Senin, 02 Februari 2026

BAB III Mulai Kuliah!

 Area kampus Universitas Nusantara, Universitas negeri tempat Rima belajar, adalah area kampus yang cukup luas. Sejak pertamakali menapaki kakinya di area kampus itu, Rima merasa kagum dengan segala fasilitas di kampus barunya itu. Ia dengan cepat mempelajari alat-alat transportasi, rute jalan-jalan di kampus, perpustakaan, gedung rektorat, fakultasnya dan fakultas-fakultas lain yang bersebelahan, bahkan termasuk tempat duduk-duduk dan area rekreasi di kampusnya.

Rima turun dari bis universitas di depan halaman fakultas ekonomi. Awalnya ia hanya berdiri dan memandangi gedung fakultas itu. Tapi kemudian dilihatnya banyak anak-anak yang sebaya dengan dirinya yang sepertinya juga akan melakukan registrasi ulang. Diikutinya arus sebagian besar mahasiswa baru itu pergi. Suasana kampus dengan pohon-pohon, mahasiswa-mahasiswa senior yang lalu lalang dan tampak sibuk dan serius dengan urusan kuliah dan pelajaran mereka, beberapa kakak-kakak panitia penerimaan mahasiswa baru, semua hal yang baru bagi Rima. Semua tampak menakjubkan bagi Rima. Kampus itu tampak begitu dinamis dengan anak-anak sebaya dengannya, ataupun kakak-kakak yang tampaknya lebih senior, yang tampak cerdas, ceria dan bersemangat untuk belajar. Semua tampak menyenangkan bagi Rima, semua membuatnya bersemangat.

“Dik, mahasiswa baru, ya?”, tiba-tiba seorang mbak-mbak dengan jas almamater menyapanya dengan senyum manis, yang langsung dijawab, “Iya”, oleh Rima

“Oh, kalau mahasiswa baru, untuk registrasi ke ruangan itu ya”, kata mbak itu sambil menunjuk ke suatu arah, “Jalan lewat koridor kanan ini, nanti disana diarahkan lagi”

Rima menuruti arahannya, dan segera menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh mbak-mbak itu.

Di ruangan itu ada beberapa deret petugas. Rima diarahkan oleh panitia untuk mendatangi satu demi satu deret, untuk menyelesaikan semua urusan administrasi kampus. Walaupun agak bingung, tapi Rima mengikuti arahan semua petugas dan panitia dengan patuh, sampai akhirnya ia selesai dengan semua urusan pendaftaran dan tinggal datang nanti pada hari Orientasi Mahasiswa Baru, yang juga hari pertama kuliah. Rima bersyukur dan senang mendengar mengenai hari Orientasi Mahasiswa itu. Ini artinya ia sudah betul-betul akan mulai belajar dan kuliah di kampus itu. Walaupun lelah, hatinya senang dan bersyukur, sudah menyelesaikan urusan pendaftaran dan akan segera mulai kuliah.

Haus mulai menyerang, ketika Rima akan pulang. Waktu masih jam dua siang dan matahari sedang terik-teriknya. Rima segera berjalan pulang menuju stasiun melewati danau kampus, ketika seorang cewek berkerudung dan kulit putih menyapanya,

“Hai..kamu mahasiswa baru FE juga, ya?”, dia tersenyum dan menjajari langkah Rima

“Eh..,iya..”, jawab Rima, agak kaget, sebab ia sibuk memandangi danau kampus dan suasana di sekitarnya yang nyaman dan asri

“Aku juga. Namaku Dinta”, cewek itu memberikan tangannya untuk berjabat tangan sambil meringis. Pasti cowok-cowok akan mengatakan Dinta imut dan lucu, sebab walaupun memakai behel, senyumnya di wajahnya yang putih imut seperti keturunan Tionghoa, membuat matanya seperti hilang ketika tersenyum, membuatnya semakin manis.

“Oh..,eh..,iya”, Rima jadi gugup dan membalas jabatan tangan Dinta

“Kamu jurusan Akuntansi, kan. Kita sama, aku juga jurusan Akuntansi, tadi aku perhatikan kamu sewaktu registrasi ulang”, jelas Dinta sambil cekikikan

Hah? Kenapa tadi Rima tidak memperhatikan kalau ada Dinta? Ah ya, tadi ia sibuk mengagumi segala sesuatu tentang gedung kampus, kakak-kakak senior, dan mungkin terlalu fokus menyelesaikan registrasi dan pendaftaran untuk hari Orientasi Mahasiswa.

“Aku Rima. Ya, aku jurusan Akuntasi. Salam kenal, Dinta”, kata Rima sambil tersenyum sewaktu membalas jabat tangan Dinta, setelah berhasil menguasai dirinya yang kaget dan terheran-heran dengan Dinta

“Udah mau pulang, ya?”, tanya Dinta

“Eh, iya..,tapi mau cari minum dulu, haus”, jawab Rima

“Wah, ayolah, aku juga mau cari minum. Yuk, kita duduk-duduk di café perpustakaan di pinggir danau”, Dinta malah ingin ikut cari minum, bahkan mengusulkan tempat untuk mereka minum

Rima yang masih kaget dan heran, menurut saja dengan ajakan Dinta. Ia mengikuti Dinta menuju café perpustakaan di pinggir danau itu, walaupun ia agak cemas, karena ia tidak punya uang jajan banyak untuk makan-makan dan nongkrong di café.

Sambil berjalan menuju café, Rima memandang area sekitar danau sepanjang jalan menuju perpustakaan. Suasananya cukup ramai dengan orang-orang yang duduk di sepanjang pinggir danau, bercanda-canda dan sekedar bersantai melepas lelah. Danau itu cukup luas untuk ukuran kampus, dengan perahu-perahu kecil di ujung danau yang lain. Teratai-teratai air mengapung menghias permukaan danau. Beberapa angsa berenang kesana-kemari, mempercantik suasana danau itu. Diujung lain, tampak gedung perpustakaan berdiri megah dengan sejumlah mahasiswa yang bermain-main di pinggir danaunya. Di ujung yang lain lagi, gedung rektorat yang berada tepat di pinggir danau.

Suasana yang menyenangkan dan membuat mahasiswa betah untuk belajar. ‘Mungkin aku juga akan betah untuk kuliah dan belajar nanti’, kata Rima dalam hatinya.

Sesampainya di café Dinta segera memesan milkshake. Ia menanyakan menu yang Rima pesan, sekalian Dinta juga pesan roti bakar dan kentang goreng crispy.

“Eh, saya lemon-tea aja”, kata Rima, menyadari uangnya pas-pasan untuk jajan, jadi tidak bisa pesan macam-macam

“Gak papa Rima, untuk roti bakar dan kentang, itu kan aku yang pesan, aku yang bayar”, Dinta buru-buru mengkonfirmasi Rima, “Tapi takut gak habis, nanti kita makan berdua, ya”, katanya lagi ramah, seperti ia bisa membaca kegugupan di wajah Rima

“Eh.., iya”, jawab Rima, gugup. Lagi-lagi Rima cuma bisa menjawab ‘eh-iya”, untuk semua sikap luwes dan ramah Dinta

Dinta tampaknya membaca kegugupan Rima, Ia segera berkata, “Maaf Rima, kalau jadi terkejut dan terganggu karena aku ajak bareng”

“Eh…,mm.., enggak, kok”, jawab Rima cepat

“Saya tidak ada teman dan ingin cepat punya teman di kampus ini”, Dinta menjawab Rima dengan cepat juga, “dan tadi kebetulan saya perhatikan sewaktu pendaftaran, kamu sendiri dan sepertinya gugup dalam menghadapi semua sesi di meja-meja pendaftaran”, sambung Dinta, “jadi saya pikir, mungkin kamu butuh teman, seperti saya”

“Eh..mm.., iya..iya siih, saya memang butuh teman”, jawab Rima, masih berusaha mengatasi kegugupan dan sikap kagetnya, “tapi saya ga nyangka, bakalan cepet dapat temen baru, yang menyapa saya duluan”, katanya lagi sambil tersenyum pada Dinta

“Saya bukan tidak mau berteman, Dinta”, Rima masih menyambung kata-katanya, “tapi saya kaget, maklum, saya dari kampung, orang daerah. Jadi saya tidak biasa disapa duluan oleh orang”, katanya sambil sedikit menunduk, “apalagi menyapa duluan”

“Lho, bukannya orang yang hidup di kampung itu terbiasa saling sapa, karena suasana kekeluargaannya masih kental, tidak seperti di kota yang lebih individual. Jadi orang kampung kayaknya lebih biasa untuk menyapa duluan?”,Dinta langsung menimpali, “dan jangan mengatakan dirimu orang kampung, Rima. Orang itu tidak kampungan, walau dia berasal dari desa atau dari kampung atau daerah terpencil”, Dinta meneruskan sambil memandang Rima lekat-lekat, “yang membuat orang itu kampungan adalah sikap dan kata-katanya, yang baik atau tidak”, sambung Dinta lagi, dengan suara lebih pelan

Minuman dan snack yang mereka pesan sudah disajikan, dan mereka mulai menikmati makanan dan minuman itu, ketika seorang gadis dengan kulit coklat dan mata coklat yang berbinar-binar datang mendekati meja mereka dengan membawa setumpuk buku.

“Mbak maaf ya, dari Fakultas Ekonomi juga ya?”, tanyanya

Rima dan Dinta mengangguk hampir berbarengan

“Mau tanya mbak, kalau tempat untuk setor sumbangan buku dimana?”, tanyanya lagi

 

Rima dan Dinta saling memandang. Mereka belum menyumbang buku. Dinta lalu mengaku kepada Rima dan mbak-mbak yang membawa buku itu, dia lupa membawa buku-buku untuk sumbangan, sebagai syarat wajib dari fakultas untuk mahasiswa baru. Kalau Rima sih, dia tidak mengaku kepada Dinta dan mbak yang membawa buku itu, memang belum ada buku yang bisa ia bawa untuk disumbangkan. Barang-barang yang ia bawa dari rumahnya ke tempatnya di belakang kantornya, sangat sedikit dan tidak termasuk buku-buku, karena ia baru akan mulai kuliah.

 

Well”, kata mbak yang membawa buku itu, “kenalin, aku Astrid”, katanya memberikan tangannya untuk berjabat tangan dengan Dinta dan Rima.

Rima dan Dinta menjabat tangan Astrid, Dinta kemudian menggeser duduknya untuk memberikan tempat bagi Astrid.

“Pokoknya, saya liat mahasiswa yang pakai bros FE dengan slayer, pastilah mahasiswa baru”, Astrid langsung memulai pembicaraan, “makanya saya berani tanya, sekalian, emang kita disuruh nyumbang buku kaan..” katanya lagi, sambil tersenyum lebar

Dinta tertawa sambil mengangguk, menyetujui ucapan Astrid. Rima tersenyum lebar mendengar penuturan Astrid

“Kalo kalian ga bawa buku.., nih, buku saya, pegang masing-masing dua”, kata Astrid lagi sambil memberikan Dinta dan Rima, masing-masing dua buah buku, dari setumpuk buku yang ia bawa, “bilang aja ntar sama petugas perpusnya, ceritanya itu punya kalian masing-masing”, kata Astrid lagi, “jadi kalian nggak perlu repot-repot untuk cari buku dan ke perpus lagi untuk soal sumbangan buku ini”, Astrid mengakhiri penjelasannya

Thank you, Astrid. Eh, haus yaa..saya pesenin minum ya, milkshake strawberry, oke?” Dinta tersenyum ramah dan memegang dua buku yang diberikan Astrid padanya, dia tampak sangat senang dengan kebaikan Astrid

Nggak usah repot-repot deh”, Astrid menjawab sambil tersenyum, tapi Dinta sudah keburu memesankan Astrid milkshake strawberry

Sementara Rima memeluk Astrid dan mengucapkan terimakasih. Dalam hati Rima, ia sangat bersyukur dengan kebaikan Astrid, sebab ia memang sebenarnya tidak punya buku untuk disumbangkan.

“Terimakasih, Astrid”, Rima segera mengikuti Dinta mengucapkan terimakasih untuk Astrid, tapi sekarang ia bingung, mau kasih apa untuk Astrid. Ah, ya! Rima segera mengambil sebuah pulpen lucu dari dalam tas-nya. Itu sebenarnya pemberian Ibu, hadiah kecil untuk Rima. Tapi Ibu membeli sekitar sepuluh pulpen dengan motif lucu dan berbagai warna. Maka, tidak apa-apa, menurut Rima, untuk memberikan Astrid satu.

“Waah…makasiih…!”, Astrid tersenyum senang, “Kok jadi kalian sih yang repot. Ini saya kasih bukan supaya ditraktir minum atau dapat hadiah”, sambungnya, masih dengan senyum lebar, “tapi kalian liat sendiri, buku segini banyak”, katanya lagi sambil memandang ke arah setumpuk buku yang dibawanya. Rima dan Dinta paham, setumpuk buku yang dibawa Astrid itu mungkin ada limabelas,enambelas..atau mungkin dua puluh buku.

“Ya, udah lah, pokoknya kita minum dulu, baru kita cari tempat setor sumbangan buku en nyetor buku”, sahut Dinta sambil tertawa kecil, yang dibalas dengan anggukan dan senyum dari dua temannya yang lain

Sambil menghabiskan cemilan dan minuman, mereka bertiga mulai berkenalan dan menceritakan sedikit dari diri mereka. Hari itu mereka memulai persahabatan mereka, dan melalui perjalanan panjang di kampus mereka.

****************************************************

Rima, Dinta dan Astrid menjalani Masa Orientasi Kampus bertiga. Mereka janjian untuk bertemu di gerbang kampus, pada hari pertama Masa Orientasi Kampus. Rima sempat bingung dengan masalah pekerjaannya yang bertabrakan dengan jadwal kuliah dan semua jadwal kampusnya. Sepulang dari registrasi kampus, Rima langsung menghadap Pak Dahlan, pimpinan kantor tempat ia bekerja, dan menceritakan jadwal Masa Orientasi Kampus yang bertabrakan dengan jadwal pekerjaannya. Rima masih ingat dengan senyum dan kata-kata Pak Dahlan yang bijaksana pada hari itu,

“Rima, sewaktu saya menerima Rima bekerja di kantor ini, tentu saya sudah memikirkan semua yang Rima khawatirkan sekarang”, kata Pak Dahlan, memulai, “saya bahkan sudah mengetahui semua info mengenai kemungkinan jadwal kuliah Rima sampai semester empat”

“Eh..,iya Pak”, Rima menjawab singkat dengan gugup dan sedikit bengong, ‘sampai semester empat??? Waah…hebat amat Pak Dahlan, bisa punya info sampai sejauh itu mengenai anak buahnya’

Well, kalau Rima berfikir tidak akan bisa efektif bekerja di kantor, dan kemungkinan akan dikeluarkan, tentu tidak”, Pak Dahlan menenangkan Rima, ia bisa membaca dengan jelas ekspresi Rima yang gugup. Tapi Rima hanya diam saja.

“Memang benar juga, apa untungnya saya, punya karyawan, mahasiswa baru yang sibuk dan akan sering tidak masuk kerja karena kuliah, itu benar juga” Pak Dahlan masih meneruskan kata-katanya, “tapi saya juga alumni fakultas dan universitas yang sama dengan kamu”, kata Pak Dahlan sambil tersenyum, “dan bagi saya, setiap karyawan saya adalah aset yang paling berharga bagi perusahaan”, katanya, “dan mungkin kamu sekarang tidak bisa se-efektif karyawan lain, tapi saya yakin, di masa depan, mungkin kalau sudah semester akhir, kamu akan banyak memberikan kontribusi bagi perusahaan” lanjutnya serius

“eh,..iya, Pak”, lagi-lagi Rima hanya bisa menjawab dengan singkat

“Begini saja, setiap pagi setelah shalat subuh, kamu bersihkan dulu kantor, dan buka kantor, setelah itu serahkan kunci kantor pada security kantor. Dan kamu bersihkan kantor setelah kantor ditutup oleh security, itu saja dulu tugasmu”, kata Pak Dahlan masih sambil tersenyum saat memberikan instruksi mengenai tugas kantor

“Baik, Pak”, jawab Rima. Ia jadi lega setelah tugasnya jelas, dan semua permasalahannya telah dimengerti dan dimaklumi oleh Pak Dahlan. Sekarang ia bisa konsentrasi memulai kuliahnya.

“Nah, sekarang lanjutkan aktivitasmu, saya juga masih banyak pekerjaan”, Pak Dahlan mengakhiri pertemuannya dengan Rima hari itu.

*************************************************

Minggu berikutnya, pada hari Senin, setelah menyelesaikan tugas kerjanya, pagi-pagi sekali Rima sudah sampai di gerbang kampus barunya. Ia sibuk dengan ponselnya, menghubungi Astrid dan Dinta, untuk memberitahu bahwa ia sudah sampai dan menunggu di tempat mereka janjian.

Sepuluh menit kemudian, mobil Dinta menghampiri Rima. Rupanya Astrid sudah bersama dengan Dinta. Mereka janjian di stasiun yang searah dengan jalur rumah Dinta dan arah ke kampus. Rima segera masuk, kedua temannya itu menyambutnya dengan sapaan dan tawa riang. Mereka segera terlibat percakapan seru mengenai persiapan mereka menghadapi Masa Orientasi Kampus.

Masa Orientasi Kampus diawali dengan perkenalan Dekan dan pidato para dekan dan diakhiri dengan Ketua BEM juga Ketua Panitia acara. Hari itu para mahasiswa diperkenalkan dengan segala hal tentang Fakultas Ekonomi. Sebelum istirahat siang, para mahasiswa diberitahu, bahwa mahasiswa wajib mengikuti kegiatan lain selain kuliah, dan satu lagi, pilihan bebas dari mahasiswa. Kegiatan itu ada Perkumpulan Rohani Keagamaan, Perkumpulan Seni seperti Paduan Suara, Band, Perkumpulan Angklung dan Karawitan, Tari, Teater, Lukis dan Ukir, juga ada perkumpulan olahraga seperti sepakbola, basket, bulutangkis dan volley. Perkumpulan- perkumpulan mahasiswa tersebut mendirikan stand pendaftaran pada hari itu dan para mahasiswa dipersilakan untuk datang ke stand-stand yang dibuka diluar aula, untuk mendaftar pada tiap-tiap perkumpulan yang diminati.

Rima memandang dua temannya, pada saat diumumkan, dia sendiri sudah menentukan pilihan, tapi dia belum tahu dengan dua temannya,

“Kalian pilih apa? Sudah ada pilihan?”, tanyanya memulai

Dinta tampak bingung, tapi kemudian dia berkata lagi, “Aku mau masuk perkumpulan Karya Ilmiah, sih..siapa tau bisa mendukung untuk mata kuliah”

“Kalau kamu, Astrid?”, tanya Rima kepada Astrid

“Aku mau masuk perkumpulan teater, kali ya..,kayaknya asyik tuh, tadi katanya sudah sampai ikut kompetisi ke luar negeri”, Astrid menjawab cepat, tampaknya dia sudah menentukan pilihan sejak tadi, seperti Rima

“Tapi ada satu pilihan bebas..”, kata Rima lagi

Dinta langsung menyela Rima, “kamu sendiri, udah punya pilihan?”

“Udah”, jawab Rima, “aku mau masuk Kerohanian Islam”

“Ciee..anak soleha..”, kata Astrid sambil tertawa kecil, Dinta jadi ikut tertawa juga, sementara Rima jadi tersipu malu diledekin kedua temannya itu

“Kayaknya pilihannya aku juga mau masuk Rohis, deh, bareng sama Rima”, Astrid masih tersenyum, menenangkan Rima, bahwa dia bukan sekedar meledek

“Kalo gitu, kita bertiga bareng aja, jadi anak Rohis”, sela Dinta, “biar soleha-nya barengan”, katanya lagi

Giliran Rima yang ganti meledek, “Ciee..yang pengen jadi soleha”, katanya sambil tertawa, kedua temannya itupun ikut tertawa

“Trus, yang pilihan, kamu milih apa, Rima?”, tanya Dinta

“Mungkin renang”, jawab Rima cepat, “aku suka renang, tapi belum bisa banget”,jawabnya lagi

“Waahh..kalau itu, aku ajarin di rumahku aja”,sahut Dinta cepat. Kedua temannya langsung memandangnya heran

“Maksudnya..”, Dinta jadi sedikit gugup, “eh..,ehm.., di rumahku ada kolam renang”, lanjutnya lagi dengan suara pelan

“Oooo….wah..asyik dong”, timpal Astrid, “aku juga mau belajar sama kayak Rima di rumah kamu, Dinta”, Astrid tersenyum lebar..”Kok gitu aja, gugup”, kata Astrid lagi

“Jadi Dinta anak tajir, niih”, kata Rima dan Astrid hampir berbarengan sambil cekikikan, karena melihat wajah Dinta yang gugup dan memerah

“Santai aja, Dinta, keliatan kok.., tapi kita nggak matre”, kata Rima yang diceletukin Astrid dengan kata “Iya” sambil masih tersenyum lebar

Rima memandang Dinta yang wajahnya memerah, “Dinta, tenang aja, aku bukan tipe orang yang suka manfaatin orang, dan aku yakin Astrid juga begitu”, kata Rima sambil memegang tangan Dinta untuk meyakinkan Dinta, sementara Astrid menjawab,”Yo’i”

Astrid langsung nyeletuk lagi, “Yuk buruan daftar, ntar antrinya panjang”, dia sudah bangkit dari tempat duduknya untuk bersiap ke stand-stand pendaftaran di luar aula

“Yuk, ah..”, Rima menyambut ajakan Astrid, “Kalau gitu, aku pilih basket aja deh”, katanya lagi, sambil berjalan mengikuti Astrid keluar aula. Dinta mengekor mereka dibelakang.

Segera mereka bergabung dengan mahasiswa lainnya yang tampak sudah mulai merubung stand-stand perkumpulan di luar aula itu

“Eits..”, Astrid memegang tangan Rima, sewaktu mereka berada di dekat stand Rohis. “Rima, ntar dulu, deh”, katanya, “Aku kan nggak pakai jilbab, gimana yaa?”, katanya ragu, sambil melihat kepada Rima dan Dinta yang memang sudah berkerudung

“Hey Adik-adik..”, tiba-tiba mereka disapa seorang mbak-mbak dari Rohis, “Kalau mau masuk Rohis, nggak harus pakai jilbab, kok..yang penting mau ngaji bareng aja”, katanya, “Yuk, coba ikutan Rohis”, mbak itu melanjutkan sambil menggandeng Astrid ke depan meja stand, Astrid yang kaget, cepat meraih tangan Rima untuk ikut dan Rima pun meraih tangan Dinta, supaya tidak ketinggalan

“Kami bertiga, kak”, Astrid menunjuk dua temannya ketika namanya siap ditulis oleh kakak-kakak di meja stand pendaftaran itu

“Oke, namanya siapa ya, dan jurusan apa?”, tanya kakak-kakak itu.

Astrid, Rima dan Dinta cepat menyebutkan nama dan jurusan, dan juga nomor ponsel, ketika kakak itu tanya lagi mengenai nomor ponsel mereka. Kakak itu menjelaskan jadwal pertemuan pertama mereka, sekaligus pembukaan dan perkenalan untuk mahasiswa baru. Setelah penjelasan selesai, kakak itu memberikan semacam booklet kepada mereka bertiga. Rupanya itu daftar kegiatan, para anggota Rohis dan kegiatan-kegiatan Rohis selama setahun lalu. Tampaknya cukup menyenangkan. Rima berdoa dalam hati, semoga pilihannya tidak salah.

Setelah dari Rohis, mereka ke stand-stand perkumpulan lain. Di stand Karya Ilmiah, Rima dan Astrid menemani Dinta mendaftar, begitupun di stand Teater, Astrid mendaftar sementara Rima dan Dinta menemaninya, terakhir mereka ke stand basket, untuk Rima mendaftarkan diri. Setelah selesai mendaftar, mereka pun pergi ke mesjid untuk shalat dan kemudian makan siang.

Hari itu hari pertama Rima di kampus barunya. Tapi dia sudah optimis, karena dia sudah punya dua sahabat baru dan juga semua tampak baik-baik saja, dan semua tampak memotivasi para calon mahasiswa untuk maju dan berkembang di kampus itu.

Hari itu juga, hari Rima dan dua sahabatnya memulai perjalanan hijrah mereka, menjadi muslimah yang matang di masa depan, tanpa mereka menyadarinya. Dengan segala keceriaan dan semangat, mereka bertiga menjalani hari itu dan sisa hari-hari Masa Orientasi Kampus dengan sikap optimis.

******************************************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab VII- Astrid Berhijab! (Bagian 2)

  “ Well, kalau Astrid berdialektika karena kecintaannya dengan alam, maka aku berdialektika karena..hmm..apa..ya, namanya, budaya, mungkin,...