. Rima dengan senang hati menerima tawaran Dinta, dan rupanya Vita juga mau jadi murid Dinta belajar renang, jadi Dinta juga menerima Vita, yang akan menginap setiap akhir pekan, kalau ia dan Dinta sama-sama tidak sibuk kuliah, untuk belajar renang.

Mereka juga bercanda, main, dan ngobrol sambil renang. Rumah Dinta yang mewah juga punya sudut untuk pesta lengkap dengan alat barbeque di sudut taman, maka, mereka juga membakar ayam, dan makan kue-kue buatan Erin, yang jadi jago masak dan bikin kue, karena pernah bekerja di restoran. Astrid yang dihubungi Rima melalui video call, mengatakan ia rasanya jadi ingin bergabung dengan mereka juga. Tapi ia masih di pedesaan dekat dengan kaki gunung. Ia, Ira dan tim Pecinta Alam baru saja turun gunung, dan akan melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Dinta yang ikut nimbrung di video call antara Rima dan Astrid, menawari Astrid untuk dijemput, dan tentu saja Astrid mau! Maka, hari Minggu sore keesokan harinya, jadwal Dinta dan Rima adalah menjemput Astrid di Sekretariat klub Pecinta Alam-nya Astrid. Astri memberikan alamat dan share loc di chatgroup mereka bertiga, supaya Dinta besok nggak nyasar.

Akhir minggu itu kebetulan Dinta sedang sendiri di rumahnya, maka ia bisa mengajak Rima, Vita dan Erin untuk menginap di rumahnya. Dinta adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya laki-laki dan sudah menikah dan memiliki dua anak yang masih kecil-kecil. Kakak yang kedua adalah Kak Cinta, yang membela Dinta sewaktu SMA dia diganggu oleh geng Morfin Bro. Kak Cinta di Amerika dan melanjutkan studi master-nya di Universitas di Amerika. Kakak laki-laki Dinta, yaitu Kak Sapta, sebenarnya tinggal di Jakarta bersama dengan Dinta, di rumah orangtua mereka. Kak Sapta bekerja dan mengurus bisnis dan perusahaan Ayah Dinta di Indonesia. Tapi, karena bisnis Ayah Dinta ada di Indonesia dan Amerika, maka Kak Sapta juga sering tinggal di Amerika sampai sebulan lamanya. Kalau ke Amerika, Kak Sapta sering membawa anak-anak dan istrinya, jadi Dinta sendirian di rumah. Rumah Dinta memang rumah orangtua Dinta. Kak Sapta tidak membeli dan mempunyai rumah sendiri. Orangtua Dinta meminta Kak Sapta sekeluarga dan Dinta untuk tetap tinggal di rumah mereka saja. Kak Sapta tidak perlu membeli rumah sendiri, sebab Ayah dan Ibu Dinta tinggal di Amerika sudah sejak Kak Sapta mulai bekerja dan meneruskan memimpin perusahaan Ayah Dinta di Indonesia, sementara Ayah dan Ibu Dinta, tinggal di apartemen di Amerika, bersama dengan Kak Cinta. Terkadang Ayah dan Ibu Dinta pulang ke Indonesia, dan rumah Dinta jadi penuh dengan keluarganya. Orangtuanya, kak Sapta, istri Kak Sapta dan ponakan-ponakan Dinta, yakni anak-anak kak Sapta, dan kadang juga Kak Cinta, kalau Kak Cinta libur panjang kuliah. Dinta juga tidak selalu sendiri, sebab Kak Sapta tidak selalu di Amerika, lebih sering di Indonesia. Apalagi anak-anak dan istrinya tidak bisa selalu dibawa ke Amerika.

Karena sebulan ini Kak Sapta sekeluarga tidak ada, hari Sabtu itu Dinta bebas bikin pesta di rumahnya. Maka hari itu mereka belajar masak dan bikin kue dari Erin, mereka juga karaoke, karena Dinta punya home theater lengkap dengan perlengkapan karaoke dan juga speaker yang bikin mereka serasa nonton film di bioskop. Yang mengejutkan, Dinta ternyata punya koleksi film-film Islami yang cukup lengkap! Dari film Nabi-Nabi, film-film perjuangan Islam seperti Al-Fatih dari Turki ataupun Salahuddin Al-Ayyubi, bahkan Thariq bin Ziyyad dan Omar Mokhtar dari Libya. Dinta juga punya film perjuangan Islam Indonesia seperti “Sang Pencerah” sampai film drama-drama Islami yang mengharukan dari mancanegara sampai film komedi Islami Indonesia yang edukatif. Dinta cerita, ia juga dibantu oleh teman-teman yang ia kenal karena Ayahnya punya cukup banyak relasi bisnis orang Timur Tengah di Amerika, mereka kenal, karena, sejak berbisnis dengan orang-orang Timur Tengah itu, orangtua Dinta jadi ikut dalam komunitas Islam di Amerika. Dinta dan kakak-kakaknya juga jadi kenal dengan komunitas Islam Amerika. Tapi yang paling getol dengan komunitas Islam Amerika itu, kalau ke Amerika, adalah Dinta. Rima diam-diam memandang Dinta dengan kagum. Ternyata ghirah Dinta untuk belajar Islam sedemikian besar, sampai-sampai ia mengumpulkan semua film-film Islami, bahkan film-film perjuangan dan dokumenter, untuk belajar mengenai Islam. Padahal ia bukan dari keluarga dengan latar belakang yang terlalu Islami. Orangtua Dinta menjadi lebih relijius, terutama karena pengaruh relasi-relasi bisnis Ayah Dinta dari Tmur Tengah. Dan Dinta juga punya banyak teman bule Amerika yang non-muslim. Kalau ia tidak hijrah, kehidupannya akan sama senang dan mudahnya. Tapi Dinta lebih memilih hijrah dan mempelajari dan menjalani kehidupan sebagai muslimah semampu dan sekuatnya Dinta, walaupun keluarga dan kakak-kakaknya tidak serelijius dirinya. Rima diam-diam sungguh sangat salut dengan Dinta.

****************************************************************

Minggu sore itu, mobil Dinta, dengan Dinta, Rima, Erin dan Vita di dalamnya, sudah nongkrong di parkiran Sekretariat klub Pecinta Alam Astrid. Astrid masih dalam perjalanan, jadi Dinta dan Rima masih harus menunggu sampai Astrid sampai di Sekretariat dan mereka bertemu Astrid. Rima, Dinta, Erin dan Vita menunggu Astrid di dalam mobil. Kebetulan mereka membawa perbekalan makanan, dan mereka juga sambil nonton film di TV kecil di mobil Dinta, dan juga sambil ngobrol. Rima juga memperhatikan suasana Sekretariat Klub Pecinta Alam itu.

Sekretariat itu dari luar tampak seperti gedung aula yang cukup besar, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir mobil. Di pinggir halaman luas itu, tumbuh pohon beringin yang cukup besar dan tempat duduk yang cukup banyak menempel tembok luar gedung, dimana banyak orang, tampaknya anggota Klub, duduk-duduk dan berkumpul, sambil membongkar atau mencoba-coba perlengkapan mendaki mereka. Di ujung lain halaman, tampak seperti dinding tinggi, untuk anggota Klub belajar panjat tebing. Sekelompok orang juga berkumpul disitu, sedang berlatih panjat dinding. Di pintu Klub, yang seperti pintu masuk gudang yang cukup besar, cukup banyak orang yang keluar masuk, tampaknya dengan berbagai keperluan, beberapa keluar masuk dengan membawa perlengkapan mendaki.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil colt datang, satu-satu orang keluar dari mobil itu. Seorang cewek keluar dari mobil itu, dan segera melihat mobil Dinta. Cepat ia lari menghampiri mobil Dinta,

Guys!”, serunya, dengan senyum lebar dan wajah cerianya seperti biasa, ia menghampiri jendela depan, dan melongokkan wajahnya ke dalam, “Eh, ada Vita juga!”

Rima dan Dinta memandang cewek itu dengan sedikit terkejut dan heran, mereka agak bingung awalnya, tapi kemudian mereka menyadari itu adalah..

“Astrid?!!”, seru Rima, tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut dan herannya

“Bentar ya, aku beresin barang  en pamit dulu sama yang lain”, Astrid nggak ngeh dengan keterkejutan dan keheranan Rima dan Dinta

“Astrid abis naik gunung atau kajian di Rohis, sih?!”, Dinta menimpali, ia juga sama herannya dengan Rima, sebab Astrid memakai hijab

“Kenapa sih..?? Ini baru nyampe banget, tadi bisa liat sendiri kan mobilnya pas masuk”, jawab Astrid, masih dengan senyum lebarnya, “Alhamdulillah, nyampe juga di Sekre”

“Itu lho.., kok kamu berhijab sihh..?”, Rima mengerti dengan keheranan Dinta yang seperti dirinya, melihat Astrid membungkus kepalanya dengan pasmina, menjadi hijab yang cukup rapi, apalagi untuk orang yang baru mendaki gunung

“Ooo—ooh…”, Astrid jadi maklum, dia sendiri lupa kalau dia menggunakan hijab, tidak menggunakan topi seperti biasa penampilannya kalau mendaki gunung. Tidak seperti penampilannya kalau jalan-jalan atau di kampus, kecuali kegiatan rohis. Tidak seperti penampilannya sewaktu akan ke Kerinci.

“Yaa…, emang mau coba jadi hijaber, istiqomah”, kata Astrid lagi, menjawab kebingungan kedua sahabatnya

“Dari sebelum ke Kerinci?”, tanya Dinta lagi, sebab memang mereka tidak mengantar Astrid ke Sekre Klub-nya, sewaktu ia akan berangkat ke Gunung Kerinci

“Nggak. Ya pas turun gunung dua hari lalu”, jawab Astrid singkat

“Serius??”, sahut Rima, masih heran, tapi ia jadi senyum-senyum, begitu juga Dinta, Astrid juga tambah tertawa terkikik, “Gini deh, anggep aja aku dapat hidayah di Kerinci” jawabnya lagi, “Sebentar ya, temen-temen, unpacking dulu. Eh, boleh ajak Ira, nggak, Dinta?”

“Oh iya..iya, boleh dong”, jawab Dinta cepat, “Asal barang kamu nggak banyak, cukup kok”

“Oke, wait ya, ntar kalo mau interview soal hijab pas udah jalan pulang”, kata Astrid berbisik genit pada dua sahabatnya, sambil mengedipkan mata, ia lalu pergi menjauh, untuk masuk ke dalam Sekre, menyelesaikan urusannya dengan teman-teman Klub-nya

Rima, Dinta, Erin dan Vita menunggu beberapa menit, sebelum akhirnya mereka melihat Astrid melambaikan tangannya di pintu masuk Sekre Klub, Rima segera menelfon Astrid, daripada ia dan Astrid saling berteriak,

“Kenapa, Trid?”

“Masuk sini,yuk. Masih agak lama”

“Ogah, ah. Nunggu di mobil aja”

“Yee..ayoo, ikut masuk, nggak pa-pa. Ini lagi ada semacam farewell party dan congrats buat yang baru pulang dari pendakian, ntar lama kalo nunggu di mobil”

“Nggak apa-apa tunggu aja”

Astrid menutup telfonnya, tampak ia memanggil seseorang, dan keluarlah Ira. Astrid dan Ira kemudian mendekati mobil Dinta, meminta teman-teman mereka di mobil itu untuk turun dan ikut merayakan kesuksesan mereka bersama dengan Klub Pecinta Alam

“Yuk ah, masak sih kalian nggak mau ikut merayakan kesuksesan aku bisa ke second summit Indonesia”, kata Astrid, sambil agak memanyunkan bibirnya, pura-pura ngambek

Mendengar bahwa mereka diminta turun untuk merayakan kesuksesan Astrid, Rima segera membuka pintu dan keluar dari mobil, “Ya mau, lah. Yuk”

Erin dan Vita mengikuti Rima keluar mobil, Dinta paling akhir karena ia harus mengunci dan memastikan keamanan mobil. Ia kemudian segera menyusul teman-temannya masuk ke dalam Sekretariat.

Sekretariat itu ternyata cukup luas di bagian dalamnya, betul-betul seperti aula. Dan banyak juga anak-anak muda seusia kurang lebih Rima, Dinta dan Astrid, laki-laki dan perempuan.

“Disini cuma Klub Pecinta Alam aja,Trid? Luas amat ya, Sekre-nya”, tanya Dinta, sedikit takjub, ia menyapu pandangan ke sekeliling aula itu

“Ya nggak, lah. Ini semacam GOR gitu. Ada klub Pecinta Alam, Badminton, Basket dan Travelling. Tuh, liat nggak, pintu-pintu kecil yang ditempeli papan, itu Sekre masing-masing Klub, tapi latihan ya diluar sekre, di dalam aula ini”, jelas Astrid, tuntas

Astrid kemudian mengajak sahabat-sahabatnya menuju ke arah Sekretariat Pecinta Alam, tampak seorang mbak-mbak menggunakan hijab, tapi dengan kostum mendaki dan sedang merokok. Mbak-mbak itu menyapa Astrid,

“Waah..Astrid, sekarang berhijab juga?”

“Iya kak. Doain istiqomah, ya”, jawab Astrid sambil tersenyum ramah, ia kemudian mengambil duduk di dekat mbak-mbak itu, dan mempersilakan sahabat-sahabatnya juga mengambil tempat duduk disitu.

“Alhamdulillah, bagus itu Astrid! Walaupun kita masih dengan gaya hidup serampangan begini”, lanjut Kakak itu dengan sambil tersenyum dan merokok, “tapi yang penting kita usahakan untuk memenuhi kewajiban kita sebagai muslimah, semampu kita”

“Astrid tadinya takut berhijab, takut jadi hijab nggak bener Kak”, jawab Astrid, “Padahal Astrid niatnya pakai jilbab untuk memperbaiki diri, dan menjadi pribadi yang baik”, kata Astrid lagi

“Yang penting, pakai aja duu hijabnya, memperbaiki diri menjadi pribadi yang bener sambil jalan. Saya juga nih, masih merokok, tapi saya berhijab aja, dengan semangat untuk menjalankan agama semampu saya, ya sekuat dan sebaik mungkin. Bukan semampu yang santai-santai tapi lalai. Santai tapi serius tapi asik gitu..”, kata Mbak itu, sambil tersenyum lebar dan bercanda

“Ciee..jadi asik ya Kak, pake hijab..atau sok asik, nih jangan-jangan”, Astrid tertawa dengan candaan si Mbak

“Sok asik, kayaknya”, sahut Mbak itu sambil tertawa, “bisa aja, kamu Astrid. Yuk ah, saya ke dalam dulu, temen-temen kamu tawarin cemilan, tuh, di dalam banyak Astrid”, kata Mbak itu, sambil tersenyum pada Rima, Dinta, Erin dan Vita, lalu masuk ke dalam Sekre

“Sebentar lagi acaranya dimulai. Abis maghrib. Liat kan yang seperti mau bikin api unggun di tengah halaman parkir?”, kata Astrid pada sahabat-sahabatnya, sementara Rima dan Dinta memperhatikan Astrid dan semua suasana di dalam aula dan di Sekre Klub Pecinta Alam itu, “Yuk, bantu bawa makanan ke meja dekat api unggun. Ntar kita shalat maghrib jamaah di mushalla, tuh, liat disana”, Astrid menunjuk salah satu sisi aula

Astrid, Dinta, Rima, Ira, Erin dan Vita kemudian menghabiskan sisa sore itu membantu Astrid membawa makanan dan persiapan lain untuk pesta api unggun malam nanti. Menjelang maghrib, mereka segera ke aula untuk shalat berjamaah, dan selesai shalat berjamaah, mereka mendekati api unggun, untuk mempersiapkan dan mengikuti acara. Astrid juga mengenalkan sahabat-sahabatnya pada teman-teman Klubnya yang kebetulan sama-sama naik gunung dan mengikuti persiapan untuk pesta kesuksesan beberapa tim Pendaki yang menaklukkan gunung-gunung di Indonesia.

 

Sewaktu Astrid, Rima, Dinta, Erin, Vita dan Ira bersiap ikut dalam lingkaran orang yang melingkar di sekeliling api unggun, seorang mbak, bukan mbak yang ngobrol tadi sore dengan Astrid, menyapa Astrid dengan keceriaan dan sedikit histeris,

“ASTRIIID..!!”, mbak itu memekik sambil memeluk Astrid erat, Astrid tampak terkejut tapi senang, ia membiarkan dirinya dipeluk mbak-mbak itu

“Mbak Carla..!”, balas Astrid, pada mbak yang juga berhijab itu. Klub Pecinta Alam ini tampaknya memiliki anggota-anggota muslimah yang berhijab juga

“Astrid sekarang berhijab??! Wah, keren euy!”, kata mbak Carla, wajahnya terlihat senang melihat Astrid berhijab

“Insya Allah. Doain istiqomah ya, Kak”, jawab Astrid, tersipu malu. Lagi-lagi ia ditanya soal dirinya yang menggunakan hijab

“Iya, didoain istiqomah. Tapi berhijab itu, walaupun cuma buat ambil air di gunung subuh-subuh, dan sepi, seperti tidak ada yang melihat, hijabnya juga kudu tetap dipakai”, kata Kak Carla,membuat Astrid tersenyum dengan perhatian Kak Carla, “bahkan walaupun cuma keluar rumah sebentar, untuk buang sampah atau ke warung depan rumah, selama di tempat-tempat dengan potensi akan ada atau banyak laki-laki bukan mahram lewat dan melihat kita, hijabnya tetap harus dipakai”, lanjut Kak Carla, “Astrid siap?”

“Siap Kak!”, jawab Astrid segera, “Itu semua sudah Astrid renungkan selama di gunung”, jelas Astrid, “Makanya, turun, langsung Astrid pakai apa yang bisa dipakai. Karena adanya pasmina 2 lembar yang Astrid bawa, makanya Astrid pakai pasmina, deh”, Astrid mengakhiri penjelasannya sambil tersenyum lebar, membuat Rima dan Dinta ikut tersenyum

“Oooh..jadi di gunung dipakai untuk merenung juga..muhasabah, ya”, timpal Dinta sambil terkikik, membuat Rima juga ikut terkikik. Ira teman Astrid jadi tertawa, membuat Erin dan Vita juga ikut tertawa

“Ya iyya laah..nggak cuma muhasabah, macem-macem lah, variatif”, ceplos Astrid, cuek saja dengan ledekan Dinta, malah sambil tertawa karena sahabatnya tertawa semua mendengar pengakuannya

“Tadi janji, ntar di mobil pas pulang, cerita yaa..”, kata Rima

“Iya, janji”, jawab Astrid sambil mengedipkan matanya, wajahnya yang ceria tampak sangat bahagia hari itu

Acara syukuran api unggun hari itu diawali dengan doa dan khidmat, ucapan selamat dari Pembina dan Ketua Klub, dan diakhiri dengan beberapa hiburan lagu akustik, karena hanya ada gitar, dan acapella dan sedikit permainan, lalu makan-makan. Ternyata syukuran malam itu bukan buat tim Astrid saja, tapi juga tim-tim pendaki lain yang juga baru menyelesaikan pendakiannya dari Gunung Semeru, Gunung Jayawijaya atau Cartenz Summit, dan beberapa gunung lainnya di Indonesia. Pembina dan Ketua Klub juga memberi pesan untuk beberapa tim yang sedang persiapan untuk mulai mendaki gunung-gunung di luar negeri, untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin. Rencananya tim itu akan ke Nepal, untuk memulai perjalanan dan pendakian mereka. Sebenarnya ada beberapa tim yang sudah beberapa kali ke gunung-gunung di luar negeri, dan disusul dengan beberap tim pendaki lain yang juga akan mulai untuk mendaki gunung di luar negeri.

Acara syukuran Klub Pecinta Alam Astrid berakhir sukses, dan sahabat-sahabat Astrid, yakni Rima, Dinta, Erin dan Vita, diterima ikut acara syukuran dan makan-makan, seperti anggota klub lainnya. Selesai pesta, setelah membantu membereskan sisa-sisa pesta dengan anggota Klub lainnya, Astrid pamit untuk pulang dengan Dinta, Ira, Rima, Erin dan Vita, sahabat-sahabatnya yang sudah menjemputnya sejak sore.

*****************************************************************

“Jadi, gimana awalnya, sampai memutuskan berhijab?”, tanya Rima pada Astrid, ketika mereka sudah di mobil Dinta, dalam perjalanan pulang. Rencananya mereka akan mengantar Astrid ke rumahnya, setelah itu mengantar Erin ke terminal, karena ia harus pulang ke Bogor, dan kemudian baru mengantar Rima. Vita akan menginap lagi di rumah Dinta, dan besok ia akan berangkat kuliah dari rumah Dinta, lalu setelah kuliah ia pulang, tidak menginap lagi di rumah Dinta. Rupanya kampus Vita belum libur. Sementara Ira, ia akan turun di stasiun dekat rumah Astrid, karena jarak rumah Astrid dan Ira hanya berbeda 2 stasiun KRL.

“Iya, Astrid kan tadi janji mau cerita”, Dinta juga teringat dengan janji Astrid tadi sore

Astrid jadi tersenyum diingatkan oleh dua sahabatnya, matanya yang cerdas berbinar-binar menatap kedua sahabatnya itu, “Well, mungkin buat kalian ceritaku biasa aja. Tapi karena kalian minta aku cerita, oke, aku kasitau alasan dan background cerita yang biasa-biasa ituhh..”, Astrid juga memandang Ira, Erin dan Vita yang sama penasarannya dengan Rima dan Dinta. Ira, sahabat Astrid sejak SMA jadi tersenyum geli melihat ekspresi wajah Astrid, yang antara setengah terpaksa untuk cerita dan semangat untuk berbagi cerita dengan sahabat-sahabatnya, “Tapii..boleh nggak, aku ceritanya sambil merem?”, tanya Astrid lagi tanpa ragu dan cuek

“Boleh, Trid. Sambil kedip-kedip juga boleh”, sahut Dinta sambil terkikik, membuat Astrid tertawa

“Perlu diputerin musik yang sesuai dengan cerita, nggak nih?”, timpal Rima senyum-senyum melihat Astrid

“Boleh-boleh.., yang sesuai dengan suasana nature atau alam, yaa”, jawab Astrid, malah semakin menaggapi sikap lebay Rima dan Dinta

“Ya udah, atuh, oke, cepet cerita”, Ira yang malah jadi nggak sabar, tapi dia masih senyum-senyum melihat semangat Astrid dan bagaimana ia saling meledek dengan sahabat-sahabatnya dari FE, Rima dan Dinta

Well..”, Astrid mulai memejamkan matanya, sementara Rima mengganti musik di tape mobil Dinta dengan yang lebih slow sambil senyum-senyum, sama seperti Astrid

“Temen-temen..”, Astrid memulai, “Kerinci itu indah banget. Terutama sewaktu sudah di puncak gunung, walaupun itu gunung berapi”, Astrid terdiam sejenak, membayangkan kembali pengalamannya sewaktu di puncak Kerinci. Ira memandang Astrid lalu kepada Rima dan Dinta. Ira mengangguk setuju kepada Rima dan Dinta, sewaktu Astrid mengatakan Kerinci itu indah.

“Sebenarnya semua pemandangan dari atas gunung itu menakjubkan, dan aku tidak pernah lupa dengan semuanya itu”, lanjut Astrid, “tapi setiap abis naik gunung, walaupun sudah beberapa gunung kudaki, tetap saja, seperti pengalaman baru, seperti pertamakali naik gunung, semua begitu menakjubkan”

“Sebenarnya..”, Astrid masih melanjutkan, sambil masih memejamkan matanya, “setiap kali aku mendaki gunung, terutama ketika menikmati pemandangan alam, selalu kugunakan untuk bersyukur, memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah, menikmati keagungan-Nya melalui ciptaan-Nya, tenggelam dalam keindahan alam ciptaan-Nya”, Astrid mengatakan itu semua dengan sambil membayangkan semua kemegahan alam yang pernah dikaguminya dalam perjalanan-perjalanannya ke setiap gunung yang pernah didakinya

“Tapi kan perjalanan ke puncak itu nggak mudah, Trid”, celetuk Ira

“Hah? Apa..??”, Astrid membuka matanya dengan setengah kaget dan setengah linglung dengan pertanyaan Ira yang tiba-tiba nyeletuk, membuat Ira jadi tertawa

“Oo..oooh..”, Astrid jadi mengerti maksud Ira, cepat ia jawab dan sambung ceritanya, kali ini ia tidak sambil memejamkan mata, “memang perjalanan itu tidak mudah. Ada saat-saat dimana kita kadang merasa putus asa dan lelah, untuk sampai ke puncak gunung”, cerita Astrid lagi, yang ditimpali dengan Ira, menyetujui, “Bener”, sambil memandang Dinta yang sedang menyetir dari kaca spion tengah

“Kalau orang bijak bilang, naiklah gunung, arungi lautan, pergilah travelling, kamu akan tau siapa dirimu, itu bener”, Astrid memandang Rima dan Dinta, “di tengah alam yang luas, kamu akan merasa dirimu kecil, dan bukan apa-apa”, Astrid menarik napas dalam, “temen-temen, selamanya manusia tidak akan pernah menang dengan alam, jika alam marah”, lanjut Astrid lagi, “satu-satunya cara manusia menaklukkan alam adalah dengan berbuat baik pada alam”, kata Astrid lagi, memandang Rima dan Dinta yang duduk di bagian depan mobil, dari spion tengah mobil

“Tidak dengan teknologi?”, celetuk Erin, yang sama seperti Vita, Rima dan Dinta, juga tertarik dan menyimak cerita Astrid

“Tidak juga dengan teknologi”, jawab Astrid lugas, lalu lanjutnya,”kalau teknologi itu merusak alam”, jawabnya lagi tuntas, sementara Ira mengangguk setuju, sambil memandang Erin dan Vita, “bener banget”, timpalnya, lagi-lagi ia setuju dengan Astrid

“Jadi, berbuat baik dan ramahlah, pada alam”, Ira menambahi penjelasan Astrid, “Ingat, kalau dalam bahasa Inggris, menyebut bumi sebagai tempat hidup yang memberi kita segala yang kita perlukan dalam hidup kita itu Mother Earth, jadi, kita perlu mengembalikan apa yang diberikan Ibu yang tidak pernah meminta balik, dengan bakti menjaga bumi sebaik mungkin”, Ira mengakhiri penjelasannya, membuat Astrid menyimak dan menyetujui penjelasan Ira, “bener”, timpal Astrid, kali ini ia yang menyetujui penjelasan Ira

“Sepakat”, jawab Rima dan Dinta hampir bersamaan, sementara Erin dan Vita juga menjawab “setuju”, hampir berbarengan

“Trus..hubungannya dengan Astrid mutusin berhijab, apa nih?”, tanya Dinta, sambil tersenyum dan memandang Astrid di bagian tengah mobil dari spion tengah sambil senyum-senyum

“Dinta..”, jawab Astrid sambil mulai memejamkan matanya lagi, “Setiap kali aku tenggelam dalam keindahan ciptaan Allah, aku seperti tidak mau pergi dari tempat itu selamanya, ingin terus berada dalam keindahan itu..”, ia diam sejenak, terbayang lagi semua keindahan alam yang selama ini ia nikmati dalam setiap petualangannya, “bibirmu akan berdzikir dengan mudahnya, kamu akan terus berdzikir, mengingat Al-Mushawwir, Yang Melukiskan, Menciptakan, alam semesta yang menakjubkan ini, Allah Subhanawata’alaa”

Astrid pelan-pelan membuka matanya, ia memandang Ira yang duduk disebelahnya, Erin dan Vita, yang duduk di bagian belakang mobil, lalu ia melihat Rima dan Dinta melalui spion, “dalam perjalanan turun, sambil jalan aku berdzikir dan berdialektika dengan diriku sendiri, Allah itu Maha Indah..,jadi perbuatanNya pasti selalu indah”, ia diam sejenak, “artinya Allah tidak akan pernah mendzalimi hamba-Nya”, Astrid diam lagi, lalu sedikit menunduk, tapi kemudian ia menegakkan kepalanya, memandang Dinta dan Rima dari kaca spion, lalu melihat Ira, sahabat setianya yang sama-sama mencintai alam seperti dirinya

“Aku jadi sadar, Allah sudah begitu baik kepadaku. Aku sadar, tidak semua orang bisa mendaki gunung, apalagi sampai banyak gunung, termasuk Kerinci, seperti aku dan Ira”, katanya sambil menatap Ira sambil tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca, membuat Ira jadi ikut terharu dengan pengakuan jujur Astrid yang memang polos dan jujur dibalik sikap tomboy dan cuek-nya yang selalu ia perlihatkan di depan banyak orang

“Pengalaman menikmati dan tenggelam dalam keindahan dan kemegahan alam ciptaan Allah itu, tidak semua orang mengalaminya, apalagi kalau ketika dalam saat itu mulut kita jadi terus berdzikir mengagumi Ke-Maha Kuasaan- Allah”, jawab Astrid, suaranya jadi sedikit bergetar, “itu karunia Allah yang precious, apalagi dengan keberserahan total diri kita selama dalam perjalanan”, lanjut Astrid sambil tersenyum memandang Ira, sahabatnya yang, dari ekspresi yang Ira perlihatkan ke Astrid, seperti paham betul dengan apa yang diceritakan Astrid, “dan itu membuatku jadi bersyukur..dan..tersadar..”, Astrid menunduk lagi, dan kemudian ia menegakkan kepalanya lagi, seperti tadi,

“Aku cinta kepada Tuhanku, Allah Subhanawata’alaa..”, Astrid melanjutkan dengan yakin, “dan seperti kata Pak Ustadz, Allah itu mencintai hamba-hambaNya..”, Astrid masih melanjutkan kata-katanya, sementara semua sahabatnya diam menyimak, “dan kalau kita takut kita GR aja kalau Allah itu cinta kepada kita, GR aja dulu, begitu kan kata Pak Ustadz”, Astrid mengingatkan Dinta dan Rima tentang salah satu isi kajian dari kajian-kajian di Rohis yang mereka hadiri setiap Jum’at dan dan Minggu

“Iya bener”, jawab Rima dan Dinta

“Nah”, lanjut Astrid, “saat itu lah, aku sadar, aku harus membuktikan cinta kepada Allah sebisaku”, lanjut Astrid lagi, kali ini nada suaranya tiba-tiba bersemangat, “aku harus berhijab, itu yang aku putuskan. Maka kucari pasmina yang kubawa, dengan doa diatas gunung, sebelum turun, dan tekad akan coba menjadi hambaNya yang baik, yang taat, kucoba saja mulai berhijab dengan yang ada, ya pasmina-ku sekarang ini”, tuntas Astrid sambil tertawa, tidak sadar suasana hening, karena semua sahabatnya menyimak sambil  bengong dengan cerita Astrid

“Masya Allah..”, Rima berkata dengan suara pelan, Dinta pun mengatakan ‘Masya Allah’ seperti Rima sambil berbisik dan melirik Astrid melalui spion, sementara Erin dan Vita memandang Astrid dengan dagu diletakkan di tangan yang disandarkan di atas jok, “Keren banget, Astrid”, kata Erin, dan disetujui Vita, “Cool”

Suasana hening sedetik, sebelum akhirnya Rima membalik badannya, dan melongok ke bagian belakang mobil untuk memeluk Astrid sambil memekik pelan,”KEREN BANGET, ASTRID..!! So, cool..!! Congrats yaa”, kata Rima, dengan cueknya membalikkan badannya ke bagian belakang mobil dan memeluk Astrid

“Congrats Astrid…!”, Erin dan Vita mengikuti Rima, dengan cueknya menjulurkan badan mereka dari bagian belakang mobil, ke bagian tengah mobil untuk memeluk Astrid, Ira yang sama-sama duduk di bagian tengan mobil, disebelah Astrid, juga memeluk Astrid, Astrid balas memeluk erat Ira, sahabatnya sejak SMA dan satu klub Pecinta Alam, “Ira cepet nyusul berhijab, ditunggu yaa..”, bisik Astrid sewaktu Ira memeluknya, membuat Ira jadi tersenyum dan terharu, “Siapp komandan, nggak lama lagi, kok”, katanya mengedipkan mata ke Astrid sambil mengedipkan mata, sewaktu mereka melepaskan pelukan

Dinta yang tidak bisa memeluk Astrid memberikan tangan untuk high five, ia melihat ke belakang, kepada Astrid dibagian tengah mobil, “Lo emang keren, Trid”, katanya sambil tersenyum tulus dan high five dengan Astrid

Astrid lalu membuka tas-nya yang ia siapkan dari tadi. Ia membagi-bagikan bunga edelweiss dan oleh-oleh lain dari Jambi kepada sahabat-sahabatnya. Dinta yang senang dengan oleh-oleh itu, segera memajang edelweiss itu di dashboard dia atas tape mobil. Sahabat-sahabat Astrid mengucapkan terimakasih kepada Astrid.

Rima kemudian memandang Dinta, sebenarnya ia belum tahu cerita lengkap sampai Dinta memutuskan untuk hijrah dan berhijab, maka ia memutuskan untuk meminta Dinta juga bercerita mengenai dirinya yang mendapatkan hidayah untuk berhijrah dan memakai hijab,

“Kalau kamu Dinta…, punya cerita nggak, kenapa mutusin untuk hijrah dan berhijab?”, tanya Rima pada Dinta yang jadi sedikit terkejut, tiba-tiba ditanya Rima pertanyaan serupa dengan Astrid. Sahabat-sahabat mereka yang lain jadi tertarik dan mengarahkan perhatian  mereka kepada Dinta

“Uhm..mm..biasa aja sih..nggak sekeren Astrid deh kayaknya”, jawab Dinta, dengan ekspresi biasa-biasa saja

“Nah.., ini nih, menarik, nih..”, timpal Astrid tersenyum lebar, “Iya, cerita dong, Dinta. Awalnya gimana..masa aku aja yang cerita..”, Astrid juga jadi tertarik untuk tahu cerita yang membuat Dinta memutuskan untuk berhijab

“Biasa aja, kok, cuma karena umroh aja..”, jawab Dinta datar, sambil tetap menyetir dan memperhatikan jalan

“Tapi kok…”, Astrid segera memotong, dengan suara lebih pelan,”hijrahnya bisa jauh berkebalikan atau berlawanan dengan gaya hidup kamu dulu..”, ia hati-hati, takut sahabatnya tersinggung diingatkan dengan masa lalunya, mengingat pertengkarannya dengan Zelda sewaktu di masjid tempat Dinta dulu ikut kegiatan taklim

“Iya, cerita doong..”, Rima ikut menimpali, memandang Dinta dengan penasaran

Dinta seperti bisa membaca pikiran Astrid, “kenapa, takut aku tersinggung, diingatkan masa lalu aku yaa??”, tanya Dinta pada Astrid, “Trid, aku nggak merasa malu dengan masa lalu aku, kalau memang adanya begitu, ya apa adanya aja. Aku cuma marah ke Zelda, karena dia meledek dan menghina aku, nggak tau tempat dan waktu, lagi”, sambung Dinta lagi, ia lalu memandang Astrid dari spion tengah mobil dan menengok ke samping jok tempat Rima duduk di sebelahnya,

“Well..”, kata Dinta lagi, “daripada kalian penasaran, aku ceritain aja deh, ya. Tapi ini ceritanya biasa aja, nggak seheboh Astrid”, sambung Dinta sambil tertawa pelan memandang Astrid dari spion. Ira, Erin dan Vita sekarang malah melongokkan sedikit kepala mereka ke arah depan mobil untuk mendengarkan cerita Dinta, mereka semua juga sama tertariknya untuk mendengarkan pengalaman yang membawa Dinta sehingga memutuskan untuk berhijrah dan memakai hijab.

Mobil Dinta memasuki jalan tol. Malam itu, jalan tol cukup sepi, hingga mobil Dinta bisa meluncur mulus di jalan tol luas itu. Rima mengganti musik, disesuaikan dengan suasana umroh, lagu-lagu Islami dan nasyid berbahasa Arab dan Inggris dari penyanyi seperti Maher Zain, Raef, Yusuf Islam, sangat cocok dengan Dinta yang fasih berbahasa Inggris. Dinta memandang Rima dan tertawa sewaktu Rima mengubah musik untuk mendukung suasana saat Dinta bercerita nanti. Dinta menyetir mobil dengan sedikit ngebut tapi hati-hati, diliriknya sahabat-sahabatnya dari spion, semua sudah siap mendengar ceritanya. Ia pun jadi terbawa kembali pada waktu beberapa tahun silam, di waktu dimana dia mulai tersadar dan kemudian memutuskan untuk berhijab.

(bersambung)

BAB VI- Hijrah itu Apa Sih?

         Akhirnya libur panjang akhir pekan!! Hari Jum’at tanggal merah, libur nasional. Kuliah libur, semua kegiatan rohis dan basket juga diliburkan. Kantor juga libur, semua karyawan di kantor Rima sudah menunggu libur panjang akhir pekan ini.

Rima berpikir-pikir untuk libur juga. Ia ingin pulang, kangen dengan orangtua dan adik-adiknya. Tapi tugasnya di kantor adalah membersihkan dan menjaga kantor juga. Kalau ia pulang kampung, maka kantor kosong, karena yang tinggal di paviliun belakang kantor, yakni Rima sendiri, tidak ada. Apakah Pak Dahlan akan mengizinkan Rima untuk pulang dan meninggalkan kantor kosong selama tiga hari di libur akhir pekan ini? Rima ingin izin kepada Pak Dahlan, tapi ia malu dan ragu-ragu. Maka sepanjang awal pekan sebelum libur panjang di akhir pekan, bawaan Rima gelisah saja di kantor.

Ternyata Rima tidak perlu mengajukan izin, Bu Lenny sudah memanggilnya duluan. Bu Lenny mengatakan pada Rima, libur akhir pekan ini Rima juga libur, seperti karyawan lain. Jadi Rima boleh saja pergi rekreasi atau pulang kampung dan meninggalkan paviliun dan kantor kosong. Bu Lenny juga mengatakan Pak Dahlan mau bicara dengan Rima sebentar. Maka hari itu, Rima menghadap Pak Dahlan. Kebetulan sekali, Rima juga mau mengucapkan terimakasih kepada Pak Dahlan, sudah memberikan izin libur dan pulang kampung.

“Rima, sudah diberitahu Bu Lenny kan, Rima akhir pekan nanti juga libur?”, tanya Pak Dahlan, sewaktu Rima menghadapnya di ruangannya

“Iya, Pak. Saya juga mau mengucapkan terimakasih, sudah memberikan izin saya untuk libur”, jawab Rima, dengan wajah berseri-seri

“Kamu kan juga karyawan. Jadi sama dengan semua karyawan lain, kalau memang ada tanggal merah, kamu juga libur. Libur kantor karyawan, berlaku untuk semua karyawan”, kata Pak Dahlan lagi, tersenyum pada Rima

“Iya, Pak. Terimakasih, Pak”, jawab Rima singkat, masih dengan wajah berseri-seri

“Libur mau kemana? Ada kegiatan di kampus? Sepertinya Rima juga sibuk dengan kegiatan lain di kampus, selain kuliah?”, tanya Pak Dahlan lagi, kali ini wajahnya seperti sedikit penasaran

“Mau pulang kampung, Pak. Saya kangen dengan keluarga”, Rima menjawab singkat

“Oh iya, bagus itu. Memang sekali-sekali, kamu harus pulang kunjungi keluarga, supaya orangtuamu tahu, kamu sehat wal afiat, dan kamu juga rajin kuliah dan bekerja”, kata Pak Dahlan, wajahnya masih seperti penasaran, “Rima ada kegiatan lain ya, selain kuliah? Sepertinya sibuk sekali di kampus?”

“Iya, Pak. Basket dan Rohis. Tapi lebih banyak di Rohis, karena banyak acara dan kegiatan”, jawab Rima, hatinya begitu senang diberi izin pulang, ia menjawab dengan wajahnya berseri-seri

“Basket?? Oh, bagus itu. Kegiatan olahraga, supaya sehat”, Pak Dahlan menyandarkan tubuhnya ke kursi yang didudukinya, “Kenapa ikut Rohis? Suka kajian Islam?”, tanya Pak Dahlan

“Iya, Pak. Saya juga sudah ikut Rohis sejak SMK”, jawab Rima

“Oh, cuma rohis di sekolah dan kampus ya?”, tanya Pak Dahlan lagi, sedikit menyelidik

“Iya Pak”

“Jadi itu yang bikin Rima sibuk di kampus selama ini, banyak kajiannya??”

“Cukup banyak, Pak. Baru-baru ini kami mengadakan seminar yang mengundang Menteri Agama juga, banyak pesertanya”

“Wah, keren itu. Kalau Rohis Universitas Nusantara, saya percaya”, kata Pak Dahlan, memuji dengan setulusnya

“Terimakasih, Pak”, Rima menjawab seadanya

“Bagus kalau kamu ikut Rohis kampus”, kata Pak Dahlan lagi, “cuma, hati-hati kalau diajak kajian Islam dengan orang yang kamu tidak terlalu kenal”, wajah Pak Dahlan jadi serius

“Maksudnya bagaimana, Pak?”, Rima jadi tidak mengerti dengan kata Pak Dahlan

“Sekarang ini banyak penipu, Rima, dan aliran Islam yang kurang jelas”, jawab Pak Dahlan lugas, “minggu-minggu kemarin kan sempat rusuh katanya juga karena soal aliran sesat itu”, lanjut Pak Dahlan

Rima jadi mengerti, rupanya Pak Dahlan juga mengikuti berita di TV, sewaktu kerusuhan kemarin, dan Rima yang tidak tahu perkembangan peristiwa itu menurut berita-berita di TV, karena ia sibuk dengan peristiwa itu yang berimbas pada kegiatan seminar yang diadakan DKM An-Nuur yang hampir batal dan kerusuhan di masjid kampus.

“Iya, Pak”, jawab Rima singkat

“Kamu juga, fokus ke kuliah dan pekerjaan kantor. Jangan sampai kegiatan diluar kuliah dan pekerjaan kantor membuatmu kecapekan dan kewalahan”, Pak Dahlan melanjutkan, menatap Rima dengan serius, “Ya sudah. Silakan dilanjutkan pekerjaannya”, kata Pak Dahlan lagi, “Belajar Islam boleh saja, Rima. Cuma, hati-hati, jangan terlalu serius amat. Nanti kamu belajar kitab-kitab kuning dan jadi seperti anak-anak pesantren garis keras”, Pak Dahlan melanjutkan sambil tertawa kecil

Rima ikut saja tertawa, ia segera pamit keluar ruangan. Sambil berjalan keluar, Rima jadi berpikir sendiri, ‘Kitab kuning? Garis keras?, maksud Pak Dahlan gimana? Apakah mindset Pak Dahlan mengenai Islam itu ada garis keras dan kitab kuning itu aneh??’, Rima jadi tidak mengerti dengan pikiran Pak Dahlan. Tapi Rima tidak ingin memperpanjang percakapan dan berdebat dengan Pak Dahlan, ia segera keluar ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya.

**************************************************************

Akhirnya Rima sampai di rumahnya. Keluarganya senang, Rima bisa pulang pada saat long weekend. Adik-adik Rima senang, bisa dapat oleh-oleh makanan, kue dan snack dari Rima, yang Rima beli dari tabungan uang tips-tips yang diberi oleh karyawan lain, kalau mereka menyuruh Rima untuk beli makanan atau hal lain di kantor.

Ayah merencanakan untuk rekreasi keluarga ke Taman Safari, mumpung libur cukup panjang, tiga hari, dan Rima sedang pulang kampung. Rima juga menghubungi teman-teman dan sahabatnya sewaktu SMK untuk bertemu pada kesempatan pulang kampung long weekend ini. Sewaktu Ayah membolehkan Rima dan adik-adik Rima mengajak teman-teman mereka untuk ikut ke Taman Safari, Rima dan adik-adiknya senang sekali. Kata Ayah, tapi untuk uang jajan di dalam Taman Safari, tidak dibayari Ayah. Hanya tiket masuk saja. Rima mencoba untuk mengajak sahabatnya sewaktu SMK, Erin, untuk ikut rekreasi keluarganya ke Taman Safari, dan Erin ternyata setuju. Kata Erin, Rima tidak perlu khawatir, sebab selepas mereka lulus dari SMK, Erin bekerja di sebuah restoran seafood besar dan mewah di kota mereka. Jadi, kalau soal uang, Rima tidak perlu khawatir.

Maka sepanjang hari Sabtu di libur akhir pekan itu Rima menghabiskan waktu rekreasi bersama keluarga dan sahabatnya di Taman Safari. Setelah melihat-lihat hewan dengan bis Taman Safari, Rima dan adik-adiknya masuk ke beberapa atraksi permainan. Adik-adik Rima sangat senang, dan mereka sering menggoda Rima dan Erin, setiap kali mereka mencoba atraksi permainan. Di permainan Ferris Wheel, adik-adik Rima menggoda Rima dan Erin, ketika mereka berada di puncak putaran. Rima dan Erin jadi menjerit-jerit karena kaget, membuat Rima memarahi adik-adiknya karena mereka membuat Rima kaget dan Erin jadi takut. Tapi itu malah membuat adik-adiknya tertawa-tawa. Ketika mereka memasuki atraksi Rumah Hantu, adik-adik Rima menggoda Rima dan Erin dengan menakut-nakuti Rima dan Erin. Erin dan Rima jadi terkaget-kaget dan takut, sepanjang mereka di gua hantu. Walaupun mereka juga tertawa-tawa, tapi Rima tetap memarahi adik-adiknya, yang tertawa-tawa, senang bisa menggoda kakaknya. Ketika keluar dari Rumah Hantu, Rima bersungut-sungut dan cemberut, ia memarahi adik-adiknya,

“Pokoknya, Kakak gak mau gabung kalian lagi! Kita pisah disini! Nanti ketemu lagi aja di restoran, tempat Ayah dan Ibu nungguin kita!!”, hardik Rima, dengan wajah cemberut, ngambek dengan kedua adiknya

“Yaahhh…kok gitu sih, Kak..”, adik bungsu Rima memprotes, tapi masih dengan wajah nakalnya, tertawa-tawa, setelah mengganggu kakaknya di dalam gua hantu tadi

“Enggak!! Pokoknya Kakak mau sama Kak Erin aja! Emang kalian mau main apa lagi, sih?!!”, Rima masih bersikukuh ingin berpisah dengan adiknya

“Main bom-bom car”, jawab Fatir, adik Rima yang satu lagi

“ Ya udah! Kak Rima sama Kak Erin mau ke baby zoo dan liat atraksi lumba-lumba!”, jawab Rima tegas, “ntar aja kita ketemu di restoran!”, katanya lagi sambil menarik tangan Erin dan pergi menjauh dari adik-adiknya, “Daaahhh..”, katanya lagi sambil melambaikan tangan pada adik-adiknya

“Ya udah, terserah Kakak aja! Ntar kita nyusul ke baby zoo!!”, teriak Fatir, sewaktu Rima dan Erin meninggalkannya dengan adik bungsu dan teman-teman mereka.

Rima dan Erin meninggalkan bocah-bocah laki-laki itu dengan tertawa-tawa. Fatir sudah cukup besar untuk diserahi tanggungjawab menjadi pemimpin rombongan bocah laki-laki itu, jadi Rima tidak khawatir meninggalkan mereka. Rima dan Erin lalu menghabiskan waktu mereka di arena baby zoo dan menonton atraksi lumba-lumba dan juga singa laut.

 Selepas dari kedua atraksi itu, Rima jadi lapar, tapi restoran tempat Ayah dan Ibu cukup jauh, jadi Rima dan Erin memesan bakso di kedai bakso terdekat. Sambil makan, mereka ngobrol, yang disadari Rima, sudah lama sekali, bahkan sejak mereka bertemu lagi sebelum ke Taman Safari, sampai tadi mereka bermain di Ferris Wheel sampai atraksi lumba-lumba, ia dan Erin belum sempat mengobrol berdua saja. Rima juga menyadari hal lain, berhubung  ia dan Erin dulu di SMK bersahabat dekat, mereka sekelas dan juga ikut kegiatan Rohis bareng.

Dulu sewaktu  di SMK, Erin berjilbab. Tapi, di kesempatan jalan-jalan mereka ke Taman Safari ini, Erin tidak berjilbab!! Ia malah menggunakan baju atasan ketat dan rok tigaperempat. Walaupun penampilannya tetap terlihat feminin, modis dan manis, tapi kenyataan ia tidak lagi memakai hijab, cukup membuat Rima kaget. Itulah yang Rima ingin tanyakan pada kesempatan ngobrol kali ini di kedai bakso.

“Erin, kenapa nggak berhijab?...Sejak kapan?”, tanya Rima, hati-hati, takut pertanyaannya menyinggung perasaan sahabatnya

“Mmm..nggak apa-apa. Pengen lepas aja”, jawab Erin acuh tak acuh

“Beneerr..??”, Rima tidak percaya, “Kan Erin berhijab udah lama, sejak kita SMP bareng”, kata Rima lagi, kepada sahabatnya sejak SMP itu, “kok sekarang lulus sekolah, malah dilepas, kayak bukan Erin yang Rima kenal?”

Erin menelan bakso yang dikunyahnya, sambil memandang Rima dengan pandangan sedih. ia menghela nafasnya pelan, “Yah..anggap aja, aku menyerah pada keadaan”, jawabnya sambil pura-pura asyik memotong baksonya

“Maksudnya??”, Rima semakin tidak mengerti. ‘Ya ampuun…,aku kehilangan banyak cerita dan kabar tentang sahabat lamaku ini!!’, batin Rima, sedikit menyesal

“Tenang aja Rima, mungkin tahun depan, aku akan pakai hijab lagi. Tapi untuk sekarang, mau nggak mau, aku harus menyerah pada keadaan”

Haahh??? Maksudnya gimanaa??? Dulu sewaktu SMK, Erin adalah sahabatnya yang sama seperti dirinya, tidak mudah menyerah, Rima jadi bengong

“Maksudnya gimana sih, Erin? “, desak Rima, sedikit memaksa, “Ayo dong, cerita..”

Erin memandang Rima lekat-lekat, lalu ia tersenyum, “Ayolah, Rima, coba sadari kenyataan mengenai diri kita”, dia lalu tertawa kecil, “Oh iya, aku lupa, kamu lebih beruntung, bisa kuliah dan sambil bekerja sekaligus. Dan tidak ada yang protes mengenai hijabmu”

Rima menghela nafas, tapi Erin melanjutkan lagi kata-katanya,

“Orang-orang seperti kita, orang kecil, maksudku rakyat biasa, orang kebanyakan, bukan dari kalangan orang berada, bangsawan ataupun pejabat, apalagi kita ini perempuan, tidak ada tempat bagi kita di negeri ini, Rima”

Rima jadi tertegun, kata-kata Erin membuatnya jadi lebih penasaran, tapi Erin masih melanjutkan, “Rima, rakyat kecil seperti kita, hanya akan menjadi bahan bulan-bulanan. Kita bisa jadi korban, ketika pihak yang lebih kuat dan berkuasa menghendaki kita dikorbankan. Kita juga bisa jadi kambinghitam, ketika pihak-pihak yang lebih kuat itu membutuhkan kita untuk disalahkan, menjadi kambinghitam atas apa yang terjadi”

Rima tertegun. Dia jadi sedikit bengong, “Kata-katamu seperti pendemo atau aktivis begitulah, di kampusku”, kata Rima, lalu menyadari bodohnya ucapannya barusan, dan benar saja, Erin jadi tertawa karena ucapannya itu,

“Rima, kamu harus bersyukur, karena kamu sungguh termasuk beruntung, walaupun kita bukan dari kalangan menengah ke atas atau orang kaya, ataupun dari kalangan pejabat dan bangsawan”, kata Erin lagi, “kehidupan seringkali begitu sulit, dan membuat semua orang menjadi sulit. Sewaktu sekolah, kita harus berusaha sekuat tenaga supaya kita lulus. Lalu kita cari kerja kemana-mana, supaya kita bisa punya penghasilan untuk menghidupi kita”, Erin menjeda kata-katanya untuk menyuapkan bekso ke mulutnya, lalu setelah mulutnya mulai kosong, ia melanjutkan lagi, “Kalau kita lulus dengan nilai baik pun, belum tentu kita dapat pekerjaan yang bagus. Malah banyak juga berita, siswa-siswa yang nilainya bagus, justru di bully oleh teman-teman dan orang-orang yang tidak suka dengan prestasinya. Sewaktu kita dapat kerja, kita harus berjuang supaya tidak kehilangan pekerjaan dan bahkan kita berharap mendapatkan promosi. Tapi itupun, masih saja ada persaingan, dimana kita mau tidak mau harus berjuang sekeras mungkin, dan kadang, kita tetap tersingkir. Ketika kita berhasil dan sukses, tidak jarang, orang berprasangka buruk atas kesuksesan kita, dan bagaimanapun, kita melakukan apapun, tidak semua orang senang dengan pencapaian kita. Mau tidak mau, kita harus mengikuti arus, supaya tidak dibilang sombong atau pelit, misalnya”, Erin meneguk teh manisnya,”khususnya, dalam kehidupanku, cukup sulit untuk bisa mempertahankan idealisme kita. Kita dituntut untuk lebih realistis. Bukan realistis dalam memperjuangkan idealisme kita”, Erin mengakhiri penjelasannya untuk kemudian menyuapkan kembali bakso ke dalam mulutnya

“Iya, aku mengerti maksudmu. Tapii..trus kenapa kamu jadi lepas hijab??”, Rima jadi makin penasaran, walaupun ia mengerti maksud sahabatnya itu, yang memang, kalau ditanya mengenai satu hal, seringkali memaparkan alasannya dulu, lalu kejadiannya

“Itu syarat dari outsource. Dan aku tidak ada pekerjaan lain selain di restoran. Dan selain outsource itu yang akan menyalurkan aku pada lowongan kerja yang tersedia, aku nggak punya akses lain”, jawab Erin cepat, lalu menyuap kembali baksonya

“Ooohhh”, Rima menggumam ketika Erin memberikan jawabannya, ia lalu memandang sahabatnya itu dengan heran, “Emang beneran, kamu ga bisa nemuin kerjaan lain? Ini kan zaman internet, Erin. Kita bisa cari di online, dan bahkan kita bisa dapat uang dari internet”

“Aku memang sudah pernah bekerja di tempat kerja lain, dua kali. Tapi, aku sering ditertawakan dan dikatakan ‘kampungan’. Kata boss aku di tempat kerja sebelumnya, kalau pakai jilbab tuh, harus dandan, kalau tidak, akan kelihatan kumuh dan kampungan”, jawab Erin, sambil menghela nafasnya, “lalu, dari outsource, aku diminta untuk lepas saja hijab, kalau tidak mau pindah-pindah dan di PHK seperti di dua tempat pekerjaan sebelumnya. Outsource itu janji, kalau prestasiku bagus di restoran tempat bekerja sekarang, pihak restoran akan membolehkan aku untuk memakai hijab lagi. Yaah..kira-kira setelah masa kerja dua tahun, lah”

“Dari pihak restoran gimana, bener emang  begitu??”, tanya Rima, ia tidak menyangka, kehidupan sahabatnya selepas SMK menjadi seberat itu. Kenapa di pesan-pesan teks melalui ponsel, Erin tidak pernah cerita? Mereka memang masih saling berkabar setelah lulus SMK dan berpisah kota karena kesibukan masing-masing, tapi bahkan Erin jarang memposting selfie dirinya, sebab itulah, Rima baru tahu sekarang, Erin sudah tidak berhijab lagi.

“Rima, aku kan sudah bilang, rakyat kecil seperti kita, apalagi perempuan, seringkali tidak punya tempat dan pilihan”, jawab Erin lagi, senyum tipis di wajahnya, seperti ia mengerti dengan ketidakpahaman Rima, “akan banyak alasan untuk kita tidak diterima bekerja, membuat kesalahan atau tidak berprestasi di tempat kerja atau di PHK. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, bisa menjadi alasan itu. Dari soal pendidikan, keterampilan, pembawaan, sikap dan kebiasaan, semuanya itu bisa jadi alasan kita tidak qualified. Jadi mau gimana lagi?? Mau tidak mau, aku harus ikuti persyaratan, kalau mau punya pekerjaan, agar punya penghasilan”, Erin mengakhiri penjelasannya sambil kemudian menghisap es tehnya sampai habis. Baksonya sudah habis. Bakso Rima juga sudah habis dari tadi, tapi ia dari tadi asyik mendengarkan penjelasan Erin

“Erin, maaf ya, kalau aku seperti tidak mengerti tadi”, kata Rima, dia takut sahabatnya itu merasa tidak dimengerti, “tapi aku sekarang paham. Maaf, kalau selama ini, aku tidak tahu dan tidak ada, sewaktu kamu mengadapi semua hal dalam hidupmu”

“Nggak apa-apa, Rima. Kamu juga sedang berusaha untuk kehidupan dan masa depanmu. Aku bisa ngerti,kok”, jawab Erin dengan senyum lebar, dia senang, Rima sahabatnya sangat berempati dengan keadaannya, “kan sudah aku bilang, seringkali perempuan seperti kita, tidak punya pilihan dan harus menyerah pada keadaan. Kamu juga menyerah dengan keadaan, harus berpisah dengan keluarga dan sahabat di kampung”, papar Erin lagi, dengan bijak. Inilah yang selalu Rima suka dari sahabat lamanya ini, ia selalu tegar dan masih bisa bijak, walau keadaan sulit apapun.

“Tapi masih istiqomah kan, ibadahnya??”, tanya Rima lagi, tersenyum sedikit menggoda sahabatnya itu

“Ya iyalahh!! Masa tinggalkan shalat fardhu!”, Erin menjawab cepat sambil tertawa, ia tahu Rima setengah menggodanya, “Aku juga masih ikut pengajian di mesjid dekat rumah. Cuma ga pake hijab aja sekarang”, katanya lagi, “doakan ya, aku bisa bertahan di tempat kerja sekarang dan bisa pakai hijab lagi nanti”, pinta Erin tulus, dengan matanya berkaca-kaca, membuat Rima memeluknya karena kasihan

“Ya aku doakan. Dan aku janji, kita akan tetap keep in touch setelah libur long weekend ini. Aku akan rajin mengirim kabar, dan janji, kamu juga sering kabari dan cerita ke aku”, jawab Rima ketika memeluk Erin

“Ya, aku janji. Makasih Rima, kamu memang sahabat terbaikku”, kata Erin setulusnya, sambil melepaskan pelukan dengan matanya yang basah

“Yuk ah, ke tempat Ayah dan Ibuku menunggu kita. Takutnya beliau-beliau menunggu kelamaan. Bocah pada kemana yaa.., katanya ma nyusul”, Rima mengalihkan topik dan mengakhiri obrolan mereka

“Yuk, cabut sekarang aja. Kali aja nanti kita ketemu sama bocah-bocah itu dalam perjalanan pulang”, kata Rima lagi. Erin setuju, lalu mereka membayar makanan dan meninggalkan kedai bakso itu.

Adik-adik Rima ternyata baru selesai nonton atraksi lumba-lumba. Sewaktu melewati tempat atraksi lumba-lumba, ada yang berteriak memanggil nama Rima, dan ternyata adik-adiknya yang baru keluar dari tempat atraksi. Rima segera menyuruh mereka untuk sama-sama pulang, ke restoran tempat Ayah dan Ibu menunggu.

Dalam perjalanan pulang, Ferdy, adik bungsu Rima, bercerita mengenai atraksi-atraksi yang bocah-bocah itu kunjungi tanpa Erin dan Rima. Erin menanggapi semua cerita adik Rima itu dengan senang dan ceria. Erin jadi terlibat obrolan seru dengan adik-adik Rima sepanjang jalan menuju restoran. Sementara Rima merenungi semua kata-kata Erin di kedai bakso tadi. Semua kata-kata itu cukup membekas dalam hati dan pikirannya, dan ia merasa, dengan keadaan ekonominya yang tidak jauh beda dengan Erin, perkataan Erin itu benar, untuk dirinya dan Erin. Rima menjadi lebih bersyukur lagi, sudah diberi kesempatan untuk kuliah dan bekerja oleh Allah Subhanawata’alaa.

*******************************************************************

Libur panjang akhir pekan telah berakhir. Rima sudah kembali ke paviliun di belakang kantornya sejak malam sebelum awal minggu hari kuliah dimulai. Keesokan harinya, Rima sudah bangun sejak subuh dan memulai semua pekerjaannya membersihkan dan membuka kantor. Setelah itu dia langsung segera pergi ke stasiun menuju kampusnya untuk kuliah. Rima sudah janjian dengan Astrid seperti biasanya, dia akan menunggu di pelataran depan stasiun, lalu mereka akan menunggu Dinta yang menjemput mereka dengan mobilnya, lalu mereka sama-sama berangkat dengan mobil Dinta, dari stasiun menuju Fakultas.

Saat menunggu Astrid, Rima melihat-lihat ponselnya, dan ternyata ada pesan masuk di chatgroup angkatan Rima. Pesan itu pengumuman kepada setiap mahasiswa angkatan Rima, bahwa beberapa mata kuliah diliburkan dan diganti dengan tugas take home, sebab dosen-dosen sedang studi banding ke Singapore sejak libur akhir pekan minggu lalu dan baru akan pulang dua hari lagi.

Rima membaca pesan itu dengan perasaan senang dan sebal. Senang karena berarti jadwalnya agak longgar, dia bisa full bekerja di kantor sambil mengerjakan tugas-tugas kuliah takehome, sebal karena pesan itu tidak diumumkan sejak awal libur akhir pekan minggu lalu. Rima jadi sedikit bersungut-sungut, ‘Kalau diumumkan sejak awal libur akhir pekan, mungkin ia bisa membuat rencana lain, pulang kampung lebih lama misalnya, dan tidak terburu-buru kembali ke paviliun’. Tapi Rima mengambil sisi positifnya, bahwa dia bisa lebih banyak waktu untuk full bekerja di kantor, yang pasti akan menjadi citra yang positif untuknya sebagai karyawan magang.

Rima memutuskan untuk menunggu Astrid datang, sebab ia juga menerima pesan dari Astrid, bahwa Astrid sudah di kereta dan keretanya pun sudah hampir sampai kampus. Astrid juga sama-sama sebal seperti Rima, karena ia sudah terlanjur ada di kereta menuju kampus untuk kuliah. Rima membaca pesan di chatgroup angkatannya. Ternyata banyak yang lebih sebal daripada Rima dan Astrid, karena bahkan banyak juga teman-teman seangkatan mereka yang sudah ada di kelas. Rima membaca reply tanggapan pengumuman libur itu di chatgroup dari teman-teman seangkatannya yang sebal karena pengumumannya terlambat. Ada tanggapan yang memperlihatkan emosi sebal dan kecewa, banyak juga yang lucu-lucu. Dari tanggapan teman-temannya itu, tampaknya ketua angkatan mulai mengkoordinir, agar kejadian pengumuman kuliah ditiadakan selama tiga hari ini, ke depannya tidak akan terlambat lagi. Ketua kelas juga memposting link untuk terhubung ke tugas-tugas takehome dari dosen-dosen. Tampaknya cuma Dinta yang senang, sebab ia katanya kebetulan sedang malas kuliah, dan berlambat-lambat siap-siap ke kampus, sebelum akhirnya ada pengumuman libur di chatgroup angkatan, jadi Dinta membatalkan untuk berangkat kuliah.

Rima membaca tugas-tugas takehome dari link yang diberikan ketua kelas, ketika Astrid datang dengan wajah yang tidak seceria biasanya

“Ih, tau gitu, aku nggak akan buru-buru deh, pagi ini”, katanya, begitu ia datang dan menghampiri Rima, “sebenernya aku juga males banget hari ini, sama seperti Dinta. Hari Senin gitu lho, abis selesai libur akhir pekan..masih pengen libur”, katanya sambil duduk di samping Rima, “emang sesuai dengan keinginan, masih pengen libur..cuma pake acara ke kampus segala, trus balik lagi karena dosen nggak ada, pengumumannya telat, hhh..! capek dehhh..!”, Astrid sedikit mengomel sementara Rima memandanginya sambil tersenyum

“Yuk ah, kita ke kelas aja dulu, ketemu ketua kelas, kali aja ada yang mau sharing tugas take home”, ajak Rima, untuk meredakan kejengkelan Astrid

“Yuk boleh. Aku juga mau ketemu sama temen SMA dulu, dia sekarang di MIPA. Dulu bareng ikut Pecinta Alam”, Astrid mengiyakan ajakan Rima, dia pun mengajak Rima, “ntar temenin ke MIPA ya, Rim, sekalian kenalan sama temen SMA aku”

“Wah, boleh-boleh. Asyik tuh”, jawab Rima, “tapi kok, tumben, kirain ga ada temen Pecinta Alam yang sama-sama kuliah di UN”, kata Rima lagi, “mau reunian temen SMA, ya?”

“Nggak juga, sih. Kita emang masih sering kontak, cuma karena kesibukan masing-masing, kita yang Pecinta Alam jadi nggak sempat untuk ketemu”, Astrid tersenyum, senang Rima mau menemaninya ke Fakultas MIPA, “Ini dia ngajak ketemu, karena teman-teman Pecinta Alam mau ke Kerinci. Dan temen-temen Pecinta Alam ajak aku dan temen aku yang di MIPA itu”, jelas Astrid kepada Rima

“Kerinci? Woow..keren, masya Allah. Astrid berani naik gunung setinggi itu?”, Rima memandang temannya dengan kagum, tapi Astrid malah tertawa,

“Ah, udah biasa, Rima. Yang penting dibawa asyik dan senang aja. Tau-tau nyampe di puncak gunung. Apalagi kalau sama teman-teman kan seru”

“Ooh..gitu. Yah, aku kan nggak pernah naik gunung, Camping  juga, cuma di camping ground karena acara sekolah”, Rima menanggapi dengan polos, “aku lebih suka ke pantai. Capek kayaknya kalau naik gunung. Kalau ke pantai kan, lebih gampang, hihihi..”, Rima terkikik dengan alasannya sendiri, wajahnya memerah karena malu dengan Astrid, dia tidak pernah naik gunung, tapi Astrid malah tertawa lagi

“Ya emang sih, ke pantai itu asyik. Aku juga suka ke pantai. Pokoknya yang alami, yang ke alam, gitulah! Namanya juga pecinta alam, hihihi..”, kali ini Astrid yang terkikik, membuat Rima juga terkikik, mereka sama-sama terkikik.

Rima dan Astrid beranjak dari stasiun untuk ke kelas menemui Ketua Kelas dan teman-teman seangkatan mereka. Di jalan menuju gedung fakultas, mereka berpapasan dengan teman-teman mereka yang sudah langsung pulang setelah mendapat pengumuman tidak ada dosen, padahal mereka sudah sampai di kelas. Mereka memberitahu Rima dan Astrid, semua teman mereka juga sudah mau pulang dan tidak ada soal atau tugas lainnya yang harus diambil. Astrid memutuskan untuk segera ke Fakultas MIPA dan hanya mampir sebentar ke kelas mereka. Rima setuju dengan usul Astrid, sebelum pesan dari Dinta datang, mengajak Rima dan Astrid sekali-sekali nongkrong di kafe dekat masjid dimana Dinta biasa ikut kajian Islam sewaktu SMA. Astrid segera mengiyakan ajakan Dinta. Ia membalas pesan Dinta, ia dan Rima akan ke MIPA untuk janji temu Astrid, lalu setelah itu dia akan segera ketemu Dinta di kafe dekat masjid yang dikatakan Dinta. Dinta mengirim shareloc kafe tempat mereka akan bertemu. Rima ragu-ragu, dia sebenarnya ingin langsung balik ke kantornya, begitu melihat pesan pengumuman libur di pesan groupchat kelasnya, tapi ia sudah terlanjur janji menunggu Astrid yang keretanya sudah hampir sampai stasiun kampus. Jadi Rima diam saja dan tidak menjawab ajakan Dinta.

Astrid yang menyadari keraguan Rima, Astrid tahu Rima juga bekerja. Tapi dengan cueknya, dia malah membujuk Rima untuk tidak kembali ke kantornya, dan mereka sama-sama nongkrong dengan Dinta di kafe,

“Ayolah, Rima…kan kata Rima, tugas Rima yang paling utama cuma buka dan tutup kantor dan bersih-bersih sebelum buka dan tutup kantor. Ini masih pagi, Rima..kantor Rima kan tutupnya sore”, Astrid mulai melancarkan bujuk rayunya, “Sekali-sekali, lah.., kata Rima kan, boss Rima, Pak Dahlan orangnya baik dan pengertian”, kata Astrid lagi, dengan wajah sedikit mengharap kepada Rima, “masak Pak Dahlan nggak ngerti. Karyawannya anak muda, masak kuliah dan kerja melulu”

Rima masih ragu-ragu, “tapi aku kemarin sudah pulang kampung tiga hari”

“Ntar stress lho, kerja dan belajar melulu”, Astrid masih bersikeras, “Ayolah, kita nongkrong, anggap aja healing bertiga. Kan asyik tuh, mau kuliah nggak jadi, karena pengumumannya telat, daripada sebel, mending nongkrong.”, Astrid membujuk Rima dengan segala argumentasinya, “kita bertiga belum pernah healing bareng, lho..mumpung ada waktu luang bareng, nih”, kata Astrid lagi masih dengan wajah agak memelas kepada Rima

“Mmm..bener juga, sih. Ya oke, lah. Ntar kita liat abis Astrid ketemu sama temen Pecinta Alam di MIPA”, jawab Rima dengan senyum geli melihat wajah Astrid yang sengaja dibuat memelas, ngotot mengajaknya jalan bareng dengan Dinta

“Jangan liat nanti. Bilang, iya, gitu”, jawab Astrid dengan selembut mungkin tapi memaksa, membuat Rima semakin geli dan senyumnya semakin lebar

“Iya, deh”, jawab Rima sambil tertawa, Astrid ikut tertawa karena senang. Dia menggandeng tangan Rima untuk cepat-cepat ke Fakultas MIPA

****************************************************************

Teman Astrid yang mahasiswa MIPA ternyata sudah menunggu Astrid di kantin MIPA. Astrid segera memesan makanan dan pesan untuk Rima juga. Dia belum sarapan, katanya, dan dia juga lagi ingin traktir Rima karena hari ini Rima sudah rela tidak bekerja ke kantor dan mereka sama-sama akan nongkrong bareng Dinta nanti. Dan juga karena Rima sudah menemani Astrid untuk ke MIPA. Teman Astrid itu namanya Ira. Ternyata dia lebih imut daripada Astrid yang lumayan jangkung. Ira tersenyum lebar dan memanggil Astrid untuk duduk di tempat yang sudah ia sediakan untuk Astrid. Astrid segera menghampirinya dengan makanan yang sudah ia pesan untuk dia dan Rima. Sebagai balasannya, Rima pesan juice untuknya dan juga Astrid. Astrid dan Ira saling menyapa dan menanyakan kabar masing-masing, dan kelihatan sekali, mereka memang teman lama yang akrab sejak dulu.

“Gimana Astrid, jadi nggak ke Kerinci?”, Ira memulai topik sambil menikmati makanannya

“Ya jadi aja, emang kapan sih?”, Astrid yang juga menikmati sarapannya pagi itu melirik ke Rima, “Oh iya Ra, kenalin ni sohib aku satu kelas, satu angkatan, satu fakultas, Rima”, Astrid memperkenalkan Rima, membuat Rima yang sedang menyantap makanannya mendadak gugup dan tersenyum pada Ira dengan tampang gugup

“Rima, ini Ira. Ira, ini Rima”, lanjut Astrid memperkenalkan keduanya, ia lalu menyuapkan makanan ke mulutnya lagi, sementara Ira dan Astrid saling berkenalan, “Emang kapan sih ke Kerincinya? Udah fix waktunya?”, tanya Astrid lagi kepada Ira

“Dua minggu lagi. Kan ada long weekend lagi tuh, nah, kita cabut dari hari Kamis aja. Izin kuliah lah, satu hari aja”, jawab Ira lancar

“Ya tapi aku kan nggak cuma kuliah. Hari Jum’at juga ada jadwal kajian Rohis”, Astrid meneguk jusnya dan menjawab ragu, “Ya ampun, aku kan juga ikut kelas tambahan tahsin di Rohis, ntar mau latihan untuk ikut MTQ Universitas”, ekspresi Astrid agak panik, dibukanya ponselnya untuk melihat reminder di kalender ponsel

What???? Tahsin? Rohis???Hahahahaha…”, Ira tertawa geli, “serius, kamu Trid?”, tanyanya lagi, masih sambil tertawa

“Emang kenapa sih??”, Rima menjawab dengan ekpresi risih, tapi dia lalu tersenyum, “Eh, Jum’at dua minggu lagi kan long weekend, Rohis juga libur. Alhamdulillah”, senyumnya lebar sambil memandang Rima, membuat Rima ikut tersenyum

“Cieeeee……, alhamdulillah…”, Ira tertawa, ia tertawa Astrid mengucapkan alhamdulillah dengan spontan dan fasih

“Apa siihh, Iraa..”, Astrid jadi tertawa melihat ulah Ira, sahabat lamanya sesama Pecinta Alam itu

“Kamu…, emang kayak ada yang berubah sih, Strid”, Ira menjelaskan perasaan gelinya, “tapi nggak nyangka deh, itu semua gara-gara…rohis???”, Ira tertawa lagi, tapi lebih pelan, “Sorry, Astrid. Bukan ngetawain. Tapi.., Astrid yang tomboy, cuek…, jadi anak rohis??? Woooowwww…” jelas Ira lagi, “Salut aku, Astrid. Bener, deh”, Ira menambahkan lagi, supaya jelas maksudnya, agar Astrid sahabat lamanya itu tidak tersinggung

“Gara-gara dia nih”, Astrid menunjuk Rima, sambil tersenyum pada Rima

Rima ikut tersenyum, tapi ia berkata, “Kok aku sih..”, sambil masih tersenyum pada Astrid dan Ira, wajahnya jadi memerah karena malu

“Ooh..kirain kamu tobat, Astrid. Hahahaha…”, kata Ira, dia tertawa lagi

“Ya gara-gara itu juga”, Astrid buru-buru menambahkan dengan cengiran kepada Ira, membuat Ira semakin tertawa

“Keren..keren..”, tambah Ira, “jadi kan setiap kali kita naik gunung, kamu bisa tadabbur alam”, lanjut Ira. Dia sudah selesai makan, dan sedang menikmati minumannya, “Ajari aku gimana cara merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah ya, Astrid”

“Merenung aja sendiri”, seloroh Astrid dengan senyum lebar, “masak merenung aja diajarin. Bisa aja kamu, Ira”, lanjut Astrid lagi dengan tertawa geli pada sahabat lamanya itu

“Ya udah, nggak usah ajarin, tapi bareng-bareng”, jawab Ira lagi sambil terkikik

“Merenung aja ngajak jama’ah”, seloroh Astrid lagi, masih dengan ekspresi geli pada sahabatnya itu

“Tapi”, Ira memandang Astrid dan Rima, “emang boleh sama Ustadz di Rohis, ikut Pecinta Alam? Kan naik gunungnya ada anak-anak cowok juga?”

“Mmmm…”, Astrid tidak langsung menjawab, dia memandang Rima sebentar. Rima yang dipandangi Astrid yang minta bantu menjawab, malah jadi gugup lagi

“Ya boleh aja, sih”, jawab Astrid lugas, “kan cuma trekking bareng, tidur dan tenda masing-masing. Paling yang barengan cuma masak, makan, sama nikmatin pemandangan doang”, tambah Astrid, kali ini wajahnya berubah serius

“Yahhh…kalau memang begituu…”, sahut Ira sambil terkikik, “jadi lah, yaa, kita ke gunung lagi”

“Ya iyya laah…”, jawab Astrid cepat sambil tertawa, mereka sama-sama tertawa, lalu Ira mengambil ponselnya untuk memasukkan Astrid ke dalam groupchat tim hiking  Kerinci dari klub Pecinta Alam mereka. Rupanya ada tim- tim lain dari klub Pecinta Alam yang Astrid ikuti, yang juga akan berangkat mendaki ke gunung-gunung lainnya di Indonesia.

“Astrid, ntar aku juga pengen seperti kamu, deh”, kata Ira dengan ekspresi yang lumayan serius, “aku mau menjadi muslimah yang kaffah, mendalami Islam dan pakai jilbab”, tambahnya

“Wah, bagus tuh. Ntar barengan aja yuk, kita pakai jilbab”, jawab Astrid, karena memang walaupun ia aktif di rohis, tapi dia belum berhijab

“Tapi aku pengen jadi bener-bener seperti sufi”, lanjut Ira lagi, “yang emang bener-bener fokus banget dalam ibadah”, tambahnya, “jadi aku gak akan ikut Pecinta Alam lagi atau naik-naik gunung, travelling, aku full ibadah. Ga bakalan nonton TV, liat streaming, apalagi sosmed dan main game”, tambahnya, “mungkin aku akan mengabdikan hidupku, sepenuhnya kepada Tuhan, menyepi dan hidup di gunung”, tambahnya lagi sambil merenung, “biar khusyuk”, dia mengakhiri renungannya, sementar Astrid terkikik, membuat Rima tersenyum lebar

“Kayaknya nggak gitu juga, deh”, jawab Astrid, sambil tersenyum kepada Ira, sahabatnya, “kita tetap bisa menjadi orang yang taqwa dan taat kepada Allah, walaupun kita juga sibuk dalam keseharian kita. Bukankah khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat kepercayaan Rasul yang dijamin surga dan disayang Allah, tapi juga aktif dalam bisnis dan bahkan menjadi khalifah?”, jelas Astrid lagi, membuat Rima sedikit bengong  akan bagaimana sahabatnya ini menjelaskan masalah Islam dengan jelas dan lancar

“Hmmm…bener juga, ya, kita nggak perlu menafikan dunia hanya karena ingin menjadi orang yang taqwa, taat dan disayang Allah”, jawab Ira, ia mengerti maksud Astrid, ia juga memandangi Astrid dengan kagum, “kamu udah bisa jadi da’i juga nih kayaknya..hihihi..”, tambahnya sambil terkikik, membuat Astrid mencubit pipi kawan lamanya itu dengan gemas

“Ngeledek aja dari tadi”, kata Astrid sambil mencubit pipi Ira dan tertawa gemas. Ira yang kesakitan memekik pelan, ia pun memukul pundak Astrid minta dilepas, mereka tertawa-tawa,membuat Rima ikut tertawa juga

Astrid dan Ira kemudian melanjutkan obrolan mereka dengan lebih santai. Astrid menanyakan kegiatan dan kuliah Ira di fakultas MIPA, dan Ira pun menceritakan kehidupannya selama dia kuliah di fakultas MIPA. Rupanya mereka adalah kawan akrab yang sama-sama sibuk, jadi jarang punya kesempatan bertemu, seperti Rima dan Erin. Rima kadang-kadang nyeletuk dan menimpali, sewaktu Ira dan Astrid bercanda. Ira orangnya cukup terbuka dan menyenangkan, sama seperti Astrid yang lucu dan cuek. Mereka bertiga kemudian terlibat obrolan santai seputar kampus, topik-topik trending dan obrolan ngalor-ngidul santai, sebelum akhirnya Astrid menyadari mereka harus segera pergi karena janji ketemu Dinta. Astrid kemudian pamit kepada Ira, dan kemudian Rima dan Astrid segera ke stasiun untuk segera ke tempat dimana Dinta menunggu.

*********************************************************************

Dinta bersorak dalam hatinya, ketika ia membaca pengumuman di chatgroup kelasnya, bahwa hari itu libur. Ia memang juga sedang malas untuk kuliah. Suasana weekend yang santai, masih belum hilang, membuatnya setengah hati untuk masuk kuliah. Dan pengumuman libur itu bagaikan keajaiban yang menyenangkan untuk Dinta. Ia kemudian membaca pesan-pesan lain di ponselnya. Ternyata ada pengumuman reuni angkatan kelas tahsin dan kajian Islam di masjid tempat ia biasa mengaji sewaktu SMA. Vita, teman Dinta yang juga ikut kelas itu, mengirim pesan khusus, bahwa ia juga datang ke masjid untuk reuni, dan ia akan menunggu Dinta di masjid. Dinta sudah lama tidak ke masjid itu, jadi ia agak canggung bertemu dan reuni lagi dengan teman-teman kajian Islam di masjid itu, kecuali mugkin dengan Vita, sahabatnya dari kelas kajian di masjid. Cepat dikirimnya pesan kepada Rima dan Astrid, mengajak mereka untuk ikut juga. Kebetulan ada cafĂ© di dekat masjid, jadi mereka bisa santai sambil ngobrol di kafe itu sesudah kajian. Dinta bersorak lagi, ketika Astrid membalas, ia dan Rima akan menyusul ke masjid yang Dinta maksudkan, segera setelah Astrid dan Rima selesai menemui Ira, teman Astrid di MIPA. Dinta segera bersiap-siap dan menghubungi Vita, bahwa ia akan mengikuti reuni angkatan kajian Islam kelas mereka di masjid. Ia dan Vita lalu janjian untuk ketemu di depan pintu masuk tempat pendaftaran ulang peserta reuni.

Di masjid, Dinta segera mencari Vita. Astrid dan Rima baru datang agak siangan, karena memang jarak masjid itu dari kampus cukup jauh. Dinta dan Vita akan ketemu duluan dan mengikuti acara reuni. Astrid bilang di pesan inbox-nya, ia akan pasang live location, supaya Dinta bisa mengetahui Astrid dan Rima sudah sampai mana, dalam perjalanan mereka ke masjid.

Masjid itu namanya masjid “Al-Barkah”. Ada beberapa perubahan, sejak terakhir kali Dinta ke masjid itu. Ia mencari-cari Vita, dan dilihatnya Vita sudah menunggunya di pintu masuk ke dalam masjid, dan melambaikan tangannya. Dinta menghampiri Vita, lalu mereka segera ke meja panitia, untuk mencatat nama dan nomor santri yang dulu diberikan kepada mereka sewaktu masih mengaji di masjid itu. Dinta dan Vita kemudian masuk ke dalam masjid untuk mengikuti acara.

Da’i kondang yang kebetulan juga salah satu Imam, Dewan Penasihat Masjid, yang akan mengisi acara utama pagi itu belum datang, tapi sudah banyak orang yang datang dan duduk di dalam ruang masjid.

“Ih, aku ga nyangka, kamu bakalan datang, lho, Dinta”, kata Vita memulai, “kirain kamu udah ngelanjutin kuliah di Amrik”, katanya jujur

“Iya, ya..kita udah lama banget nggak kontak. Sejak…sepertinya sejak sama-sama lulus SMA”, jawab Dinta sambil tersenyum manis pada Vita. Dinta senang Vita, sahabatnya dari kelas kajian di masjid Al-Barkah bisa datang. Dulu, sewaktu masih ikut kajian, mereka saling support masing-masing, untuk selalu datang dan tidak malas, sampai mereka lulus kelas tahsin, dan sampai mereka lulus SMA dan tidak mengikuti kajian Islam di masjid ini lagi.

“Vita kan ngambil Kedokteran di Universitas Trisatya, kan?” tanya Dinta lagi

“Iya, Rima di akuntansi di Universitas Nusantara, ya??”, jawab Vita

“Iya. Sayang ya, jarak kampus kita berjauhan banget, jadi nggak bisa saling kunjung”, timpal Dinta, “masih ikut kajian Islam?”

“Masih, tapi di kampus, Dinta. Kalau di tempat lain nggak sempat. Kedokteran itu jadwal kuliahnya padat sejak awal”

“Wah, sama dong. Dinta juga jadi anggota rohis, di masjid Fakultas”, jawab Dinta, sambil tersenyum lebar, “ternyata kita sama-sama masih punya ghirah Islam, walaupun udah nggak bareng di masjid ini”, tambahnya, masih dengan senyum lebarnya. Ia senang, sahabatnya masih sama, selalu berusaha menjadi lebih baik dan lebih taqwa lagi, seperti niat mereka dulu waktu saling menyemangati untuk masuk kelas kajian Islam dan tidak malas, di masjid Al-Barkah ini.

“HEI DINTA!!!”, tiba-tiba sebuah suara, yang lumayan nyaring, memanggil Dinta, membuat Dinta kaget.

Ternyata yang memanggil adalah Zelda, teman SMA Dinta juga, Zelda terlihat bersama dengan tiga orang temannya

Zelda teman satu SMA Dinta, tapi tidak satu kelas, sedangkan Vita, tidak satu SMA dengan Dinta, tapi Dinta dan Vita sama-sama satu kelas di kelas kajian Islam dan tahsin di masjid Al- Barkah.

“Hei, Zelda, apakabar…??”, Dinta tersenyum, menyambut Zelda. Ia tidak menyangka,ada juga teman satu SMA-nya yang ikut kajian Islam di masjid ini juga. Memang masjid Al-Barkah ini masjid raya di salah satu kawasan perumahan mewah dan pejabat serta perkantoran yang lokasinya masih di tengah kota

“Hey Dinta, aku juga anggota kajian Islam masjid ini”, Zelda tidak menjawab pertanyaan Dinta, ia malah menjelaskan maksudnya sendiri, “tapi aku angkatan dibawahmu di kelas kajian Islam. Aku ikut kelas, setelah kita lulus SMA. Dan ini, teman-temanku juga semua satu angkatan”, katanya lagi sambil memandang tiga teman-temannya yang sama-sama dengannya

“Wah, bagus itu. Jadi kalau ada acara reuni seperti ini lagi, kita bisa bareng, Zelda”, jawab Dinta masih dengan senyum manis

“Wah, kayaknya nggak bisa, deh. Jadwal aku padat banget”, jawab Zelda, “lagian kamu emang serius ikut kajian Islam, Dinta? Kamu kan waktu awal SMA nggak pake jilbab, dan kamu punya pacar bule, yang orang Amrik.”, Zelda menolak ajakan Dinta sambil membeberkan masa lalu Dinta, “dulu waktu SMA, kamu kan sering posting foto- foto liburan kamu ke luar negeri, bahkan di Amrik dengan cowok kamu. Yang di pantai, pakai bikini juga ada kaaan..”, Zelda masih nyerocos, membuat wajah Dinta menjadi bersemu merah

“Kamu serius ikut kajian?Atau karena sekarang punya bisnis, biar klien dan customer percaya? Nggak percaya deh, kamu pakai hijab dan ikut kelas kajian di masjid, kamu kan hobi pakai baju sexy”, lanjut Zelda lagi, nada suaranya semakain bertambah sinis, dan wajah Dinta semakin merah karena malu, “Yaaah..kalo gank di sekolah bilang, kamu model majalah Playboy”, lanjut Zelda lagi

Walaupun malu dan merasa ditelanjangi tiba-tiba, Dinta tetap berusaha menguasai dirinya, ia lalu menjawab dengan tenang, “Ya, memang dulu aku punya cowok, sering  clubbing, bahkan sewaktu di Amrik juga clubbing, dan..seperti temen-temen di Amrik, aku berbusana yang enak aja, simple menurut aku waktu itu, cuma selembar kaos dan celana pendek atau rok, tidak perlu berlapis-lapis dan panjang-panjang.”

“Oh, jadi kamu ngaku, ya. Tuh kan, bener temen-temen, dia mah model majalah Playboy. Kajian Islam juga jangan-jangan cuma buat flexing, nih..mentang-mentang follower-nya banyak”, Zelda tertawa sinis, merasa menang karena pengakuan Dinta sendiri

“Yah, kenapa emang, kalau itu fakta, aku akui. Tapi kalau cuma tuduhan tidak berdasar, apalagi karena menghina, maaf ya, itu tanggungjawab yang menghina itu sendiri”, jawab Dinta, ia jadi sedikit emosi dengan segala kata-kata Zelda

“Menghina apaa???”, Zelda malah balik bertanya, wajahnya seakan tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa

“Model majalah playboy”, jawab Dinta cepat, “aku memang pakai bikini, ada beberapa foto seperti itu, tapi aku nggak pernah foto telanjang, DAN AKU BUKAN MODEL MAJALAH PLAYBOY!!”, jawab Dinta tegas dengan suara agak keras

Tapi bukannya sadar, Zelda malah semakin menjadi, “Yah, tapi bukti foto banyak. Foto kamu dulu, sebelum berhijab, sampai di luar negeri segala, jauh banget dari hijab!!”, Zelda semakin ngotot, “dan yang bilang kamu model majalah Playboy, bukan cuma aku, kok! Tapi juga anak-anak cowok! Mereka sering ngomongin postingan kamu, kalau mereka lagi nongkrong di warung bakso Bang Adul!!”

Ooohhh..warung bakso Bang Adul…!! Dinta jadi ingat dengan warung itu. Itu adalah warung di belakang sekolahnya, yang juga menjual rokok dan makanan kecil lain. Makanya, berandal-berandal SMA-nya, termasuk cowok-cowok gank “Morfin Bro” yang hobi merokok saat istirahat atau sepulang sekolah, hobi banget nongkrong disitu. Dan gank Marfin Bro ini seringkali mengganggu anak-anak cewek, termasuk Dinta. Yang menyebalkan, mereka sering berkelahi dengan anak lain disekolah atau di sekolah lain yang berada di dekat sekolah mereka, dan mereka sering tidak sopan dengan cewek-cewek.

Dinta ingat, Dinta pernah pulang dengan wajah sembab, membuat kakak Dinta,kak Cinta, yang waktu itu masih kuliah di program sarjana di Universitas Nusantara, jadi kaget dan heran. Dinta lalu menceritakan, gara-gara makan bakso di warung Bang Adul, ia jadi diganggu geng cowok Morfin Bro yang sedang merokok disitu. Dinta ingat, waktu itu dia memang diejek-ejek, model…model…, begitu kata mereka. Model majalah porno, model majalah Playboy.

Cinta yang juga sebenarnya merokok, jadi kaget dengan cerita adiknya itu. Dia juga merokok, tapi waktu SMA, bahkan selama di bangku kuliah, dia tidak merokok. Dia baru merokok, karena pusing dengan skripsinya, juga dengan persiapan melanjutkan pasca-sarjana ke Amerika. Cinta jadi geram, ia pun lalu berjanji pada Dinta untuk mencari tahu dengan pura-pura ngebakso dan nongkrong merokok di warung bakso Bang Adul, dan kalau benar perilaku gank Morfin Bro sering mengganggu siswa-siswa cewek, ia akan melaporkan kejadian itu kepada guru BP atau Kepala Sekolah Dinta.

Keesokan harinya, memang Kak Cinta nongkrong di warung Bang Adul dan kemudian diam-diam melaporkan kejadian yang dialami Dinta kepada Kepala Sekolah. Dia minta, jangan sampai gank Morfin Bro tahu, kalau kakaknya Dinta melaporkan perbuatan onar gank itu. Dan memang, keesokan paginya lagi, guru BP men-sidak gank itu, dan seminggu setelah itu, warung rokok Bang Adul sudah aman untuk semua siswa makan disitu, tanpa takut diganggu anak-anak gank Marfin Bro,  sebab gank itu sudah tidak merokok dan nongkrong disitu lagi, setelah ketahuan oleh para guru. Kepala Sekolah juga minta kepada Bang Adul untuk tidak menjual rokok, sebab ini masih di area pelajar, apalagi warung Bang Adul nempel dengan lokasi sekolah.

Tapi sebutan model majalah porno masih melekat dan masih ada yang sering panggil begitu ke Dinta. Dan sewaktu Dinta memakai hijab di tahun terakhirnya di SMA, teman-teman dekatnya malah menjauh, dan cewek-cewek yang dekat dengan cowok-cowok gank Mafia Bro, malah gantian sering meledek Dinta, termasuk Zelda. Tapi waktu itu Dinta tidak perduli, sebab dia lebih fokus ke Ujian Nasional untuk kelulusan dan persiapan masuk universitas. Waktu itu juga ia aktif ikut tahsin dan kajian Islam di masjid Al-Barkah, dan disitulah ia mulai mengenal dan akrab dengan Vita. Persahabatan dan keakrabannya dengan Vita semakin erat, sehingga ia tidak terlalu memperdulikan kekeruhan pertemanannya di sekolah dengan cewek-cewek supporter gank Morfin Bro. Dia fokus belajar dan persiapan ujian nasional.

Dinta menghela nafas, ia memandang Zelda dengan jengkel, “Ya, memang aku suka pakai baju sexy, yang menurut aku sebenernya baju yang simple. Aslinya aku memang suka yang simple-simple. Tapi aku jadi mau agak ribet, pakai yang panjang-panjang dan berlapis, itu karena aku ingin menjadi hamba Allah yang taat. Cuma itu kok. Emang nggak boleh, jadi hamba Allah yang mau taat?”, jelas Dinta panjang lebar, dengan wajah galak kepada Zelda

“Ah, BOHONG!!”, Zelda bukannya mnegerti, malah menampik penjelasan jujur Dinta, “temen-temen”, katanya sambil melihat ke arah tiga temannya yang bersamanya, “jangan jadiin dia contoh, deh. Banyak yang keren-keren, soleha dan pinter daripada dia. Dinta ini mah cuma sekedar hobi flexing aja”, kata Zelda lagi, mencoba meyakinkan teman-temannya

“Aku berhijab bukan untuk menjadi contoh, kok!”, Dinta menampik, “Terserah mau contoh siapa, lebih baik jangan aku,aku masih banyak kekurangan, aku mau ikut kajian ISlam dan berhijab, minimal aku taat untuk diriku sendiri”

“Oke”, balas Zelda lagi, “tapi nanti kalau terungkap kebusukanmu atau aku bisa mengungkapkan, jangan nangis-nangis dan minta maaf ke aku, soal kebohonganmu hari ini!!” ancam Zelda, menatap wajah Dinta dengan tajam

“OKE!! Nggak masalah!!!!”, Vita tiba-tiba menyela, lalu ditariknya tangan Dinta,”Ayo Din, temenin beli minum diluar”, segera Vita menyeret tangan Dinta keluar masjid, terlihat wajah Dinta merah padam dan matanya berkaca-kaca, Vita langsung memeluknya ketika mereka berada diluar masjid

Dinta ingin menangis, tapi Astrid tiba-tiba menelfon,

“Dinta, aku udah di kafe depan masjid sama Rima. Kamu dimana?”

Dinta jadi tersenyum, ia lalu mengajak Vita untuk menyebrang jalan ke kafe depan masjid untuk bertemu Astrid dan Rima, lalu setelah itu mereka akan masuk ke masjid lagi untuk mengikuti acara. Mereka akan cari tempat baru untuk duduk dan mengikuti acara, jauh dari Zelda dan gank-nya.

Di dalam kafe depan masjid, Rima dan Astrid ternyata sudah memesan es krim. Astrid terlihat asyik dengan banana split-nya, sedangkan Rima sibuk mencowel es krim waffel-nya. Dinta segera menuju counter pemesanan, untuk ikut memesan makanan bersama Vita. Setelah itu dia duduk, satu meja dengan Astrid dan Rima

“Rima, Astrid, kenalin, ini Vita, sahabat aku di masjid ini, satu kelas kajian waktu SMA dulu”, kata Dinta memulai obrolan mereka. Nafasnya agak tersengal, selain karena tadi jalan cepat-cepat karena ingin segera ketemu dua sahabatnya, ia juga masih belum sepenuhnya pulih dari kesal-nya terhadap Zelda. Masih terlihat rona merah di pipinya yang putih bersih, bekas tadi ia malu bercampur kesal dengan Zelda, hingga wajahnya bersemu merah.

“Haloo..”, sambil tersenyum,  Rima dan Astrid bersamaan menyapa Vita, Vita pun balik menyapa dan tersenyum pada Rima dan Astrid

“Wah…wah…wah…, kelaperan atau apaan niih…???”, Rima melihat pesanan yang dibawa Dinta, yang memang banyak, begitu juga yang dibawa Vita. Dinta dan Vita segera meletakkan makanan yang mereka bawa, sambil mengambil tempat duduk

“Laper! Mau makan orang!!”, sahut Dinta asal-asalan, tapi kemudian ia tertawa

Rima dan Astrid yang cukup terkejut memandang Dinta dengan sedikit heran. Nggak biasa-biasanya, sahabat mereka yang satu ini jadi agak kasar dan nyolot jawabannya. Astrid jadi sadar, wajah Dinta pun nggak seperti biasanya kalau sedang tenang. Semu merah itu, Astrid sering memperhatikan, hanya kalau Dinta sedang kesal, sedih, panik, atau takut.

“Dinta, ada apa? Wajahmu..pink-nya masih belum hilang”, tanya Astrid

“Oh..ehmm..”, Dinta menjawab, sambil wajahnya kembali bersemu merah, karena perasaannya yang masih kesal, tanpa ia sadari, justru diperhatikan oleh kedua sahabatnya, “Nggak apa-apa, kok”, dia lalu mulai membelah ayam goreng crispy pesanannya, “Oh iya, ini makanan aku pesan banyak, buat kita makan rame-rame, yuk dimakan bareng”

Rima dan Astrid memperhatikan makanan di meja mereka, ayam goreng 4 potong, sepertinya mereka semua masing-masing dapat 1 potong, lalu ada kentang goreng 2 kantong, cheeseburger 4, nasi 2 untuk Vita dan Dinta, shrimp roll 1 mangkuk, sosis besar 4, waffel cream coklat ukuran medium 1, banana split 1 untuk Dinta, dan ice cream sundae untuk Vita dan ice tea 4 gelas.

“Gila!!Ini sih banyak banget!!! Masya Allah…!”, Astrid memandang meja makan mereka dengan sedikit takjub, ia lalu tertawa, Rima juga ikut tertawa

“Nggak mungkin nggak kenapa-kenapa, ketahuan banget kamu lagi kesal”, kata Rima sambil tertawa dan memandang Dinta, “pesan makanan aja kayak pelampiasan gini..”, semua ikut tertawa dengan ucapan Rima

Vita lalu menceritakan kejadian yang dialami Dinta di dalam masjid tadi, sementara Dinta mulai menghabiskan porsi nasi ayamnya. Ia hanya kadang-kadang menimpali cerita Vita dengan nada sedikit kesal dan sedikit sedih, karena sibuk dengan nasinya yang langsung disambung dengan cheeseburger setelah nasi ayamnya habis. Astrid dan Rima menyimak cerita Vita, sambil memperhatikan Dinta menghabiskan makanannya pelan tapi pasti

“Wah…wah..wah.., cakep-cakep makannya banyak bener..!!”, celetuk Astrid, mengomentari Dinta, yang langsung membuat Dinta tertawa.

“Kayaknya sekarang do’i udah mulai adem, nih Vita.., diademin makanan”, Rima ikut menimpali, membuat Vita, Dinta dan Astrid terkikik

“Udah Dinta, jangan sedih”, kata Rima lagi, “aku justru penasaran, pengen tau, kamu dulu sebelum berhijab dan masih sering pakai baju sexy, gimana sih”, Rima memandang Dinta, yang jadi terhenti, sekarang mengunyah kentang goreng, setelah cheeseburgernya habis, “maksudnya, pasti kamu keren banget, pasti nggak jauh beda sama temen-temen kamu, cewek- cewek bule di Amrik. Kamu kan juga putih banget. Makanya kita tau kamu kesel apa enggak, pipi kamu aja sering jadi pink”, lanjut Rima, sambil tersenyum manis ke Dinta, agar ia tidak salah paham

“Iya, ntar kalau masih ada fotonya, kalau kita ke rumah Dinta, liat ya Dinta, pasti keren deh. Kamu kan juga mirip bule, coba aja kalau rambut kamu di cat pirang, udah keliatan bule banget, kali”, timpal Astrid, ia pun tersenyum ke Dinta, untuk menenangkannya, “Nggak seperti aku, yang sawo busuk ini, karena keseringan pakai kaos oblong dan celana pendek, hehehehe”, lanjut Astrid terkekeh. Astrid memang satu-satunya yang belum berhijab diantara mereka. Saat itu pun ia memakai selana jeans tiga perempat dengan kaos lengan pendek dn topi bulat. Tapi bukan berarti dia suka pakai baju terbuka dan sexy. Dia cuma suka pakai celana pendek dibawah lutut dan t-shirt, kalau bukan acara rohis atau kuliah. Sama seperti Dinta, dia suka yang simple.

Tanning brown. Yang bule-bule kepingin banget, sampai berjemur seharian dibawah terik matahari pantai”, jawab Dinta, mengomentari kulit Astrid, kali ini dia yang tersenyum ke Astrid, “temen aku di Amrik yang kulitnya coklat seperti kamu,kadang di jealousin sama yang kulitnya keputihan dan terlalu pucat”

“Apapun warna kulit kita, yang  penting kita bersyukur, Allah sudah ciptakan kita dengan sebaik-baik bentuk”, celetuk Vita dengan suara dan senyum kalemnya

Rima dan Astrid jadi mengalihkan pandangan mereka ke Vita,

“Betul itu”, jawab Astrid cepat, “tapi waktu belum berhijab, kamu sholat kan, Din?”, tanya Astrid ke Dinta, yang membuat Dinta mendelik padanya

“Ya, iyyalaah…., enak aja aku nggak sholat! Ya sholat, lah! Itu kan kewajiban!”, jawab Dinta cepat, pipinya bersemu merah lagi, membuat Rima dan Astrid tertawa melihat perubahan warna wajahnya

“Jangan marah, Dinta”, jawab Astrid lagi, “berarti beres, kan! Soal berhijab, memang butuh persiapan mental, kalau buat aku sih”, Astrid yang belum berhijab, tampaknya paling mengerti posisi Dinta sewaktu dia belum berhijab dulu, “jadi nggak setengah-setengah atau jadi jilboobs, tapi masih suka pamer-pamer bodi”, katanya lagi tegas

“Cieee…,yang lagi persiapan mental…!”, Dinta menimpali sambil tertawa, semua ikut tertawa dengan ledekan Dinta ke Astrid

“Ntar aja liat, kalau aku berhijab! Nggak lama lagi, kok!! Abis naik gunung, kali yaa..”Astrid jadi sedikit melamun, “Ngumpulin hijabnya dulu”, jawabnya lagi

“Percaya, Astrid”, sahut Rima, sambil tersenyum pada Astrid, “soal hijab, jangan khawatir, entar aku tambahin deh, aku punya banyak banget!”, katanya lagi

“Aku juga ikut, ah..mau nambahin hijab dan baju panjang atau gamis buat Astrid”, timpal Dinta, yang juga disela Vita, “kalau aku ikut nyumbang juga, boleh nggak nih?”

“Boleh ajaa…”, jawab Astrid, “Asal mau anterin ke kampus..”, katanya lagi sambil tertawa, Rima dan Dinta ikut tertawa, Dinta lalu menjelaskan bahwa Vita kuliah di fakultas kedokteran Trisatya

“Tenang aja Astrid, setelah berhijab, kita juga masih akan terus berproses, kok”, kata Vita ke Astrid, lalu dia memandang Dinta, sahabatnya, “Dinta, udah jangan dipikirin kata-kata Zelda, yang kita pikirkan sekarang itu, bagaimana kita setelah berhijab, bisa mempraktekkan pelajaran yang kita dapat di kelas kajian Islam dulu, yang kita ikuti di masjid. Kita berproses ke masa depan, bukan mundur kembali ke masa lalu”

“Iya Dinta”, Rima menimpali, “kata Al-Ghazali, masa lalu adalah sesuatu yang sudah tidak ada, sedangkan masa depan masih di angan-angan. Ngapain mikirin yang sudah tidak ada”, katanya lagi, “kita menjadikan masa lalu sebagai tolok ukur dan pelajaran untuk menjadi lebih baik di masa depan”

“Ya, betul itu”, Astrid pun tidak kalah, ikut berpendapat, “bagaimanapun kita di masa lalu, tapi kalau di masa sekarang, saat ini, seperti Dinta, yang konsisten dan serius dalam berhijab, lumayan syar’i, maksudnya bukan jilboobs, ikut kajian untuk belajar Islam, tahsin bahkan tahfidz, sepertinya, itu lebih baik, daripada pakai hijab atau pengajian hanya untuk ikut-ikutan atau untuk tujuan lain yang cuma main-main aja”

“Yo’i, bener banget”, sahut Rima, mereka semua jadi berpendapat, ingin memberikan pencerahan, ke dalam hati dan pikiran Dinta, supaya tidak kepikiran dan hatinya tidak buram berjelaga, karena ulah Zelda, mereka ingin menenangkan Dinta, “tau nggak, Allah lebih suka tangisan seorang pendosa yang bertobat, karena menyesal akan kesalahannya, takut serta mohon dan harap ampunan Allah, daripada ahli ibadah dan ahli ilmu yang sombong dengan ibadah dan ilmunya”

“Ya bener itu, Rima”, kali ini Vita yang berpendapat, “kalau mau lihat cewek yang hijrah, sih, ya liat Dinta, lah, emang bener-bener hijrah”, katanya sambil tersenyum pada Dinta, senyum yang menguatkan hati sahabatnya itu, “hijrah itu apa sih, pindah tempat, pindah sekolah, atau pindah dari sekolah jadi kuliah?”, tanyanya lagi, sebuah pertanyaan yang dia tidak minta ketiga temannya menjawab

Tapi dijawab oleh Astrid, “hijrah itu, berpindah dari perbuatan buruk atau tidak baik, menjadi perbuatan baik. Artinya mengubah dari perbuatan buruk jadi perbuatan baik, artinya lagiii..berubah menjadi lebih baik”, dia cepat-cepat menjawab, karena serunya dia, Rima dan Vita saling menimpali untuk menenangkan Dinta. Membuat Dinta yang masih sibuk dengan makanan terakhir yang mereka habiskan bersama, waffle cream coklat, jadi tersenyum-senyum sambil kadang bengong memperhatikan ketiga sahabatnya sambil ia mengunyah makanannya

“Dan semua itu…, memang butuh proses”, Rima mengakhiri penjelasalan mereka bertiga, sambil ia juga menikmati waffle cream coklat bersama Dinta, Vita dan Astrid, “dan kita semua sekarang sedang berproses”, katanya mengakhiri pendapatnya

Dinta menghela nafasnya, ia lalu tersenyum lebar, “Makasih ya, bestie-bestieku. Kalian emang the best, deh!”, katanya, sambil menyuapkan waffle, “nggak rugi aku pesan makanan banyak gini, perut tercerahkan, hati dan pikiran juga tercerahkan”, katanya sambil nyengir, wajahnya kembali bersemu merah karena hepi, “gimana, kalian juga perut tercerahkan, kan??”, tanyanya dengan wajah innocent

“Iya, lah…makanannya banyak gini”, jawab Rima, geli dia melihat ekspresi Dinta

“Tapi yang paling banyak makan kamu, Dinta!”, celetuk Astrid sambil terkikik, membuat Dinta, Vita dan Rima tertawa

“Yuk ah, kalau udah, kita ke masjid lagi, takutnya kajian udah dimulai”, ajak Vita, “tenang aja Dinta, kita bakalan hindarin Zelda dan langsung balik aja setelah kajian”, Vita menenangkan Dinta

“Okee…siap, boss..”, Dinta mengiyakan ajakan Vita. Ia juga mengajak Rima dan Astrid ikut ke masjid untuk mengikuti kajian Islam, lalu setelah itu, ia janji, akan mengantar mereka pulang satu-satu. Rima dan Astrid menyetujui ajakan dan usulan Dinta. Mereka segera meninggalkan kafe dan bergegas ke masjid untuk mengikuti kajian Islam.

Hari itu, walaupun tidak langsung balik ke kantor, tapi nongkrong bersama sahabat-sahabatnya, sebenarnya Rima merasa mendapat suntikan semangat. Dan yang pasti pelajaran berharga baginya. Ia jadi teringat Erin, sahabatnya di SMK. Ya, dulu di SMK, bahkan sejak SMP, ia hijrah bersama Erin, mulai berhijab dan sama-sama aktif di rohis. Tapi dulu mereka tidak menyadari, bahwa mereka semua berproses. Dan walau sekarang lepas hijab, Rima yakin, Erin pun masih menjalani prosesnya dalam hijrahnya, berproses untuk kehidupan yang lebih baik, pribadi yang lebih baik.

******************************************************************

Bab VII- Astrid Berhijab! (Bagian 2)

  “ Well, kalau Astrid berdialektika karena kecintaannya dengan alam, maka aku berdialektika karena..hmm..apa..ya, namanya, budaya, mungkin,...