Senin, 02 Februari 2026

BAB II Hari-Hari Perjalanan Dimulai

 Dua bulan berlalu sejak malam Rima diizinkan kuliah oleh orangtuanya. Sejak saat itu, Rima belajar keras, supaya ia bisa lulus tes masuk Perguruan Tinggi. Walaupun ia tidak mempunyai cukup biaya untuk mengikuti bimbingan belajar, tapi ia tidak putus asa. Dia meminjam buku-buku tes masuk dan buku penunjang lain dari kakak-kakak kelasnya yang juga melanjutkan kuliah. Rima juga membeli buku-buku dari toko buku bekas dan belajar dari internet. Setiap hari tidak ada yang luang baginya, pasti ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar. Ayah dan Ibunya sangat mendukung Rima, apalagi sejak Ayah membawa pulang mobil pick-up, seperti ada gairah baru dalam keluarga Rima, yang selama ini tidak punya kendaraan, kecuali motor Ayah dan Ibunya. 

Mobil itu kemudian sering disewakan Ayah untuk mengangkat bahan bangunan ataupun sayur-mayur dari petani di daerah perkebunan dekat dengan wilayah kampung tempat tinggal keluarga Rima. Ayah sendiri yang menyetir, kalau Ayah sedang tidak bekerja dan libur di akhir pekan. Bahkan sepulang bekerja atau pagi-pagi sekali, Ayah sudah pergi untuk mengangkut sayur-mayur, sebelum kemudian Ayah pulang dan bersiap-siap untuk pekerjaannya sebagai pegawai rendahan di Pemda kota tempat tinggal keluarga Rima. Mobil pick-up itu juga sering dibawa tetangga dan teman Ayah untuk mengangkut bahan bangunan, jadi mobil itu sangat berguna dalam menambah penghasilan keluarga Rima. Maka Ayah dan Ibu Rima menyisihkan sedikit uang, untuk nanti mengantar Rima menjalankan tes dan tinggal di Depok untuk kuliah sambil bekerja. Orangtuanya yang seperti punya semangat baru karena penghasilan yang meningkat, terus menyemangati Rima, supaya ia bisa belajar dengan baik dan lulus tes masuk.

Dan Rima memang cukup cerdas, untuk ia yang memang sejak sekolah telah mempelajari Akuntansi di SMK-nya yang jurusan Akuntansi. Rima lulus tes masuk untuk jurusan pertama yang dipilihnya, Akuntansi di Universitas Negeri di Depok. Rima segera memberi tahu Ayah dan Ibunya. Ayah dan Ibunya merasa senang, sampai-sampai Ayah mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan ke Taman Wisata keluarga di Puncak, untuk merayakan kelulusan Rima. Mereka bersenang-senang dan makan-makan. Perjalanan dengan mobil pick-up itu, terasa sangat menyenangkan bagi Rima. Ia dan dua adiknya duduk di bak belakang sambil bercanda dan menikmati pemandangan, dan juga beberapa kali diperingati Ibu, untuk tidak main-main, khawatir jatuh atau celaka. Sungguh hari yang menyenangkan, sebelum Rima bersiap-siap pindah ke tempat tinggalnya yang baru dan memulai hidup sebagai mahasiswa.

*****************************************

“Rima”, Ayahnya memulai pembicaraan malam itu, malam sebelum keesokan hari Rima akan diantar Ayah dan Ibunya ke tempat tinggalnya yang baru di Depok.

“Rima, kamu tahu kan, Ayah dan Ibu tidak ada yang sarjana”, kata Ayah lagi, “Baru kamu pertama kali dalam keluarga kecil kita, yang menempuh pendidikan tinggi”, kata Ayah sambil memandangnya dengan penuh wanti-wanti, “Kamu tahu, Ayah cuma lulusan SMA dan Ibu juga lulusan SMK”, lanjut Ayahnya lagi, “Dan untuk menjadi sarjana, kamu harus hidup terpisah, jauh dari Ayah dan Ibu”, kata Ayah lagi, “Jangan sia-siakan waktumu, Rima. Belajar yang baik. Ayah dan Ibu doakan, supaya kamu cepat jadi sarjana dan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik daripada Ayah”

Ibu Rima tersenyum dan menyambung kata Ayah, “Selama di Depok, jangan lupa ibadah. Pulanglah setiap akhir minggu, kalau sedang libur atau tidak sibuk. Kalau cepat lulus, cepat bisa bekerja, cepat bisa bantu Ayah”, kata Ibu lagi

Rima diam dan mendengarkan semua nasihat Ayah dan Ibunya dengan seksama. Dilihatnya kedua adiknya juga memandangnya dengan sedikit bengong

“Ayo, siapkan semua pakaian dan keperluan yang kamu mau bawa pindah”, Ibu menyambung perkataannya, “Besok Ayah, Ibu dan kedua adikmu akan mengantarmu ke Depok, ke rumah yang akan menjadi kantormu juga”, jelas Ibunya

“Iya Bu”, Rima menurut dan segera masuk kamar untuk mempersiapkan kepergiannya besok. Dilihatnya adik-adik dan Ayahnya memandangnya masuk kamar dan kemudian melanjutkan nonton TV.

Rima segera mengepak semua pakaian dan barang-barangnya. Harapannya yang terjawab membuatnya bersemangat dan ia sudah bertekad untuk menjalani semua yang menjadi doa-nya selama ini. Bekerja sambil kuliah di Perguruan Tinggi Negeri idamannya.

************************************

Keesokan harinya, kebetulan hari itu adalah awal libur panjang akhir pekan, jadi Ayah libur, keluarga Rima sudah siap mengantarkan Rima ke Depok. Kedua adik Rima membantu mengangkat kardus-kardus barang bawaan Rima ke mobil pick-up yang akan digunakan keluarga mereka untuk mengantar Rima. Sementara Rima bersiap-siap, mandi, sarapan, dan mempersiapkan semua yang dibutuhkannya.

Setelah semua siap, mereka semua berangkat. Ibu Rima bilang, Aa Robby dan pimpinan kantor tempat Rima akan bekerja, sudah menunggu di kantor tempat dimana Rima akan tinggal dan bekerja. Jadi nanti di Depok, Rima akan bertemu dengan Aa Robby untuk diperkenalkan kepada pimpinan kantor tempat Rima bekerja nanti. Sepanjang perjalanan, Rima banyak ngobrol dan bercanda dengan kedua adiknya. Rima tahu, hari-hari ke depan, mungkin ia tidak punya banyak waktu lagi untuk bisa bercanda dan bermain dengan kedua adiknya itu. Ibunya beberapa kali memperingatkan mereka untuk hati-hati duduk di bak belakang mobil pick-up, dan jangan bercanda kelewatan.

Sesampainya di Depok, Aa Robby langsung memperkenalkan Rima pada pimpinan kantor tempatnya bekerja. Pak Dahlan, nama pimpinan kantor tersebut, kemudian mengajak Rima dan keluarganya melihat ke dalam kantor Pak Dahlan dan juga paviliun kecil di belakang kantor, tempat Rima tinggal nanti.

Kantor itu tidak besar dan tidak kecil. Hanya satu lantai, tapi cukup untuk menampung sekitar 10 sampai 15 karyawan. Pak Dahlan mengatakan, karyawannya ada 7 orang, dengan Rima, akan menjadi 8 orang. Pak Dahlan sering bepergian, dan kantor biasanya dia serahkan pada Sekretaris Pribadinya, Bu Lenny, yang juga ponakan Pak Dahlan, yang nanti pada hari kerja, akan diperkenalkan Pak Dahlan kepada Rima. Gedung kantor itu cukup nyaman, dengan taman dalam, pojok perpustakaan kecil, dan juga ruang tamu sekaligus ruang tunggu kecil di bagian depan. Pantry atau dapur kantor ada di ruang belakang, bersebelahan dengan mushalla. Rima dan keluarganya lalu dibawa Pak Dahlan menyebrang halaman belakang kantor yang kecil ke paviliun tempat Rima akan tinggal nanti.

“Nah Rima, kamu akan tinggal disini. Ayo, liat ke dalam. Di belakang kamar ini ada kamar mandi dan dapur kecil. Jadi Rima bisa masak-masak untuk keperluan pribadi. Tidak perlu pakai dapur kantor”, jelas Pak Dahlan

Rima masuk ke bagian belakang paviliun itu mengikuti Pak Dahlan, Ayah dan Ibunya juga melihat ke dalam, melihat-lihat kantor dan paviliun Rima

“Wah, Rima, kamu sangat beruntung, Nak. Paviliun ini nyaman sekali. Kamu masih bisa belajar dengan baik setelah bekerja disini”, Ibu menyela pembicaraan Pak Dahlan. Ibu Rima sangat bersyukur, Rima bisa mendapatkan tempat tinggal gratis sekaligus pekerjaan.

Rima tersenyum mendengar kata Ibunya. Ia pun sangat bersyukur. Segera diletakkannya koper berisi pakaian di ruang kamar paviliun itu.

“Kalau ada barang yang lain, segera diturunkan dan diatur saja”, kata Pak Dahlan lagi. Ayah Rima langsung menyuruh kedua adik Rima untuk mengambil sisa barang Rima di mobil. Sementara itu, Pak Dahlan mengajak mereka ke bagian depan kantor lagi. Disitu, Pak Dahlan menjelaskan tugas-tugas kerja yang harus diselesaikan Rima tiap harinya. Pak Dahlan juga menjelaskan relasi-relasi kantornya yang sering datang, karyawan yang paling sering dan bertanggungjawab dengan urusan kantor, seperti supir, security yang pulang jam 7 malam setiap harinya, mekanik yang sering datang untuk urusan perbaikan alat-alat kantor, dan lain-lain. Pak Dahlan menawarkan sejumlah uang sebagai gaji Rima, apakah Rima bersedia digaji sebesar itu, yang untuk ukuran umum, masih sedikit dibawah UMR. Tapi Rima tentu saja mendapatkan jamsostek, seperti karyawan lain. Tanpa berfikir, Rima langsung menjawab mau. Dia bahkan menanyakan, apakah statusnya sebagai mahasiswa nanti, yang harus membagi waktu dengan kuliah, tidak akan mengganggu tugasnya di kantor? Pak Dahlan menjawab, tentu tidak, kalau tugas Rima yang paling penting adalah membersihkan dan merapihkan kantor pada jam buka dan tutup kantor. Menyediakan minuman pada tamu-tamu yang datang, bisa digantikan oleh security kantor ataupun karyawan front office, dan mencatat semua keperluan kantor, seperti alat pembersih, teh, gula, dan semua keperluan kantor lain. Juga mencatat dan membayarkan biaya-biaya kantor seperti listrik, WIFI, air, keamanan dan sampah, semua menjadi tanggung jawab Rima. Rima juga harus memastikan kantor sudah terkunci dengan baik oleh security, setiap hari pada jam tutup kantor.

Rima menyanggupi semua tugasnya tersebut dengan senang hati. Rima segera akan mulai bekerja lusa pada awal minggu depan. Ayah dan Ibunya juga tampaknya setuju saja dengan semua tugas pekerjaan dan gaji Rima. Ayah dan Ibu sangat berterimakasih dengan Pak Dahlan. Ibu terutama, juga sangat berterimakasih dengan Aa Robby, yang menjadi penghubung antara Pak Dahlan dengan Rima. Ibu kemudian memberi oleh-oleh buah dan makanan kecil kepada Pak Dahlan, sebelum akhirnya keluarga Rima pulang dengan Aa Robby. Aa Robby bilang, ia akan ikut pulang dengan keluarga Rima, sebab mau melihat-lihat perkebunan sayur dimana Ayah biasa mengambil sayur dari pedagang sayur yang menyewa mobil pick-up keluarga mereka. Kebetulan, Aa Robby janjian ketemu Kak Mawar di rumah keluarga Rima. Jadi, setelah memastikan Rima sudah bisa ditinggal sendirian, maka Pak Dahlan pulang setelah melepas kepulangan keluarga Rima dan Aa Robby. Tinggallah Rima sendirian di paviliunnya, membereskan semua barang-barangnya.

********************************

Ini hari pertama Rima bekerja di kantornya. Pagi- pagi sekali setelah shalat subuh, Rima langsung membersihkan halaman kantor. Tidak lupa ia mengepel dan mengelap seluruh ruangan kantor. Setelah itu ia mempersiapkan minuman untuk tamu-tamu dan karyawan, membuang sampah-sampah dan membereskan barang-barang yang terserak. Setelah urusan kantor beres, Rima segera mandi dan memilih baju yang paling rapi, untuk dia gunakan pada hari pertama ia bekerja.

Pak Dahlan datang pagi itu dan memperkenalkan Rima pada semua karyawan kantor. Pak Dahlan bilang, Rima yang akan bertanggung-jawab dengan urusan kebersihan dan konsumsi selama di kantor. Termasuk Rima juga yang akan sering dimintai tolong para karyawan untuk membeli apapun keperluan kantor. Rima setuju saja dengan semua tugasnya. Ia diperkenalkan kepada Bu Lenny, dan Bu Lenny memberinya lima helai baju seragam. Satu kaos, satu batik dan tiga kemeja. Bu Lenny juga menjelaskan mengenai budaya perusahaan dan kebiasaan kantor. Bu Lenny menjelaskan, Rima jangan kecil hati dengan gaji-nya yang kecil, sebab ia dihitung karyawan magang. Kalau sudah lulus kuliah kelak, mungkin Rima bisa jadi karyawan tetap dan gaji-nya naik.

Rima tertawa mendengar kata Bu Lenny, ia mengatakan, bahwa ia sudah bersyukur mendapatkan pekerjaan dan gaji bulanan. Rima menjelaskan sedikit mengenai latar belakang dirinya dan keluarganya pada Bu Lenny. Bu Lenny mengerti dan mengatakan, Rima pasti akan betah di kantor itu, sebab kantor itu mempekerjakan karyawan yang berorientasi pada tugas pekerjaan dan ilmu, bukan pada uang gaji atau upah semata. Sebelum Rima sudah pernah ada beberapa kali karyawan magang, dan semua karyawan kantor membantu karyawan magang tersebut menyelesaikan tugas magang mereka. Jadi Rima pasti juga akan banyak dibantu oleh karyawan lainnya.

Rima mendengarkan dan mematuhi semua saran dan arahan Bu Lenny. Ia mengerjakan semua tugas di hari pertama kerjanya itu dengan senang hati dan bersemangat. Bu Lenny juga menunjukkan sebuah komputer PC lengkap dengan printer-nya, di ruangan pojok belakang kantor dengan kaca transparan seperti loket. Disitulah Rima akan membuat laporan petty-cash kantor mengenai iuran kebersihan dan keamanan lingkungan, belanja bulanan alat-alat pembersih dan konsumsi pantry seperti teh, kopi dan gula, juga biaya listrik, PAM, WIFI, dan lain-lain. Itu semua tugas Rima untuk membuat anggaran dan laporan pengeluaran, dan Rima bisa membuatnya di komputer di ruangannya yang seperti loket itu. Kata Bu Lenny, Pak Dahlan juga membolehkan Rima menggunakan komputer tersebut kalau ada tugas-tugas dari kampus. Rima sangat senang dan bersyukur mendapat ruangan lengkap dengan komputer dan printernya, walaupun ruangan itu sangat kecil seperti loket beli tiket.

Pendaftaran kuliah baru dimulai dua hari lagi. Rima sudah izin Pak Dahlan, ia mengatakan ia akan melakukan registrasi ulang sesuai dengan jadwal dari kampus, dan menyelesaikan keperluan lain di kampus. Pak Dahlan mengizinkan Rima pergi ke kampus dua hari mendatang. Pak Dahlan juga mengatakan, mulai hari itu, kalau izin dan semua keperluan kantor, Rima berkoordinasi dengan Bu Lenny, sebagai Sekretaris Kantor, dan Bu Lenny yang akan berkoordinasi dengan Pak Dahlan. Rima menuruti arahan Pak Dahlan dan meneruskan mengerjakan tugas-tugas kerjanya. Ia sangat senang dan bersyukur, walaupun hari itu dipenuhi dengan tugas disuruh-suruh kesana-kemari oleh beberapa karyawan, termasuk ke warung untuk membeli makan siang. Rima juga sibuk menyiapkan minuman untuk tamu-tamu, setiap kali Bu Lenny menyuruhnya menyiapkan minuman, sewaktu Bu Lenny dan Pak Dahlan menerima tamu-tamu.

 Walaupun lelah, setelah membersihkan seluruh kantor pada akhir jam kerja, tapi Rima senang. Ia bertekad untuk menyesuaikan semua jadwal kantor dengan jam kuliah dan  pelajaran di kampusnya. Ia bertekad untuk berusaha semampunya menjalankan apa yang selama ini menjadi harapannya. Rima tidur malam itu dengan harapan dan tekad yang kuat.

**********************************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab VII- Astrid Berhijab! (Bagian 2)

  “ Well, kalau Astrid berdialektika karena kecintaannya dengan alam, maka aku berdialektika karena..hmm..apa..ya, namanya, budaya, mungkin,...