Dua bulan berlalu sejak malam Rima diizinkan kuliah oleh orangtuanya. Sejak saat itu, Rima belajar keras, supaya ia bisa lulus tes masuk Perguruan Tinggi. Walaupun ia tidak mempunyai cukup biaya untuk mengikuti bimbingan belajar, tapi ia tidak putus asa. Dia meminjam buku-buku tes masuk dan buku penunjang lain dari kakak-kakak kelasnya yang juga melanjutkan kuliah. Rima juga membeli buku-buku dari toko buku bekas dan belajar dari internet. Setiap hari tidak ada yang luang baginya, pasti ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar. Ayah dan Ibunya sangat mendukung Rima, apalagi sejak Ayah membawa pulang mobil pick-up, seperti ada gairah baru dalam keluarga Rima, yang selama ini tidak punya kendaraan, kecuali motor Ayah dan Ibunya.
Mobil itu kemudian sering disewakan Ayah untuk mengangkat bahan bangunan ataupun sayur-mayur dari petani di daerah perkebunan dekat dengan wilayah kampung tempat tinggal keluarga Rima. Ayah sendiri yang menyetir, kalau Ayah sedang tidak bekerja dan libur di akhir pekan. Bahkan sepulang bekerja atau pagi-pagi sekali, Ayah sudah pergi untuk mengangkut sayur-mayur, sebelum kemudian Ayah pulang dan bersiap-siap untuk pekerjaannya sebagai pegawai rendahan di Pemda kota tempat tinggal keluarga Rima. Mobil pick-up itu juga sering dibawa tetangga dan teman Ayah untuk mengangkut bahan bangunan, jadi mobil itu sangat berguna dalam menambah penghasilan keluarga Rima. Maka Ayah dan Ibu Rima menyisihkan sedikit uang, untuk nanti mengantar Rima menjalankan tes dan tinggal di Depok untuk kuliah sambil bekerja. Orangtuanya yang seperti punya semangat baru karena penghasilan yang meningkat, terus menyemangati Rima, supaya ia bisa belajar dengan baik dan lulus tes masuk.
Dan Rima memang cukup cerdas, untuk ia yang
memang sejak sekolah telah mempelajari Akuntansi di SMK-nya yang jurusan
Akuntansi. Rima lulus tes masuk untuk jurusan pertama yang dipilihnya,
Akuntansi di Universitas Negeri di Depok. Rima segera memberi tahu Ayah dan
Ibunya. Ayah dan Ibunya merasa senang, sampai-sampai Ayah mengajak mereka
sekeluarga jalan-jalan ke Taman Wisata keluarga di Puncak, untuk merayakan
kelulusan Rima. Mereka bersenang-senang dan makan-makan. Perjalanan dengan
mobil pick-up itu, terasa sangat menyenangkan bagi Rima. Ia dan dua
adiknya duduk di bak belakang sambil bercanda dan menikmati pemandangan, dan
juga beberapa kali diperingati Ibu, untuk tidak main-main, khawatir jatuh atau
celaka. Sungguh hari yang menyenangkan, sebelum Rima bersiap-siap pindah ke
tempat tinggalnya yang baru dan memulai hidup sebagai mahasiswa.
*****************************************
“Rima”, Ayahnya memulai pembicaraan malam itu,
malam sebelum keesokan hari Rima akan diantar Ayah dan Ibunya ke tempat
tinggalnya yang baru di Depok.
“Rima, kamu tahu kan, Ayah dan Ibu tidak ada yang
sarjana”, kata Ayah lagi, “Baru kamu pertama kali dalam keluarga kecil kita,
yang menempuh pendidikan tinggi”, kata Ayah sambil memandangnya dengan penuh
wanti-wanti, “Kamu tahu, Ayah cuma lulusan SMA dan Ibu juga lulusan SMK”,
lanjut Ayahnya lagi, “Dan untuk menjadi sarjana, kamu harus hidup terpisah,
jauh dari Ayah dan Ibu”, kata Ayah lagi, “Jangan sia-siakan waktumu, Rima.
Belajar yang baik. Ayah dan Ibu doakan, supaya kamu cepat jadi sarjana dan mendapatkan
pekerjaan yang jauh lebih baik daripada Ayah”
Ibu Rima tersenyum dan menyambung kata Ayah,
“Selama di Depok, jangan lupa ibadah. Pulanglah setiap akhir minggu, kalau
sedang libur atau tidak sibuk. Kalau cepat lulus, cepat bisa bekerja, cepat
bisa bantu Ayah”, kata Ibu lagi
Rima diam dan mendengarkan semua nasihat Ayah dan
Ibunya dengan seksama. Dilihatnya kedua adiknya juga memandangnya dengan
sedikit bengong
“Ayo, siapkan semua pakaian dan keperluan yang
kamu mau bawa pindah”, Ibu menyambung perkataannya, “Besok Ayah, Ibu dan kedua
adikmu akan mengantarmu ke Depok, ke rumah yang akan menjadi kantormu juga”,
jelas Ibunya
“Iya Bu”, Rima menurut dan segera masuk kamar
untuk mempersiapkan kepergiannya besok. Dilihatnya adik-adik dan Ayahnya
memandangnya masuk kamar dan kemudian melanjutkan nonton TV.
Rima segera mengepak semua pakaian dan
barang-barangnya. Harapannya yang terjawab membuatnya bersemangat dan ia sudah
bertekad untuk menjalani semua yang menjadi doa-nya selama ini. Bekerja sambil
kuliah di Perguruan Tinggi Negeri idamannya.
************************************
Keesokan harinya, kebetulan hari itu adalah awal
libur panjang akhir pekan, jadi Ayah libur, keluarga Rima sudah siap
mengantarkan Rima ke Depok. Kedua adik Rima membantu mengangkat kardus-kardus
barang bawaan Rima ke mobil pick-up yang akan digunakan keluarga mereka
untuk mengantar Rima. Sementara Rima bersiap-siap, mandi, sarapan, dan
mempersiapkan semua yang dibutuhkannya.
Setelah semua siap, mereka semua berangkat. Ibu
Rima bilang, Aa Robby dan pimpinan kantor tempat Rima akan bekerja, sudah
menunggu di kantor tempat dimana Rima akan tinggal dan bekerja. Jadi nanti di
Depok, Rima akan bertemu dengan Aa Robby untuk diperkenalkan kepada pimpinan
kantor tempat Rima bekerja nanti. Sepanjang perjalanan, Rima banyak ngobrol dan
bercanda dengan kedua adiknya. Rima tahu, hari-hari ke depan, mungkin ia tidak
punya banyak waktu lagi untuk bisa bercanda dan bermain dengan kedua adiknya
itu. Ibunya beberapa kali memperingatkan mereka untuk hati-hati duduk di bak
belakang mobil pick-up, dan jangan bercanda kelewatan.
Sesampainya di Depok, Aa Robby langsung
memperkenalkan Rima pada pimpinan kantor tempatnya bekerja. Pak Dahlan, nama
pimpinan kantor tersebut, kemudian mengajak Rima dan keluarganya melihat ke
dalam kantor Pak Dahlan dan juga paviliun kecil di belakang kantor, tempat Rima
tinggal nanti.
Kantor itu tidak besar dan tidak kecil. Hanya
satu lantai, tapi cukup untuk menampung sekitar 10 sampai 15 karyawan. Pak
Dahlan mengatakan, karyawannya ada 7 orang, dengan Rima, akan menjadi 8 orang.
Pak Dahlan sering bepergian, dan kantor biasanya dia serahkan pada Sekretaris
Pribadinya, Bu Lenny, yang juga ponakan Pak Dahlan, yang nanti pada hari kerja,
akan diperkenalkan Pak Dahlan kepada Rima. Gedung kantor itu cukup nyaman,
dengan taman dalam, pojok perpustakaan kecil, dan juga ruang tamu sekaligus ruang
tunggu kecil di bagian depan. Pantry atau dapur kantor ada di ruang
belakang, bersebelahan dengan mushalla. Rima dan keluarganya lalu dibawa Pak
Dahlan menyebrang halaman belakang kantor yang kecil ke paviliun tempat Rima
akan tinggal nanti.
“Nah Rima, kamu akan tinggal disini. Ayo, liat ke
dalam. Di belakang kamar ini ada kamar mandi dan dapur kecil. Jadi Rima bisa
masak-masak untuk keperluan pribadi. Tidak perlu pakai dapur kantor”, jelas Pak
Dahlan
Rima masuk ke bagian belakang paviliun itu
mengikuti Pak Dahlan, Ayah dan Ibunya juga melihat ke dalam, melihat-lihat
kantor dan paviliun Rima
“Wah, Rima, kamu sangat beruntung, Nak. Paviliun
ini nyaman sekali. Kamu masih bisa belajar dengan baik setelah bekerja disini”,
Ibu menyela pembicaraan Pak Dahlan. Ibu Rima sangat bersyukur, Rima bisa
mendapatkan tempat tinggal gratis sekaligus pekerjaan.
Rima tersenyum mendengar kata Ibunya. Ia pun
sangat bersyukur. Segera diletakkannya koper berisi pakaian di ruang kamar
paviliun itu.
“Kalau ada barang yang lain, segera diturunkan
dan diatur saja”, kata Pak Dahlan lagi. Ayah Rima langsung menyuruh kedua adik
Rima untuk mengambil sisa barang Rima di mobil. Sementara itu, Pak Dahlan
mengajak mereka ke bagian depan kantor lagi. Disitu, Pak Dahlan menjelaskan
tugas-tugas kerja yang harus diselesaikan Rima tiap harinya. Pak Dahlan juga
menjelaskan relasi-relasi kantornya yang sering datang, karyawan yang paling
sering dan bertanggungjawab dengan urusan kantor, seperti supir, security
yang pulang jam 7 malam setiap harinya, mekanik yang sering datang untuk urusan
perbaikan alat-alat kantor, dan lain-lain. Pak Dahlan menawarkan sejumlah uang
sebagai gaji Rima, apakah Rima bersedia digaji sebesar itu, yang untuk ukuran
umum, masih sedikit dibawah UMR. Tapi Rima tentu saja mendapatkan jamsostek,
seperti karyawan lain. Tanpa berfikir, Rima langsung menjawab mau. Dia bahkan
menanyakan, apakah statusnya sebagai mahasiswa nanti, yang harus membagi waktu
dengan kuliah, tidak akan mengganggu tugasnya di kantor? Pak Dahlan menjawab,
tentu tidak, kalau tugas Rima yang paling penting adalah membersihkan dan
merapihkan kantor pada jam buka dan tutup kantor. Menyediakan minuman pada
tamu-tamu yang datang, bisa digantikan oleh security kantor ataupun
karyawan front office, dan mencatat semua keperluan kantor, seperti alat
pembersih, teh, gula, dan semua keperluan kantor lain. Juga mencatat dan
membayarkan biaya-biaya kantor seperti listrik, WIFI, air, keamanan dan sampah,
semua menjadi tanggung jawab Rima. Rima juga harus memastikan kantor sudah
terkunci dengan baik oleh security, setiap hari pada jam tutup kantor.
Rima menyanggupi semua tugasnya tersebut dengan
senang hati. Rima segera akan mulai bekerja lusa pada awal minggu depan. Ayah dan
Ibunya juga tampaknya setuju saja dengan semua tugas pekerjaan dan gaji Rima.
Ayah dan Ibu sangat berterimakasih dengan Pak Dahlan. Ibu terutama, juga sangat
berterimakasih dengan Aa Robby, yang menjadi penghubung antara Pak Dahlan
dengan Rima. Ibu kemudian memberi oleh-oleh buah dan makanan kecil kepada Pak
Dahlan, sebelum akhirnya keluarga Rima pulang dengan Aa Robby. Aa Robby bilang,
ia akan ikut pulang dengan keluarga Rima, sebab mau melihat-lihat perkebunan
sayur dimana Ayah biasa mengambil sayur dari pedagang sayur yang menyewa mobil pick-up
keluarga mereka. Kebetulan, Aa Robby janjian ketemu Kak Mawar di rumah keluarga
Rima. Jadi, setelah memastikan Rima sudah bisa ditinggal sendirian, maka Pak
Dahlan pulang setelah melepas kepulangan keluarga Rima dan Aa Robby. Tinggallah
Rima sendirian di paviliunnya, membereskan semua barang-barangnya.
********************************
Ini hari pertama Rima bekerja di kantornya. Pagi-
pagi sekali setelah shalat subuh, Rima langsung membersihkan halaman kantor.
Tidak lupa ia mengepel dan mengelap seluruh ruangan kantor. Setelah itu ia
mempersiapkan minuman untuk tamu-tamu dan karyawan, membuang sampah-sampah dan
membereskan barang-barang yang terserak. Setelah urusan kantor beres, Rima
segera mandi dan memilih baju yang paling rapi, untuk dia gunakan pada hari
pertama ia bekerja.
Pak Dahlan datang pagi itu dan memperkenalkan
Rima pada semua karyawan kantor. Pak Dahlan bilang, Rima yang akan
bertanggung-jawab dengan urusan kebersihan dan konsumsi selama di kantor.
Termasuk Rima juga yang akan sering dimintai tolong para karyawan untuk membeli
apapun keperluan kantor. Rima setuju saja dengan semua tugasnya. Ia
diperkenalkan kepada Bu Lenny, dan Bu Lenny memberinya lima helai baju seragam.
Satu kaos, satu batik dan tiga kemeja. Bu Lenny juga menjelaskan mengenai
budaya perusahaan dan kebiasaan kantor. Bu Lenny menjelaskan, Rima jangan kecil
hati dengan gaji-nya yang kecil, sebab ia dihitung karyawan magang. Kalau sudah
lulus kuliah kelak, mungkin Rima bisa jadi karyawan tetap dan gaji-nya naik.
Rima tertawa mendengar kata Bu Lenny, ia
mengatakan, bahwa ia sudah bersyukur mendapatkan pekerjaan dan gaji bulanan.
Rima menjelaskan sedikit mengenai latar belakang dirinya dan keluarganya pada
Bu Lenny. Bu Lenny mengerti dan mengatakan, Rima pasti akan betah di kantor
itu, sebab kantor itu mempekerjakan karyawan yang berorientasi pada tugas
pekerjaan dan ilmu, bukan pada uang gaji atau upah semata. Sebelum Rima sudah
pernah ada beberapa kali karyawan magang, dan semua karyawan kantor membantu
karyawan magang tersebut menyelesaikan tugas magang mereka. Jadi Rima pasti
juga akan banyak dibantu oleh karyawan lainnya.
Rima mendengarkan dan mematuhi semua saran dan
arahan Bu Lenny. Ia mengerjakan semua tugas di hari pertama kerjanya itu dengan
senang hati dan bersemangat. Bu Lenny juga menunjukkan sebuah komputer PC
lengkap dengan printer-nya, di ruangan pojok belakang kantor dengan kaca
transparan seperti loket. Disitulah Rima akan membuat laporan petty-cash
kantor mengenai iuran kebersihan dan keamanan lingkungan, belanja bulanan
alat-alat pembersih dan konsumsi pantry seperti teh, kopi dan gula, juga
biaya listrik, PAM, WIFI, dan lain-lain. Itu semua tugas Rima untuk membuat
anggaran dan laporan pengeluaran, dan Rima bisa membuatnya di komputer di
ruangannya yang seperti loket itu. Kata Bu Lenny, Pak Dahlan juga membolehkan
Rima menggunakan komputer tersebut kalau ada tugas-tugas dari kampus. Rima
sangat senang dan bersyukur mendapat ruangan lengkap dengan komputer dan
printernya, walaupun ruangan itu sangat kecil seperti loket beli tiket.
Pendaftaran kuliah baru dimulai dua hari lagi. Rima
sudah izin Pak Dahlan, ia mengatakan ia akan melakukan registrasi ulang sesuai
dengan jadwal dari kampus, dan menyelesaikan keperluan lain di kampus. Pak
Dahlan mengizinkan Rima pergi ke kampus dua hari mendatang. Pak Dahlan juga
mengatakan, mulai hari itu, kalau izin dan semua keperluan kantor, Rima
berkoordinasi dengan Bu Lenny, sebagai Sekretaris Kantor, dan Bu Lenny yang
akan berkoordinasi dengan Pak Dahlan. Rima menuruti arahan Pak Dahlan dan
meneruskan mengerjakan tugas-tugas kerjanya. Ia sangat senang dan bersyukur,
walaupun hari itu dipenuhi dengan tugas disuruh-suruh kesana-kemari oleh
beberapa karyawan, termasuk ke warung untuk membeli makan siang. Rima juga
sibuk menyiapkan minuman untuk tamu-tamu, setiap kali Bu Lenny menyuruhnya
menyiapkan minuman, sewaktu Bu Lenny dan Pak Dahlan menerima tamu-tamu.
Walaupun
lelah, setelah membersihkan seluruh kantor pada akhir jam kerja, tapi Rima
senang. Ia bertekad untuk menyesuaikan semua jadwal kantor dengan jam kuliah
dan pelajaran di kampusnya. Ia bertekad
untuk berusaha semampunya menjalankan apa yang selama ini menjadi harapannya.
Rima tidur malam itu dengan harapan dan tekad yang kuat.
**********************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar