Senin, 02 Februari 2026

BAB VII- Astrid Berhijab! (Bagian 1)

Tidak terasa sudah akhir semester. Tapi Rima masih belum bisa pulang kampung, sebab perkuliahan masih belum libur, walaupun Ujian Akhir Semester sudah selesai, tapi masih ada waktu seminggu untuk yang remedial ataupun yang ujian susulan, bagi mahasiswa yang izin, atau sakit. Karena Rima mengikuti semua ujian akhir tanpa izin ataupun dia pernah sakit, maka jadwal ujiannya juga sudah selesai. Begitu juga Dinta dan Astrid. Jadi mereka bertiga sebenarnya sudah libur, hanya ke kampus untuk melihat nilai ujian, dan menyelesaikan pembayaran semester depan. Selain itu, mereka libur.

Rima sebenarnya ingin cepat-cepat izin kantor dan pulang ke rumahnya. Walaupun hanya dua atau tiga hari mendapat izin dari Pak Dahlan, itu sudah cukup baginya. Yag penting baginya, ia bisa pulang dan bertemu keluarga. Sayangnya, perkuliahan belum libur, jadi Rima masih harus ke kampus untuk melihat nilai-nilai ujiannya, kalau-kalau ada yang harus remedial. Ia juga harus mempersiapkan mengisi form rencana studi semester depan, pembayaran semester depan dan berbagai urusan administrasi lainnya. Rima bersyukur, kedua orangtuanya sangat mengerti kondisi Rima, bahkan segera mengirim uang semester, sewaktu Rima mengirimkan jadwal pembayaran dan rencana studi semester depan. Orangtuanya juga mengerti, Rima mungkin tidak bisa pulang, dan kalaupun pulang, mungkin hanya dua atau tiga hari, karena bagaimanapun, ia juga punya pekerjaan di kantor yang tidak bisa ditinggal libur seenaknya.

Jadilah Rima mengisi seminggu setelah Ujian Akhir dengan lebih banyak mengisi waktunya bekerja di kantor. Ia bekerja dengan lebih giat dan rajin, untuk menggantikan semua waktunya di kantor yang terpakai untuk kuliah pada bulan-bulan sebelumnya. Rupanya Pak Dahlan memperhatikan giat dan rajinnya Rima, jadi ketika ia bertemu Rima, Pak Dahlan menyapa Rima dan mengatakan, kalau libur akhir semester Rima mau pulang kampung, maka Pak Dahlan memberikan izin untuk dua hari selain akhir minggu. Jadi Rima sebaiknya pulang sewaktu akhir minggu, jadi bisa ditambah dua hari izin dari Pak Dahlan. Rima mengucapkan terimakasih, tapi ia menjelaskan sejujurnya, bahwa ia mungkin belum bisa pulang, karena perkuliahan juga belum libur, dan ia ingin mengisi waktu liburnya dengan bekerja di kantor, mengganti waktu-waktu yang terpakai untuk kuliah pada bulan-bulan kemarin. Pak Dahlan tersenyum senang sewaktu Rima menjelaskan keinginannya mengisi libur dengan tetap bekerja di kantor saja. Pak Dahlan kemudian mengatakan, itu terserah Rima, tapi kalau mau pulang kampung, tinggal beritahu ke Bu Lenny, untuk administrasi izin, karena Pak Dahlan sudah mengizinkan. Rima juga mengucapkan terimakasih pada Pak Dahlan dengan pengertian dan izin yang diberikan kepadanya.

Walaupun Rima tidak bisa pulang kampung, tapi Rima tidak sedih. Sebab Erin, sahabatnya di SMK dulu, datang mengunjungi Rima di paviliunnya, sehari sebelum akhir minggu. Erin tahu dari info yang diberikan Rima di chat mereka, setiap akhir minggu, kantor Rima libur, dan dengan jadwal libur di kampus, sementara Rima tidak bisa pulang, maka Rima tidak akan ada kegiatan. Maka Erin berinisiatif untuk mengunjunginya di Depok. Erin datang dengan menggunakan hijab, membuat Rima merasa surprise, dan Erin langsung menjelaskan kenapa ia sudah menggunakan hijab lagi.

Rupanya setelah tamasya mereka ke Taman Safari, Erin cukup merenungkan pertemuan dan obrolannya dengan Rima. Ia kemudian memberanikan diri untuk coba-coba buka katering, yang ia promosikan kepada teman-teman SMK mereka dulu. Ternyata banyak dari teman-teman mereka, yang juga sudah bekerja seperti Erin dan Rima, lebih memilih makan siang dengan katering ketika istirahat kantor, karena lebih menghemat, daripada mencari makan di warung-warung. Erin jadi kebanjiran job, yang membuatnya lebih percaya diri untuk resign dari restoran tempatnya bekerja. Dan karena selama bekerja di restoran ia juga belajar beberapa menu dari restoran tempatnya bekerja, maka ia juga menyediakan menu serupa pada menu kateringnya, yang membuat kateringnya semakin digemari oleh teman-teman SMKnya, bahkan teman-teman SMK mereka juga mempromosikan ke teman-teman kantor mereka, membuat Erin dapat langganan beberapa kantor teman-teman SMK untuk katering siang hari. Erin merasa bersyukur bahwa Allah masih membukakan pintu rezekinya. Ia kemudian segera berhijab lagi, dan berjanji pada dirinya, tidak akan pernah melepas hijabnya sampai kapanpun, walau keadaan bagaimanapun dalam hidupnya.

Rima senang mendengar cerita Erin, bahwa ia dibukakan pintu rizki yang lebih luas, dan itu menjadi jalannya untuk bisa kembali berhijab. Rima juga menyanggupi permintaan Erin untuk mengingatkan Erin kalau Erin mau melepas hijab lagi. Sekalian Rima bilang pada Erin, karena ia mengingat perkataan Erin bahwa ia lebih beruntung daripada Erin, Rima bilang, bukan Rima lebih beruntung, tapi Rima dan Erin sama-sama punya jalan rizki masing-masing, hanya dengan cara yang beda-beda, rizki itu tidak akan tertukar. Kita hanya perlu ikhtiar,berdoa dan tawakal pada Allah Subhanawata’alaa.

Erin berencana menghabiskan waktu di paviliun Rima dan jalan-jalan ke tempat-tempat wisata ataupun mall-mall di Depok, tapi Rima diajak Dinta untuk menginap di rumahnya, sekalian katanya dulu di awal semester, Rima mau belajar renang ke Dinta. Rima sudah terlanjur menyanggupi ajakan Dinta, jadi Rima mengajak Erin untuk ikut ke menginap di rumah Dinta. Rima juga bilang pada Dinta, mungkin ia akan menginap dengan Erin, sahabatnya di SMK. Ternyata Dinta oke saja, ia juga mengajak Vita, sahabatnya di majlis taklim yang Rima sudah kenal, untuk menginap di rumah Dinta. Astrid tidak bisa ikut menginap, sebab ia sedang hiking dan camping ke Gunung Kerinci bersama dengan sahabat sesama Pecinta Alam sewaktu SMA, Ira, yang juga mahasiswa MIPA, yang Rima juga sudah kenal. Sepertinya cuma Erin yang belum dikenal oleh Dinta dan Astrid,maka Rima berencana untuk mengenalkan Erin pada Dinta dan juga Astrid, jadi mereka semua, Rima, Dinta, Astrid, Erin, Vita dan Ira, saling mengenal satu sama lain.

********************************************************************

Jadilah hari Sabtu akhir minggu itu, Rima dan Dinta kumpul di rumah Dinta, minus Astrid, tapi dengan Erin dan Vita. Sabtu pagi, Rima belajar renang dengan Dinta sebagai instruktur. Dinta ternyata jago berenang. Maka Vita dan Erin juga belajar renang pada Dinta. Hari itu, berkat Dinta, dengan kecerdasan dan terampilnya sebagai instruktur, akhirnya Rima, Erin dan Vita sudah cukup menguasai gaya dada, gaya yang paling mudah dalam renang. Kata Dinta, kalau Rima konsisten, setiap libur Rima bisa menginap di rumah Dinta, untuk diajari semua gaya renang. Rima dengan senang hati menerima tawaran Dinta, dan rupanya Vita juga mau jadi murid Dinta belajar renang, jadi Dinta juga menerima Vita, yang akan menginap setiap akhir pekan, kalau ia dan Dinta sama-sama tidak sibuk kuliah, untuk belajar renang.

Mereka juga bercanda, main, dan ngobrol sambil renang. Rumah Dinta yang mewah juga punya sudut untuk pesta lengkap dengan alat barbeque di sudut taman, maka, mereka juga membakar ayam, dan makan kue-kue buatan Erin, yang jadi jago masak dan bikin kue, karena pernah bekerja di restoran. Astrid yang dihubungi Rima melalui video call, mengatakan ia rasanya jadi ingin bergabung dengan mereka juga. Tapi ia masih di pedesaan dekat dengan kaki gunung. Ia, Ira dan tim Pecinta Alam baru saja turun gunung, dan akan melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Dinta yang ikut nimbrung di video call antara Rima dan Astrid, menawari Astrid untuk dijemput, dan tentu saja Astrid mau! Maka, hari Minggu sore keesokan harinya, jadwal Dinta dan Rima adalah menjemput Astrid di Sekretariat klub Pecinta Alam-nya Astrid. Astri memberikan alamat dan share loc di chatgroup mereka bertiga, supaya Dinta besok nggak nyasar.

Akhir minggu itu kebetulan Dinta sedang sendiri di rumahnya, maka ia bisa mengajak Rima, Vita dan Erin untuk menginap di rumahnya. Dinta adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya laki-laki dan sudah menikah dan memiliki dua anak yang masih kecil-kecil. Kakak yang kedua adalah Kak Cinta, yang membela Dinta sewaktu SMA dia diganggu oleh geng Morfin Bro. Kak Cinta di Amerika dan melanjutkan studi master-nya di Universitas di Amerika. Kakak laki-laki Dinta, yaitu Kak Sapta, sebenarnya tinggal di Jakarta bersama dengan Dinta, di rumah orangtua mereka. Kak Sapta bekerja dan mengurus bisnis dan perusahaan Ayah Dinta di Indonesia. Tapi, karena bisnis Ayah Dinta ada di Indonesia dan Amerika, maka Kak Sapta juga sering tinggal di Amerika sampai sebulan lamanya. Kalau ke Amerika, Kak Sapta sering membawa anak-anak dan istrinya, jadi Dinta sendirian di rumah. Rumah Dinta memang rumah orangtua Dinta. Kak Sapta tidak membeli dan mempunyai rumah sendiri. Orangtua Dinta meminta Kak Sapta sekeluarga dan Dinta untuk tetap tinggal di rumah mereka saja. Kak Sapta tidak perlu membeli rumah sendiri, sebab Ayah dan Ibu Dinta tinggal di Amerika sudah sejak Kak Sapta mulai bekerja dan meneruskan memimpin perusahaan Ayah Dinta di Indonesia, sementara Ayah dan Ibu Dinta, tinggal di apartemen di Amerika, bersama dengan Kak Cinta. Terkadang Ayah dan Ibu Dinta pulang ke Indonesia, dan rumah Dinta jadi penuh dengan keluarganya. Orangtuanya, kak Sapta, istri Kak Sapta dan ponakan-ponakan Dinta, yakni anak-anak kak Sapta, dan kadang juga Kak Cinta, kalau Kak Cinta libur panjang kuliah. Dinta juga tidak selalu sendiri, sebab Kak Sapta tidak selalu di Amerika, lebih sering di Indonesia. Apalagi anak-anak dan istrinya tidak bisa selalu dibawa ke Amerika.

Karena sebulan ini Kak Sapta sekeluarga tidak ada, hari Sabtu itu Dinta bebas bikin pesta di rumahnya. Maka hari itu mereka belajar masak dan bikin kue dari Erin, mereka juga karaoke, karena Dinta punya home theater lengkap dengan perlengkapan karaoke dan juga speaker yang bikin mereka serasa nonton film di bioskop. Yang mengejutkan, Dinta ternyata punya koleksi film-film Islami yang cukup lengkap! Dari film Nabi-Nabi, film-film perjuangan Islam seperti Al-Fatih dari Turki ataupun Salahuddin Al-Ayyubi, bahkan Thariq bin Ziyyad dan Omar Mokhtar dari Libya. Dinta juga punya film perjuangan Islam Indonesia seperti “Sang Pencerah” sampai film drama-drama Islami yang mengharukan dari mancanegara sampai film komedi Islami Indonesia yang edukatif. Dinta cerita, ia juga dibantu oleh teman-teman yang ia kenal karena Ayahnya punya cukup banyak relasi bisnis orang Timur Tengah di Amerika, mereka kenal, karena, sejak berbisnis dengan orang-orang Timur Tengah itu, orangtua Dinta jadi ikut dalam komunitas Islam di Amerika. Dinta dan kakak-kakaknya juga jadi kenal dengan komunitas Islam Amerika. Tapi yang paling getol dengan komunitas Islam Amerika itu, kalau ke Amerika, adalah Dinta. Rima diam-diam memandang Dinta dengan kagum. Ternyata ghirah Dinta untuk belajar Islam sedemikian besar, sampai-sampai ia mengumpulkan semua film-film Islami, bahkan film-film perjuangan dan dokumenter, untuk belajar mengenai Islam. Padahal ia bukan dari keluarga dengan latar belakang yang terlalu Islami. Orangtua Dinta menjadi lebih relijius, terutama karena pengaruh relasi-relasi bisnis Ayah Dinta dari Tmur Tengah. Dan Dinta juga punya banyak teman bule Amerika yang non-muslim. Kalau ia tidak hijrah, kehidupannya akan sama senang dan mudahnya. Tapi Dinta lebih memilih hijrah dan mempelajari dan menjalani kehidupan sebagai muslimah semampu dan sekuatnya Dinta, walaupun keluarga dan kakak-kakaknya tidak serelijius dirinya. Rima diam-diam sungguh sangat salut dengan Dinta.

****************************************************************

Minggu sore itu, mobil Dinta, dengan Dinta, Rima, Erin dan Vita di dalamnya, sudah nongkrong di parkiran Sekretariat klub Pecinta Alam Astrid. Astrid masih dalam perjalanan, jadi Dinta dan Rima masih harus menunggu sampai Astrid sampai di Sekretariat dan mereka bertemu Astrid. Rima, Dinta, Erin dan Vita menunggu Astrid di dalam mobil. Kebetulan mereka membawa perbekalan makanan, dan mereka juga sambil nonton film di TV kecil di mobil Dinta, dan juga sambil ngobrol. Rima juga memperhatikan suasana Sekretariat Klub Pecinta Alam itu.

Sekretariat itu dari luar tampak seperti gedung aula yang cukup besar, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir mobil. Di pinggir halaman luas itu, tumbuh pohon beringin yang cukup besar dan tempat duduk yang cukup banyak menempel tembok luar gedung, dimana banyak orang, tampaknya anggota Klub, duduk-duduk dan berkumpul, sambil membongkar atau mencoba-coba perlengkapan mendaki mereka. Di ujung lain halaman, tampak seperti dinding tinggi, untuk anggota Klub belajar panjat tebing. Sekelompok orang juga berkumpul disitu, sedang berlatih panjat dinding. Di pintu Klub, yang seperti pintu masuk gudang yang cukup besar, cukup banyak orang yang keluar masuk, tampaknya dengan berbagai keperluan, beberapa keluar masuk dengan membawa perlengkapan mendaki.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil colt datang, satu-satu orang keluar dari mobil itu. Seorang cewek keluar dari mobil itu, dan segera melihat mobil Dinta. Cepat ia lari menghampiri mobil Dinta,

Guys!”, serunya, dengan senyum lebar dan wajah cerianya seperti biasa, ia menghampiri jendela depan, dan melongokkan wajahnya ke dalam, “Eh, ada Vita juga!”

Rima dan Dinta memandang cewek itu dengan sedikit terkejut dan heran, mereka agak bingung awalnya, tapi kemudian mereka menyadari itu adalah..

“Astrid?!!”, seru Rima, tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut dan herannya

“Bentar ya, aku beresin barang  en pamit dulu sama yang lain”, Astrid nggak ngeh dengan keterkejutan dan keheranan Rima dan Dinta

“Astrid abis naik gunung atau kajian di Rohis, sih?!”, Dinta menimpali, ia juga sama herannya dengan Rima, sebab Astrid memakai hijab

“Kenapa sih..?? Ini baru nyampe banget, tadi bisa liat sendiri kan mobilnya pas masuk”, jawab Astrid, masih dengan senyum lebarnya, “Alhamdulillah, nyampe juga di Sekre”

“Itu lho.., kok kamu berhijab sihh..?”, Rima mengerti dengan keheranan Dinta yang seperti dirinya, melihat Astrid membungkus kepalanya dengan pasmina, menjadi hijab yang cukup rapi, apalagi untuk orang yang baru mendaki gunung

“Ooo—ooh…”, Astrid jadi maklum, dia sendiri lupa kalau dia menggunakan hijab, tidak menggunakan topi seperti biasa penampilannya kalau mendaki gunung. Tidak seperti penampilannya kalau jalan-jalan atau di kampus, kecuali kegiatan rohis. Tidak seperti penampilannya sewaktu akan ke Kerinci.

“Yaa…, emang mau coba jadi hijaber, istiqomah”, kata Astrid lagi, menjawab kebingungan kedua sahabatnya

“Dari sebelum ke Kerinci?”, tanya Dinta lagi, sebab memang mereka tidak mengantar Astrid ke Sekre Klub-nya, sewaktu ia akan berangkat ke Gunung Kerinci

“Nggak. Ya pas turun gunung dua hari lalu”, jawab Astrid singkat

“Serius??”, sahut Rima, masih heran, tapi ia jadi senyum-senyum, begitu juga Dinta, Astrid juga tambah tertawa terkikik, “Gini deh, anggep aja aku dapat hidayah di Kerinci” jawabnya lagi, “Sebentar ya, temen-temen, unpacking dulu. Eh, boleh ajak Ira, nggak, Dinta?”

“Oh iya..iya, boleh dong”, jawab Dinta cepat, “Asal barang kamu nggak banyak, cukup kok”

“Oke, wait ya, ntar kalo mau interview soal hijab pas udah jalan pulang”, kata Astrid berbisik genit pada dua sahabatnya, sambil mengedipkan mata, ia lalu pergi menjauh, untuk masuk ke dalam Sekre, menyelesaikan urusannya dengan teman-teman Klub-nya

Rima, Dinta, Erin dan Vita menunggu beberapa menit, sebelum akhirnya mereka melihat Astrid melambaikan tangannya di pintu masuk Sekre Klub, Rima segera menelfon Astrid, daripada ia dan Astrid saling berteriak,

“Kenapa, Trid?”

“Masuk sini,yuk. Masih agak lama”

“Ogah, ah. Nunggu di mobil aja”

“Yee..ayoo, ikut masuk, nggak pa-pa. Ini lagi ada semacam farewell party dan congrats buat yang baru pulang dari pendakian, ntar lama kalo nunggu di mobil”

“Nggak apa-apa tunggu aja”

Astrid menutup telfonnya, tampak ia memanggil seseorang, dan keluarlah Ira. Astrid dan Ira kemudian mendekati mobil Dinta, meminta teman-teman mereka di mobil itu untuk turun dan ikut merayakan kesuksesan mereka bersama dengan Klub Pecinta Alam

“Yuk ah, masak sih kalian nggak mau ikut merayakan kesuksesan aku bisa ke second summit Indonesia”, kata Astrid, sambil agak memanyunkan bibirnya, pura-pura ngambek

Mendengar bahwa mereka diminta turun untuk merayakan kesuksesan Astrid, Rima segera membuka pintu dan keluar dari mobil, “Ya mau, lah. Yuk”

Erin dan Vita mengikuti Rima keluar mobil, Dinta paling akhir karena ia harus mengunci dan memastikan keamanan mobil. Ia kemudian segera menyusul teman-temannya masuk ke dalam Sekretariat.

Sekretariat itu ternyata cukup luas di bagian dalamnya, betul-betul seperti aula. Dan banyak juga anak-anak muda seusia kurang lebih Rima, Dinta dan Astrid, laki-laki dan perempuan.

“Disini cuma Klub Pecinta Alam aja,Trid? Luas amat ya, Sekre-nya”, tanya Dinta, sedikit takjub, ia menyapu pandangan ke sekeliling aula itu

“Ya nggak, lah. Ini semacam GOR gitu. Ada klub Pecinta Alam, Badminton, Basket dan Travelling. Tuh, liat nggak, pintu-pintu kecil yang ditempeli papan, itu Sekre masing-masing Klub, tapi latihan ya diluar sekre, di dalam aula ini”, jelas Astrid, tuntas

Astrid kemudian mengajak sahabat-sahabatnya menuju ke arah Sekretariat Pecinta Alam, tampak seorang mbak-mbak menggunakan hijab, tapi dengan kostum mendaki dan sedang merokok. Mbak-mbak itu menyapa Astrid,

“Waah..Astrid, sekarang berhijab juga?”

“Iya kak. Doain istiqomah, ya”, jawab Astrid sambil tersenyum ramah, ia kemudian mengambil duduk di dekat mbak-mbak itu, dan mempersilakan sahabat-sahabatnya juga mengambil tempat duduk disitu.

“Alhamdulillah, bagus itu Astrid! Walaupun kita masih dengan gaya hidup serampangan begini”, lanjut Kakak itu dengan sambil tersenyum dan merokok, “tapi yang penting kita usahakan untuk memenuhi kewajiban kita sebagai muslimah, semampu kita”

“Astrid tadinya takut berhijab, takut jadi hijab nggak bener Kak”, jawab Astrid, “Padahal Astrid niatnya pakai jilbab untuk memperbaiki diri, dan menjadi pribadi yang baik”, kata Astrid lagi

“Yang penting, pakai aja duu hijabnya, memperbaiki diri menjadi pribadi yang bener sambil jalan. Saya juga nih, masih merokok, tapi saya berhijab aja, dengan semangat untuk menjalankan agama semampu saya, ya sekuat dan sebaik mungkin. Bukan semampu yang santai-santai tapi lalai. Santai tapi serius tapi asik gitu..”, kata Mbak itu, sambil tersenyum lebar dan bercanda

“Ciee..jadi asik ya Kak, pake hijab..atau sok asik, nih jangan-jangan”, Astrid tertawa dengan candaan si Mbak

“Sok asik, kayaknya”, sahut Mbak itu sambil tertawa, “bisa aja, kamu Astrid. Yuk ah, saya ke dalam dulu, temen-temen kamu tawarin cemilan, tuh, di dalam banyak Astrid”, kata Mbak itu, sambil tersenyum pada Rima, Dinta, Erin dan Vita, lalu masuk ke dalam Sekre

“Sebentar lagi acaranya dimulai. Abis maghrib. Liat kan yang seperti mau bikin api unggun di tengah halaman parkir?”, kata Astrid pada sahabat-sahabatnya, sementara Rima dan Dinta memperhatikan Astrid dan semua suasana di dalam aula dan di Sekre Klub Pecinta Alam itu, “Yuk, bantu bawa makanan ke meja dekat api unggun. Ntar kita shalat maghrib jamaah di mushalla, tuh, liat disana”, Astrid menunjuk salah satu sisi aula

Astrid, Dinta, Rima, Ira, Erin dan Vita kemudian menghabiskan sisa sore itu membantu Astrid membawa makanan dan persiapan lain untuk pesta api unggun malam nanti. Menjelang maghrib, mereka segera ke aula untuk shalat berjamaah, dan selesai shalat berjamaah, mereka mendekati api unggun, untuk mempersiapkan dan mengikuti acara. Astrid juga mengenalkan sahabat-sahabatnya pada teman-teman Klubnya yang kebetulan sama-sama naik gunung dan mengikuti persiapan untuk pesta kesuksesan beberapa tim Pendaki yang menaklukkan gunung-gunung di Indonesia.

 

Sewaktu Astrid, Rima, Dinta, Erin, Vita dan Ira bersiap ikut dalam lingkaran orang yang melingkar di sekeliling api unggun, seorang mbak, bukan mbak yang ngobrol tadi sore dengan Astrid, menyapa Astrid dengan keceriaan dan sedikit histeris,

“ASTRIIID..!!”, mbak itu memekik sambil memeluk Astrid erat, Astrid tampak terkejut tapi senang, ia membiarkan dirinya dipeluk mbak-mbak itu

“Mbak Carla..!”, balas Astrid, pada mbak yang juga berhijab itu. Klub Pecinta Alam ini tampaknya memiliki anggota-anggota muslimah yang berhijab juga

“Astrid sekarang berhijab??! Wah, keren euy!”, kata mbak Carla, wajahnya terlihat senang melihat Astrid berhijab

“Insya Allah. Doain istiqomah ya, Kak”, jawab Astrid, tersipu malu. Lagi-lagi ia ditanya soal dirinya yang menggunakan hijab

“Iya, didoain istiqomah. Tapi berhijab itu, walaupun cuma buat ambil air di gunung subuh-subuh, dan sepi, seperti tidak ada yang melihat, hijabnya juga kudu tetap dipakai”, kata Kak Carla,membuat Astrid tersenyum dengan perhatian Kak Carla, “bahkan walaupun cuma keluar rumah sebentar, untuk buang sampah atau ke warung depan rumah, selama di tempat-tempat dengan potensi akan ada atau banyak laki-laki bukan mahram lewat dan melihat kita, hijabnya tetap harus dipakai”, lanjut Kak Carla, “Astrid siap?”

“Siap Kak!”, jawab Astrid segera, “Itu semua sudah Astrid renungkan selama di gunung”, jelas Astrid, “Makanya, turun, langsung Astrid pakai apa yang bisa dipakai. Karena adanya pasmina 2 lembar yang Astrid bawa, makanya Astrid pakai pasmina, deh”, Astrid mengakhiri penjelasannya sambil tersenyum lebar, membuat Rima dan Dinta ikut tersenyum

“Oooh..jadi di gunung dipakai untuk merenung juga..muhasabah, ya”, timpal Dinta sambil terkikik, membuat Rima juga ikut terkikik. Ira teman Astrid jadi tertawa, membuat Erin dan Vita juga ikut tertawa

“Ya iyya laah..nggak cuma muhasabah, macem-macem lah, variatif”, ceplos Astrid, cuek saja dengan ledekan Dinta, malah sambil tertawa karena sahabatnya tertawa semua mendengar pengakuannya

“Tadi janji, ntar di mobil pas pulang, cerita yaa..”, kata Rima

“Iya, janji”, jawab Astrid sambil mengedipkan matanya, wajahnya yang ceria tampak sangat bahagia hari itu

Acara syukuran api unggun hari itu diawali dengan doa dan khidmat, ucapan selamat dari Pembina dan Ketua Klub, dan diakhiri dengan beberapa hiburan lagu akustik, karena hanya ada gitar, dan acapella dan sedikit permainan, lalu makan-makan. Ternyata syukuran malam itu bukan buat tim Astrid saja, tapi juga tim-tim pendaki lain yang juga baru menyelesaikan pendakiannya dari Gunung Semeru, Gunung Jayawijaya atau Cartenz Summit, dan beberapa gunung lainnya di Indonesia. Pembina dan Ketua Klub juga memberi pesan untuk beberapa tim yang sedang persiapan untuk mulai mendaki gunung-gunung di luar negeri, untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin. Rencananya tim itu akan ke Nepal, untuk memulai perjalanan dan pendakian mereka. Sebenarnya ada beberapa tim yang sudah beberapa kali ke gunung-gunung di luar negeri, dan disusul dengan beberap tim pendaki lain yang juga akan mulai untuk mendaki gunung di luar negeri.

Acara syukuran Klub Pecinta Alam Astrid berakhir sukses, dan sahabat-sahabat Astrid, yakni Rima, Dinta, Erin dan Vita, diterima ikut acara syukuran dan makan-makan, seperti anggota klub lainnya. Selesai pesta, setelah membantu membereskan sisa-sisa pesta dengan anggota Klub lainnya, Astrid pamit untuk pulang dengan Dinta, Ira, Rima, Erin dan Vita, sahabat-sahabatnya yang sudah menjemputnya sejak sore.

*****************************************************************

“Jadi, gimana awalnya, sampai memutuskan berhijab?”, tanya Rima pada Astrid, ketika mereka sudah di mobil Dinta, dalam perjalanan pulang. Rencananya mereka akan mengantar Astrid ke rumahnya, setelah itu mengantar Erin ke terminal, karena ia harus pulang ke Bogor, dan kemudian baru mengantar Rima. Vita akan menginap lagi di rumah Dinta, dan besok ia akan berangkat kuliah dari rumah Dinta, lalu setelah kuliah ia pulang, tidak menginap lagi di rumah Dinta. Rupanya kampus Vita belum libur. Sementara Ira, ia akan turun di stasiun dekat rumah Astrid, karena jarak rumah Astrid dan Ira hanya berbeda 2 stasiun KRL.

“Iya, Astrid kan tadi janji mau cerita”, Dinta juga teringat dengan janji Astrid tadi sore

Astrid jadi tersenyum diingatkan oleh dua sahabatnya, matanya yang cerdas berbinar-binar menatap kedua sahabatnya itu, “Well, mungkin buat kalian ceritaku biasa aja. Tapi karena kalian minta aku cerita, oke, aku kasitau alasan dan background cerita yang biasa-biasa ituhh..”, Astrid juga memandang Ira, Erin dan Vita yang sama penasarannya dengan Rima dan Dinta. Ira, sahabat Astrid sejak SMA jadi tersenyum geli melihat ekspresi wajah Astrid, yang antara setengah terpaksa untuk cerita dan semangat untuk berbagi cerita dengan sahabat-sahabatnya, “Tapii..boleh nggak, aku ceritanya sambil merem?”, tanya Astrid lagi tanpa ragu dan cuek

“Boleh, Trid. Sambil kedip-kedip juga boleh”, sahut Dinta sambil terkikik, membuat Astrid tertawa

“Perlu diputerin musik yang sesuai dengan cerita, nggak nih?”, timpal Rima senyum-senyum melihat Astrid

“Boleh-boleh.., yang sesuai dengan suasana nature atau alam, yaa”, jawab Astrid, malah semakin menaggapi sikap lebay Rima dan Dinta

“Ya udah, atuh, oke, cepet cerita”, Ira yang malah jadi nggak sabar, tapi dia masih senyum-senyum melihat semangat Astrid dan bagaimana ia saling meledek dengan sahabat-sahabatnya dari FE, Rima dan Dinta

Well..”, Astrid mulai memejamkan matanya, sementara Rima mengganti musik di tape mobil Dinta dengan yang lebih slow sambil senyum-senyum, sama seperti Astrid

“Temen-temen..”, Astrid memulai, “Kerinci itu indah banget. Terutama sewaktu sudah di puncak gunung, walaupun itu gunung berapi”, Astrid terdiam sejenak, membayangkan kembali pengalamannya sewaktu di puncak Kerinci. Ira memandang Astrid lalu kepada Rima dan Dinta. Ira mengangguk setuju kepada Rima dan Dinta, sewaktu Astrid mengatakan Kerinci itu indah.

“Sebenarnya semua pemandangan dari atas gunung itu menakjubkan, dan aku tidak pernah lupa dengan semuanya itu”, lanjut Astrid, “tapi setiap abis naik gunung, walaupun sudah beberapa gunung kudaki, tetap saja, seperti pengalaman baru, seperti pertamakali naik gunung, semua begitu menakjubkan”

“Sebenarnya..”, Astrid masih melanjutkan, sambil masih memejamkan matanya, “setiap kali aku mendaki gunung, terutama ketika menikmati pemandangan alam, selalu kugunakan untuk bersyukur, memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah, menikmati keagungan-Nya melalui ciptaan-Nya, tenggelam dalam keindahan alam ciptaan-Nya”, Astrid mengatakan itu semua dengan sambil membayangkan semua kemegahan alam yang pernah dikaguminya dalam perjalanan-perjalanannya ke setiap gunung yang pernah didakinya

“Tapi kan perjalanan ke puncak itu nggak mudah, Trid”, celetuk Ira

“Hah? Apa..??”, Astrid membuka matanya dengan setengah kaget dan setengah linglung dengan pertanyaan Ira yang tiba-tiba nyeletuk, membuat Ira jadi tertawa

“Oo..oooh..”, Astrid jadi mengerti maksud Ira, cepat ia jawab dan sambung ceritanya, kali ini ia tidak sambil memejamkan mata, “memang perjalanan itu tidak mudah. Ada saat-saat dimana kita kadang merasa putus asa dan lelah, untuk sampai ke puncak gunung”, cerita Astrid lagi, yang ditimpali dengan Ira, menyetujui, “Bener”, sambil memandang Dinta yang sedang menyetir dari kaca spion tengah

“Kalau orang bijak bilang, naiklah gunung, arungi lautan, pergilah travelling, kamu akan tau siapa dirimu, itu bener”, Astrid memandang Rima dan Dinta, “di tengah alam yang luas, kamu akan merasa dirimu kecil, dan bukan apa-apa”, Astrid menarik napas dalam, “temen-temen, selamanya manusia tidak akan pernah menang dengan alam, jika alam marah”, lanjut Astrid lagi, “satu-satunya cara manusia menaklukkan alam adalah dengan berbuat baik pada alam”, kata Astrid lagi, memandang Rima dan Dinta yang duduk di bagian depan mobil, dari spion tengah mobil

“Tidak dengan teknologi?”, celetuk Erin, yang sama seperti Vita, Rima dan Dinta, juga tertarik dan menyimak cerita Astrid

“Tidak juga dengan teknologi”, jawab Astrid lugas, lalu lanjutnya,”kalau teknologi itu merusak alam”, jawabnya lagi tuntas, sementara Ira mengangguk setuju, sambil memandang Erin dan Vita, “bener banget”, timpalnya, lagi-lagi ia setuju dengan Astrid

“Jadi, berbuat baik dan ramahlah, pada alam”, Ira menambahi penjelasan Astrid, “Ingat, kalau dalam bahasa Inggris, menyebut bumi sebagai tempat hidup yang memberi kita segala yang kita perlukan dalam hidup kita itu Mother Earth, jadi, kita perlu mengembalikan apa yang diberikan Ibu yang tidak pernah meminta balik, dengan bakti menjaga bumi sebaik mungkin”, Ira mengakhiri penjelasannya, membuat Astrid menyimak dan menyetujui penjelasan Ira, “bener”, timpal Astrid, kali ini ia yang menyetujui penjelasan Ira

“Sepakat”, jawab Rima dan Dinta hampir bersamaan, sementara Erin dan Vita juga menjawab “setuju”, hampir berbarengan

“Trus..hubungannya dengan Astrid mutusin berhijab, apa nih?”, tanya Dinta, sambil tersenyum dan memandang Astrid di bagian tengah mobil dari spion tengah sambil senyum-senyum

“Dinta..”, jawab Astrid sambil mulai memejamkan matanya lagi, “Setiap kali aku tenggelam dalam keindahan ciptaan Allah, aku seperti tidak mau pergi dari tempat itu selamanya, ingin terus berada dalam keindahan itu..”, ia diam sejenak, terbayang lagi semua keindahan alam yang selama ini ia nikmati dalam setiap petualangannya, “bibirmu akan berdzikir dengan mudahnya, kamu akan terus berdzikir, mengingat Al-Mushawwir, Yang Melukiskan, Menciptakan, alam semesta yang menakjubkan ini, Allah Subhanawata’alaa”

Astrid pelan-pelan membuka matanya, ia memandang Ira yang duduk disebelahnya, Erin dan Vita, yang duduk di bagian belakang mobil, lalu ia melihat Rima dan Dinta melalui spion, “dalam perjalanan turun, sambil jalan aku berdzikir dan berdialektika dengan diriku sendiri, Allah itu Maha Indah..,jadi perbuatanNya pasti selalu indah”, ia diam sejenak, “artinya Allah tidak akan pernah mendzalimi hamba-Nya”, Astrid diam lagi, lalu sedikit menunduk, tapi kemudian ia menegakkan kepalanya, memandang Dinta dan Rima dari kaca spion, lalu melihat Ira, sahabat setianya yang sama-sama mencintai alam seperti dirinya

“Aku jadi sadar, Allah sudah begitu baik kepadaku. Aku sadar, tidak semua orang bisa mendaki gunung, apalagi sampai banyak gunung, termasuk Kerinci, seperti aku dan Ira”, katanya sambil menatap Ira sambil tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca, membuat Ira jadi ikut terharu dengan pengakuan jujur Astrid yang memang polos dan jujur dibalik sikap tomboy dan cuek-nya yang selalu ia perlihatkan di depan banyak orang

“Pengalaman menikmati dan tenggelam dalam keindahan dan kemegahan alam ciptaan Allah itu, tidak semua orang mengalaminya, apalagi kalau ketika dalam saat itu mulut kita jadi terus berdzikir mengagumi Ke-Maha Kuasaan- Allah”, jawab Astrid, suaranya jadi sedikit bergetar, “itu karunia Allah yang precious, apalagi dengan keberserahan total diri kita selama dalam perjalanan”, lanjut Astrid sambil tersenyum memandang Ira, sahabatnya yang, dari ekspresi yang Ira perlihatkan ke Astrid, seperti paham betul dengan apa yang diceritakan Astrid, “dan itu membuatku jadi bersyukur..dan..tersadar..”, Astrid menunduk lagi, dan kemudian ia menegakkan kepalanya lagi, seperti tadi,

“Aku cinta kepada Tuhanku, Allah Subhanawata’alaa..”, Astrid melanjutkan dengan yakin, “dan seperti kata Pak Ustadz, Allah itu mencintai hamba-hambaNya..”, Astrid masih melanjutkan kata-katanya, sementara semua sahabatnya diam menyimak, “dan kalau kita takut kita GR aja kalau Allah itu cinta kepada kita, GR aja dulu, begitu kan kata Pak Ustadz”, Astrid mengingatkan Dinta dan Rima tentang salah satu isi kajian dari kajian-kajian di Rohis yang mereka hadiri setiap Jum’at dan dan Minggu

“Iya bener”, jawab Rima dan Dinta

“Nah”, lanjut Astrid, “saat itu lah, aku sadar, aku harus membuktikan cinta kepada Allah sebisaku”, lanjut Astrid lagi, kali ini nada suaranya tiba-tiba bersemangat, “aku harus berhijab, itu yang aku putuskan. Maka kucari pasmina yang kubawa, dengan doa diatas gunung, sebelum turun, dan tekad akan coba menjadi hambaNya yang baik, yang taat, kucoba saja mulai berhijab dengan yang ada, ya pasmina-ku sekarang ini”, tuntas Astrid sambil tertawa, tidak sadar suasana hening, karena semua sahabatnya menyimak sambil  bengong dengan cerita Astrid

“Masya Allah..”, Rima berkata dengan suara pelan, Dinta pun mengatakan ‘Masya Allah’ seperti Rima sambil berbisik dan melirik Astrid melalui spion, sementara Erin dan Vita memandang Astrid dengan dagu diletakkan di tangan yang disandarkan di atas jok, “Keren banget, Astrid”, kata Erin, dan disetujui Vita, “Cool”

Suasana hening sedetik, sebelum akhirnya Rima membalik badannya, dan melongok ke bagian belakang mobil untuk memeluk Astrid sambil memekik pelan,”KEREN BANGET, ASTRID..!! So, cool..!! Congrats yaa”, kata Rima, dengan cueknya membalikkan badannya ke bagian belakang mobil dan memeluk Astrid

“Congrats Astrid…!”, Erin dan Vita mengikuti Rima, dengan cueknya menjulurkan badan mereka dari bagian belakang mobil, ke bagian tengah mobil untuk memeluk Astrid, Ira yang sama-sama duduk di bagian tengan mobil, disebelah Astrid, juga memeluk Astrid, Astrid balas memeluk erat Ira, sahabatnya sejak SMA dan satu klub Pecinta Alam, “Ira cepet nyusul berhijab, ditunggu yaa..”, bisik Astrid sewaktu Ira memeluknya, membuat Ira jadi tersenyum dan terharu, “Siapp komandan, nggak lama lagi, kok”, katanya mengedipkan mata ke Astrid sambil mengedipkan mata, sewaktu mereka melepaskan pelukan

Dinta yang tidak bisa memeluk Astrid memberikan tangan untuk high five, ia melihat ke belakang, kepada Astrid dibagian tengah mobil, “Lo emang keren, Trid”, katanya sambil tersenyum tulus dan high five dengan Astrid

Astrid lalu membuka tas-nya yang ia siapkan dari tadi. Ia membagi-bagikan bunga edelweiss dan oleh-oleh lain dari Jambi kepada sahabat-sahabatnya. Dinta yang senang dengan oleh-oleh itu, segera memajang edelweiss itu di dashboard dia atas tape mobil. Sahabat-sahabat Astrid mengucapkan terimakasih kepada Astrid.

Rima kemudian memandang Dinta, sebenarnya ia belum tahu cerita lengkap sampai Dinta memutuskan untuk hijrah dan berhijab, maka ia memutuskan untuk meminta Dinta juga bercerita mengenai dirinya yang mendapatkan hidayah untuk berhijrah dan memakai hijab,

“Kalau kamu Dinta…, punya cerita nggak, kenapa mutusin untuk hijrah dan berhijab?”, tanya Rima pada Dinta yang jadi sedikit terkejut, tiba-tiba ditanya Rima pertanyaan serupa dengan Astrid. Sahabat-sahabat mereka yang lain jadi tertarik dan mengarahkan perhatian  mereka kepada Dinta

“Uhm..mm..biasa aja sih..nggak sekeren Astrid deh kayaknya”, jawab Dinta, dengan ekspresi biasa-biasa saja

“Nah.., ini nih, menarik, nih..”, timpal Astrid tersenyum lebar, “Iya, cerita dong, Dinta. Awalnya gimana..masa aku aja yang cerita..”, Astrid juga jadi tertarik untuk tahu cerita yang membuat Dinta memutuskan untuk berhijab

“Biasa aja, kok, cuma karena umroh aja..”, jawab Dinta datar, sambil tetap menyetir dan memperhatikan jalan

“Tapi kok…”, Astrid segera memotong, dengan suara lebih pelan,”hijrahnya bisa jauh berkebalikan atau berlawanan dengan gaya hidup kamu dulu..”, ia hati-hati, takut sahabatnya tersinggung diingatkan dengan masa lalunya, mengingat pertengkarannya dengan Zelda sewaktu di masjid tempat Dinta dulu ikut kegiatan taklim

“Iya, cerita doong..”, Rima ikut menimpali, memandang Dinta dengan penasaran

Dinta seperti bisa membaca pikiran Astrid, “kenapa, takut aku tersinggung, diingatkan masa lalu aku yaa??”, tanya Dinta pada Astrid, “Trid, aku nggak merasa malu dengan masa lalu aku, kalau memang adanya begitu, ya apa adanya aja. Aku cuma marah ke Zelda, karena dia meledek dan menghina aku, nggak tau tempat dan waktu, lagi”, sambung Dinta lagi, ia lalu memandang Astrid dari spion tengah mobil dan menengok ke samping jok tempat Rima duduk di sebelahnya,

“Well..”, kata Dinta lagi, “daripada kalian penasaran, aku ceritain aja deh, ya. Tapi ini ceritanya biasa aja, nggak seheboh Astrid”, sambung Dinta sambil tertawa pelan memandang Astrid dari spion. Ira, Erin dan Vita sekarang malah melongokkan sedikit kepala mereka ke arah depan mobil untuk mendengarkan cerita Dinta, mereka semua juga sama tertariknya untuk mendengarkan pengalaman yang membawa Dinta sehingga memutuskan untuk berhijrah dan memakai hijab.

Mobil Dinta memasuki jalan tol. Malam itu, jalan tol cukup sepi, hingga mobil Dinta bisa meluncur mulus di jalan tol luas itu. Rima mengganti musik, disesuaikan dengan suasana umroh, lagu-lagu Islami dan nasyid berbahasa Arab dan Inggris dari penyanyi seperti Maher Zain, Raef, Yusuf Islam, sangat cocok dengan Dinta yang fasih berbahasa Inggris. Dinta memandang Rima dan tertawa sewaktu Rima mengubah musik untuk mendukung suasana saat Dinta bercerita nanti. Dinta menyetir mobil dengan sedikit ngebut tapi hati-hati, diliriknya sahabat-sahabatnya dari spion, semua sudah siap mendengar ceritanya. Ia pun jadi terbawa kembali pada waktu beberapa tahun silam, di waktu dimana dia mulai tersadar dan kemudian memutuskan untuk berhijab.

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab VII- Astrid Berhijab! (Bagian 2)

  “ Well, kalau Astrid berdialektika karena kecintaannya dengan alam, maka aku berdialektika karena..hmm..apa..ya, namanya, budaya, mungkin,...