Area kampus Universitas Nusantara, Universitas negeri tempat Rima belajar, adalah area kampus yang cukup luas. Sejak pertamakali menapaki kakinya di area kampus itu, Rima merasa kagum dengan segala fasilitas di kampus barunya itu. Ia dengan cepat mempelajari alat-alat transportasi, rute jalan-jalan di kampus, perpustakaan, gedung rektorat, fakultasnya dan fakultas-fakultas lain yang bersebelahan, bahkan termasuk tempat duduk-duduk dan area rekreasi di kampusnya.
Rima turun dari bis universitas di depan halaman
fakultas ekonomi. Awalnya ia hanya berdiri dan memandangi gedung fakultas itu.
Tapi kemudian dilihatnya banyak anak-anak yang sebaya dengan dirinya yang
sepertinya juga akan melakukan registrasi ulang. Diikutinya arus sebagian besar
mahasiswa baru itu pergi. Suasana kampus dengan pohon-pohon,
mahasiswa-mahasiswa senior yang lalu lalang dan tampak sibuk dan serius dengan
urusan kuliah dan pelajaran mereka, beberapa kakak-kakak panitia penerimaan
mahasiswa baru, semua hal yang baru bagi Rima. Semua tampak menakjubkan bagi
Rima. Kampus itu tampak begitu dinamis dengan anak-anak sebaya dengannya,
ataupun kakak-kakak yang tampaknya lebih senior, yang tampak cerdas, ceria dan
bersemangat untuk belajar. Semua tampak menyenangkan bagi Rima, semua
membuatnya bersemangat.
“Dik, mahasiswa baru, ya?”, tiba-tiba seorang
mbak-mbak dengan jas almamater menyapanya dengan senyum manis, yang langsung
dijawab, “Iya”, oleh Rima
“Oh, kalau mahasiswa baru, untuk registrasi ke
ruangan itu ya”, kata mbak itu sambil menunjuk ke suatu arah, “Jalan lewat
koridor kanan ini, nanti disana diarahkan lagi”
Rima menuruti arahannya, dan segera menuju ke
tempat yang ditunjukkan oleh mbak-mbak itu.
Di ruangan itu ada beberapa deret petugas. Rima
diarahkan oleh panitia untuk mendatangi satu demi satu deret, untuk
menyelesaikan semua urusan administrasi kampus. Walaupun agak bingung, tapi
Rima mengikuti arahan semua petugas dan panitia dengan patuh, sampai akhirnya
ia selesai dengan semua urusan pendaftaran dan tinggal datang nanti pada hari
Orientasi Mahasiswa Baru, yang juga hari pertama kuliah. Rima bersyukur dan
senang mendengar mengenai hari Orientasi Mahasiswa itu. Ini artinya ia sudah
betul-betul akan mulai belajar dan kuliah di kampus itu. Walaupun lelah,
hatinya senang dan bersyukur, sudah menyelesaikan urusan pendaftaran dan akan
segera mulai kuliah.
Haus mulai menyerang, ketika Rima akan pulang.
Waktu masih jam dua siang dan matahari sedang terik-teriknya. Rima segera
berjalan pulang menuju stasiun melewati danau kampus, ketika seorang cewek
berkerudung dan kulit putih menyapanya,
“Hai..kamu mahasiswa baru FE juga, ya?”, dia
tersenyum dan menjajari langkah Rima
“Eh..,iya..”, jawab Rima, agak kaget, sebab ia
sibuk memandangi danau kampus dan suasana di sekitarnya yang nyaman dan asri
“Aku juga. Namaku Dinta”, cewek itu memberikan
tangannya untuk berjabat tangan sambil meringis. Pasti cowok-cowok akan
mengatakan Dinta imut dan lucu, sebab walaupun memakai behel, senyumnya di
wajahnya yang putih imut seperti keturunan Tionghoa, membuat matanya seperti
hilang ketika tersenyum, membuatnya semakin manis.
“Oh..,eh..,iya”, Rima jadi gugup dan membalas
jabatan tangan Dinta
“Kamu jurusan Akuntansi, kan. Kita sama, aku juga
jurusan Akuntansi, tadi aku perhatikan kamu sewaktu registrasi ulang”, jelas
Dinta sambil cekikikan
Hah? Kenapa tadi Rima tidak memperhatikan kalau
ada Dinta? Ah ya, tadi ia sibuk mengagumi segala sesuatu tentang gedung kampus,
kakak-kakak senior, dan mungkin terlalu fokus menyelesaikan registrasi dan
pendaftaran untuk hari Orientasi Mahasiswa.
“Aku Rima. Ya, aku jurusan Akuntasi. Salam kenal,
Dinta”, kata Rima sambil tersenyum sewaktu membalas jabat tangan Dinta, setelah
berhasil menguasai dirinya yang kaget dan terheran-heran dengan Dinta
“Udah mau pulang, ya?”, tanya Dinta
“Eh, iya..,tapi mau cari minum dulu, haus”, jawab
Rima
“Wah, ayolah, aku juga mau cari minum. Yuk, kita
duduk-duduk di café perpustakaan di pinggir danau”, Dinta malah ingin ikut cari
minum, bahkan mengusulkan tempat untuk mereka minum
Rima yang masih kaget dan heran, menurut saja
dengan ajakan Dinta. Ia mengikuti Dinta menuju café perpustakaan di pinggir
danau itu, walaupun ia agak cemas, karena ia tidak punya uang jajan banyak
untuk makan-makan dan nongkrong di café.
Sambil berjalan menuju café, Rima memandang area
sekitar danau sepanjang jalan menuju perpustakaan. Suasananya cukup ramai
dengan orang-orang yang duduk di sepanjang pinggir danau, bercanda-canda dan
sekedar bersantai melepas lelah. Danau itu cukup luas untuk ukuran kampus,
dengan perahu-perahu kecil di ujung danau yang lain. Teratai-teratai air
mengapung menghias permukaan danau. Beberapa angsa berenang kesana-kemari,
mempercantik suasana danau itu. Diujung lain, tampak gedung perpustakaan
berdiri megah dengan sejumlah mahasiswa yang bermain-main di pinggir danaunya.
Di ujung yang lain lagi, gedung rektorat yang berada tepat di pinggir danau.
Suasana yang menyenangkan dan membuat mahasiswa
betah untuk belajar. ‘Mungkin aku juga akan betah untuk kuliah dan belajar
nanti’, kata Rima dalam hatinya.
Sesampainya di café Dinta segera memesan
milkshake. Ia menanyakan menu yang Rima pesan, sekalian Dinta juga pesan roti
bakar dan kentang goreng crispy.
“Eh, saya lemon-tea aja”, kata Rima,
menyadari uangnya pas-pasan untuk jajan, jadi tidak bisa pesan macam-macam
“Gak papa Rima, untuk roti bakar dan kentang, itu
kan aku yang pesan, aku yang bayar”, Dinta buru-buru mengkonfirmasi Rima, “Tapi
takut gak habis, nanti kita makan berdua, ya”, katanya lagi ramah, seperti ia
bisa membaca kegugupan di wajah Rima
“Eh.., iya”, jawab Rima, gugup. Lagi-lagi Rima
cuma bisa menjawab ‘eh-iya”, untuk semua sikap luwes dan ramah Dinta
Dinta tampaknya membaca kegugupan Rima, Ia segera
berkata, “Maaf Rima, kalau jadi terkejut dan terganggu karena aku ajak bareng”
“Eh…,mm.., enggak, kok”, jawab Rima cepat
“Saya tidak ada teman dan ingin cepat punya teman
di kampus ini”, Dinta menjawab Rima dengan cepat juga, “dan tadi kebetulan saya
perhatikan sewaktu pendaftaran, kamu sendiri dan sepertinya gugup dalam
menghadapi semua sesi di meja-meja pendaftaran”, sambung Dinta, “jadi saya
pikir, mungkin kamu butuh teman, seperti saya”
“Eh..mm.., iya..iya siih, saya memang butuh
teman”, jawab Rima, masih berusaha mengatasi kegugupan dan sikap kagetnya,
“tapi saya ga nyangka, bakalan cepet dapat temen baru, yang menyapa saya
duluan”, katanya lagi sambil tersenyum pada Dinta
“Saya bukan tidak mau berteman, Dinta”, Rima
masih menyambung kata-katanya, “tapi saya kaget, maklum, saya dari kampung,
orang daerah. Jadi saya tidak biasa disapa duluan oleh orang”, katanya sambil
sedikit menunduk, “apalagi menyapa duluan”
“Lho, bukannya orang yang hidup di kampung itu
terbiasa saling sapa, karena suasana kekeluargaannya masih kental, tidak
seperti di kota yang lebih individual. Jadi orang kampung kayaknya lebih biasa
untuk menyapa duluan?”,Dinta langsung menimpali, “dan jangan mengatakan dirimu
orang kampung, Rima. Orang itu tidak kampungan, walau dia berasal dari desa
atau dari kampung atau daerah terpencil”, Dinta meneruskan sambil memandang
Rima lekat-lekat, “yang membuat orang itu kampungan adalah sikap dan kata-katanya,
yang baik atau tidak”, sambung Dinta lagi, dengan suara lebih pelan
Minuman dan snack yang mereka pesan sudah
disajikan, dan mereka mulai menikmati makanan dan minuman itu, ketika seorang
gadis dengan kulit coklat dan mata coklat yang berbinar-binar datang mendekati
meja mereka dengan membawa setumpuk buku.
“Mbak maaf ya, dari Fakultas Ekonomi juga ya?”,
tanyanya
Rima dan Dinta mengangguk hampir berbarengan
“Mau tanya mbak, kalau tempat untuk setor
sumbangan buku dimana?”, tanyanya lagi
Rima dan Dinta saling memandang. Mereka belum
menyumbang buku. Dinta lalu mengaku kepada Rima dan mbak-mbak yang membawa buku
itu, dia lupa membawa buku-buku untuk sumbangan, sebagai syarat wajib dari
fakultas untuk mahasiswa baru. Kalau Rima sih, dia tidak mengaku kepada Dinta
dan mbak yang membawa buku itu, memang belum ada buku yang bisa ia bawa untuk
disumbangkan. Barang-barang yang ia bawa dari rumahnya ke tempatnya di belakang
kantornya, sangat sedikit dan tidak termasuk buku-buku, karena ia baru akan
mulai kuliah.
“Well”, kata mbak yang membawa buku itu,
“kenalin, aku Astrid”, katanya memberikan tangannya untuk berjabat tangan
dengan Dinta dan Rima.
Rima dan Dinta menjabat tangan Astrid, Dinta
kemudian menggeser duduknya untuk memberikan tempat bagi Astrid.
“Pokoknya, saya liat mahasiswa yang pakai bros FE
dengan slayer, pastilah mahasiswa baru”, Astrid langsung memulai pembicaraan,
“makanya saya berani tanya, sekalian, emang kita disuruh nyumbang buku kaan..”
katanya lagi, sambil tersenyum lebar
Dinta tertawa sambil mengangguk, menyetujui
ucapan Astrid. Rima tersenyum lebar mendengar penuturan Astrid
“Kalo kalian ga bawa buku.., nih,
buku saya, pegang masing-masing dua”, kata Astrid lagi sambil memberikan Dinta
dan Rima, masing-masing dua buah buku, dari setumpuk buku yang ia bawa, “bilang
aja ntar sama petugas perpusnya, ceritanya itu punya kalian masing-masing”,
kata Astrid lagi, “jadi kalian nggak perlu repot-repot untuk cari buku
dan ke perpus lagi untuk soal sumbangan buku ini”, Astrid mengakhiri
penjelasannya
“Thank you, Astrid. Eh, haus yaa..saya pesenin
minum ya, milkshake strawberry, oke?” Dinta tersenyum ramah dan memegang dua
buku yang diberikan Astrid padanya, dia tampak sangat senang dengan kebaikan
Astrid
“Nggak usah repot-repot deh”, Astrid
menjawab sambil tersenyum, tapi Dinta sudah keburu memesankan Astrid milkshake
strawberry
Sementara Rima memeluk Astrid dan mengucapkan
terimakasih. Dalam hati Rima, ia sangat bersyukur dengan kebaikan Astrid, sebab
ia memang sebenarnya tidak punya buku untuk disumbangkan.
“Terimakasih, Astrid”, Rima segera mengikuti
Dinta mengucapkan terimakasih untuk Astrid, tapi sekarang ia bingung, mau kasih
apa untuk Astrid. Ah, ya! Rima segera mengambil sebuah pulpen lucu dari dalam
tas-nya. Itu sebenarnya pemberian Ibu, hadiah kecil untuk Rima. Tapi Ibu
membeli sekitar sepuluh pulpen dengan motif lucu dan berbagai warna. Maka,
tidak apa-apa, menurut Rima, untuk memberikan Astrid satu.
“Waah…makasiih…!”, Astrid tersenyum senang, “Kok
jadi kalian sih yang repot. Ini saya kasih bukan supaya ditraktir minum atau
dapat hadiah”, sambungnya, masih dengan senyum lebar, “tapi kalian liat
sendiri, buku segini banyak”, katanya lagi sambil memandang ke arah setumpuk
buku yang dibawanya. Rima dan Dinta paham, setumpuk buku yang dibawa Astrid itu
mungkin ada limabelas,enambelas..atau mungkin dua puluh buku.
“Ya, udah lah, pokoknya kita minum dulu, baru
kita cari tempat setor sumbangan buku en nyetor buku”, sahut Dinta sambil
tertawa kecil, yang dibalas dengan anggukan dan senyum dari dua temannya yang
lain
Sambil menghabiskan cemilan dan minuman, mereka
bertiga mulai berkenalan dan menceritakan sedikit dari diri mereka. Hari itu
mereka memulai persahabatan mereka, dan melalui perjalanan panjang di kampus
mereka.
****************************************************
Rima, Dinta dan Astrid menjalani Masa Orientasi
Kampus bertiga. Mereka janjian untuk bertemu di gerbang kampus, pada hari
pertama Masa Orientasi Kampus. Rima sempat bingung dengan masalah pekerjaannya
yang bertabrakan dengan jadwal kuliah dan semua jadwal kampusnya. Sepulang dari
registrasi kampus, Rima langsung menghadap Pak Dahlan, pimpinan kantor tempat
ia bekerja, dan menceritakan jadwal Masa Orientasi Kampus yang bertabrakan
dengan jadwal pekerjaannya. Rima masih ingat dengan senyum dan kata-kata Pak
Dahlan yang bijaksana pada hari itu,
“Rima, sewaktu saya menerima Rima bekerja di
kantor ini, tentu saya sudah memikirkan semua yang Rima khawatirkan sekarang”,
kata Pak Dahlan, memulai, “saya bahkan sudah mengetahui semua info mengenai
kemungkinan jadwal kuliah Rima sampai semester empat”
“Eh..,iya Pak”, Rima menjawab singkat dengan
gugup dan sedikit bengong, ‘sampai semester empat??? Waah…hebat amat Pak
Dahlan, bisa punya info sampai sejauh itu mengenai anak buahnya’
“Well, kalau Rima berfikir tidak akan bisa
efektif bekerja di kantor, dan kemungkinan akan dikeluarkan, tentu tidak”, Pak
Dahlan menenangkan Rima, ia bisa membaca dengan jelas ekspresi Rima yang gugup.
Tapi Rima hanya diam saja.
“Memang benar juga, apa untungnya saya, punya
karyawan, mahasiswa baru yang sibuk dan akan sering tidak masuk kerja karena
kuliah, itu benar juga” Pak Dahlan masih meneruskan kata-katanya, “tapi saya
juga alumni fakultas dan universitas yang sama dengan kamu”, kata Pak Dahlan
sambil tersenyum, “dan bagi saya, setiap karyawan saya adalah aset yang paling
berharga bagi perusahaan”, katanya, “dan mungkin kamu sekarang tidak bisa
se-efektif karyawan lain, tapi saya yakin, di masa depan, mungkin kalau sudah
semester akhir, kamu akan banyak memberikan kontribusi bagi perusahaan”
lanjutnya serius
“eh,..iya, Pak”, lagi-lagi Rima hanya bisa
menjawab dengan singkat
“Begini saja, setiap pagi setelah shalat subuh,
kamu bersihkan dulu kantor, dan buka kantor, setelah itu serahkan kunci kantor
pada security kantor. Dan kamu bersihkan kantor setelah kantor ditutup
oleh security, itu saja dulu tugasmu”, kata Pak Dahlan masih sambil tersenyum
saat memberikan instruksi mengenai tugas kantor
“Baik, Pak”, jawab Rima. Ia jadi lega setelah
tugasnya jelas, dan semua permasalahannya telah dimengerti dan dimaklumi oleh
Pak Dahlan. Sekarang ia bisa konsentrasi memulai kuliahnya.
“Nah, sekarang lanjutkan aktivitasmu, saya juga
masih banyak pekerjaan”, Pak Dahlan mengakhiri pertemuannya dengan Rima hari
itu.
*************************************************
Minggu berikutnya, pada hari Senin, setelah
menyelesaikan tugas kerjanya, pagi-pagi sekali Rima sudah sampai di gerbang
kampus barunya. Ia sibuk dengan ponselnya, menghubungi Astrid dan Dinta, untuk
memberitahu bahwa ia sudah sampai dan menunggu di tempat mereka janjian.
Sepuluh menit kemudian, mobil Dinta menghampiri
Rima. Rupanya Astrid sudah bersama dengan Dinta. Mereka janjian di stasiun yang
searah dengan jalur rumah Dinta dan arah ke kampus. Rima segera masuk, kedua
temannya itu menyambutnya dengan sapaan dan tawa riang. Mereka segera terlibat
percakapan seru mengenai persiapan mereka menghadapi Masa Orientasi Kampus.
Masa Orientasi Kampus diawali dengan perkenalan
Dekan dan pidato para dekan dan diakhiri dengan Ketua BEM juga Ketua Panitia
acara. Hari itu para mahasiswa diperkenalkan dengan segala hal tentang Fakultas
Ekonomi. Sebelum istirahat siang, para mahasiswa diberitahu, bahwa mahasiswa
wajib mengikuti kegiatan lain selain kuliah, dan satu lagi, pilihan bebas dari
mahasiswa. Kegiatan itu ada Perkumpulan Rohani Keagamaan, Perkumpulan Seni
seperti Paduan Suara, Band, Perkumpulan Angklung dan Karawitan, Tari, Teater,
Lukis dan Ukir, juga ada perkumpulan olahraga seperti sepakbola, basket,
bulutangkis dan volley. Perkumpulan- perkumpulan mahasiswa tersebut mendirikan
stand pendaftaran pada hari itu dan para mahasiswa dipersilakan untuk datang ke
stand-stand yang dibuka diluar aula, untuk mendaftar pada tiap-tiap perkumpulan
yang diminati.
Rima memandang dua temannya, pada saat diumumkan,
dia sendiri sudah menentukan pilihan, tapi dia belum tahu dengan dua temannya,
“Kalian pilih apa? Sudah ada pilihan?”, tanyanya
memulai
Dinta tampak bingung, tapi kemudian dia berkata
lagi, “Aku mau masuk perkumpulan Karya Ilmiah, sih..siapa tau bisa mendukung
untuk mata kuliah”
“Kalau kamu, Astrid?”, tanya Rima kepada Astrid
“Aku mau masuk perkumpulan teater, kali ya..,kayaknya
asyik tuh, tadi katanya sudah sampai ikut kompetisi ke luar negeri”, Astrid
menjawab cepat, tampaknya dia sudah menentukan pilihan sejak tadi, seperti Rima
“Tapi ada satu pilihan bebas..”, kata Rima lagi
Dinta langsung menyela Rima, “kamu sendiri, udah
punya pilihan?”
“Udah”, jawab Rima, “aku mau masuk Kerohanian
Islam”
“Ciee..anak soleha..”, kata Astrid sambil tertawa
kecil, Dinta jadi ikut tertawa juga, sementara Rima jadi tersipu malu diledekin
kedua temannya itu
“Kayaknya pilihannya aku juga mau masuk Rohis,
deh, bareng sama Rima”, Astrid masih tersenyum, menenangkan Rima, bahwa dia
bukan sekedar meledek
“Kalo gitu, kita bertiga bareng aja, jadi anak
Rohis”, sela Dinta, “biar soleha-nya barengan”, katanya lagi
Giliran Rima yang ganti meledek, “Ciee..yang
pengen jadi soleha”, katanya sambil tertawa, kedua temannya itupun ikut tertawa
“Trus, yang pilihan, kamu milih apa, Rima?”,
tanya Dinta
“Mungkin renang”, jawab Rima cepat, “aku suka
renang, tapi belum bisa banget”,jawabnya lagi
“Waahh..kalau itu, aku ajarin di rumahku
aja”,sahut Dinta cepat. Kedua temannya langsung memandangnya heran
“Maksudnya..”, Dinta jadi sedikit gugup,
“eh..,ehm.., di rumahku ada kolam renang”, lanjutnya lagi dengan suara pelan
“Oooo….wah..asyik dong”, timpal Astrid, “aku juga
mau belajar sama kayak Rima di rumah kamu, Dinta”, Astrid tersenyum lebar..”Kok
gitu aja, gugup”, kata Astrid lagi
“Jadi Dinta anak tajir, niih”, kata Rima dan
Astrid hampir berbarengan sambil cekikikan, karena melihat wajah Dinta yang
gugup dan memerah
“Santai aja, Dinta, keliatan kok.., tapi kita
nggak matre”, kata Rima yang diceletukin Astrid dengan kata “Iya” sambil masih
tersenyum lebar
Rima memandang Dinta yang wajahnya memerah,
“Dinta, tenang aja, aku bukan tipe orang yang suka manfaatin orang, dan aku
yakin Astrid juga begitu”, kata Rima sambil memegang tangan Dinta untuk
meyakinkan Dinta, sementara Astrid menjawab,”Yo’i”
Astrid langsung nyeletuk lagi, “Yuk buruan
daftar, ntar antrinya panjang”, dia sudah bangkit dari tempat duduknya untuk
bersiap ke stand-stand pendaftaran di luar aula
“Yuk, ah..”, Rima menyambut ajakan Astrid, “Kalau
gitu, aku pilih basket aja deh”, katanya lagi, sambil berjalan mengikuti Astrid
keluar aula. Dinta mengekor mereka dibelakang.
Segera mereka bergabung dengan mahasiswa lainnya
yang tampak sudah mulai merubung stand-stand perkumpulan di luar aula itu
“Eits..”, Astrid memegang tangan Rima, sewaktu
mereka berada di dekat stand Rohis. “Rima, ntar dulu, deh”, katanya, “Aku kan
nggak pakai jilbab, gimana yaa?”, katanya ragu, sambil melihat kepada Rima dan
Dinta yang memang sudah berkerudung
“Hey Adik-adik..”, tiba-tiba mereka disapa
seorang mbak-mbak dari Rohis, “Kalau mau masuk Rohis, nggak harus pakai jilbab,
kok..yang penting mau ngaji bareng aja”, katanya, “Yuk, coba ikutan Rohis”,
mbak itu melanjutkan sambil menggandeng Astrid ke depan meja stand, Astrid yang
kaget, cepat meraih tangan Rima untuk ikut dan Rima pun meraih tangan Dinta,
supaya tidak ketinggalan
“Kami bertiga, kak”, Astrid menunjuk dua temannya
ketika namanya siap ditulis oleh kakak-kakak di meja stand pendaftaran itu
“Oke, namanya siapa ya, dan jurusan apa?”, tanya
kakak-kakak itu.
Astrid, Rima dan Dinta cepat menyebutkan nama dan
jurusan, dan juga nomor ponsel, ketika kakak itu tanya lagi mengenai nomor
ponsel mereka. Kakak itu menjelaskan jadwal pertemuan pertama mereka, sekaligus
pembukaan dan perkenalan untuk mahasiswa baru. Setelah penjelasan selesai,
kakak itu memberikan semacam booklet kepada mereka bertiga. Rupanya itu daftar
kegiatan, para anggota Rohis dan kegiatan-kegiatan Rohis selama setahun lalu.
Tampaknya cukup menyenangkan. Rima berdoa dalam hati, semoga pilihannya tidak
salah.
Setelah dari Rohis, mereka ke stand-stand
perkumpulan lain. Di stand Karya Ilmiah, Rima dan Astrid menemani Dinta
mendaftar, begitupun di stand Teater, Astrid mendaftar sementara Rima dan Dinta
menemaninya, terakhir mereka ke stand basket, untuk Rima mendaftarkan diri.
Setelah selesai mendaftar, mereka pun pergi ke mesjid untuk shalat dan kemudian
makan siang.
Hari itu hari pertama Rima di kampus barunya.
Tapi dia sudah optimis, karena dia sudah punya dua sahabat baru dan juga semua
tampak baik-baik saja, dan semua tampak memotivasi para calon mahasiswa untuk
maju dan berkembang di kampus itu.
Hari itu juga, hari Rima dan dua sahabatnya
memulai perjalanan hijrah mereka, menjadi muslimah yang matang di masa depan,
tanpa mereka menyadarinya. Dengan segala keceriaan dan semangat, mereka bertiga
menjalani hari itu dan sisa hari-hari Masa Orientasi Kampus dengan sikap
optimis.
******************************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar