Senin, 02 Februari 2026

BAB IV - Jadi Anak Rohis!

 Dua minggu telah berlalu sejak Masa Orientasi Kampus selesai. Rima dan kedua temannya mulai menjalani hari-hari pertama mereka kuliah. Ternyata jadwal kuliah Rima masih bisa menyesuaikan dengan jadwal kerjanya. Ia kuliah pagi sampai siang jam dua, hanya dari hari Senin sampai Rabu. Sementara hari Kamis sampai dengan Sabtu, ia kuliah jam satu siang sampai dengan jam empat sore. Bagaimanapun, tugas utamanya di kantor, yaitu bersih-bersih sebelum jam masuk dan pulang kantor, juga membuka dan menutup kantor, menyerahkan kunci dan menerima kunci dari security kantor, masih bisa dia jalankan dengan baik. Kebetulan security kantor setiap hari datang jam tujuh pagi, tepat dengan waktu Rima sudah menyelesaikan tugas bersih-bersihnya dan membuka kantor, lalu ia berangkat ke kampus. Jadi setiap pagi ia membersihkan semua ruang di kantor, membuka kantor dan menyerahkan kuncinya kepada security kantor, dan langsung berangkat menuju stasiun untuk naik kereta ke stasiun kampusnya. Setiap hari security biasa pulang jam 7 malam. Jadi, masih sempat untuk Rima bertemu security setiap pagi dan malam untuk menyerahkan dan menerima kunci kantor.

Rima biasa janjian bertemu Astrid di stasiun. Astrid ke kampus kadang naik kereta, sama seperti Rima, kadang ikut Dinta, dan mereka janjian di stasiun yang searah dengan jalur Dinta pulang dan pergi ke kampus, kadang  Astrid naik bis dan kadang juga Astrid membawa motor. Rupanya Astrid cukup kreatif dalam memilih sarana transportasi untuk ia berangkat dan pulang kuliah.

Hari-hari pertama mereka menjalani kuliah, mereka jalani dengan bersemangat. Rima mulai menghafal nama-nama teman sekelasnya yang berjumlah 40 orang, nama dosen-dosen dan petugas lain di kampus. Ia suka dengan suasana kampusnya. Suasana kantin, suasana perpustakaan, gedung dekanat, dan kegiatan mahasiswa yang bertebaran di sekitar kampus. Termasuk kegiatan Kerohanian Islam, atau biasanya disebut rohis.

*****************************************************

Hari minggu, sesuai jadwal pada waktu pendaftaran, adalah jadwal pertemuan pertama, pembukaan dan perkenalan anggota Rohis baru, yaitu penerimaan anggota rohis mahasiswa baru Fakultas Ekonomi. Rima, Dinta dan Astrid sudah menerima pesan teks reminder atau pengingat mengenai acara tersebut di ponsel mereka sejak tiga hari sebelum hari Minggu. Pesan teks pengingat itu, tentu dari pengurus rohis dan panitia acara pembukaan. Menurut pesan teks yang mereka terima di ponsel, acara pembukaan akan dimulai di Masjid Universitas. Setelah mengikuti beberapa acara di masjid Universitas, mereka baru akan ke Fakultas untuk perkenalan dengan anggota rohis Fakultas. Rima, Dinta dan Astrid menyiapkan diri setelah mendapatkan pesan itu. Mereka janjian lagi seperti hari pertama mereka pada waktu Masa Orientasi Kampus. Mereka akan bertemu di gerbang kampus dan kemudian sama-sama mengikuti acara pembukaan di masjid Universitas.

Rima sedikit deg-deg-an menghadapi semua rutinitas barunya. Semuanya begitu berbeda dengan apa yang ia hadapi sebelumnya ketika masih SMK. Rutinitas kantor, kuliah, dan sekarang mungkin ditambah dengan rutinitas rohis. Tapi semuanya itu membuat Rima bersemangat, dan Rima bersemangat mengikuti pembukaan rohis pada hari Minggu nanti.

***********************************************

Suasana di masjid Kampus pada hari minggu sangat ramai. Rupanya Perkumpulan Kerohanian Islam Universitas mengundang semua rohis fakultas untuk mengikuti acara di masjid Universitas. Di  sekitar masjid, di pelataran parkir, ada bazaar yang menjual makanan dan minuman. Kebanyakan makanan kecil dan minuman dingin. Ada juga stand-stand tempat berkumpul rohis dari tiap-tiap fakultas. Stand rohis Fakultas Ekonomi ada di dekat pintu masuk masjid. Rima, Dinta dan Astrid segera melapor bahwa mereka hadir, untuk diverifikasi oleh mbak-mbak panitia acara di rohis yang telah mendaftarkan nama mereka ketika Masa Orientasi Kampus. Nama Rima, Dinta dan Astrid ternyata sudah ada dalam daftar anggota baru rohis Fakultas Ekonomi. Kakak yang bertugas di stand tersebut kemudian memberikan tanda pada nama-nama mereka, dan meminta mereka memberikan paraf kehadiran. Setelah itu, mereka diberi sebuah kotak makan yang isinya camilan dan air mineral gelas, dan dipersilahkan masuk. Kakak panitia itu bilang, setelah acara di masjid dengan rohis Universitas, mereka akan ada acara sendiri untuk Fakultas.

Rima, Dinta dan Astrid kemudian diberikan nomor telfon seorang kakak muslimah yang menjadi koordinator anggota akhwat (perempuan) yang baru. Mereka bertiga diminta untuk berkoordinasi dengan kakak itu selama acara di Masjid, dan bergabung dengan kakak itu dan teman dari Fakultas Ekonomi lainnya selama acara di Masjid.

Rupanya Rohis Universitas, atau biasa disebut DKM Masjid Al-Aliim, nama Masjid Universitas, mengundang Ustadz kenamaan yang biasa tampil di TV. Ustadz itu populer karena dia seorang doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir, tapi tetap bisa membawakan ceramah dengan kocak, sesuai dengan audiens dimana ia memberikan ceramah. Rima, Astrid dan Dinta, mendengarkan ceramah Ustadz itu, setelah mereka menghubungi koordinator Fakultas melalui pesan teks. Oleh Kak Olivia, atau biasa dipanggil mbak Oliv, yang adalah koordinator untuk anggota baru Rohis akhwat, mereka diberitahu susunan acara hari itu. Oleh karena itu, mereka tidak boleh berpencar dari rombongan Fakultas Ekonomi.

Kak Olivia memberitahu semua akhwat anggota baru Rohis Fakultas Ekonomi, semua hal yang perlu diketahui oleh para anggota baru, yang berjumlah sepuluh orang. Kak Olivia memberitahu, nama perkumpulan kerohanian Islam Fakultas Ekonomi untuk akhwat adalah Keputrian DKM An-Nuur. Nama An-Nuur, sesuai nama mushola mungil yang nyaman di Fakultas mereka. Untuk perkumpulan kerohanian Islam Fakultas Ekonomi, baik akhwat maupun ikhwan, disebut DKM An-Nuur.  Kegiatan yang wajib diikuti oleh para akhwat anggota baru, hanyalah kajian pada setiap hari Jum’at sebelum waktu sholat Jum’at dan kajian bersama dengan DKM Masjid Universitas setiap hari Minggu pagi. Selain itu, mereka bebas mau ikut atau tidak, kalau ada kajian-kajian yang dilaksanakan oleh DKM Fakultas dan DKM Universitas.

Mbak Oliv menjelaskan, hari ini acara mereka adalah mengikuti rangkaian acara DKM Universitas, yaitu ceramah dari Ustadz yang sering tampil di TV itu, lalu sesi perkenalan rohis dari masing-masing Fakultas dan perkenalan anggota baru tiap-tiap rohis fakultas, sesi foto-foto dengan Ustadz undangan tersebut, dan terakhir penjelasan Ketua DKM Masjid Universitas Al-Aliim mengenai visi misi dan kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh DKM Masjid Universitas tersebut. Menjadi anggota DKM Fakultas berarti menjadi anggota DKM Universitas juga, karena DKM Fakultas berkoordinasi dengan DKM Universitas, dan sering mengadakan kajian maupun acara bersama.

Rima, Astrid dan Dinta mengikuti acara di masjid dengan tertib, sesuai arahan Kak Oliv. Ketika menunggu giliran untuk sesi foto DKM An-Nuur dengan Ustadz undangan dan pengurus DKM Universitas Al-Aliim, mereka bertiga diajak ngobrol oleh Kak Oliv,

“Kalian bertiga, dulu waktu SMA anggota rohis juga?” tanya Kak Oliv, matanya pertama-tama tertuju pada Astrid, yang hari itu, walaupun sebenarnya ia belum berjilbab, tapi pada hari itu, mengikuti acara dengan menggunakan baju muslim, lengkap dengan kerudung jilbabnya.

“Ehmm…saya…enggak, kak”, jawab Astrid jujur, “Saya waktu SMA ikut ekskul Pecinta Alam”, jawabnya lagi, menjelaskan tanpa diminta oleh Kak Oliv. Kedua temannya tertawa pelan, cekikikan mendengar jawaban jujurnya itu.

Tadi pagi, Astrid naik kereta dan dia bertemu dengan Dinta dan Rima di depan stasiun Universitas. Rima dan Dinta sempat dibuat heran dengan penampilan Astrid yang menggunakan busana muslimah, tapi mereka tampak kagum dengan Astrid yang tomboy tampak menjadi lebih kalem. Rima dan Dinta cekikikan sewaktu pertamakali melihat Astrid,

“Ciee….pakai kerudung niih…”, Dinta cekikikan melihat Astrid, “jadi beda, Astrid..bikin pangling, tadi hampir ga ngenalin”, kata Dinta masih sambil cekikikan

“Iya, bener..tambah manis”, tambah Rima sambil juga cekikikan sama seperti Dinta, “mulai jadi jilbaber hari ini?” tanya Rima lagi sambil cekikikan

“Enggak, cuma hari ini aja”, jawab Astrid singkat sambil tersipu malu digoda kedua temannya, “yuk ah, keburu dimulai acaranya”, ajaknya untuk mengakhiri ledekan dan cekikikan kedua temannya itu.

“Nah, kalau..ukhti…siapa namanya, Rima?”, suara kak Oliv mengagetkan lamunan Rima yang mengingat kejadian ketika mereka pertamakali melihat Astrid berkerudung tadi pagi

“Saya..eh..ehm.., saya anggota Rohis waktu di SMK, tapi kelas tiga berhenti, karena anak kelas tiga sudah tidak boleh ikut ekskul, untuk ujian kelulusan”, jawab Rima lengkap, juga tanpa ditanya. Kedua temannya tertawa, karena Rima ternyata sama seperti Astrid, menjawab tanpa ditanya

Kak Oliv terseyum mendengar jawaban-jawaban Rima dan Astrid, dan  melihat mereka saling menertawakan dengan bercanda

“Nah, kalau..namanya.., Dinta, ya? Ikut rohis waktu SMA?”, tanya kak Oliv lagi

“Eh..ehm.., enggak, Kak. Tapi saya ikut kursus tahsin Al-Qur’an di lembaga Islam Az-Zakiiy, dan kalau ada acara kajian diluar tahsin, dan saya ada waktu luang, saya sering ikut kajian di lembaga itu juga”, Dinta tak kalah memberi penjelasan lengkap kepada Kak Oliv. Kak Oliv tersenyum semakin lebar,

Na’am, sekarang giliran kita foto dengan semua pengurus DKM Universitas dan Fakultas. Fotonya nanti akan dikirim ke groupchat dan nomor masing-masing, juga akan dipajang di website dan blog DKM Fakultas. Yuk, kita ke depan, untuk maju dan berfoto. Tuh, DKM Fakultas Hukum udah selesai, sekarang giliran DKM Fakultas Ekonomi An-Nuur”, ajak Kak Oliv lagi, sambil maju ke depan.

Anggota DKM An-Nuur yang lainnya banyak yang sudah maju ke depan. Akhwat di sebelah kanan. Dan ikhwan sebelah kiri, dipisahkan oleh mic yang tadi digunakan oleh Ustadz untuk berceramah.

Setelah selesai sesi foto-foto dan penjelasan Ketua DKM Al-Aliim mengenai visi misi dan kegiatan DKM Universitas, juga acara pembukaan dan penerimaan secara simbolik yang menjadi tanda diterimanya semua mahasiswa baru yang mendaftar sebagai anggota rohis, acara DKM di Masjid Universitas selesai. Acara setelah itu bebas, sebelum setengah jam lagi akan dimulai acara di Fakultas. Rima, Dinta dan Astrid memanfaatkan waktu luang tersebut dengan mengunjungi bazaar dan berkumpul di mobil Dinta di parkiran, untuk rehat dan makan makanan kecil yang mereka beli di bazaar. Sejauh ini acaranya cukup padat, tapi Rima, Dinta dan Astrid masih cukup punya tenaga dan semangat untuk mengikuti acara sampai selesai.

********************************************

Acara DKM An-Nuur di Fakultas Ekonomi ternyata juga cukup padat. Dimulai dari pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, pidato Pembina DKM An-Nuur yang juga adalah Pembantu Rektor I, disusul dengan perkenalan Dewan Pembina yang terdiri dari Pembantu Rektor, Dekan, dan dosen-dosen Fakultas Ekonomi. Ternyata diantara pembina tersebut, ada seorang dosen akhwat yang merupakan alumni Universitas Nusantara, yang juga alumni Universitas Al-Azhar ketika S3. Dekan-dekan pun ada yang lulusan Universitas Al-Azhar, juga Ummul Quro. Beliau- beliau itu mengajar untuk program Ekonomi Syariah. Pada waktu berpidato, para Pembina memberikan sedikit cerita mengenai latar belakang kehidupan mereka. Ternyata, mereka semua telah membaca banyak kitab Islam. Rima sempat melirik Astrid yang tercengang ketika mendengar semua cerita kehidupan para Dewan Pembina DKM An-Nuur.

Setelah pidato Dewan Pembina dan perkenalan pengurus DKM An-Nuur, yaitu Ketua DKM yang adalah seorang mahasiswa ikhwan senior dan perkenalan pengurus lainnya, acara dilanjutkan dengan sedikit tausiyah dari salah seorang Pembina. Setelah itu, ikhwan dan akhwat dipersilakan untuk melanjutkan acara masing-masing. Kak Oliv, meminta Rima, Astrid dan Dinta untuk berkumpul bersama Kak Oliv dan teman-teman lain anggota baru DKM An-Nuur.

Anggota baru Keputrian DKM An-Nuur ada sepuluh orang, termasuk Rima, Dinta dan Astrid. Jadi ada tujuh orang selain mereka. Pengurus Keputrian DKM An-Nuur yang lama ada 18 orang, jadi dengan anggota baru, semua berjumlah 28 orang. Anggota baru dan pengurus lama saling berkenalan. Setelah itu, anggota baru dibagi dua kelompok, masing- masing lima orang dan mereka duduk melingkar di dalam mushola untuk mendengarkan penjelasan koordinator masing-masing kelompok. Koordinatornya tentu adalah pengurus lama Keputrian, dan koordinator kelompok Rima masih Kak Oliv. Rima, Dinta dan Astrid masih dikumpulkan dalam satu kelompok. Ketika berkumpul melingkar, Kak Oliv menjelaskan semua hal mengenai Keputrian. Divisi- divisi di Keputrian dan tugas-tugasnya, kegiatan yang selama ini diadakan Keputrian, termasuk kegiatan yang selalu harus diadakan seperti kegiatan kurban pada hari Idul Adha, mentoring pada waktu bulan Ramadhan, kajian rutin, dan lain-lain.

Ketika sesi tanya jawab, Kak Oliv bertanya kepada anggota baru kelompoknya, mengenai tujuan dan target mereka memilih untuk bergabung dengan DKM An-Nuur. Yani dan Sita, dua teman lain dalam kelompok mereka, menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu karena sejak SMP mereka sudah ikut ekskul rohis di sekolah. Ketika giliran Astrid ditanya, dia tampak ragu dan bingung, akhirnya dia malah bertanya balik kepada Kak Oliv,

“Kak..eh.., mm, sebelum saya jawab, apakah saya boleh tanya?”

“Ya, tentu saja, boleh”, jawab Kak Oliv sambil tersenyum

“Gini kak, tadi sewaktu mendengar penjelasan para anggota Dewan Pembina, sepertinya soleh dan soleha sekali. Bahkan Bu Ummi, selain lulusan Universitas Cairo Al-Azhar, ternyata juga anak Kyai. Sewaktu madrasah, di madrasah Islam dan pesantren”, Astrid menjelaskan latar belakang pertanyaannya,

“Ya, lalu kenapa?”, tanya Kak Oliv menyimak penjelasan Astrid dengan teliti

“Maksud saya Kak, kalau sudah begitu, pastilah, Bu Ummi taqwa, kehidupannya Islami semua.., kayak gampang masuk surga, gitu, kak”, lanjut Astrid lagi, polos

Rima dan Dinta, tertawa mendengar penjelasan Astrid. Yani dan Sita sama- sama ikut cekikikan menahan tawa

“Amiin…insya Allah beliau masuk surga, begitu juga kita”, Kak Oliv juga menjawab sambil menahan tawa, tapi kata ‘amin’ nya diikuti oleh anggota kelompoknya, “Nah, lalu pertanyaannya, Astrid?” Kak Oliv lanjut bertanya, dia jadi penasaran, kemana arah pertanyaan yang akan diajukan Astrid

“Lalu bagaimana dengan kita, Kak?”, Astrid langsung melontarkan pertanyaannya, “terutama..saya..”, lanjutnya dengan suara agak pelan, “saya kan baru sekarang jadi anggota rohis, baru mau belajar Islam”, dia memandang dua temannya, Rima dan Dinta yang juga memandang Astrid dengan penasaran. Apa sih maksud pertanyaan Astrid?

“Ehm..”, Astrid berusaha menjelaskan maksud pertanyaannya, “Dibanding dengan Bu Ummi, yang sepertinya hidup dalam lingkungan Islami dan banyak ilmunya.., apakah seorang seperti saya..”, Astrid jadi agak gugup, “bisa masuk surga?”, dia langsung to the point ke inti pertanyaannya

“Hahahahaha…”, Rima dan Dinta tidak bisa menahan tawanya. Membuat Kak Oliv, Yani dan Sita ikut tertawa. Astrid jadi tersipu malu, wajahnya memerah

“Ehm!”, Kak Oliv berdehem, untuk menghentikan tawa Rima dan Dinta, “jadi..tujuan Astrid ikut kegiatan rohis, supaya masuk surga?” tanya Kak Oliv lagi dengan ekspresi geli memandang Astrid

“Iya, Kak!”, jawab Astrid pelan dan ragu, dia memandang kedua temannya sambil masih tersipu malu, sementara Rima dan Dinta  masih cekikikan

“Tujuan yang keren”, Kak Oliv memotong cekikikan Rima dan Dinta, “seorang muslim memang harus punya tujuan masuk surga dalam hidupnya. Kita memang harus sering ingat, tujuan hidup kita sebenarnya adalah di akhirat dan bahwa dunia ini hanya sementara”, Kak Oliv menjelaskan cukup panjang, supaya Astrid tidak terus merasa malu

“Alhamdulillah”, Astrid menjawab pasti dengan ekspresi lega, membuat kedua sahabatnya jadi cekikikan lagi

Ketika giliran Rima ditanya, dia memilih menjawab dengan jawaban yang sama dengan Yani dan Sita, bahwa dia ikut ekskul rohis waktu di SMK. Ketika giliran Dinta ditanya, dia menjawab dengan jawaban yang bagus, yang tampaknya sudah ia pikirkan sebelum gilirannya ditanya,

“Terakhir, Dinta.., tujuannya masuk DKM apa?”, tanya Kak Oliv dengan memandang Dinta sambil tersenyum

“Saya ingin menambah ilmu keislaman, menambah teman, wawasan dan pengalaman dan supaya taqwa dan menjadi muslimah yang baik, Kak”, jawabnya mantap

“Cieee..”, Astrid spontan merespon jawaban Dinta, sepertinya dia agak balas dendam karena tadi ditertawai Dinta dan Rima.

Dinta melirik Astrid dan Rima membuat Rima jadi cekikikan. Jadilah, kali ini Astrid dan Rima yang cekikikan dengan jawaban Dinta, dan Dinta yang jadi tersipu malu dengan pipi yang jadi merah jambu

“Ya, semua jawabannya keren-keren”, Kak Oliv langsung melanjutkan untuk, lagi-lagi menyudahi cekikikan diantara ketiga sahabat ini, “Insya Allah, kita semua akan berusaha mencapai tujuan kita dengan sama-sama berikhtiar dalam kegiatan-kegiatan di DKM An-Nuur ini ya, adik-adik”, lanjut Kak Oliv sambil tersenyum hangat pada anggota kelompoknya.

“Nah sekarang”, Kak Oliv masih melanjutkan, “kalian keberatan ga, kalo kita ngaji Qur’an, bareng dan satu-satu?” tanya Kak Oliv memandang kelima anggota kelompoknya, dan dijawab hampir berbarengan dengan jawaban “tidak keberatan” oleh anggota kelompoknya

Ternyata, anggota kelompoknya pintar mengaji semua. Rima, Yani dan Sita, bahkan sudah terbiasa mengaji  dan tadarus bersama ketika masih jadi anggota rohis sewaktu sekolah dulu. Dinta, dia memang sudah lulus belajar tahsin. Diluar dugaan, ternyata Astrid bisa mengaji dengan lancar. Ketika ditanya oleh Kak Oliv, kata Astrid, memang keluarganya, terutama orangtuanya biasa mengaji setiap pagi. Dan kedua orangtuanya membiasakan semua anak-anaknya mengaji. Jadi, walaupun tomboy dan dulunya anggota ekskul Pecinta Alam, tapi Astrid rutin membaca Al-Qur’an, apalagi kalau di rumah dengan orangtuanya.

Kak Oliv kemudian menjelaskan, ada kegiatan tahsin bagi siapa saja yang mau memperbaiki dan memperbagus bacaan Al-Qur’annya. Diluar dugaan lagi, ternyata Astrid yang paling bersemangat mengikuti kegiatan itu. Sedangkan Rima, ia malah tidak bisa ikut, sebab bentrok dengan jadwal kerjanya. Sementara Dinta, merasa sudah pernah ikut, ingin ikut kegiatan tambahan yang lain saja, kalau DKM ada kegiatan yang lain lagi. Sementara Yani dan Sita, sudah tentu, karena bacaan Al-Qur’annya sudah bagus, juga merasa tidak perlu ikut tahsin lagi. Jadilah, di kelompoknya, cuma Astrid yang ikut tahsin, sebagai kegiatan tambahan, diluar kegiatan wajib, kajian hari Jum’at dan Minggu.

Rima dan Dinta memandang Astrid dengan kagum. Tidak disangka, sahabat mereka yang tomboy ternyata yang paling bersemangat dengan kegiatan DKM,

“Astrid, bener-bener serius mau masuk surga?”, tanya Rima dengan polos, karena melihat semangat Astrid

“Ya, iyya laah..”, lagi-lagi Astrid menjawab spontan, “Eh, ehm..insyaAllah..,aamiiin”, ucapnya lagi, memperbaiki jawaban spontannya

Rima dan Astrid jadi sama-sama terkikik. Astrid juga terkikik dengan jawabannya sendiri yang berusaha ia perbaiki agar terbiasa berucap dengan ucapan Islami.

**********************************************

Acara hari itu diakhiri dengan makan tumpeng dan kue-kue kecil. Ternyata, setelah acara masing-masing dan terpisah antara akhwat dan ikhwan, ada acara gabungan, yaitu acara tumpengan sebagai acara puncak dan acara simbolis penerimaan anggota DKM An-Nuur, yang ditandai dengan memotong tumpeng oleh Ketua Dewan Pembina. Rima, Dinta dan Astrid yang sudah cukup kelaparan, tentu saja mengikuti acara tumpengan itu dengan perasaan senang dan bersyukur. Eksptresi mereka tampak berseri-seri.

Astrid yang sejak awal sudah bersemangat, semakin semangat ketika menerima piring untuk mengambil nasi di piring tumpeng. Ia mengambil dengan senyum lebar ke arah Rima dan Dinta. Kak Oliv diam-diam memperhatikan mereka bertiga dengan tersenyum. Ia senang dengan semangat ketiga adik juniornya itu. Maka ia mengajak anggota kelompoknya untuk duduk melingkar dan makan bareng lagi. 

Setelah acara tumpengan, penutupan dan doa, Rima, Astrid dan Dinta pulang dengan mobil Dinta. Rima minta di drop sampai stasiun saja. Astrid pun turun di stasiun. Mereka akan sama-sama naik kereta KRL. Sebelum berpisah mereka saling mengucapkan salam dan janji bertemu besok, pada hari kuliah.

Rima, Astrid dan Dinta sama-sama bersyukur bisa menghadiri dan mengikuti semua acara hari itu dengan lancar. Rima, Astrid dan Dinta sama-sama optimis bahwa mereka bisa mengikuti kegiatan-kegiatan di DKM dengan tidak mengganggu kuliah. Mereka bertiga sama-sama yakin bahwa mereka bertiga sama-sama ingin menjadi muslimah yang bertaqwa. Mereka bertiga juga yakin bahwa mereka bisa mewujudkannya bersama dalam persahabatan mereka.

****************************************************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab VII- Astrid Berhijab! (Bagian 2)

  “ Well, kalau Astrid berdialektika karena kecintaannya dengan alam, maka aku berdialektika karena..hmm..apa..ya, namanya, budaya, mungkin,...