Tidak terasa sudah akhir semester. Tapi Rima masih belum bisa pulang kampung, sebab perkuliahan masih belum libur, walaupun Ujian Akhir Semester sudah selesai, tapi masih ada waktu seminggu untuk yang remedial ataupun yang ujian susulan, bagi mahasiswa yang izin, atau sakit. Karena Rima mengikuti semua ujian akhir tanpa izin ataupun dia pernah sakit, maka jadwal ujiannya juga sudah selesai. Begitu juga Dinta dan Astrid. Jadi mereka bertiga sebenarnya sudah libur, hanya ke kampus untuk melihat nilai ujian, dan menyelesaikan pembayaran semester depan. Selain itu, mereka libur.
Rima sebenarnya ingin cepat-cepat
izin kantor dan pulang ke rumahnya. Walaupun hanya dua atau tiga hari mendapat
izin dari Pak Dahlan, itu sudah cukup baginya. Yag penting baginya, ia bisa
pulang dan bertemu keluarga. Sayangnya, perkuliahan belum libur, jadi Rima
masih harus ke kampus untuk melihat nilai-nilai ujiannya, kalau-kalau ada yang
harus remedial. Ia juga harus mempersiapkan mengisi form rencana studi semester
depan, pembayaran semester depan dan berbagai urusan administrasi lainnya. Rima
bersyukur, kedua orangtuanya sangat mengerti kondisi Rima, bahkan segera
mengirim uang semester, sewaktu Rima mengirimkan jadwal pembayaran dan rencana
studi semester depan. Orangtuanya juga mengerti, Rima mungkin tidak bisa
pulang, dan kalaupun pulang, mungkin hanya dua atau tiga hari, karena
bagaimanapun, ia juga punya pekerjaan di kantor yang tidak bisa ditinggal libur
seenaknya.
Jadilah Rima mengisi seminggu
setelah Ujian Akhir dengan lebih banyak mengisi waktunya bekerja di kantor. Ia
bekerja dengan lebih giat dan rajin, untuk menggantikan semua waktunya di
kantor yang terpakai untuk kuliah pada bulan-bulan sebelumnya. Rupanya Pak
Dahlan memperhatikan giat dan rajinnya Rima, jadi ketika ia bertemu Rima, Pak
Dahlan menyapa Rima dan mengatakan, kalau libur akhir semester Rima mau pulang
kampung, maka Pak Dahlan memberikan izin untuk dua hari selain akhir minggu.
Jadi Rima sebaiknya pulang sewaktu akhir minggu, jadi bisa ditambah dua hari
izin dari Pak Dahlan. Rima mengucapkan terimakasih, tapi ia menjelaskan
sejujurnya, bahwa ia mungkin belum bisa pulang, karena perkuliahan juga belum
libur, dan ia ingin mengisi waktu liburnya dengan bekerja di kantor, mengganti
waktu-waktu yang terpakai untuk kuliah pada bulan-bulan kemarin. Pak Dahlan
tersenyum senang sewaktu Rima menjelaskan keinginannya mengisi libur dengan
tetap bekerja di kantor saja. Pak Dahlan kemudian mengatakan, itu terserah
Rima, tapi kalau mau pulang kampung, tinggal beritahu ke Bu Lenny, untuk
administrasi izin, karena Pak Dahlan sudah mengizinkan. Rima juga mengucapkan
terimakasih pada Pak Dahlan dengan pengertian dan izin yang diberikan
kepadanya.
Walaupun Rima tidak bisa pulang
kampung, tapi Rima tidak sedih. Sebab Erin, sahabatnya di SMK dulu, datang
mengunjungi Rima di paviliunnya, sehari sebelum akhir minggu. Erin tahu dari
info yang diberikan Rima di chat mereka, setiap akhir minggu, kantor
Rima libur, dan dengan jadwal libur di kampus, sementara Rima tidak bisa
pulang, maka Rima tidak akan ada kegiatan. Maka Erin berinisiatif untuk
mengunjunginya di Depok. Erin datang dengan menggunakan hijab, membuat Rima
merasa surprise, dan Erin langsung menjelaskan kenapa ia sudah
menggunakan hijab lagi.
Rupanya setelah tamasya mereka ke
Taman Safari, Erin cukup merenungkan pertemuan dan obrolannya dengan Rima. Ia
kemudian memberanikan diri untuk coba-coba buka katering, yang ia promosikan
kepada teman-teman SMK mereka dulu. Ternyata banyak dari teman-teman mereka,
yang juga sudah bekerja seperti Erin dan Rima, lebih memilih makan siang dengan
katering ketika istirahat kantor, karena lebih menghemat, daripada mencari
makan di warung-warung. Erin jadi kebanjiran job, yang membuatnya lebih
percaya diri untuk resign dari restoran tempatnya bekerja. Dan karena
selama bekerja di restoran ia juga belajar beberapa menu dari restoran
tempatnya bekerja, maka ia juga menyediakan menu serupa pada menu kateringnya,
yang membuat kateringnya semakin digemari oleh teman-teman SMKnya, bahkan
teman-teman SMK mereka juga mempromosikan ke teman-teman kantor mereka, membuat
Erin dapat langganan beberapa kantor teman-teman SMK untuk katering siang hari.
Erin merasa bersyukur bahwa Allah masih membukakan pintu rezekinya. Ia kemudian
segera berhijab lagi, dan berjanji pada dirinya, tidak akan pernah melepas
hijabnya sampai kapanpun, walau keadaan bagaimanapun dalam hidupnya.
Rima senang mendengar cerita Erin,
bahwa ia dibukakan pintu rizki yang lebih luas, dan itu menjadi jalannya untuk
bisa kembali berhijab. Rima juga menyanggupi permintaan Erin untuk mengingatkan
Erin kalau Erin mau melepas hijab lagi. Sekalian Rima bilang pada Erin, karena
ia mengingat perkataan Erin bahwa ia lebih beruntung daripada Erin, Rima
bilang, bukan Rima lebih beruntung, tapi Rima dan Erin sama-sama punya jalan
rizki masing-masing, hanya dengan cara yang beda-beda, rizki itu tidak akan
tertukar. Kita hanya perlu ikhtiar,berdoa dan tawakal pada Allah
Subhanawata’alaa.
Erin berencana menghabiskan waktu
di paviliun Rima dan jalan-jalan ke tempat-tempat wisata ataupun mall-mall di
Depok, tapi Rima diajak Dinta untuk menginap di rumahnya, sekalian katanya dulu
di awal semester, Rima mau belajar renang ke Dinta. Rima sudah terlanjur
menyanggupi ajakan Dinta, jadi Rima mengajak Erin untuk ikut ke menginap di
rumah Dinta. Rima juga bilang pada Dinta, mungkin ia akan menginap dengan Erin,
sahabatnya di SMK. Ternyata Dinta oke saja, ia juga mengajak Vita, sahabatnya
di majlis taklim yang Rima sudah kenal, untuk menginap di rumah Dinta. Astrid
tidak bisa ikut menginap, sebab ia sedang hiking dan camping ke
Gunung Kerinci bersama dengan sahabat sesama Pecinta Alam sewaktu SMA, Ira,
yang juga mahasiswa MIPA, yang Rima juga sudah kenal. Sepertinya cuma Erin yang
belum dikenal oleh Dinta dan Astrid,maka Rima berencana untuk mengenalkan Erin
pada Dinta dan juga Astrid, jadi mereka semua, Rima, Dinta, Astrid, Erin, Vita
dan Ira, saling mengenal satu sama lain.
********************************************************************
Jadilah hari Sabtu akhir minggu
itu, Rima dan Dinta kumpul di rumah Dinta, minus Astrid, tapi dengan Erin dan
Vita. Sabtu pagi, Rima belajar renang dengan Dinta sebagai instruktur. Dinta
ternyata jago berenang. Maka Vita dan Erin juga belajar renang pada Dinta. Hari
itu, berkat Dinta, dengan kecerdasan dan terampilnya sebagai instruktur,
akhirnya Rima, Erin dan Vita sudah cukup menguasai gaya dada, gaya yang paling
mudah dalam renang. Kata Dinta, kalau Rima konsisten, setiap libur Rima bisa
menginap di rumah Dinta, untuk diajari semua gaya renang. Rima dengan senang
hati menerima tawaran Dinta, dan rupanya Vita juga mau jadi murid Dinta belajar
renang, jadi Dinta juga menerima Vita, yang akan menginap setiap akhir pekan,
kalau ia dan Dinta sama-sama tidak sibuk kuliah, untuk belajar renang.
Mereka juga bercanda, main, dan
ngobrol sambil renang. Rumah Dinta yang mewah juga punya sudut untuk pesta
lengkap dengan alat barbeque di sudut taman, maka, mereka juga membakar
ayam, dan makan kue-kue buatan Erin, yang jadi jago masak dan bikin kue, karena
pernah bekerja di restoran. Astrid yang dihubungi Rima melalui video call,
mengatakan ia rasanya jadi ingin bergabung dengan mereka juga. Tapi ia masih di
pedesaan dekat dengan kaki gunung. Ia, Ira dan tim Pecinta Alam baru saja turun
gunung, dan akan melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Dinta yang ikut nimbrung
di video call antara Rima dan Astrid, menawari Astrid untuk dijemput, dan tentu
saja Astrid mau! Maka, hari Minggu sore keesokan harinya, jadwal Dinta dan Rima
adalah menjemput Astrid di Sekretariat klub Pecinta Alam-nya Astrid. Astri
memberikan alamat dan share loc di chatgroup mereka bertiga,
supaya Dinta besok nggak nyasar.
Akhir minggu itu kebetulan Dinta
sedang sendiri di rumahnya, maka ia bisa mengajak Rima, Vita dan Erin untuk
menginap di rumahnya. Dinta adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak
pertamanya laki-laki dan sudah menikah dan memiliki dua anak yang masih
kecil-kecil. Kakak yang kedua adalah Kak Cinta, yang membela Dinta sewaktu SMA
dia diganggu oleh geng Morfin Bro. Kak Cinta di Amerika dan melanjutkan
studi master-nya di Universitas di Amerika. Kakak laki-laki Dinta, yaitu Kak
Sapta, sebenarnya tinggal di Jakarta bersama dengan Dinta, di rumah orangtua
mereka. Kak Sapta bekerja dan mengurus bisnis dan perusahaan Ayah Dinta di
Indonesia. Tapi, karena bisnis Ayah Dinta ada di Indonesia dan Amerika, maka
Kak Sapta juga sering tinggal di Amerika sampai sebulan lamanya. Kalau ke
Amerika, Kak Sapta sering membawa anak-anak dan istrinya, jadi Dinta sendirian
di rumah. Rumah Dinta memang rumah orangtua Dinta. Kak Sapta tidak membeli dan
mempunyai rumah sendiri. Orangtua Dinta meminta Kak Sapta sekeluarga dan Dinta
untuk tetap tinggal di rumah mereka saja. Kak Sapta tidak perlu membeli rumah
sendiri, sebab Ayah dan Ibu Dinta tinggal di Amerika sudah sejak Kak Sapta
mulai bekerja dan meneruskan memimpin perusahaan Ayah Dinta di Indonesia,
sementara Ayah dan Ibu Dinta, tinggal di apartemen di Amerika, bersama dengan
Kak Cinta. Terkadang Ayah dan Ibu Dinta pulang ke Indonesia, dan rumah Dinta
jadi penuh dengan keluarganya. Orangtuanya, kak Sapta, istri Kak Sapta dan
ponakan-ponakan Dinta, yakni anak-anak kak Sapta, dan kadang juga Kak Cinta,
kalau Kak Cinta libur panjang kuliah. Dinta juga tidak selalu sendiri, sebab
Kak Sapta tidak selalu di Amerika, lebih sering di Indonesia. Apalagi anak-anak
dan istrinya tidak bisa selalu dibawa ke Amerika.
Karena sebulan ini Kak Sapta
sekeluarga tidak ada, hari Sabtu itu Dinta bebas bikin pesta di rumahnya. Maka
hari itu mereka belajar masak dan bikin kue dari Erin, mereka juga karaoke,
karena Dinta punya home theater lengkap dengan perlengkapan karaoke dan
juga speaker yang bikin mereka serasa nonton film di bioskop. Yang mengejutkan,
Dinta ternyata punya koleksi film-film Islami yang cukup lengkap! Dari film
Nabi-Nabi, film-film perjuangan Islam seperti Al-Fatih dari Turki ataupun
Salahuddin Al-Ayyubi, bahkan Thariq bin Ziyyad dan Omar Mokhtar dari Libya.
Dinta juga punya film perjuangan Islam Indonesia seperti “Sang Pencerah” sampai
film drama-drama Islami yang mengharukan dari mancanegara sampai film komedi
Islami Indonesia yang edukatif. Dinta cerita, ia juga dibantu oleh teman-teman
yang ia kenal karena Ayahnya punya cukup banyak relasi bisnis orang Timur Tengah
di Amerika, mereka kenal, karena, sejak berbisnis dengan orang-orang Timur
Tengah itu, orangtua Dinta jadi ikut dalam komunitas Islam di Amerika. Dinta
dan kakak-kakaknya juga jadi kenal dengan komunitas Islam Amerika. Tapi yang
paling getol dengan komunitas Islam Amerika itu, kalau ke Amerika, adalah
Dinta. Rima diam-diam memandang Dinta dengan kagum. Ternyata ghirah
Dinta untuk belajar Islam sedemikian besar, sampai-sampai ia mengumpulkan semua
film-film Islami, bahkan film-film perjuangan dan dokumenter, untuk belajar
mengenai Islam. Padahal ia bukan dari keluarga dengan latar belakang yang
terlalu Islami. Orangtua Dinta menjadi lebih relijius, terutama karena pengaruh
relasi-relasi bisnis Ayah Dinta dari Tmur Tengah. Dan Dinta juga punya banyak
teman bule Amerika yang non-muslim. Kalau ia tidak hijrah, kehidupannya akan
sama senang dan mudahnya. Tapi Dinta lebih memilih hijrah dan mempelajari dan
menjalani kehidupan sebagai muslimah semampu dan sekuatnya Dinta, walaupun
keluarga dan kakak-kakaknya tidak serelijius dirinya. Rima diam-diam sungguh
sangat salut dengan Dinta.
****************************************************************
Minggu sore itu, mobil Dinta,
dengan Dinta, Rima, Erin dan Vita di dalamnya, sudah nongkrong di parkiran
Sekretariat klub Pecinta Alam Astrid. Astrid masih dalam perjalanan, jadi Dinta
dan Rima masih harus menunggu sampai Astrid sampai di Sekretariat dan mereka
bertemu Astrid. Rima, Dinta, Erin dan Vita menunggu Astrid di dalam mobil.
Kebetulan mereka membawa perbekalan makanan, dan mereka juga sambil nonton film
di TV kecil di mobil Dinta, dan juga sambil ngobrol. Rima juga memperhatikan
suasana Sekretariat Klub Pecinta Alam itu.
Sekretariat itu dari luar tampak
seperti gedung aula yang cukup besar, dengan halaman yang cukup luas untuk
parkir mobil. Di pinggir halaman luas itu, tumbuh pohon beringin yang cukup
besar dan tempat duduk yang cukup banyak menempel tembok luar gedung, dimana
banyak orang, tampaknya anggota Klub, duduk-duduk dan berkumpul, sambil
membongkar atau mencoba-coba perlengkapan mendaki mereka. Di ujung lain
halaman, tampak seperti dinding tinggi, untuk anggota Klub belajar panjat
tebing. Sekelompok orang juga berkumpul disitu, sedang berlatih panjat dinding.
Di pintu Klub, yang seperti pintu masuk gudang yang cukup besar, cukup banyak
orang yang keluar masuk, tampaknya dengan berbagai keperluan, beberapa keluar
masuk dengan membawa perlengkapan mendaki.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil colt
datang, satu-satu orang keluar dari mobil itu. Seorang cewek keluar dari mobil
itu, dan segera melihat mobil Dinta. Cepat ia lari menghampiri mobil Dinta,
“Guys!”, serunya, dengan
senyum lebar dan wajah cerianya seperti biasa, ia menghampiri jendela depan,
dan melongokkan wajahnya ke dalam, “Eh, ada Vita juga!”
Rima dan Dinta memandang cewek itu
dengan sedikit terkejut dan heran, mereka agak bingung awalnya, tapi kemudian
mereka menyadari itu adalah..
“Astrid?!!”, seru Rima, tidak bisa
menyembunyikan ekspresi terkejut dan herannya
“Bentar ya, aku beresin barang en pamit dulu sama yang lain”, Astrid nggak ngeh
dengan keterkejutan dan keheranan Rima dan Dinta
“Astrid abis naik gunung atau kajian
di Rohis, sih?!”, Dinta menimpali, ia juga sama herannya dengan Rima, sebab
Astrid memakai hijab
“Kenapa sih..?? Ini baru nyampe
banget, tadi bisa liat sendiri kan mobilnya pas masuk”, jawab Astrid, masih
dengan senyum lebarnya, “Alhamdulillah, nyampe juga di Sekre”
“Itu lho.., kok kamu berhijab
sihh..?”, Rima mengerti dengan keheranan Dinta yang seperti dirinya, melihat
Astrid membungkus kepalanya dengan pasmina, menjadi hijab yang cukup rapi,
apalagi untuk orang yang baru mendaki gunung
“Ooo—ooh…”, Astrid jadi maklum, dia
sendiri lupa kalau dia menggunakan hijab, tidak menggunakan topi seperti biasa
penampilannya kalau mendaki gunung. Tidak seperti penampilannya kalau
jalan-jalan atau di kampus, kecuali kegiatan rohis. Tidak seperti penampilannya
sewaktu akan ke Kerinci.
“Yaa…, emang mau coba jadi hijaber,
istiqomah”, kata Astrid lagi, menjawab kebingungan kedua sahabatnya
“Dari sebelum ke Kerinci?”, tanya
Dinta lagi, sebab memang mereka tidak mengantar Astrid ke Sekre Klub-nya,
sewaktu ia akan berangkat ke Gunung Kerinci
“Nggak. Ya pas turun gunung dua
hari lalu”, jawab Astrid singkat
“Serius??”, sahut Rima, masih
heran, tapi ia jadi senyum-senyum, begitu juga Dinta, Astrid juga tambah
tertawa terkikik, “Gini deh, anggep aja aku dapat hidayah di Kerinci” jawabnya
lagi, “Sebentar ya, temen-temen, unpacking dulu. Eh, boleh ajak Ira,
nggak, Dinta?”
“Oh iya..iya, boleh dong”, jawab
Dinta cepat, “Asal barang kamu nggak banyak, cukup kok”
“Oke, wait ya, ntar kalo mau
interview soal hijab pas udah jalan pulang”, kata Astrid berbisik genit pada
dua sahabatnya, sambil mengedipkan mata, ia lalu pergi menjauh, untuk masuk ke
dalam Sekre, menyelesaikan urusannya dengan teman-teman Klub-nya
Rima, Dinta, Erin dan Vita menunggu
beberapa menit, sebelum akhirnya mereka melihat Astrid melambaikan tangannya di
pintu masuk Sekre Klub, Rima segera menelfon Astrid, daripada ia dan Astrid
saling berteriak,
“Kenapa, Trid?”
“Masuk sini,yuk. Masih agak lama”
“Ogah, ah. Nunggu di mobil aja”
“Yee..ayoo, ikut masuk, nggak
pa-pa. Ini lagi ada semacam farewell party dan congrats buat yang
baru pulang dari pendakian, ntar lama kalo nunggu di mobil”
“Nggak apa-apa tunggu aja”
Astrid menutup telfonnya, tampak ia
memanggil seseorang, dan keluarlah Ira. Astrid dan Ira kemudian mendekati mobil
Dinta, meminta teman-teman mereka di mobil itu untuk turun dan ikut merayakan
kesuksesan mereka bersama dengan Klub Pecinta Alam
“Yuk ah, masak sih kalian nggak mau
ikut merayakan kesuksesan aku bisa ke second summit Indonesia”, kata
Astrid, sambil agak memanyunkan bibirnya, pura-pura ngambek
Mendengar bahwa mereka diminta
turun untuk merayakan kesuksesan Astrid, Rima segera membuka pintu dan keluar
dari mobil, “Ya mau, lah. Yuk”
Erin dan Vita mengikuti Rima keluar
mobil, Dinta paling akhir karena ia harus mengunci dan memastikan keamanan
mobil. Ia kemudian segera menyusul teman-temannya masuk ke dalam Sekretariat.
Sekretariat itu ternyata cukup luas
di bagian dalamnya, betul-betul seperti aula. Dan banyak juga anak-anak muda
seusia kurang lebih Rima, Dinta dan Astrid, laki-laki dan perempuan.
“Disini cuma Klub Pecinta Alam
aja,Trid? Luas amat ya, Sekre-nya”, tanya Dinta, sedikit takjub, ia menyapu
pandangan ke sekeliling aula itu
“Ya nggak, lah. Ini semacam GOR
gitu. Ada klub Pecinta Alam, Badminton, Basket dan Travelling. Tuh, liat nggak,
pintu-pintu kecil yang ditempeli papan, itu Sekre masing-masing Klub, tapi
latihan ya diluar sekre, di dalam aula ini”, jelas Astrid, tuntas
Astrid kemudian mengajak
sahabat-sahabatnya menuju ke arah Sekretariat Pecinta Alam, tampak seorang
mbak-mbak menggunakan hijab, tapi dengan kostum mendaki dan sedang merokok.
Mbak-mbak itu menyapa Astrid,
“Waah..Astrid, sekarang berhijab
juga?”
“Iya kak. Doain istiqomah, ya”,
jawab Astrid sambil tersenyum ramah, ia kemudian mengambil duduk di dekat
mbak-mbak itu, dan mempersilakan sahabat-sahabatnya juga mengambil tempat duduk
disitu.
“Alhamdulillah, bagus itu Astrid! Walaupun kita masih dengan gaya hidup serampangan
begini”, lanjut Kakak itu dengan sambil tersenyum dan merokok, “tapi yang
penting kita usahakan untuk memenuhi kewajiban kita sebagai muslimah, semampu
kita”
“Astrid tadinya takut berhijab,
takut jadi hijab nggak bener Kak”, jawab Astrid, “Padahal Astrid niatnya pakai
jilbab untuk memperbaiki diri, dan menjadi pribadi yang baik”, kata Astrid lagi
“Yang penting, pakai aja duu
hijabnya, memperbaiki diri menjadi pribadi yang bener sambil jalan. Saya juga
nih, masih merokok, tapi saya berhijab aja, dengan semangat untuk menjalankan
agama semampu saya, ya sekuat dan sebaik mungkin. Bukan semampu yang santai-santai
tapi lalai. Santai tapi serius tapi asik gitu..”, kata Mbak itu, sambil
tersenyum lebar dan bercanda
“Ciee..jadi asik ya Kak, pake
hijab..atau sok asik, nih jangan-jangan”, Astrid tertawa dengan candaan si Mbak
“Sok asik, kayaknya”, sahut Mbak
itu sambil tertawa, “bisa aja, kamu Astrid. Yuk ah, saya ke dalam dulu,
temen-temen kamu tawarin cemilan, tuh, di dalam banyak Astrid”, kata Mbak itu,
sambil tersenyum pada Rima, Dinta, Erin dan Vita, lalu masuk ke dalam Sekre
“Sebentar lagi acaranya dimulai.
Abis maghrib. Liat kan yang seperti mau bikin api unggun di tengah halaman
parkir?”, kata Astrid pada sahabat-sahabatnya, sementara Rima dan Dinta
memperhatikan Astrid dan semua suasana di dalam aula dan di Sekre Klub Pecinta
Alam itu, “Yuk, bantu bawa makanan ke meja dekat api unggun. Ntar kita shalat
maghrib jamaah di mushalla, tuh, liat disana”, Astrid menunjuk salah satu sisi
aula
Astrid, Dinta, Rima, Ira, Erin dan
Vita kemudian menghabiskan sisa sore itu membantu Astrid membawa makanan dan
persiapan lain untuk pesta api unggun malam nanti. Menjelang maghrib, mereka
segera ke aula untuk shalat berjamaah, dan selesai shalat berjamaah, mereka
mendekati api unggun, untuk mempersiapkan dan mengikuti acara. Astrid juga
mengenalkan sahabat-sahabatnya pada teman-teman Klubnya yang kebetulan
sama-sama naik gunung dan mengikuti persiapan untuk pesta kesuksesan beberapa
tim Pendaki yang menaklukkan gunung-gunung di Indonesia.
Sewaktu Astrid, Rima, Dinta, Erin,
Vita dan Ira bersiap ikut dalam lingkaran orang yang melingkar di sekeliling
api unggun, seorang mbak, bukan mbak yang ngobrol tadi sore dengan Astrid,
menyapa Astrid dengan keceriaan dan sedikit histeris,
“ASTRIIID..!!”, mbak itu memekik
sambil memeluk Astrid erat, Astrid tampak terkejut tapi senang, ia membiarkan
dirinya dipeluk mbak-mbak itu
“Mbak Carla..!”, balas Astrid, pada
mbak yang juga berhijab itu. Klub Pecinta Alam ini tampaknya memiliki
anggota-anggota muslimah yang berhijab juga
“Astrid sekarang berhijab??! Wah,
keren euy!”, kata mbak Carla, wajahnya terlihat senang melihat Astrid berhijab
“Insya Allah. Doain istiqomah ya,
Kak”, jawab Astrid, tersipu malu. Lagi-lagi ia ditanya soal dirinya yang
menggunakan hijab
“Iya, didoain istiqomah. Tapi
berhijab itu, walaupun cuma buat ambil air di gunung subuh-subuh, dan sepi,
seperti tidak ada yang melihat, hijabnya juga kudu tetap dipakai”, kata Kak
Carla,membuat Astrid tersenyum dengan perhatian Kak Carla, “bahkan walaupun
cuma keluar rumah sebentar, untuk buang sampah atau ke warung depan rumah,
selama di tempat-tempat dengan potensi akan ada atau banyak laki-laki bukan
mahram lewat dan melihat kita, hijabnya tetap harus dipakai”, lanjut Kak Carla,
“Astrid siap?”
“Siap Kak!”, jawab Astrid segera,
“Itu semua sudah Astrid renungkan selama di gunung”, jelas Astrid, “Makanya,
turun, langsung Astrid pakai apa yang bisa dipakai. Karena adanya pasmina 2
lembar yang Astrid bawa, makanya Astrid pakai pasmina, deh”, Astrid mengakhiri
penjelasannya sambil tersenyum lebar, membuat Rima dan Dinta ikut tersenyum
“Oooh..jadi di gunung dipakai untuk
merenung juga..muhasabah, ya”, timpal Dinta sambil terkikik, membuat Rima juga
ikut terkikik. Ira teman Astrid jadi tertawa, membuat Erin dan Vita juga ikut
tertawa
“Ya iyya laah..nggak cuma
muhasabah, macem-macem lah, variatif”, ceplos Astrid, cuek saja dengan ledekan
Dinta, malah sambil tertawa karena sahabatnya tertawa semua mendengar
pengakuannya
“Tadi janji, ntar di mobil pas
pulang, cerita yaa..”, kata Rima
“Iya, janji”, jawab Astrid sambil
mengedipkan matanya, wajahnya yang ceria tampak sangat bahagia hari itu
Acara syukuran api unggun hari itu
diawali dengan doa dan khidmat, ucapan selamat dari Pembina dan Ketua Klub, dan
diakhiri dengan beberapa hiburan lagu akustik, karena hanya ada gitar, dan
acapella dan sedikit permainan, lalu makan-makan. Ternyata syukuran malam itu
bukan buat tim Astrid saja, tapi juga tim-tim pendaki lain yang juga baru
menyelesaikan pendakiannya dari Gunung Semeru, Gunung Jayawijaya atau Cartenz
Summit, dan beberapa gunung lainnya di Indonesia. Pembina dan Ketua Klub juga
memberi pesan untuk beberapa tim yang sedang persiapan untuk mulai mendaki
gunung-gunung di luar negeri, untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Rencananya tim itu akan ke Nepal, untuk memulai perjalanan dan pendakian mereka.
Sebenarnya ada beberapa tim yang sudah beberapa kali ke gunung-gunung di luar
negeri, dan disusul dengan beberap tim pendaki lain yang juga akan mulai untuk
mendaki gunung di luar negeri.
Acara syukuran Klub Pecinta Alam
Astrid berakhir sukses, dan sahabat-sahabat Astrid, yakni Rima, Dinta, Erin dan
Vita, diterima ikut acara syukuran dan makan-makan, seperti anggota klub
lainnya. Selesai pesta, setelah membantu membereskan sisa-sisa pesta dengan
anggota Klub lainnya, Astrid pamit untuk pulang dengan Dinta, Ira, Rima, Erin
dan Vita, sahabat-sahabatnya yang sudah menjemputnya sejak sore.
*****************************************************************
“Jadi, gimana awalnya, sampai
memutuskan berhijab?”, tanya Rima pada Astrid, ketika mereka sudah di mobil
Dinta, dalam perjalanan pulang. Rencananya mereka akan mengantar Astrid ke
rumahnya, setelah itu mengantar Erin ke terminal, karena ia harus pulang ke
Bogor, dan kemudian baru mengantar Rima. Vita akan menginap lagi di rumah Dinta,
dan besok ia akan berangkat kuliah dari rumah Dinta, lalu setelah kuliah ia
pulang, tidak menginap lagi di rumah Dinta. Rupanya kampus Vita belum libur. Sementara
Ira, ia akan turun di stasiun dekat rumah Astrid, karena jarak rumah Astrid dan
Ira hanya berbeda 2 stasiun KRL.
“Iya, Astrid kan tadi janji mau
cerita”, Dinta juga teringat dengan janji Astrid tadi sore
Astrid jadi tersenyum diingatkan
oleh dua sahabatnya, matanya yang cerdas berbinar-binar menatap kedua
sahabatnya itu, “Well, mungkin buat kalian ceritaku biasa aja. Tapi
karena kalian minta aku cerita, oke, aku kasitau alasan dan background cerita
yang biasa-biasa ituhh..”, Astrid juga memandang Ira, Erin dan Vita yang sama
penasarannya dengan Rima dan Dinta. Ira, sahabat Astrid sejak SMA jadi
tersenyum geli melihat ekspresi wajah Astrid, yang antara setengah terpaksa
untuk cerita dan semangat untuk berbagi cerita dengan sahabat-sahabatnya, “Tapii..boleh
nggak, aku ceritanya sambil merem?”, tanya Astrid lagi tanpa ragu dan cuek
“Boleh, Trid. Sambil kedip-kedip
juga boleh”, sahut Dinta sambil terkikik, membuat Astrid tertawa
“Perlu diputerin musik yang sesuai
dengan cerita, nggak nih?”, timpal Rima senyum-senyum melihat Astrid
“Boleh-boleh.., yang sesuai dengan suasana
nature atau alam, yaa”, jawab Astrid, malah semakin menaggapi sikap
lebay Rima dan Dinta
“Ya udah, atuh, oke, cepet cerita”,
Ira yang malah jadi nggak sabar, tapi dia masih senyum-senyum melihat semangat
Astrid dan bagaimana ia saling meledek dengan sahabat-sahabatnya dari FE, Rima
dan Dinta
“Well..”, Astrid mulai
memejamkan matanya, sementara Rima mengganti musik di tape mobil Dinta
dengan yang lebih slow sambil senyum-senyum, sama seperti Astrid
“Temen-temen..”, Astrid memulai, “Kerinci
itu indah banget. Terutama sewaktu sudah di puncak gunung, walaupun itu gunung
berapi”, Astrid terdiam sejenak, membayangkan kembali pengalamannya sewaktu di
puncak Kerinci. Ira memandang Astrid lalu kepada Rima dan Dinta. Ira mengangguk
setuju kepada Rima dan Dinta, sewaktu Astrid mengatakan Kerinci itu indah.
“Sebenarnya semua pemandangan dari
atas gunung itu menakjubkan, dan aku tidak pernah lupa dengan semuanya itu”,
lanjut Astrid, “tapi setiap abis naik gunung, walaupun sudah beberapa gunung
kudaki, tetap saja, seperti pengalaman baru, seperti pertamakali naik gunung,
semua begitu menakjubkan”
“Sebenarnya..”, Astrid masih
melanjutkan, sambil masih memejamkan matanya, “setiap kali aku mendaki gunung,
terutama ketika menikmati pemandangan alam, selalu kugunakan untuk bersyukur,
memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah, menikmati keagungan-Nya melalui
ciptaan-Nya, tenggelam dalam keindahan alam ciptaan-Nya”, Astrid mengatakan itu
semua dengan sambil membayangkan semua kemegahan alam yang pernah dikaguminya
dalam perjalanan-perjalanannya ke setiap gunung yang pernah didakinya
“Tapi kan perjalanan ke puncak itu
nggak mudah, Trid”, celetuk Ira
“Hah? Apa..??”, Astrid membuka matanya
dengan setengah kaget dan setengah linglung dengan pertanyaan Ira yang
tiba-tiba nyeletuk, membuat Ira jadi tertawa
“Oo..oooh..”, Astrid jadi mengerti
maksud Ira, cepat ia jawab dan sambung ceritanya, kali ini ia tidak sambil memejamkan
mata, “memang perjalanan itu tidak mudah. Ada saat-saat dimana kita kadang
merasa putus asa dan lelah, untuk sampai ke puncak gunung”, cerita Astrid lagi,
yang ditimpali dengan Ira, menyetujui, “Bener”, sambil memandang Dinta yang
sedang menyetir dari kaca spion tengah
“Kalau orang bijak bilang, naiklah
gunung, arungi lautan, pergilah travelling, kamu akan tau siapa dirimu, itu
bener”, Astrid memandang Rima dan Dinta, “di tengah alam yang luas, kamu akan
merasa dirimu kecil, dan bukan apa-apa”, Astrid menarik napas dalam, “temen-temen,
selamanya manusia tidak akan pernah menang dengan alam, jika alam marah”,
lanjut Astrid lagi, “satu-satunya cara manusia menaklukkan alam adalah dengan
berbuat baik pada alam”, kata Astrid lagi, memandang Rima dan Dinta yang duduk
di bagian depan mobil, dari spion tengah mobil
“Tidak dengan teknologi?”, celetuk
Erin, yang sama seperti Vita, Rima dan Dinta, juga tertarik dan menyimak cerita
Astrid
“Tidak juga dengan teknologi”,
jawab Astrid lugas, lalu lanjutnya,”kalau teknologi itu merusak alam”, jawabnya
lagi tuntas, sementara Ira mengangguk setuju, sambil memandang Erin dan Vita, “bener
banget”, timpalnya, lagi-lagi ia setuju dengan Astrid
“Jadi, berbuat baik dan ramahlah, pada
alam”, Ira menambahi penjelasan Astrid, “Ingat, kalau dalam bahasa Inggris,
menyebut bumi sebagai tempat hidup yang memberi kita segala yang kita perlukan
dalam hidup kita itu Mother Earth, jadi, kita perlu mengembalikan apa
yang diberikan Ibu yang tidak pernah meminta balik, dengan bakti menjaga bumi
sebaik mungkin”, Ira mengakhiri penjelasannya, membuat Astrid menyimak dan
menyetujui penjelasan Ira, “bener”, timpal Astrid, kali ini ia yang menyetujui
penjelasan Ira
“Sepakat”, jawab Rima dan Dinta hampir
bersamaan, sementara Erin dan Vita juga menjawab “setuju”, hampir berbarengan
“Trus..hubungannya dengan Astrid mutusin
berhijab, apa nih?”, tanya Dinta, sambil tersenyum dan memandang Astrid di
bagian tengah mobil dari spion tengah sambil senyum-senyum
“Dinta..”, jawab Astrid sambil
mulai memejamkan matanya lagi, “Setiap kali aku tenggelam dalam keindahan ciptaan
Allah, aku seperti tidak mau pergi dari tempat itu selamanya, ingin terus
berada dalam keindahan itu..”, ia diam sejenak, terbayang lagi semua keindahan
alam yang selama ini ia nikmati dalam setiap petualangannya, “bibirmu akan
berdzikir dengan mudahnya, kamu akan terus berdzikir, mengingat Al-Mushawwir,
Yang Melukiskan, Menciptakan, alam semesta yang menakjubkan ini, Allah
Subhanawata’alaa”
Astrid pelan-pelan membuka matanya,
ia memandang Ira yang duduk disebelahnya, Erin dan Vita, yang duduk di bagian
belakang mobil, lalu ia melihat Rima dan Dinta melalui spion, “dalam perjalanan
turun, sambil jalan aku berdzikir dan berdialektika dengan diriku sendiri,
Allah itu Maha Indah..,jadi perbuatanNya pasti selalu indah”, ia diam sejenak, “artinya
Allah tidak akan pernah mendzalimi hamba-Nya”, Astrid diam lagi, lalu sedikit
menunduk, tapi kemudian ia menegakkan kepalanya, memandang Dinta dan Rima dari
kaca spion, lalu melihat Ira, sahabat setianya yang sama-sama mencintai alam
seperti dirinya
“Aku jadi sadar, Allah sudah begitu
baik kepadaku. Aku sadar, tidak semua orang bisa mendaki gunung, apalagi sampai
banyak gunung, termasuk Kerinci, seperti aku dan Ira”, katanya sambil menatap
Ira sambil tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca, membuat Ira jadi ikut
terharu dengan pengakuan jujur Astrid yang memang polos dan jujur dibalik sikap
tomboy dan cuek-nya yang selalu ia perlihatkan di depan banyak orang
“Pengalaman menikmati dan tenggelam
dalam keindahan dan kemegahan alam ciptaan Allah itu, tidak semua orang
mengalaminya, apalagi kalau ketika dalam saat itu mulut kita jadi terus
berdzikir mengagumi Ke-Maha Kuasaan- Allah”, jawab Astrid, suaranya jadi
sedikit bergetar, “itu karunia Allah yang precious, apalagi dengan
keberserahan total diri kita selama dalam perjalanan”, lanjut Astrid sambil
tersenyum memandang Ira, sahabatnya yang, dari ekspresi yang Ira perlihatkan ke
Astrid, seperti paham betul dengan apa yang diceritakan Astrid, “dan itu
membuatku jadi bersyukur..dan..tersadar..”, Astrid menunduk lagi, dan kemudian ia
menegakkan kepalanya lagi, seperti tadi,
“Aku cinta kepada Tuhanku, Allah
Subhanawata’alaa..”, Astrid melanjutkan dengan yakin, “dan seperti kata Pak
Ustadz, Allah itu mencintai hamba-hambaNya..”, Astrid masih melanjutkan
kata-katanya, sementara semua sahabatnya diam menyimak, “dan kalau kita takut
kita GR aja kalau Allah itu cinta kepada kita, GR aja dulu, begitu kan kata Pak
Ustadz”, Astrid mengingatkan Dinta dan Rima tentang salah satu isi kajian dari
kajian-kajian di Rohis yang mereka hadiri setiap Jum’at dan dan Minggu
“Iya bener”, jawab Rima dan Dinta
“Nah”, lanjut Astrid, “saat itu
lah, aku sadar, aku harus membuktikan cinta kepada Allah sebisaku”, lanjut
Astrid lagi, kali ini nada suaranya tiba-tiba bersemangat, “aku harus berhijab,
itu yang aku putuskan. Maka kucari pasmina yang kubawa, dengan doa diatas
gunung, sebelum turun, dan tekad akan coba menjadi hambaNya yang baik, yang
taat, kucoba saja mulai berhijab dengan yang ada, ya pasmina-ku sekarang ini”,
tuntas Astrid sambil tertawa, tidak sadar suasana hening, karena semua
sahabatnya menyimak sambil bengong
dengan cerita Astrid
“Masya Allah..”, Rima berkata
dengan suara pelan, Dinta pun mengatakan ‘Masya Allah’ seperti Rima sambil
berbisik dan melirik Astrid melalui spion, sementara Erin dan Vita memandang
Astrid dengan dagu diletakkan di tangan yang disandarkan di atas jok, “Keren
banget, Astrid”, kata Erin, dan disetujui Vita, “Cool”
Suasana hening sedetik, sebelum
akhirnya Rima membalik badannya, dan melongok ke bagian belakang mobil untuk
memeluk Astrid sambil memekik pelan,”KEREN BANGET, ASTRID..!! So, cool..!!
Congrats yaa”, kata Rima, dengan cueknya membalikkan badannya ke bagian
belakang mobil dan memeluk Astrid
“Congrats Astrid…!”, Erin dan Vita mengikuti
Rima, dengan cueknya menjulurkan badan mereka dari bagian belakang mobil, ke
bagian tengah mobil untuk memeluk Astrid, Ira yang sama-sama duduk di bagian
tengan mobil, disebelah Astrid, juga memeluk Astrid, Astrid balas memeluk erat
Ira, sahabatnya sejak SMA dan satu klub Pecinta Alam, “Ira cepet nyusul
berhijab, ditunggu yaa..”, bisik Astrid sewaktu Ira memeluknya, membuat Ira
jadi tersenyum dan terharu, “Siapp komandan, nggak lama lagi, kok”, katanya
mengedipkan mata ke Astrid sambil mengedipkan mata, sewaktu mereka melepaskan
pelukan
Dinta yang tidak bisa memeluk
Astrid memberikan tangan untuk high five, ia melihat ke belakang, kepada
Astrid dibagian tengah mobil, “Lo emang keren, Trid”, katanya sambil tersenyum
tulus dan high five dengan Astrid
Astrid lalu membuka tas-nya yang ia
siapkan dari tadi. Ia membagi-bagikan bunga edelweiss dan oleh-oleh lain
dari Jambi kepada sahabat-sahabatnya. Dinta yang senang dengan oleh-oleh itu,
segera memajang edelweiss itu di dashboard dia atas tape mobil. Sahabat-sahabat
Astrid mengucapkan terimakasih kepada Astrid.
Rima kemudian memandang Dinta,
sebenarnya ia belum tahu cerita lengkap sampai Dinta memutuskan untuk hijrah
dan berhijab, maka ia memutuskan untuk meminta Dinta juga bercerita mengenai
dirinya yang mendapatkan hidayah untuk berhijrah dan memakai hijab,
“Kalau kamu Dinta…, punya cerita
nggak, kenapa mutusin untuk hijrah dan berhijab?”, tanya Rima pada Dinta yang
jadi sedikit terkejut, tiba-tiba ditanya Rima pertanyaan serupa dengan Astrid.
Sahabat-sahabat mereka yang lain jadi tertarik dan mengarahkan perhatian mereka kepada Dinta
“Uhm..mm..biasa aja sih..nggak
sekeren Astrid deh kayaknya”, jawab Dinta, dengan ekspresi biasa-biasa saja
“Nah.., ini nih, menarik, nih..”,
timpal Astrid tersenyum lebar, “Iya, cerita dong, Dinta. Awalnya gimana..masa
aku aja yang cerita..”, Astrid juga jadi tertarik untuk tahu cerita yang membuat
Dinta memutuskan untuk berhijab
“Biasa aja, kok, cuma karena umroh
aja..”, jawab Dinta datar, sambil tetap menyetir dan memperhatikan jalan
“Tapi kok…”, Astrid segera memotong,
dengan suara lebih pelan,”hijrahnya bisa jauh berkebalikan atau berlawanan
dengan gaya hidup kamu dulu..”, ia hati-hati, takut sahabatnya tersinggung
diingatkan dengan masa lalunya, mengingat pertengkarannya dengan Zelda sewaktu
di masjid tempat Dinta dulu ikut kegiatan taklim
“Iya, cerita doong..”, Rima ikut
menimpali, memandang Dinta dengan penasaran
Dinta seperti bisa membaca pikiran
Astrid, “kenapa, takut aku tersinggung, diingatkan masa lalu aku yaa??”, tanya
Dinta pada Astrid, “Trid, aku nggak merasa malu dengan masa lalu aku, kalau
memang adanya begitu, ya apa adanya aja. Aku cuma marah ke Zelda, karena dia
meledek dan menghina aku, nggak tau tempat dan waktu, lagi”, sambung Dinta
lagi, ia lalu memandang Astrid dari spion tengah mobil dan menengok ke samping
jok tempat Rima duduk di sebelahnya,
“Well..”, kata Dinta lagi, “daripada kalian penasaran, aku ceritain aja deh,
ya. Tapi ini ceritanya biasa aja, nggak seheboh Astrid”, sambung Dinta sambil
tertawa pelan memandang Astrid dari spion. Ira, Erin dan Vita sekarang malah
melongokkan sedikit kepala mereka ke arah depan mobil untuk mendengarkan cerita
Dinta, mereka semua juga sama tertariknya untuk mendengarkan pengalaman yang
membawa Dinta sehingga memutuskan untuk berhijrah dan memakai hijab.
Mobil Dinta memasuki jalan tol.
Malam itu, jalan tol cukup sepi, hingga mobil Dinta bisa meluncur mulus di
jalan tol luas itu. Rima mengganti musik, disesuaikan dengan suasana umroh,
lagu-lagu Islami dan nasyid berbahasa Arab dan Inggris dari penyanyi seperti
Maher Zain, Raef, Yusuf Islam, sangat cocok dengan Dinta yang fasih berbahasa
Inggris. Dinta memandang Rima dan tertawa sewaktu Rima mengubah musik untuk
mendukung suasana saat Dinta bercerita nanti. Dinta menyetir mobil dengan
sedikit ngebut tapi hati-hati, diliriknya sahabat-sahabatnya dari spion, semua
sudah siap mendengar ceritanya. Ia pun jadi terbawa kembali pada waktu beberapa
tahun silam, di waktu dimana dia mulai tersadar dan kemudian memutuskan untuk
berhijab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar