Dua minggu telah berlalu sejak Masa Orientasi Kampus selesai. Rima dan kedua temannya mulai menjalani hari-hari pertama mereka kuliah. Ternyata jadwal kuliah Rima masih bisa menyesuaikan dengan jadwal kerjanya. Ia kuliah pagi sampai siang jam dua, hanya dari hari Senin sampai Rabu. Sementara hari Kamis sampai dengan Sabtu, ia kuliah jam satu siang sampai dengan jam empat sore. Bagaimanapun, tugas utamanya di kantor, yaitu bersih-bersih sebelum jam masuk dan pulang kantor, juga membuka dan menutup kantor, menyerahkan kunci dan menerima kunci dari security kantor, masih bisa dia jalankan dengan baik. Kebetulan security kantor setiap hari datang jam tujuh pagi, tepat dengan waktu Rima sudah menyelesaikan tugas bersih-bersihnya dan membuka kantor, lalu ia berangkat ke kampus. Jadi setiap pagi ia membersihkan semua ruang di kantor, membuka kantor dan menyerahkan kuncinya kepada security kantor, dan langsung berangkat menuju stasiun untuk naik kereta ke stasiun kampusnya. Setiap hari security biasa pulang jam 7 malam. Jadi, masih sempat untuk Rima bertemu security setiap pagi dan malam untuk menyerahkan dan menerima kunci kantor.
Rima biasa janjian bertemu Astrid di stasiun.
Astrid ke kampus kadang naik kereta, sama seperti Rima, kadang ikut Dinta, dan
mereka janjian di stasiun yang searah dengan jalur Dinta pulang dan pergi ke
kampus, kadang Astrid naik bis dan
kadang juga Astrid membawa motor. Rupanya Astrid cukup kreatif dalam memilih
sarana transportasi untuk ia berangkat dan pulang kuliah.
Hari-hari pertama mereka menjalani kuliah, mereka
jalani dengan bersemangat. Rima mulai menghafal nama-nama teman sekelasnya yang
berjumlah 40 orang, nama dosen-dosen dan petugas lain di kampus. Ia suka dengan
suasana kampusnya. Suasana kantin, suasana perpustakaan, gedung dekanat, dan
kegiatan mahasiswa yang bertebaran di sekitar kampus. Termasuk kegiatan
Kerohanian Islam, atau biasanya disebut rohis.
*****************************************************
Hari minggu, sesuai jadwal pada waktu
pendaftaran, adalah jadwal pertemuan pertama, pembukaan dan perkenalan anggota
Rohis baru, yaitu penerimaan anggota rohis mahasiswa baru Fakultas Ekonomi.
Rima, Dinta dan Astrid sudah menerima pesan teks reminder atau pengingat
mengenai acara tersebut di ponsel mereka sejak tiga hari sebelum hari Minggu. Pesan
teks pengingat itu, tentu dari pengurus rohis dan panitia acara pembukaan. Menurut
pesan teks yang mereka terima di ponsel, acara pembukaan akan dimulai di Masjid
Universitas. Setelah mengikuti beberapa acara di masjid Universitas, mereka
baru akan ke Fakultas untuk perkenalan dengan anggota rohis Fakultas. Rima,
Dinta dan Astrid menyiapkan diri setelah mendapatkan pesan itu. Mereka janjian
lagi seperti hari pertama mereka pada waktu Masa Orientasi Kampus. Mereka akan
bertemu di gerbang kampus dan kemudian sama-sama mengikuti acara pembukaan di
masjid Universitas.
Rima sedikit deg-deg-an menghadapi semua
rutinitas barunya. Semuanya begitu berbeda dengan apa yang ia hadapi sebelumnya
ketika masih SMK. Rutinitas kantor, kuliah, dan sekarang mungkin ditambah
dengan rutinitas rohis. Tapi semuanya itu membuat Rima bersemangat, dan Rima
bersemangat mengikuti pembukaan rohis pada hari Minggu nanti.
***********************************************
Suasana di masjid Kampus pada hari minggu sangat
ramai. Rupanya Perkumpulan Kerohanian Islam Universitas mengundang semua rohis
fakultas untuk mengikuti acara di masjid Universitas. Di sekitar masjid, di pelataran parkir, ada
bazaar yang menjual makanan dan minuman. Kebanyakan makanan kecil dan minuman
dingin. Ada juga stand-stand tempat berkumpul rohis dari tiap-tiap fakultas.
Stand rohis Fakultas Ekonomi ada di dekat pintu masuk masjid. Rima, Dinta dan
Astrid segera melapor bahwa mereka hadir, untuk diverifikasi oleh mbak-mbak
panitia acara di rohis yang telah mendaftarkan nama mereka ketika Masa
Orientasi Kampus. Nama Rima, Dinta dan Astrid ternyata sudah ada dalam daftar
anggota baru rohis Fakultas Ekonomi. Kakak yang bertugas di stand tersebut
kemudian memberikan tanda pada nama-nama mereka, dan meminta mereka memberikan
paraf kehadiran. Setelah itu, mereka diberi sebuah kotak makan yang isinya
camilan dan air mineral gelas, dan dipersilahkan masuk. Kakak panitia itu
bilang, setelah acara di masjid dengan rohis Universitas, mereka akan ada acara
sendiri untuk Fakultas.
Rima, Dinta dan Astrid kemudian diberikan nomor
telfon seorang kakak muslimah yang menjadi koordinator anggota akhwat
(perempuan) yang baru. Mereka bertiga diminta untuk berkoordinasi dengan kakak
itu selama acara di Masjid, dan bergabung dengan kakak itu dan teman dari
Fakultas Ekonomi lainnya selama acara di Masjid.
Rupanya Rohis Universitas, atau biasa disebut DKM
Masjid Al-Aliim, nama Masjid Universitas, mengundang Ustadz kenamaan yang biasa
tampil di TV. Ustadz itu populer karena dia seorang doktor lulusan Universitas
Al-Azhar Mesir, tapi tetap bisa membawakan ceramah dengan kocak, sesuai dengan
audiens dimana ia memberikan ceramah. Rima, Astrid dan Dinta, mendengarkan
ceramah Ustadz itu, setelah mereka menghubungi koordinator Fakultas melalui
pesan teks. Oleh Kak Olivia, atau biasa dipanggil mbak Oliv, yang adalah koordinator
untuk anggota baru Rohis akhwat, mereka diberitahu susunan acara hari itu. Oleh
karena itu, mereka tidak boleh berpencar dari rombongan Fakultas Ekonomi.
Kak Olivia memberitahu semua akhwat anggota baru
Rohis Fakultas Ekonomi, semua hal yang perlu diketahui oleh para anggota baru,
yang berjumlah sepuluh orang. Kak Olivia memberitahu, nama perkumpulan
kerohanian Islam Fakultas Ekonomi untuk akhwat adalah Keputrian DKM An-Nuur.
Nama An-Nuur, sesuai nama mushola mungil yang nyaman di Fakultas mereka. Untuk perkumpulan
kerohanian Islam Fakultas Ekonomi, baik akhwat maupun ikhwan, disebut DKM
An-Nuur. Kegiatan yang wajib diikuti
oleh para akhwat anggota baru, hanyalah kajian pada setiap hari Jum’at sebelum
waktu sholat Jum’at dan kajian bersama dengan DKM Masjid Universitas setiap
hari Minggu pagi. Selain itu, mereka bebas mau ikut atau tidak, kalau ada
kajian-kajian yang dilaksanakan oleh DKM Fakultas dan DKM Universitas.
Mbak Oliv menjelaskan, hari ini acara mereka
adalah mengikuti rangkaian acara DKM Universitas, yaitu ceramah dari Ustadz
yang sering tampil di TV itu, lalu sesi perkenalan rohis dari masing-masing
Fakultas dan perkenalan anggota baru tiap-tiap rohis fakultas, sesi foto-foto
dengan Ustadz undangan tersebut, dan terakhir penjelasan Ketua DKM Masjid
Universitas Al-Aliim mengenai visi misi dan kegiatan-kegiatan yang diadakan
oleh DKM Masjid Universitas tersebut. Menjadi anggota DKM Fakultas berarti
menjadi anggota DKM Universitas juga, karena DKM Fakultas berkoordinasi dengan
DKM Universitas, dan sering mengadakan kajian maupun acara bersama.
Rima, Astrid dan Dinta mengikuti acara di masjid
dengan tertib, sesuai arahan Kak Oliv. Ketika menunggu giliran untuk sesi foto
DKM An-Nuur dengan Ustadz undangan dan pengurus DKM Universitas Al-Aliim,
mereka bertiga diajak ngobrol oleh Kak Oliv,
“Kalian bertiga, dulu waktu SMA anggota rohis
juga?” tanya Kak Oliv, matanya pertama-tama tertuju pada Astrid, yang hari itu,
walaupun sebenarnya ia belum berjilbab, tapi pada hari itu, mengikuti acara
dengan menggunakan baju muslim, lengkap dengan kerudung jilbabnya.
“Ehmm…saya…enggak, kak”, jawab Astrid jujur,
“Saya waktu SMA ikut ekskul Pecinta Alam”, jawabnya lagi, menjelaskan tanpa
diminta oleh Kak Oliv. Kedua temannya tertawa pelan, cekikikan mendengar
jawaban jujurnya itu.
Tadi pagi, Astrid naik kereta dan dia bertemu
dengan Dinta dan Rima di depan stasiun Universitas. Rima dan Dinta sempat
dibuat heran dengan penampilan Astrid yang menggunakan busana muslimah, tapi
mereka tampak kagum dengan Astrid yang tomboy tampak menjadi lebih kalem. Rima
dan Dinta cekikikan sewaktu pertamakali melihat Astrid,
“Ciee….pakai kerudung niih…”, Dinta cekikikan
melihat Astrid, “jadi beda, Astrid..bikin pangling, tadi hampir ga ngenalin”,
kata Dinta masih sambil cekikikan
“Iya, bener..tambah manis”, tambah Rima sambil
juga cekikikan sama seperti Dinta, “mulai jadi jilbaber hari ini?” tanya Rima
lagi sambil cekikikan
“Enggak, cuma hari ini aja”, jawab Astrid singkat
sambil tersipu malu digoda kedua temannya, “yuk ah, keburu dimulai acaranya”,
ajaknya untuk mengakhiri ledekan dan cekikikan kedua temannya itu.
“Nah, kalau..ukhti…siapa namanya, Rima?”, suara
kak Oliv mengagetkan lamunan Rima yang mengingat kejadian ketika mereka
pertamakali melihat Astrid berkerudung tadi pagi
“Saya..eh..ehm.., saya anggota Rohis waktu di
SMK, tapi kelas tiga berhenti, karena anak kelas tiga sudah tidak boleh ikut ekskul,
untuk ujian kelulusan”, jawab Rima lengkap, juga tanpa ditanya. Kedua temannya
tertawa, karena Rima ternyata sama seperti Astrid, menjawab tanpa ditanya
Kak Oliv terseyum mendengar jawaban-jawaban Rima
dan Astrid, dan melihat mereka saling
menertawakan dengan bercanda
“Nah, kalau..namanya.., Dinta, ya? Ikut rohis
waktu SMA?”, tanya kak Oliv lagi
“Eh..ehm.., enggak, Kak. Tapi saya ikut kursus
tahsin Al-Qur’an di lembaga Islam Az-Zakiiy, dan kalau ada acara kajian diluar
tahsin, dan saya ada waktu luang, saya sering ikut kajian di lembaga itu juga”,
Dinta tak kalah memberi penjelasan lengkap kepada Kak Oliv. Kak Oliv tersenyum
semakin lebar,
“Na’am, sekarang giliran kita foto dengan
semua pengurus DKM Universitas dan Fakultas. Fotonya nanti akan dikirim ke
groupchat dan nomor masing-masing, juga akan dipajang di website dan blog DKM Fakultas.
Yuk, kita ke depan, untuk maju dan berfoto. Tuh, DKM Fakultas Hukum udah
selesai, sekarang giliran DKM Fakultas Ekonomi An-Nuur”, ajak Kak Oliv lagi,
sambil maju ke depan.
Anggota DKM An-Nuur yang lainnya banyak yang
sudah maju ke depan. Akhwat di sebelah kanan. Dan ikhwan sebelah kiri,
dipisahkan oleh mic yang tadi digunakan oleh Ustadz untuk berceramah.
Setelah selesai sesi foto-foto dan penjelasan
Ketua DKM Al-Aliim mengenai visi misi dan kegiatan DKM Universitas, juga acara
pembukaan dan penerimaan secara simbolik yang menjadi tanda diterimanya semua
mahasiswa baru yang mendaftar sebagai anggota rohis, acara DKM di Masjid
Universitas selesai. Acara setelah itu bebas, sebelum setengah jam lagi akan
dimulai acara di Fakultas. Rima, Dinta dan Astrid memanfaatkan waktu luang
tersebut dengan mengunjungi bazaar dan berkumpul di mobil Dinta di parkiran,
untuk rehat dan makan makanan kecil yang mereka beli di bazaar. Sejauh ini
acaranya cukup padat, tapi Rima, Dinta dan Astrid masih cukup punya tenaga dan
semangat untuk mengikuti acara sampai selesai.
********************************************
Acara DKM An-Nuur di Fakultas Ekonomi ternyata
juga cukup padat. Dimulai dari pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, pidato
Pembina DKM An-Nuur yang juga adalah Pembantu Rektor I, disusul dengan
perkenalan Dewan Pembina yang terdiri dari Pembantu Rektor, Dekan, dan
dosen-dosen Fakultas Ekonomi. Ternyata diantara pembina tersebut, ada seorang dosen
akhwat yang merupakan alumni Universitas Nusantara, yang juga alumni
Universitas Al-Azhar ketika S3. Dekan-dekan pun ada yang lulusan Universitas
Al-Azhar, juga Ummul Quro. Beliau- beliau itu mengajar untuk program Ekonomi
Syariah. Pada waktu berpidato, para Pembina memberikan sedikit cerita mengenai
latar belakang kehidupan mereka. Ternyata, mereka semua telah membaca banyak
kitab Islam. Rima sempat melirik Astrid yang tercengang ketika mendengar semua
cerita kehidupan para Dewan Pembina DKM An-Nuur.
Setelah pidato Dewan Pembina dan perkenalan
pengurus DKM An-Nuur, yaitu Ketua DKM yang adalah seorang mahasiswa ikhwan
senior dan perkenalan pengurus lainnya, acara dilanjutkan dengan sedikit
tausiyah dari salah seorang Pembina. Setelah itu, ikhwan dan akhwat
dipersilakan untuk melanjutkan acara masing-masing. Kak Oliv, meminta Rima,
Astrid dan Dinta untuk berkumpul bersama Kak Oliv dan teman-teman lain anggota
baru DKM An-Nuur.
Anggota baru Keputrian DKM An-Nuur ada sepuluh
orang, termasuk Rima, Dinta dan Astrid. Jadi ada tujuh orang selain mereka. Pengurus
Keputrian DKM An-Nuur yang lama ada 18 orang, jadi dengan anggota baru, semua
berjumlah 28 orang. Anggota baru dan pengurus lama saling berkenalan. Setelah
itu, anggota baru dibagi dua kelompok, masing- masing lima orang dan mereka
duduk melingkar di dalam mushola untuk mendengarkan penjelasan koordinator
masing-masing kelompok. Koordinatornya tentu adalah pengurus lama Keputrian,
dan koordinator kelompok Rima masih Kak Oliv. Rima, Dinta dan Astrid masih
dikumpulkan dalam satu kelompok. Ketika berkumpul melingkar, Kak Oliv
menjelaskan semua hal mengenai Keputrian. Divisi- divisi di Keputrian dan
tugas-tugasnya, kegiatan yang selama ini diadakan Keputrian, termasuk kegiatan
yang selalu harus diadakan seperti kegiatan kurban pada hari Idul Adha,
mentoring pada waktu bulan Ramadhan, kajian rutin, dan lain-lain.
Ketika sesi tanya jawab, Kak Oliv bertanya kepada
anggota baru kelompoknya, mengenai tujuan dan target mereka memilih untuk
bergabung dengan DKM An-Nuur. Yani dan Sita, dua teman lain dalam kelompok
mereka, menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu karena sejak SMP mereka sudah
ikut ekskul rohis di sekolah. Ketika giliran Astrid ditanya, dia tampak ragu
dan bingung, akhirnya dia malah bertanya balik kepada Kak Oliv,
“Kak..eh.., mm, sebelum saya jawab, apakah saya
boleh tanya?”
“Ya, tentu saja, boleh”, jawab Kak Oliv sambil
tersenyum
“Gini kak, tadi sewaktu mendengar penjelasan para
anggota Dewan Pembina, sepertinya soleh dan soleha sekali. Bahkan Bu Ummi,
selain lulusan Universitas Cairo Al-Azhar, ternyata juga anak Kyai. Sewaktu
madrasah, di madrasah Islam dan pesantren”, Astrid menjelaskan latar belakang
pertanyaannya,
“Ya, lalu kenapa?”, tanya Kak Oliv menyimak
penjelasan Astrid dengan teliti
“Maksud saya Kak, kalau sudah begitu, pastilah,
Bu Ummi taqwa, kehidupannya Islami semua.., kayak gampang masuk surga, gitu,
kak”, lanjut Astrid lagi, polos
Rima dan Dinta, tertawa mendengar penjelasan
Astrid. Yani dan Sita sama- sama ikut cekikikan menahan tawa
“Amiin…insya Allah beliau masuk surga, begitu
juga kita”, Kak Oliv juga menjawab sambil menahan tawa, tapi kata ‘amin’ nya
diikuti oleh anggota kelompoknya, “Nah, lalu pertanyaannya, Astrid?” Kak Oliv
lanjut bertanya, dia jadi penasaran, kemana arah pertanyaan yang akan diajukan
Astrid
“Lalu bagaimana dengan kita, Kak?”, Astrid
langsung melontarkan pertanyaannya, “terutama..saya..”, lanjutnya dengan suara
agak pelan, “saya kan baru sekarang jadi anggota rohis, baru mau belajar
Islam”, dia memandang dua temannya, Rima dan Dinta yang juga memandang Astrid
dengan penasaran. Apa sih maksud pertanyaan Astrid?
“Ehm..”, Astrid berusaha menjelaskan maksud
pertanyaannya, “Dibanding dengan Bu Ummi, yang sepertinya hidup dalam
lingkungan Islami dan banyak ilmunya.., apakah seorang seperti saya..”, Astrid
jadi agak gugup, “bisa masuk surga?”, dia langsung to the point ke inti
pertanyaannya
“Hahahahaha…”, Rima dan Dinta tidak bisa menahan
tawanya. Membuat Kak Oliv, Yani dan Sita ikut tertawa. Astrid jadi tersipu
malu, wajahnya memerah
“Ehm!”, Kak Oliv berdehem, untuk menghentikan
tawa Rima dan Dinta, “jadi..tujuan Astrid ikut kegiatan rohis, supaya masuk
surga?” tanya Kak Oliv lagi dengan ekspresi geli memandang Astrid
“Iya, Kak!”, jawab Astrid pelan dan ragu, dia
memandang kedua temannya sambil masih tersipu malu, sementara Rima dan
Dinta masih cekikikan
“Tujuan yang keren”, Kak Oliv memotong cekikikan
Rima dan Dinta, “seorang muslim memang harus punya tujuan masuk surga dalam
hidupnya. Kita memang harus sering ingat, tujuan hidup kita sebenarnya adalah
di akhirat dan bahwa dunia ini hanya sementara”, Kak Oliv menjelaskan cukup
panjang, supaya Astrid tidak terus merasa malu
“Alhamdulillah”, Astrid menjawab pasti dengan
ekspresi lega, membuat kedua sahabatnya jadi cekikikan lagi
Ketika giliran Rima ditanya, dia memilih menjawab
dengan jawaban yang sama dengan Yani dan Sita, bahwa dia ikut ekskul rohis
waktu di SMK. Ketika giliran Dinta ditanya, dia menjawab dengan jawaban yang
bagus, yang tampaknya sudah ia pikirkan sebelum gilirannya ditanya,
“Terakhir, Dinta.., tujuannya masuk DKM apa?”,
tanya Kak Oliv dengan memandang Dinta sambil tersenyum
“Saya ingin menambah ilmu keislaman, menambah
teman, wawasan dan pengalaman dan supaya taqwa dan menjadi muslimah yang baik,
Kak”, jawabnya mantap
“Cieee..”, Astrid spontan merespon jawaban Dinta,
sepertinya dia agak balas dendam karena tadi ditertawai Dinta dan Rima.
Dinta melirik Astrid dan Rima membuat Rima jadi
cekikikan. Jadilah, kali ini Astrid dan Rima yang cekikikan dengan jawaban
Dinta, dan Dinta yang jadi tersipu malu dengan pipi yang jadi merah jambu
“Ya, semua jawabannya keren-keren”, Kak Oliv
langsung melanjutkan untuk, lagi-lagi menyudahi cekikikan diantara ketiga
sahabat ini, “Insya Allah, kita semua akan berusaha mencapai tujuan kita dengan
sama-sama berikhtiar dalam kegiatan-kegiatan di DKM An-Nuur ini ya, adik-adik”,
lanjut Kak Oliv sambil tersenyum hangat pada anggota kelompoknya.
“Nah sekarang”, Kak Oliv masih melanjutkan,
“kalian keberatan ga, kalo kita ngaji Qur’an, bareng dan satu-satu?” tanya Kak
Oliv memandang kelima anggota kelompoknya, dan dijawab hampir berbarengan
dengan jawaban “tidak keberatan” oleh anggota kelompoknya
Ternyata, anggota kelompoknya pintar mengaji
semua. Rima, Yani dan Sita, bahkan sudah terbiasa mengaji dan tadarus bersama ketika masih jadi anggota
rohis sewaktu sekolah dulu. Dinta, dia memang sudah lulus belajar tahsin.
Diluar dugaan, ternyata Astrid bisa mengaji dengan lancar. Ketika ditanya oleh
Kak Oliv, kata Astrid, memang keluarganya, terutama orangtuanya biasa mengaji
setiap pagi. Dan kedua orangtuanya membiasakan semua anak-anaknya mengaji.
Jadi, walaupun tomboy dan dulunya anggota ekskul Pecinta Alam, tapi Astrid rutin
membaca Al-Qur’an, apalagi kalau di rumah dengan orangtuanya.
Kak Oliv kemudian menjelaskan, ada kegiatan
tahsin bagi siapa saja yang mau memperbaiki dan memperbagus bacaan
Al-Qur’annya. Diluar dugaan lagi, ternyata Astrid yang paling bersemangat
mengikuti kegiatan itu. Sedangkan Rima, ia malah tidak bisa ikut, sebab bentrok
dengan jadwal kerjanya. Sementara Dinta, merasa sudah pernah ikut, ingin ikut
kegiatan tambahan yang lain saja, kalau DKM ada kegiatan yang lain lagi.
Sementara Yani dan Sita, sudah tentu, karena bacaan Al-Qur’annya sudah bagus,
juga merasa tidak perlu ikut tahsin lagi. Jadilah, di kelompoknya, cuma Astrid
yang ikut tahsin, sebagai kegiatan tambahan, diluar kegiatan wajib, kajian hari
Jum’at dan Minggu.
Rima dan Dinta memandang Astrid dengan kagum.
Tidak disangka, sahabat mereka yang tomboy ternyata yang paling bersemangat
dengan kegiatan DKM,
“Astrid, bener-bener serius mau masuk surga?”,
tanya Rima dengan polos, karena melihat semangat Astrid
“Ya, iyya laah..”, lagi-lagi Astrid menjawab
spontan, “Eh, ehm..insyaAllah..,aamiiin”, ucapnya lagi, memperbaiki jawaban
spontannya
Rima dan Astrid jadi sama-sama terkikik. Astrid
juga terkikik dengan jawabannya sendiri yang berusaha ia perbaiki agar terbiasa
berucap dengan ucapan Islami.
**********************************************
Acara hari itu diakhiri dengan makan tumpeng dan
kue-kue kecil. Ternyata, setelah acara masing-masing dan terpisah antara akhwat
dan ikhwan, ada acara gabungan, yaitu acara tumpengan sebagai acara puncak dan
acara simbolis penerimaan anggota DKM An-Nuur, yang ditandai dengan memotong
tumpeng oleh Ketua Dewan Pembina. Rima, Dinta dan Astrid yang sudah cukup
kelaparan, tentu saja mengikuti acara tumpengan itu dengan perasaan senang dan
bersyukur. Eksptresi mereka tampak berseri-seri.
Astrid yang sejak awal sudah bersemangat, semakin
semangat ketika menerima piring untuk mengambil nasi di piring tumpeng. Ia
mengambil dengan senyum lebar ke arah Rima dan Dinta. Kak Oliv diam-diam
memperhatikan mereka bertiga dengan tersenyum. Ia senang dengan semangat ketiga
adik juniornya itu. Maka ia mengajak anggota kelompoknya untuk duduk melingkar
dan makan bareng lagi.
Setelah acara tumpengan, penutupan dan doa, Rima,
Astrid dan Dinta pulang dengan mobil Dinta. Rima minta di drop sampai stasiun
saja. Astrid pun turun di stasiun. Mereka akan sama-sama naik kereta KRL.
Sebelum berpisah mereka saling mengucapkan salam dan janji bertemu besok, pada
hari kuliah.
Rima, Astrid dan Dinta sama-sama bersyukur bisa
menghadiri dan mengikuti semua acara hari itu dengan lancar. Rima, Astrid dan
Dinta sama-sama optimis bahwa mereka bisa mengikuti kegiatan-kegiatan di DKM
dengan tidak mengganggu kuliah. Mereka bertiga sama-sama yakin bahwa mereka
bertiga sama-sama ingin menjadi muslimah yang bertaqwa. Mereka bertiga juga
yakin bahwa mereka bisa mewujudkannya bersama dalam persahabatan mereka.
****************************************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar