Akhirnya libur panjang akhir pekan!! Hari Jum’at tanggal merah, libur nasional. Kuliah libur, semua kegiatan rohis dan basket juga diliburkan. Kantor juga libur, semua karyawan di kantor Rima sudah menunggu libur panjang akhir pekan ini.
Rima berpikir-pikir untuk libur juga. Ia ingin pulang, kangen dengan orangtua dan adik-adiknya. Tapi tugasnya di kantor adalah membersihkan dan menjaga kantor juga. Kalau ia pulang kampung, maka kantor kosong, karena yang tinggal di paviliun belakang kantor, yakni Rima sendiri, tidak ada. Apakah Pak Dahlan akan mengizinkan Rima untuk pulang dan meninggalkan kantor kosong selama tiga hari di libur akhir pekan ini? Rima ingin izin kepada Pak Dahlan, tapi ia malu dan ragu-ragu. Maka sepanjang awal pekan sebelum libur panjang di akhir pekan, bawaan Rima gelisah saja di kantor.
Ternyata Rima tidak perlu mengajukan izin, Bu Lenny sudah memanggilnya duluan. Bu Lenny mengatakan pada Rima, libur akhir pekan ini Rima juga libur, seperti karyawan lain. Jadi Rima boleh saja pergi rekreasi atau pulang kampung dan meninggalkan paviliun dan kantor kosong. Bu Lenny juga mengatakan Pak Dahlan mau bicara dengan Rima sebentar. Maka hari itu, Rima menghadap Pak Dahlan. Kebetulan sekali, Rima juga mau mengucapkan terimakasih kepada Pak Dahlan, sudah memberikan izin libur dan pulang kampung.
“Rima, sudah diberitahu Bu Lenny kan, Rima akhir pekan nanti juga libur?”, tanya Pak Dahlan, sewaktu Rima menghadapnya di ruangannya
“Iya, Pak. Saya juga mau mengucapkan terimakasih, sudah memberikan izin saya untuk libur”, jawab Rima, dengan wajah berseri-seri
“Kamu kan juga karyawan. Jadi sama dengan semua karyawan lain, kalau memang ada tanggal merah, kamu juga libur. Libur kantor karyawan, berlaku untuk semua karyawan”, kata Pak Dahlan lagi, tersenyum pada Rima
“Iya, Pak. Terimakasih, Pak”, jawab Rima singkat, masih dengan wajah berseri-seri
“Libur mau kemana? Ada kegiatan di kampus? Sepertinya Rima juga sibuk dengan kegiatan lain di kampus, selain kuliah?”, tanya Pak Dahlan lagi, kali ini wajahnya seperti sedikit penasaran
“Mau pulang kampung, Pak. Saya kangen dengan keluarga”, Rima menjawab singkat
“Oh iya, bagus itu. Memang sekali-sekali, kamu harus pulang kunjungi keluarga, supaya orangtuamu tahu, kamu sehat wal afiat, dan kamu juga rajin kuliah dan bekerja”, kata Pak Dahlan, wajahnya masih seperti penasaran, “Rima ada kegiatan lain ya, selain kuliah? Sepertinya sibuk sekali di kampus?”
“Iya, Pak. Basket dan Rohis. Tapi lebih banyak di Rohis, karena banyak acara dan kegiatan”, jawab Rima, hatinya begitu senang diberi izin pulang, ia menjawab dengan wajahnya berseri-seri
“Basket?? Oh, bagus itu. Kegiatan olahraga, supaya sehat”, Pak Dahlan menyandarkan tubuhnya ke kursi yang didudukinya, “Kenapa ikut Rohis? Suka kajian Islam?”, tanya Pak Dahlan
“Iya, Pak. Saya juga sudah ikut Rohis sejak SMK”, jawab Rima
“Oh, cuma rohis di sekolah dan kampus ya?”, tanya Pak Dahlan lagi, sedikit menyelidik
“Iya Pak”
“Jadi itu yang bikin Rima sibuk di kampus selama ini, banyak kajiannya??”
“Cukup banyak, Pak. Baru-baru ini kami mengadakan seminar yang mengundang Menteri Agama juga, banyak pesertanya”
“Wah, keren itu. Kalau Rohis Universitas Nusantara, saya percaya”, kata Pak Dahlan, memuji dengan setulusnya
“Terimakasih, Pak”, Rima menjawab seadanya
“Bagus kalau kamu ikut Rohis kampus”, kata Pak Dahlan lagi, “cuma, hati-hati kalau diajak kajian Islam dengan orang yang kamu tidak terlalu kenal”, wajah Pak Dahlan jadi serius
“Maksudnya bagaimana, Pak?”, Rima jadi tidak mengerti dengan kata Pak Dahlan
“Sekarang ini banyak penipu, Rima, dan aliran Islam yang kurang jelas”, jawab Pak Dahlan lugas, “minggu-minggu kemarin kan sempat rusuh katanya juga karena soal aliran sesat itu”, lanjut Pak Dahlan
Rima jadi mengerti, rupanya Pak Dahlan juga mengikuti berita di TV, sewaktu kerusuhan kemarin, dan Rima yang tidak tahu perkembangan peristiwa itu menurut berita-berita di TV, karena ia sibuk dengan peristiwa itu yang berimbas pada kegiatan seminar yang diadakan DKM An-Nuur yang hampir batal dan kerusuhan di masjid kampus.
“Iya, Pak”, jawab Rima singkat
“Kamu juga, fokus ke kuliah dan pekerjaan kantor. Jangan sampai kegiatan diluar kuliah dan pekerjaan kantor membuatmu kecapekan dan kewalahan”, Pak Dahlan melanjutkan, menatap Rima dengan serius, “Ya sudah. Silakan dilanjutkan pekerjaannya”, kata Pak Dahlan lagi, “Belajar Islam boleh saja, Rima. Cuma, hati-hati, jangan terlalu serius amat. Nanti kamu belajar kitab-kitab kuning dan jadi seperti anak-anak pesantren garis keras”, Pak Dahlan melanjutkan sambil tertawa kecil
Rima ikut saja tertawa, ia segera pamit keluar ruangan. Sambil berjalan keluar, Rima jadi berpikir sendiri, ‘Kitab kuning? Garis keras?, maksud Pak Dahlan gimana? Apakah mindset Pak Dahlan mengenai Islam itu ada garis keras dan kitab kuning itu aneh??’, Rima jadi tidak mengerti dengan pikiran Pak Dahlan. Tapi Rima tidak ingin memperpanjang percakapan dan berdebat dengan Pak Dahlan, ia segera keluar ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya.
**************************************************************
Akhirnya Rima sampai di rumahnya. Keluarganya senang, Rima bisa pulang pada saat long weekend. Adik-adik Rima senang, bisa dapat oleh-oleh makanan, kue dan snack dari Rima, yang Rima beli dari tabungan uang tips-tips yang diberi oleh karyawan lain, kalau mereka menyuruh Rima untuk beli makanan atau hal lain di kantor.
Ayah merencanakan untuk rekreasi keluarga ke Taman Safari, mumpung libur cukup panjang, tiga hari, dan Rima sedang pulang kampung. Rima juga menghubungi teman-teman dan sahabatnya sewaktu SMK untuk bertemu pada kesempatan pulang kampung long weekend ini. Sewaktu Ayah membolehkan Rima dan adik-adik Rima mengajak teman-teman mereka untuk ikut ke Taman Safari, Rima dan adik-adiknya senang sekali. Kata Ayah, tapi untuk uang jajan di dalam Taman Safari, tidak dibayari Ayah. Hanya tiket masuk saja. Rima mencoba untuk mengajak sahabatnya sewaktu SMK, Erin, untuk ikut rekreasi keluarganya ke Taman Safari, dan Erin ternyata setuju. Kata Erin, Rima tidak perlu khawatir, sebab selepas mereka lulus dari SMK, Erin bekerja di sebuah restoran seafood besar dan mewah di kota mereka. Jadi, kalau soal uang, Rima tidak perlu khawatir.
Maka sepanjang hari Sabtu di libur akhir pekan itu Rima menghabiskan waktu rekreasi bersama keluarga dan sahabatnya di Taman Safari. Setelah melihat-lihat hewan dengan bis Taman Safari, Rima dan adik-adiknya masuk ke beberapa atraksi permainan. Adik-adik Rima sangat senang, dan mereka sering menggoda Rima dan Erin, setiap kali mereka mencoba atraksi permainan. Di permainan Ferris Wheel, adik-adik Rima menggoda Rima dan Erin, ketika mereka berada di puncak putaran. Rima dan Erin jadi menjerit-jerit karena kaget, membuat Rima memarahi adik-adiknya karena mereka membuat Rima kaget dan Erin jadi takut. Tapi itu malah membuat adik-adiknya tertawa-tawa. Ketika mereka memasuki atraksi Rumah Hantu, adik-adik Rima menggoda Rima dan Erin dengan menakut-nakuti Rima dan Erin. Erin dan Rima jadi terkaget-kaget dan takut, sepanjang mereka di gua hantu. Walaupun mereka juga tertawa-tawa, tapi Rima tetap memarahi adik-adiknya, yang tertawa-tawa, senang bisa menggoda kakaknya. Ketika keluar dari Rumah Hantu, Rima bersungut-sungut dan cemberut, ia memarahi adik-adiknya,
“Pokoknya, Kakak gak mau gabung kalian lagi! Kita pisah disini! Nanti ketemu lagi aja di restoran, tempat Ayah dan Ibu nungguin kita!!”, hardik Rima, dengan wajah cemberut, ngambek dengan kedua adiknya
“Yaahhh…kok gitu sih, Kak..”, adik bungsu Rima memprotes, tapi masih dengan wajah nakalnya, tertawa-tawa, setelah mengganggu kakaknya di dalam gua hantu tadi
“Enggak!! Pokoknya Kakak mau sama Kak Erin aja! Emang kalian mau main apa lagi, sih?!!”, Rima masih bersikukuh ingin berpisah dengan adiknya
“Main bom-bom car”, jawab Fatir, adik Rima yang satu lagi
“ Ya udah! Kak Rima sama Kak Erin mau ke baby zoo dan liat atraksi lumba-lumba!”, jawab Rima tegas, “ntar aja kita ketemu di restoran!”, katanya lagi sambil menarik tangan Erin dan pergi menjauh dari adik-adiknya, “Daaahhh..”, katanya lagi sambil melambaikan tangan pada adik-adiknya
“Ya udah, terserah Kakak aja! Ntar kita nyusul ke baby zoo!!”, teriak Fatir, sewaktu Rima dan Erin meninggalkannya dengan adik bungsu dan teman-teman mereka.
Rima dan Erin meninggalkan bocah-bocah laki-laki itu dengan tertawa-tawa. Fatir sudah cukup besar untuk diserahi tanggungjawab menjadi pemimpin rombongan bocah laki-laki itu, jadi Rima tidak khawatir meninggalkan mereka. Rima dan Erin lalu menghabiskan waktu mereka di arena baby zoo dan menonton atraksi lumba-lumba dan juga singa laut.
Selepas dari kedua atraksi itu, Rima jadi lapar, tapi restoran tempat Ayah dan Ibu cukup jauh, jadi Rima dan Erin memesan bakso di kedai bakso terdekat. Sambil makan, mereka ngobrol, yang disadari Rima, sudah lama sekali, bahkan sejak mereka bertemu lagi sebelum ke Taman Safari, sampai tadi mereka bermain di Ferris Wheel sampai atraksi lumba-lumba, ia dan Erin belum sempat mengobrol berdua saja. Rima juga menyadari hal lain, berhubung ia dan Erin dulu di SMK bersahabat dekat, mereka sekelas dan juga ikut kegiatan Rohis bareng.
Dulu sewaktu di SMK, Erin berjilbab. Tapi, di kesempatan jalan-jalan mereka ke Taman Safari ini, Erin tidak berjilbab!! Ia malah menggunakan baju atasan ketat dan rok tigaperempat. Walaupun penampilannya tetap terlihat feminin, modis dan manis, tapi kenyataan ia tidak lagi memakai hijab, cukup membuat Rima kaget. Itulah yang Rima ingin tanyakan pada kesempatan ngobrol kali ini di kedai bakso.
“Erin, kenapa nggak berhijab?...Sejak kapan?”, tanya Rima, hati-hati, takut pertanyaannya menyinggung perasaan sahabatnya
“Mmm..nggak apa-apa. Pengen lepas aja”, jawab Erin acuh tak acuh
“Beneerr..??”, Rima tidak percaya, “Kan Erin berhijab udah lama, sejak kita SMP bareng”, kata Rima lagi, kepada sahabatnya sejak SMP itu, “kok sekarang lulus sekolah, malah dilepas, kayak bukan Erin yang Rima kenal?”
Erin menelan bakso yang dikunyahnya, sambil memandang Rima dengan pandangan sedih. ia menghela nafasnya pelan, “Yah..anggap aja, aku menyerah pada keadaan”, jawabnya sambil pura-pura asyik memotong baksonya
“Maksudnya??”, Rima semakin tidak mengerti. ‘Ya ampuun…,aku kehilangan banyak cerita dan kabar tentang sahabat lamaku ini!!’, batin Rima, sedikit menyesal
“Tenang aja Rima, mungkin tahun depan, aku akan pakai hijab lagi. Tapi untuk sekarang, mau nggak mau, aku harus menyerah pada keadaan”
Haahh??? Maksudnya gimanaa??? Dulu sewaktu SMK, Erin adalah sahabatnya yang sama seperti dirinya, tidak mudah menyerah, Rima jadi bengong
“Maksudnya gimana sih, Erin? “, desak Rima, sedikit memaksa, “Ayo dong, cerita..”
Erin memandang Rima lekat-lekat, lalu ia tersenyum, “Ayolah, Rima, coba sadari kenyataan mengenai diri kita”, dia lalu tertawa kecil, “Oh iya, aku lupa, kamu lebih beruntung, bisa kuliah dan sambil bekerja sekaligus. Dan tidak ada yang protes mengenai hijabmu”
Rima menghela nafas, tapi Erin melanjutkan lagi kata-katanya,
“Orang-orang seperti kita, orang kecil, maksudku rakyat biasa, orang kebanyakan, bukan dari kalangan orang berada, bangsawan ataupun pejabat, apalagi kita ini perempuan, tidak ada tempat bagi kita di negeri ini, Rima”
Rima jadi tertegun, kata-kata Erin membuatnya jadi lebih penasaran, tapi Erin masih melanjutkan, “Rima, rakyat kecil seperti kita, hanya akan menjadi bahan bulan-bulanan. Kita bisa jadi korban, ketika pihak yang lebih kuat dan berkuasa menghendaki kita dikorbankan. Kita juga bisa jadi kambinghitam, ketika pihak-pihak yang lebih kuat itu membutuhkan kita untuk disalahkan, menjadi kambinghitam atas apa yang terjadi”
Rima tertegun. Dia jadi sedikit bengong, “Kata-katamu seperti pendemo atau aktivis begitulah, di kampusku”, kata Rima, lalu menyadari bodohnya ucapannya barusan, dan benar saja, Erin jadi tertawa karena ucapannya itu,
“Rima, kamu harus bersyukur, karena kamu sungguh termasuk beruntung, walaupun kita bukan dari kalangan menengah ke atas atau orang kaya, ataupun dari kalangan pejabat dan bangsawan”, kata Erin lagi, “kehidupan seringkali begitu sulit, dan membuat semua orang menjadi sulit. Sewaktu sekolah, kita harus berusaha sekuat tenaga supaya kita lulus. Lalu kita cari kerja kemana-mana, supaya kita bisa punya penghasilan untuk menghidupi kita”, Erin menjeda kata-katanya untuk menyuapkan bekso ke mulutnya, lalu setelah mulutnya mulai kosong, ia melanjutkan lagi, “Kalau kita lulus dengan nilai baik pun, belum tentu kita dapat pekerjaan yang bagus. Malah banyak juga berita, siswa-siswa yang nilainya bagus, justru di bully oleh teman-teman dan orang-orang yang tidak suka dengan prestasinya. Sewaktu kita dapat kerja, kita harus berjuang supaya tidak kehilangan pekerjaan dan bahkan kita berharap mendapatkan promosi. Tapi itupun, masih saja ada persaingan, dimana kita mau tidak mau harus berjuang sekeras mungkin, dan kadang, kita tetap tersingkir. Ketika kita berhasil dan sukses, tidak jarang, orang berprasangka buruk atas kesuksesan kita, dan bagaimanapun, kita melakukan apapun, tidak semua orang senang dengan pencapaian kita. Mau tidak mau, kita harus mengikuti arus, supaya tidak dibilang sombong atau pelit, misalnya”, Erin meneguk teh manisnya,”khususnya, dalam kehidupanku, cukup sulit untuk bisa mempertahankan idealisme kita. Kita dituntut untuk lebih realistis. Bukan realistis dalam memperjuangkan idealisme kita”, Erin mengakhiri penjelasannya untuk kemudian menyuapkan kembali bakso ke dalam mulutnya
“Iya, aku mengerti maksudmu. Tapii..trus kenapa kamu jadi lepas hijab??”, Rima jadi makin penasaran, walaupun ia mengerti maksud sahabatnya itu, yang memang, kalau ditanya mengenai satu hal, seringkali memaparkan alasannya dulu, lalu kejadiannya
“Itu syarat dari outsource. Dan aku tidak ada pekerjaan lain selain di restoran. Dan selain outsource itu yang akan menyalurkan aku pada lowongan kerja yang tersedia, aku nggak punya akses lain”, jawab Erin cepat, lalu menyuap kembali baksonya
“Ooohhh”, Rima menggumam ketika Erin memberikan jawabannya, ia lalu memandang sahabatnya itu dengan heran, “Emang beneran, kamu ga bisa nemuin kerjaan lain? Ini kan zaman internet, Erin. Kita bisa cari di online, dan bahkan kita bisa dapat uang dari internet”
“Aku memang sudah pernah bekerja di tempat kerja lain, dua kali. Tapi, aku sering ditertawakan dan dikatakan ‘kampungan’. Kata boss aku di tempat kerja sebelumnya, kalau pakai jilbab tuh, harus dandan, kalau tidak, akan kelihatan kumuh dan kampungan”, jawab Erin, sambil menghela nafasnya, “lalu, dari outsource, aku diminta untuk lepas saja hijab, kalau tidak mau pindah-pindah dan di PHK seperti di dua tempat pekerjaan sebelumnya. Outsource itu janji, kalau prestasiku bagus di restoran tempat bekerja sekarang, pihak restoran akan membolehkan aku untuk memakai hijab lagi. Yaah..kira-kira setelah masa kerja dua tahun, lah”
“Dari pihak restoran gimana, bener emang begitu??”, tanya Rima, ia tidak menyangka, kehidupan sahabatnya selepas SMK menjadi seberat itu. Kenapa di pesan-pesan teks melalui ponsel, Erin tidak pernah cerita? Mereka memang masih saling berkabar setelah lulus SMK dan berpisah kota karena kesibukan masing-masing, tapi bahkan Erin jarang memposting selfie dirinya, sebab itulah, Rima baru tahu sekarang, Erin sudah tidak berhijab lagi.
“Rima, aku kan sudah bilang, rakyat kecil seperti kita, apalagi perempuan, seringkali tidak punya tempat dan pilihan”, jawab Erin lagi, senyum tipis di wajahnya, seperti ia mengerti dengan ketidakpahaman Rima, “akan banyak alasan untuk kita tidak diterima bekerja, membuat kesalahan atau tidak berprestasi di tempat kerja atau di PHK. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, bisa menjadi alasan itu. Dari soal pendidikan, keterampilan, pembawaan, sikap dan kebiasaan, semuanya itu bisa jadi alasan kita tidak qualified. Jadi mau gimana lagi?? Mau tidak mau, aku harus ikuti persyaratan, kalau mau punya pekerjaan, agar punya penghasilan”, Erin mengakhiri penjelasannya sambil kemudian menghisap es tehnya sampai habis. Baksonya sudah habis. Bakso Rima juga sudah habis dari tadi, tapi ia dari tadi asyik mendengarkan penjelasan Erin
“Erin, maaf ya, kalau aku seperti tidak mengerti tadi”, kata Rima, dia takut sahabatnya itu merasa tidak dimengerti, “tapi aku sekarang paham. Maaf, kalau selama ini, aku tidak tahu dan tidak ada, sewaktu kamu mengadapi semua hal dalam hidupmu”
“Nggak apa-apa, Rima. Kamu juga sedang berusaha untuk kehidupan dan masa depanmu. Aku bisa ngerti,kok”, jawab Erin dengan senyum lebar, dia senang, Rima sahabatnya sangat berempati dengan keadaannya, “kan sudah aku bilang, seringkali perempuan seperti kita, tidak punya pilihan dan harus menyerah pada keadaan. Kamu juga menyerah dengan keadaan, harus berpisah dengan keluarga dan sahabat di kampung”, papar Erin lagi, dengan bijak. Inilah yang selalu Rima suka dari sahabat lamanya ini, ia selalu tegar dan masih bisa bijak, walau keadaan sulit apapun.
“Tapi masih istiqomah kan, ibadahnya??”, tanya Rima lagi, tersenyum sedikit menggoda sahabatnya itu
“Ya iyalahh!! Masa tinggalkan shalat fardhu!”, Erin menjawab cepat sambil tertawa, ia tahu Rima setengah menggodanya, “Aku juga masih ikut pengajian di mesjid dekat rumah. Cuma ga pake hijab aja sekarang”, katanya lagi, “doakan ya, aku bisa bertahan di tempat kerja sekarang dan bisa pakai hijab lagi nanti”, pinta Erin tulus, dengan matanya berkaca-kaca, membuat Rima memeluknya karena kasihan
“Ya aku doakan. Dan aku janji, kita akan tetap keep in touch setelah libur long weekend ini. Aku akan rajin mengirim kabar, dan janji, kamu juga sering kabari dan cerita ke aku”, jawab Rima ketika memeluk Erin
“Ya, aku janji. Makasih Rima, kamu memang sahabat terbaikku”, kata Erin setulusnya, sambil melepaskan pelukan dengan matanya yang basah
“Yuk ah, ke tempat Ayah dan Ibuku menunggu kita. Takutnya beliau-beliau menunggu kelamaan. Bocah pada kemana yaa.., katanya ma nyusul”, Rima mengalihkan topik dan mengakhiri obrolan mereka
“Yuk, cabut sekarang aja. Kali aja nanti kita ketemu sama bocah-bocah itu dalam perjalanan pulang”, kata Rima lagi. Erin setuju, lalu mereka membayar makanan dan meninggalkan kedai bakso itu.
Adik-adik Rima ternyata baru selesai nonton atraksi lumba-lumba. Sewaktu melewati tempat atraksi lumba-lumba, ada yang berteriak memanggil nama Rima, dan ternyata adik-adiknya yang baru keluar dari tempat atraksi. Rima segera menyuruh mereka untuk sama-sama pulang, ke restoran tempat Ayah dan Ibu menunggu.
Dalam perjalanan pulang, Ferdy, adik bungsu Rima, bercerita mengenai atraksi-atraksi yang bocah-bocah itu kunjungi tanpa Erin dan Rima. Erin menanggapi semua cerita adik Rima itu dengan senang dan ceria. Erin jadi terlibat obrolan seru dengan adik-adik Rima sepanjang jalan menuju restoran. Sementara Rima merenungi semua kata-kata Erin di kedai bakso tadi. Semua kata-kata itu cukup membekas dalam hati dan pikirannya, dan ia merasa, dengan keadaan ekonominya yang tidak jauh beda dengan Erin, perkataan Erin itu benar, untuk dirinya dan Erin. Rima menjadi lebih bersyukur lagi, sudah diberi kesempatan untuk kuliah dan bekerja oleh Allah Subhanawata’alaa.
*******************************************************************
Libur panjang akhir pekan telah berakhir. Rima sudah kembali ke paviliun di belakang kantornya sejak malam sebelum awal minggu hari kuliah dimulai. Keesokan harinya, Rima sudah bangun sejak subuh dan memulai semua pekerjaannya membersihkan dan membuka kantor. Setelah itu dia langsung segera pergi ke stasiun menuju kampusnya untuk kuliah. Rima sudah janjian dengan Astrid seperti biasanya, dia akan menunggu di pelataran depan stasiun, lalu mereka akan menunggu Dinta yang menjemput mereka dengan mobilnya, lalu mereka sama-sama berangkat dengan mobil Dinta, dari stasiun menuju Fakultas.
Saat menunggu Astrid, Rima melihat-lihat ponselnya, dan ternyata ada pesan masuk di chatgroup angkatan Rima. Pesan itu pengumuman kepada setiap mahasiswa angkatan Rima, bahwa beberapa mata kuliah diliburkan dan diganti dengan tugas take home, sebab dosen-dosen sedang studi banding ke Singapore sejak libur akhir pekan minggu lalu dan baru akan pulang dua hari lagi.
Rima membaca pesan itu dengan perasaan senang dan sebal. Senang karena berarti jadwalnya agak longgar, dia bisa full bekerja di kantor sambil mengerjakan tugas-tugas kuliah takehome, sebal karena pesan itu tidak diumumkan sejak awal libur akhir pekan minggu lalu. Rima jadi sedikit bersungut-sungut, ‘Kalau diumumkan sejak awal libur akhir pekan, mungkin ia bisa membuat rencana lain, pulang kampung lebih lama misalnya, dan tidak terburu-buru kembali ke paviliun’. Tapi Rima mengambil sisi positifnya, bahwa dia bisa lebih banyak waktu untuk full bekerja di kantor, yang pasti akan menjadi citra yang positif untuknya sebagai karyawan magang.
Rima memutuskan untuk menunggu Astrid datang, sebab ia juga menerima pesan dari Astrid, bahwa Astrid sudah di kereta dan keretanya pun sudah hampir sampai kampus. Astrid juga sama-sama sebal seperti Rima, karena ia sudah terlanjur ada di kereta menuju kampus untuk kuliah. Rima membaca pesan di chatgroup angkatannya. Ternyata banyak yang lebih sebal daripada Rima dan Astrid, karena bahkan banyak juga teman-teman seangkatan mereka yang sudah ada di kelas. Rima membaca reply tanggapan pengumuman libur itu di chatgroup dari teman-teman seangkatannya yang sebal karena pengumumannya terlambat. Ada tanggapan yang memperlihatkan emosi sebal dan kecewa, banyak juga yang lucu-lucu. Dari tanggapan teman-temannya itu, tampaknya ketua angkatan mulai mengkoordinir, agar kejadian pengumuman kuliah ditiadakan selama tiga hari ini, ke depannya tidak akan terlambat lagi. Ketua kelas juga memposting link untuk terhubung ke tugas-tugas takehome dari dosen-dosen. Tampaknya cuma Dinta yang senang, sebab ia katanya kebetulan sedang malas kuliah, dan berlambat-lambat siap-siap ke kampus, sebelum akhirnya ada pengumuman libur di chatgroup angkatan, jadi Dinta membatalkan untuk berangkat kuliah.
Rima membaca tugas-tugas takehome dari link yang diberikan ketua kelas, ketika Astrid datang dengan wajah yang tidak seceria biasanya
“Ih, tau gitu, aku nggak akan buru-buru deh, pagi ini”, katanya, begitu ia datang dan menghampiri Rima, “sebenernya aku juga males banget hari ini, sama seperti Dinta. Hari Senin gitu lho, abis selesai libur akhir pekan..masih pengen libur”, katanya sambil duduk di samping Rima, “emang sesuai dengan keinginan, masih pengen libur..cuma pake acara ke kampus segala, trus balik lagi karena dosen nggak ada, pengumumannya telat, hhh..! capek dehhh..!”, Astrid sedikit mengomel sementara Rima memandanginya sambil tersenyum
“Yuk ah, kita ke kelas aja dulu, ketemu ketua kelas, kali aja ada yang mau sharing tugas take home”, ajak Rima, untuk meredakan kejengkelan Astrid
“Yuk boleh. Aku juga mau ketemu sama temen SMA dulu, dia sekarang di MIPA. Dulu bareng ikut Pecinta Alam”, Astrid mengiyakan ajakan Rima, dia pun mengajak Rima, “ntar temenin ke MIPA ya, Rim, sekalian kenalan sama temen SMA aku”
“Wah, boleh-boleh. Asyik tuh”, jawab Rima, “tapi kok, tumben, kirain ga ada temen Pecinta Alam yang sama-sama kuliah di UN”, kata Rima lagi, “mau reunian temen SMA, ya?”
“Nggak juga, sih. Kita emang masih sering kontak, cuma karena kesibukan masing-masing, kita yang Pecinta Alam jadi nggak sempat untuk ketemu”, Astrid tersenyum, senang Rima mau menemaninya ke Fakultas MIPA, “Ini dia ngajak ketemu, karena teman-teman Pecinta Alam mau ke Kerinci. Dan temen-temen Pecinta Alam ajak aku dan temen aku yang di MIPA itu”, jelas Astrid kepada Rima
“Kerinci? Woow..keren, masya Allah. Astrid berani naik gunung setinggi itu?”, Rima memandang temannya dengan kagum, tapi Astrid malah tertawa,
“Ah, udah biasa, Rima. Yang penting dibawa asyik dan senang aja. Tau-tau nyampe di puncak gunung. Apalagi kalau sama teman-teman kan seru”
“Ooh..gitu. Yah, aku kan nggak pernah naik gunung, Camping juga, cuma di camping ground karena acara sekolah”, Rima menanggapi dengan polos, “aku lebih suka ke pantai. Capek kayaknya kalau naik gunung. Kalau ke pantai kan, lebih gampang, hihihi..”, Rima terkikik dengan alasannya sendiri, wajahnya memerah karena malu dengan Astrid, dia tidak pernah naik gunung, tapi Astrid malah tertawa lagi
“Ya emang sih, ke pantai itu asyik. Aku juga suka ke pantai. Pokoknya yang alami, yang ke alam, gitulah! Namanya juga pecinta alam, hihihi..”, kali ini Astrid yang terkikik, membuat Rima juga terkikik, mereka sama-sama terkikik.
Rima dan Astrid beranjak dari stasiun untuk ke kelas menemui Ketua Kelas dan teman-teman seangkatan mereka. Di jalan menuju gedung fakultas, mereka berpapasan dengan teman-teman mereka yang sudah langsung pulang setelah mendapat pengumuman tidak ada dosen, padahal mereka sudah sampai di kelas. Mereka memberitahu Rima dan Astrid, semua teman mereka juga sudah mau pulang dan tidak ada soal atau tugas lainnya yang harus diambil. Astrid memutuskan untuk segera ke Fakultas MIPA dan hanya mampir sebentar ke kelas mereka. Rima setuju dengan usul Astrid, sebelum pesan dari Dinta datang, mengajak Rima dan Astrid sekali-sekali nongkrong di kafe dekat masjid dimana Dinta biasa ikut kajian Islam sewaktu SMA. Astrid segera mengiyakan ajakan Dinta. Ia membalas pesan Dinta, ia dan Rima akan ke MIPA untuk janji temu Astrid, lalu setelah itu dia akan segera ketemu Dinta di kafe dekat masjid yang dikatakan Dinta. Dinta mengirim shareloc kafe tempat mereka akan bertemu. Rima ragu-ragu, dia sebenarnya ingin langsung balik ke kantornya, begitu melihat pesan pengumuman libur di pesan groupchat kelasnya, tapi ia sudah terlanjur janji menunggu Astrid yang keretanya sudah hampir sampai stasiun kampus. Jadi Rima diam saja dan tidak menjawab ajakan Dinta.
Astrid yang menyadari keraguan Rima, Astrid tahu Rima juga bekerja. Tapi dengan cueknya, dia malah membujuk Rima untuk tidak kembali ke kantornya, dan mereka sama-sama nongkrong dengan Dinta di kafe,
“Ayolah, Rima…kan kata Rima, tugas Rima yang paling utama cuma buka dan tutup kantor dan bersih-bersih sebelum buka dan tutup kantor. Ini masih pagi, Rima..kantor Rima kan tutupnya sore”, Astrid mulai melancarkan bujuk rayunya, “Sekali-sekali, lah.., kata Rima kan, boss Rima, Pak Dahlan orangnya baik dan pengertian”, kata Astrid lagi, dengan wajah sedikit mengharap kepada Rima, “masak Pak Dahlan nggak ngerti. Karyawannya anak muda, masak kuliah dan kerja melulu”
Rima masih ragu-ragu, “tapi aku kemarin sudah pulang kampung tiga hari”
“Ntar stress lho, kerja dan belajar melulu”, Astrid masih bersikeras, “Ayolah, kita nongkrong, anggap aja healing bertiga. Kan asyik tuh, mau kuliah nggak jadi, karena pengumumannya telat, daripada sebel, mending nongkrong.”, Astrid membujuk Rima dengan segala argumentasinya, “kita bertiga belum pernah healing bareng, lho..mumpung ada waktu luang bareng, nih”, kata Astrid lagi masih dengan wajah agak memelas kepada Rima
“Mmm..bener juga, sih. Ya oke, lah. Ntar kita liat abis Astrid ketemu sama temen Pecinta Alam di MIPA”, jawab Rima dengan senyum geli melihat wajah Astrid yang sengaja dibuat memelas, ngotot mengajaknya jalan bareng dengan Dinta
“Jangan liat nanti. Bilang, iya, gitu”, jawab Astrid dengan selembut mungkin tapi memaksa, membuat Rima semakin geli dan senyumnya semakin lebar
“Iya, deh”, jawab Rima sambil tertawa, Astrid ikut tertawa karena senang. Dia menggandeng tangan Rima untuk cepat-cepat ke Fakultas MIPA
****************************************************************
Teman Astrid yang mahasiswa MIPA ternyata sudah menunggu Astrid di kantin MIPA. Astrid segera memesan makanan dan pesan untuk Rima juga. Dia belum sarapan, katanya, dan dia juga lagi ingin traktir Rima karena hari ini Rima sudah rela tidak bekerja ke kantor dan mereka sama-sama akan nongkrong bareng Dinta nanti. Dan juga karena Rima sudah menemani Astrid untuk ke MIPA. Teman Astrid itu namanya Ira. Ternyata dia lebih imut daripada Astrid yang lumayan jangkung. Ira tersenyum lebar dan memanggil Astrid untuk duduk di tempat yang sudah ia sediakan untuk Astrid. Astrid segera menghampirinya dengan makanan yang sudah ia pesan untuk dia dan Rima. Sebagai balasannya, Rima pesan juice untuknya dan juga Astrid. Astrid dan Ira saling menyapa dan menanyakan kabar masing-masing, dan kelihatan sekali, mereka memang teman lama yang akrab sejak dulu.
“Gimana Astrid, jadi nggak ke Kerinci?”, Ira memulai topik sambil menikmati makanannya
“Ya jadi aja, emang kapan sih?”, Astrid yang juga menikmati sarapannya pagi itu melirik ke Rima, “Oh iya Ra, kenalin ni sohib aku satu kelas, satu angkatan, satu fakultas, Rima”, Astrid memperkenalkan Rima, membuat Rima yang sedang menyantap makanannya mendadak gugup dan tersenyum pada Ira dengan tampang gugup
“Rima, ini Ira. Ira, ini Rima”, lanjut Astrid memperkenalkan keduanya, ia lalu menyuapkan makanan ke mulutnya lagi, sementara Ira dan Astrid saling berkenalan, “Emang kapan sih ke Kerincinya? Udah fix waktunya?”, tanya Astrid lagi kepada Ira
“Dua minggu lagi. Kan ada long weekend lagi tuh, nah, kita cabut dari hari Kamis aja. Izin kuliah lah, satu hari aja”, jawab Ira lancar
“Ya tapi aku kan nggak cuma kuliah. Hari Jum’at juga ada jadwal kajian Rohis”, Astrid meneguk jusnya dan menjawab ragu, “Ya ampun, aku kan juga ikut kelas tambahan tahsin di Rohis, ntar mau latihan untuk ikut MTQ Universitas”, ekspresi Astrid agak panik, dibukanya ponselnya untuk melihat reminder di kalender ponsel
“What???? Tahsin? Rohis???Hahahahaha…”, Ira tertawa geli, “serius, kamu Trid?”, tanyanya lagi, masih sambil tertawa
“Emang kenapa sih??”, Rima menjawab dengan ekpresi risih, tapi dia lalu tersenyum, “Eh, Jum’at dua minggu lagi kan long weekend, Rohis juga libur. Alhamdulillah”, senyumnya lebar sambil memandang Rima, membuat Rima ikut tersenyum
“Cieeeee……, alhamdulillah…”, Ira tertawa, ia tertawa Astrid mengucapkan alhamdulillah dengan spontan dan fasih
“Apa siihh, Iraa..”, Astrid jadi tertawa melihat ulah Ira, sahabat lamanya sesama Pecinta Alam itu
“Kamu…, emang kayak ada yang berubah sih, Strid”, Ira menjelaskan perasaan gelinya, “tapi nggak nyangka deh, itu semua gara-gara…rohis???”, Ira tertawa lagi, tapi lebih pelan, “Sorry, Astrid. Bukan ngetawain. Tapi.., Astrid yang tomboy, cuek…, jadi anak rohis??? Woooowwww…” jelas Ira lagi, “Salut aku, Astrid. Bener, deh”, Ira menambahkan lagi, supaya jelas maksudnya, agar Astrid sahabat lamanya itu tidak tersinggung
“Gara-gara dia nih”, Astrid menunjuk Rima, sambil tersenyum pada Rima
Rima ikut tersenyum, tapi ia berkata, “Kok aku sih..”, sambil masih tersenyum pada Astrid dan Ira, wajahnya jadi memerah karena malu
“Ooh..kirain kamu tobat, Astrid. Hahahaha…”, kata Ira, dia tertawa lagi
“Ya gara-gara itu juga”, Astrid buru-buru menambahkan dengan cengiran kepada Ira, membuat Ira semakin tertawa
“Keren..keren..”, tambah Ira, “jadi kan setiap kali kita naik gunung, kamu bisa tadabbur alam”, lanjut Ira. Dia sudah selesai makan, dan sedang menikmati minumannya, “Ajari aku gimana cara merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah ya, Astrid”
“Merenung aja sendiri”, seloroh Astrid dengan senyum lebar, “masak merenung aja diajarin. Bisa aja kamu, Ira”, lanjut Astrid lagi dengan tertawa geli pada sahabat lamanya itu
“Ya udah, nggak usah ajarin, tapi bareng-bareng”, jawab Ira lagi sambil terkikik
“Merenung aja ngajak jama’ah”, seloroh Astrid lagi, masih dengan ekspresi geli pada sahabatnya itu
“Tapi”, Ira memandang Astrid dan Rima, “emang boleh sama Ustadz di Rohis, ikut Pecinta Alam? Kan naik gunungnya ada anak-anak cowok juga?”
“Mmmm…”, Astrid tidak langsung menjawab, dia memandang Rima sebentar. Rima yang dipandangi Astrid yang minta bantu menjawab, malah jadi gugup lagi
“Ya boleh aja, sih”, jawab Astrid lugas, “kan cuma trekking bareng, tidur dan tenda masing-masing. Paling yang barengan cuma masak, makan, sama nikmatin pemandangan doang”, tambah Astrid, kali ini wajahnya berubah serius
“Yahhh…kalau memang begituu…”, sahut Ira sambil terkikik, “jadi lah, yaa, kita ke gunung lagi”
“Ya iyya laah…”, jawab Astrid cepat sambil tertawa, mereka sama-sama tertawa, lalu Ira mengambil ponselnya untuk memasukkan Astrid ke dalam groupchat tim hiking Kerinci dari klub Pecinta Alam mereka. Rupanya ada tim- tim lain dari klub Pecinta Alam yang Astrid ikuti, yang juga akan berangkat mendaki ke gunung-gunung lainnya di Indonesia.
“Astrid, ntar aku juga pengen seperti kamu, deh”, kata Ira dengan ekspresi yang lumayan serius, “aku mau menjadi muslimah yang kaffah, mendalami Islam dan pakai jilbab”, tambahnya
“Wah, bagus tuh. Ntar barengan aja yuk, kita pakai jilbab”, jawab Astrid, karena memang walaupun ia aktif di rohis, tapi dia belum berhijab
“Tapi aku pengen jadi bener-bener seperti sufi”, lanjut Ira lagi, “yang emang bener-bener fokus banget dalam ibadah”, tambahnya, “jadi aku gak akan ikut Pecinta Alam lagi atau naik-naik gunung, travelling, aku full ibadah. Ga bakalan nonton TV, liat streaming, apalagi sosmed dan main game”, tambahnya, “mungkin aku akan mengabdikan hidupku, sepenuhnya kepada Tuhan, menyepi dan hidup di gunung”, tambahnya lagi sambil merenung, “biar khusyuk”, dia mengakhiri renungannya, sementar Astrid terkikik, membuat Rima tersenyum lebar
“Kayaknya nggak gitu juga, deh”, jawab Astrid, sambil tersenyum kepada Ira, sahabatnya, “kita tetap bisa menjadi orang yang taqwa dan taat kepada Allah, walaupun kita juga sibuk dalam keseharian kita. Bukankah khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat kepercayaan Rasul yang dijamin surga dan disayang Allah, tapi juga aktif dalam bisnis dan bahkan menjadi khalifah?”, jelas Astrid lagi, membuat Rima sedikit bengong akan bagaimana sahabatnya ini menjelaskan masalah Islam dengan jelas dan lancar
“Hmmm…bener juga, ya, kita nggak perlu menafikan dunia hanya karena ingin menjadi orang yang taqwa, taat dan disayang Allah”, jawab Ira, ia mengerti maksud Astrid, ia juga memandangi Astrid dengan kagum, “kamu udah bisa jadi da’i juga nih kayaknya..hihihi..”, tambahnya sambil terkikik, membuat Astrid mencubit pipi kawan lamanya itu dengan gemas
“Ngeledek aja dari tadi”, kata Astrid sambil mencubit pipi Ira dan tertawa gemas. Ira yang kesakitan memekik pelan, ia pun memukul pundak Astrid minta dilepas, mereka tertawa-tawa,membuat Rima ikut tertawa juga
Astrid dan Ira kemudian melanjutkan obrolan mereka dengan lebih santai. Astrid menanyakan kegiatan dan kuliah Ira di fakultas MIPA, dan Ira pun menceritakan kehidupannya selama dia kuliah di fakultas MIPA. Rupanya mereka adalah kawan akrab yang sama-sama sibuk, jadi jarang punya kesempatan bertemu, seperti Rima dan Erin. Rima kadang-kadang nyeletuk dan menimpali, sewaktu Ira dan Astrid bercanda. Ira orangnya cukup terbuka dan menyenangkan, sama seperti Astrid yang lucu dan cuek. Mereka bertiga kemudian terlibat obrolan santai seputar kampus, topik-topik trending dan obrolan ngalor-ngidul santai, sebelum akhirnya Astrid menyadari mereka harus segera pergi karena janji ketemu Dinta. Astrid kemudian pamit kepada Ira, dan kemudian Rima dan Astrid segera ke stasiun untuk segera ke tempat dimana Dinta menunggu.
*********************************************************************
Dinta bersorak dalam hatinya, ketika ia membaca pengumuman di chatgroup kelasnya, bahwa hari itu libur. Ia memang juga sedang malas untuk kuliah. Suasana weekend yang santai, masih belum hilang, membuatnya setengah hati untuk masuk kuliah. Dan pengumuman libur itu bagaikan keajaiban yang menyenangkan untuk Dinta. Ia kemudian membaca pesan-pesan lain di ponselnya. Ternyata ada pengumuman reuni angkatan kelas tahsin dan kajian Islam di masjid tempat ia biasa mengaji sewaktu SMA. Vita, teman Dinta yang juga ikut kelas itu, mengirim pesan khusus, bahwa ia juga datang ke masjid untuk reuni, dan ia akan menunggu Dinta di masjid. Dinta sudah lama tidak ke masjid itu, jadi ia agak canggung bertemu dan reuni lagi dengan teman-teman kajian Islam di masjid itu, kecuali mugkin dengan Vita, sahabatnya dari kelas kajian di masjid. Cepat dikirimnya pesan kepada Rima dan Astrid, mengajak mereka untuk ikut juga. Kebetulan ada café di dekat masjid, jadi mereka bisa santai sambil ngobrol di kafe itu sesudah kajian. Dinta bersorak lagi, ketika Astrid membalas, ia dan Rima akan menyusul ke masjid yang Dinta maksudkan, segera setelah Astrid dan Rima selesai menemui Ira, teman Astrid di MIPA. Dinta segera bersiap-siap dan menghubungi Vita, bahwa ia akan mengikuti reuni angkatan kajian Islam kelas mereka di masjid. Ia dan Vita lalu janjian untuk ketemu di depan pintu masuk tempat pendaftaran ulang peserta reuni.
Di masjid, Dinta segera mencari Vita. Astrid dan Rima baru datang agak siangan, karena memang jarak masjid itu dari kampus cukup jauh. Dinta dan Vita akan ketemu duluan dan mengikuti acara reuni. Astrid bilang di pesan inbox-nya, ia akan pasang live location, supaya Dinta bisa mengetahui Astrid dan Rima sudah sampai mana, dalam perjalanan mereka ke masjid.
Masjid itu namanya masjid “Al-Barkah”. Ada beberapa perubahan, sejak terakhir kali Dinta ke masjid itu. Ia mencari-cari Vita, dan dilihatnya Vita sudah menunggunya di pintu masuk ke dalam masjid, dan melambaikan tangannya. Dinta menghampiri Vita, lalu mereka segera ke meja panitia, untuk mencatat nama dan nomor santri yang dulu diberikan kepada mereka sewaktu masih mengaji di masjid itu. Dinta dan Vita kemudian masuk ke dalam masjid untuk mengikuti acara.
Da’i kondang yang kebetulan juga salah satu Imam, Dewan Penasihat Masjid, yang akan mengisi acara utama pagi itu belum datang, tapi sudah banyak orang yang datang dan duduk di dalam ruang masjid.
“Ih, aku ga nyangka, kamu bakalan datang, lho, Dinta”, kata Vita memulai, “kirain kamu udah ngelanjutin kuliah di Amrik”, katanya jujur
“Iya, ya..kita udah lama banget nggak kontak. Sejak…sepertinya sejak sama-sama lulus SMA”, jawab Dinta sambil tersenyum manis pada Vita. Dinta senang Vita, sahabatnya dari kelas kajian di masjid Al-Barkah bisa datang. Dulu, sewaktu masih ikut kajian, mereka saling support masing-masing, untuk selalu datang dan tidak malas, sampai mereka lulus kelas tahsin, dan sampai mereka lulus SMA dan tidak mengikuti kajian Islam di masjid ini lagi.
“Vita kan ngambil Kedokteran di Universitas Trisatya, kan?” tanya Dinta lagi
“Iya, Rima di akuntansi di Universitas Nusantara, ya??”, jawab Vita
“Iya. Sayang ya, jarak kampus kita berjauhan banget, jadi nggak bisa saling kunjung”, timpal Dinta, “masih ikut kajian Islam?”
“Masih, tapi di kampus, Dinta. Kalau di tempat lain nggak sempat. Kedokteran itu jadwal kuliahnya padat sejak awal”
“Wah, sama dong. Dinta juga jadi anggota rohis, di masjid Fakultas”, jawab Dinta, sambil tersenyum lebar, “ternyata kita sama-sama masih punya ghirah Islam, walaupun udah nggak bareng di masjid ini”, tambahnya, masih dengan senyum lebarnya. Ia senang, sahabatnya masih sama, selalu berusaha menjadi lebih baik dan lebih taqwa lagi, seperti niat mereka dulu waktu saling menyemangati untuk masuk kelas kajian Islam dan tidak malas, di masjid Al-Barkah ini.
“HEI DINTA!!!”, tiba-tiba sebuah suara, yang lumayan nyaring, memanggil Dinta, membuat Dinta kaget.
Ternyata yang memanggil adalah Zelda, teman SMA Dinta juga, Zelda terlihat bersama dengan tiga orang temannya
Zelda teman satu SMA Dinta, tapi tidak satu kelas, sedangkan Vita, tidak satu SMA dengan Dinta, tapi Dinta dan Vita sama-sama satu kelas di kelas kajian Islam dan tahsin di masjid Al- Barkah.
“Hei, Zelda, apakabar…??”, Dinta tersenyum, menyambut Zelda. Ia tidak menyangka,ada juga teman satu SMA-nya yang ikut kajian Islam di masjid ini juga. Memang masjid Al-Barkah ini masjid raya di salah satu kawasan perumahan mewah dan pejabat serta perkantoran yang lokasinya masih di tengah kota
“Hey Dinta, aku juga anggota kajian Islam masjid ini”, Zelda tidak menjawab pertanyaan Dinta, ia malah menjelaskan maksudnya sendiri, “tapi aku angkatan dibawahmu di kelas kajian Islam. Aku ikut kelas, setelah kita lulus SMA. Dan ini, teman-temanku juga semua satu angkatan”, katanya lagi sambil memandang tiga teman-temannya yang sama-sama dengannya
“Wah, bagus itu. Jadi kalau ada acara reuni seperti ini lagi, kita bisa bareng, Zelda”, jawab Dinta masih dengan senyum manis
“Wah, kayaknya nggak bisa, deh. Jadwal aku padat banget”, jawab Zelda, “lagian kamu emang serius ikut kajian Islam, Dinta? Kamu kan waktu awal SMA nggak pake jilbab, dan kamu punya pacar bule, yang orang Amrik.”, Zelda menolak ajakan Dinta sambil membeberkan masa lalu Dinta, “dulu waktu SMA, kamu kan sering posting foto- foto liburan kamu ke luar negeri, bahkan di Amrik dengan cowok kamu. Yang di pantai, pakai bikini juga ada kaaan..”, Zelda masih nyerocos, membuat wajah Dinta menjadi bersemu merah
“Kamu serius ikut kajian?Atau karena sekarang punya bisnis, biar klien dan customer percaya? Nggak percaya deh, kamu pakai hijab dan ikut kelas kajian di masjid, kamu kan hobi pakai baju sexy”, lanjut Zelda lagi, nada suaranya semakain bertambah sinis, dan wajah Dinta semakin merah karena malu, “Yaaah..kalo gank di sekolah bilang, kamu model majalah Playboy”, lanjut Zelda lagi
Walaupun malu dan merasa ditelanjangi tiba-tiba, Dinta tetap berusaha menguasai dirinya, ia lalu menjawab dengan tenang, “Ya, memang dulu aku punya cowok, sering clubbing, bahkan sewaktu di Amrik juga clubbing, dan..seperti temen-temen di Amrik, aku berbusana yang enak aja, simple menurut aku waktu itu, cuma selembar kaos dan celana pendek atau rok, tidak perlu berlapis-lapis dan panjang-panjang.”
“Oh, jadi kamu ngaku, ya. Tuh kan, bener temen-temen, dia mah model majalah Playboy. Kajian Islam juga jangan-jangan cuma buat flexing, nih..mentang-mentang follower-nya banyak”, Zelda tertawa sinis, merasa menang karena pengakuan Dinta sendiri
“Yah, kenapa emang, kalau itu fakta, aku akui. Tapi kalau cuma tuduhan tidak berdasar, apalagi karena menghina, maaf ya, itu tanggungjawab yang menghina itu sendiri”, jawab Dinta, ia jadi sedikit emosi dengan segala kata-kata Zelda
“Menghina apaa???”, Zelda malah balik bertanya, wajahnya seakan tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa
“Model majalah playboy”, jawab Dinta cepat, “aku memang pakai bikini, ada beberapa foto seperti itu, tapi aku nggak pernah foto telanjang, DAN AKU BUKAN MODEL MAJALAH PLAYBOY!!”, jawab Dinta tegas dengan suara agak keras
Tapi bukannya sadar, Zelda malah semakin menjadi, “Yah, tapi bukti foto banyak. Foto kamu dulu, sebelum berhijab, sampai di luar negeri segala, jauh banget dari hijab!!”, Zelda semakin ngotot, “dan yang bilang kamu model majalah Playboy, bukan cuma aku, kok! Tapi juga anak-anak cowok! Mereka sering ngomongin postingan kamu, kalau mereka lagi nongkrong di warung bakso Bang Adul!!”
Ooohhh..warung bakso Bang Adul…!! Dinta jadi ingat dengan warung itu. Itu adalah warung di belakang sekolahnya, yang juga menjual rokok dan makanan kecil lain. Makanya, berandal-berandal SMA-nya, termasuk cowok-cowok gank “Morfin Bro” yang hobi merokok saat istirahat atau sepulang sekolah, hobi banget nongkrong disitu. Dan gank Marfin Bro ini seringkali mengganggu anak-anak cewek, termasuk Dinta. Yang menyebalkan, mereka sering berkelahi dengan anak lain disekolah atau di sekolah lain yang berada di dekat sekolah mereka, dan mereka sering tidak sopan dengan cewek-cewek.
Dinta ingat, Dinta pernah pulang dengan wajah sembab, membuat kakak Dinta,kak Cinta, yang waktu itu masih kuliah di program sarjana di Universitas Nusantara, jadi kaget dan heran. Dinta lalu menceritakan, gara-gara makan bakso di warung Bang Adul, ia jadi diganggu geng cowok Morfin Bro yang sedang merokok disitu. Dinta ingat, waktu itu dia memang diejek-ejek, model…model…, begitu kata mereka. Model majalah porno, model majalah Playboy.
Cinta yang juga sebenarnya merokok, jadi kaget dengan cerita adiknya itu. Dia juga merokok, tapi waktu SMA, bahkan selama di bangku kuliah, dia tidak merokok. Dia baru merokok, karena pusing dengan skripsinya, juga dengan persiapan melanjutkan pasca-sarjana ke Amerika. Cinta jadi geram, ia pun lalu berjanji pada Dinta untuk mencari tahu dengan pura-pura ngebakso dan nongkrong merokok di warung bakso Bang Adul, dan kalau benar perilaku gank Morfin Bro sering mengganggu siswa-siswa cewek, ia akan melaporkan kejadian itu kepada guru BP atau Kepala Sekolah Dinta.
Keesokan harinya, memang Kak Cinta nongkrong di warung Bang Adul dan kemudian diam-diam melaporkan kejadian yang dialami Dinta kepada Kepala Sekolah. Dia minta, jangan sampai gank Morfin Bro tahu, kalau kakaknya Dinta melaporkan perbuatan onar gank itu. Dan memang, keesokan paginya lagi, guru BP men-sidak gank itu, dan seminggu setelah itu, warung rokok Bang Adul sudah aman untuk semua siswa makan disitu, tanpa takut diganggu anak-anak gank Marfin Bro, sebab gank itu sudah tidak merokok dan nongkrong disitu lagi, setelah ketahuan oleh para guru. Kepala Sekolah juga minta kepada Bang Adul untuk tidak menjual rokok, sebab ini masih di area pelajar, apalagi warung Bang Adul nempel dengan lokasi sekolah.
Tapi sebutan model majalah porno masih melekat dan masih ada yang sering panggil begitu ke Dinta. Dan sewaktu Dinta memakai hijab di tahun terakhirnya di SMA, teman-teman dekatnya malah menjauh, dan cewek-cewek yang dekat dengan cowok-cowok gank Mafia Bro, malah gantian sering meledek Dinta, termasuk Zelda. Tapi waktu itu Dinta tidak perduli, sebab dia lebih fokus ke Ujian Nasional untuk kelulusan dan persiapan masuk universitas. Waktu itu juga ia aktif ikut tahsin dan kajian Islam di masjid Al-Barkah, dan disitulah ia mulai mengenal dan akrab dengan Vita. Persahabatan dan keakrabannya dengan Vita semakin erat, sehingga ia tidak terlalu memperdulikan kekeruhan pertemanannya di sekolah dengan cewek-cewek supporter gank Morfin Bro. Dia fokus belajar dan persiapan ujian nasional.
Dinta menghela nafas, ia memandang Zelda dengan jengkel, “Ya, memang aku suka pakai baju sexy, yang menurut aku sebenernya baju yang simple. Aslinya aku memang suka yang simple-simple. Tapi aku jadi mau agak ribet, pakai yang panjang-panjang dan berlapis, itu karena aku ingin menjadi hamba Allah yang taat. Cuma itu kok. Emang nggak boleh, jadi hamba Allah yang mau taat?”, jelas Dinta panjang lebar, dengan wajah galak kepada Zelda
“Ah, BOHONG!!”, Zelda bukannya mnegerti, malah menampik penjelasan jujur Dinta, “temen-temen”, katanya sambil melihat ke arah tiga temannya yang bersamanya, “jangan jadiin dia contoh, deh. Banyak yang keren-keren, soleha dan pinter daripada dia. Dinta ini mah cuma sekedar hobi flexing aja”, kata Zelda lagi, mencoba meyakinkan teman-temannya
“Aku berhijab bukan untuk menjadi contoh, kok!”, Dinta menampik, “Terserah mau contoh siapa, lebih baik jangan aku,aku masih banyak kekurangan, aku mau ikut kajian ISlam dan berhijab, minimal aku taat untuk diriku sendiri”
“Oke”, balas Zelda lagi, “tapi nanti kalau terungkap kebusukanmu atau aku bisa mengungkapkan, jangan nangis-nangis dan minta maaf ke aku, soal kebohonganmu hari ini!!” ancam Zelda, menatap wajah Dinta dengan tajam
“OKE!! Nggak masalah!!!!”, Vita tiba-tiba menyela, lalu ditariknya tangan Dinta,”Ayo Din, temenin beli minum diluar”, segera Vita menyeret tangan Dinta keluar masjid, terlihat wajah Dinta merah padam dan matanya berkaca-kaca, Vita langsung memeluknya ketika mereka berada diluar masjid
Dinta ingin menangis, tapi Astrid tiba-tiba menelfon,
“Dinta, aku udah di kafe depan masjid sama Rima. Kamu dimana?”
Dinta jadi tersenyum, ia lalu mengajak Vita untuk menyebrang jalan ke kafe depan masjid untuk bertemu Astrid dan Rima, lalu setelah itu mereka akan masuk ke masjid lagi untuk mengikuti acara. Mereka akan cari tempat baru untuk duduk dan mengikuti acara, jauh dari Zelda dan gank-nya.
Di dalam kafe depan masjid, Rima dan Astrid ternyata sudah memesan es krim. Astrid terlihat asyik dengan banana split-nya, sedangkan Rima sibuk mencowel es krim waffel-nya. Dinta segera menuju counter pemesanan, untuk ikut memesan makanan bersama Vita. Setelah itu dia duduk, satu meja dengan Astrid dan Rima
“Rima, Astrid, kenalin, ini Vita, sahabat aku di masjid ini, satu kelas kajian waktu SMA dulu”, kata Dinta memulai obrolan mereka. Nafasnya agak tersengal, selain karena tadi jalan cepat-cepat karena ingin segera ketemu dua sahabatnya, ia juga masih belum sepenuhnya pulih dari kesal-nya terhadap Zelda. Masih terlihat rona merah di pipinya yang putih bersih, bekas tadi ia malu bercampur kesal dengan Zelda, hingga wajahnya bersemu merah.
“Haloo..”, sambil tersenyum, Rima dan Astrid bersamaan menyapa Vita, Vita pun balik menyapa dan tersenyum pada Rima dan Astrid
“Wah…wah…wah…, kelaperan atau apaan niih…???”, Rima melihat pesanan yang dibawa Dinta, yang memang banyak, begitu juga yang dibawa Vita. Dinta dan Vita segera meletakkan makanan yang mereka bawa, sambil mengambil tempat duduk
“Laper! Mau makan orang!!”, sahut Dinta asal-asalan, tapi kemudian ia tertawa
Rima dan Astrid yang cukup terkejut memandang Dinta dengan sedikit heran. Nggak biasa-biasanya, sahabat mereka yang satu ini jadi agak kasar dan nyolot jawabannya. Astrid jadi sadar, wajah Dinta pun nggak seperti biasanya kalau sedang tenang. Semu merah itu, Astrid sering memperhatikan, hanya kalau Dinta sedang kesal, sedih, panik, atau takut.
“Dinta, ada apa? Wajahmu..pink-nya masih belum hilang”, tanya Astrid
“Oh..ehmm..”, Dinta menjawab, sambil wajahnya kembali bersemu merah, karena perasaannya yang masih kesal, tanpa ia sadari, justru diperhatikan oleh kedua sahabatnya, “Nggak apa-apa, kok”, dia lalu mulai membelah ayam goreng crispy pesanannya, “Oh iya, ini makanan aku pesan banyak, buat kita makan rame-rame, yuk dimakan bareng”
Rima dan Astrid memperhatikan makanan di meja mereka, ayam goreng 4 potong, sepertinya mereka semua masing-masing dapat 1 potong, lalu ada kentang goreng 2 kantong, cheeseburger 4, nasi 2 untuk Vita dan Dinta, shrimp roll 1 mangkuk, sosis besar 4, waffel cream coklat ukuran medium 1, banana split 1 untuk Dinta, dan ice cream sundae untuk Vita dan ice tea 4 gelas.
“Gila!!Ini sih banyak banget!!! Masya Allah…!”, Astrid memandang meja makan mereka dengan sedikit takjub, ia lalu tertawa, Rima juga ikut tertawa
“Nggak mungkin nggak kenapa-kenapa, ketahuan banget kamu lagi kesal”, kata Rima sambil tertawa dan memandang Dinta, “pesan makanan aja kayak pelampiasan gini..”, semua ikut tertawa dengan ucapan Rima
Vita lalu menceritakan kejadian yang dialami Dinta di dalam masjid tadi, sementara Dinta mulai menghabiskan porsi nasi ayamnya. Ia hanya kadang-kadang menimpali cerita Vita dengan nada sedikit kesal dan sedikit sedih, karena sibuk dengan nasinya yang langsung disambung dengan cheeseburger setelah nasi ayamnya habis. Astrid dan Rima menyimak cerita Vita, sambil memperhatikan Dinta menghabiskan makanannya pelan tapi pasti
“Wah…wah..wah.., cakep-cakep makannya banyak bener..!!”, celetuk Astrid, mengomentari Dinta, yang langsung membuat Dinta tertawa.
“Kayaknya sekarang do’i udah mulai adem, nih Vita.., diademin makanan”, Rima ikut menimpali, membuat Vita, Dinta dan Astrid terkikik
“Udah Dinta, jangan sedih”, kata Rima lagi, “aku justru penasaran, pengen tau, kamu dulu sebelum berhijab dan masih sering pakai baju sexy, gimana sih”, Rima memandang Dinta, yang jadi terhenti, sekarang mengunyah kentang goreng, setelah cheeseburgernya habis, “maksudnya, pasti kamu keren banget, pasti nggak jauh beda sama temen-temen kamu, cewek- cewek bule di Amrik. Kamu kan juga putih banget. Makanya kita tau kamu kesel apa enggak, pipi kamu aja sering jadi pink”, lanjut Rima, sambil tersenyum manis ke Dinta, agar ia tidak salah paham
“Iya, ntar kalau masih ada fotonya, kalau kita ke rumah Dinta, liat ya Dinta, pasti keren deh. Kamu kan juga mirip bule, coba aja kalau rambut kamu di cat pirang, udah keliatan bule banget, kali”, timpal Astrid, ia pun tersenyum ke Dinta, untuk menenangkannya, “Nggak seperti aku, yang sawo busuk ini, karena keseringan pakai kaos oblong dan celana pendek, hehehehe”, lanjut Astrid terkekeh. Astrid memang satu-satunya yang belum berhijab diantara mereka. Saat itu pun ia memakai selana jeans tiga perempat dengan kaos lengan pendek dn topi bulat. Tapi bukan berarti dia suka pakai baju terbuka dan sexy. Dia cuma suka pakai celana pendek dibawah lutut dan t-shirt, kalau bukan acara rohis atau kuliah. Sama seperti Dinta, dia suka yang simple.
“Tanning brown. Yang bule-bule kepingin banget, sampai berjemur seharian dibawah terik matahari pantai”, jawab Dinta, mengomentari kulit Astrid, kali ini dia yang tersenyum ke Astrid, “temen aku di Amrik yang kulitnya coklat seperti kamu,kadang di jealousin sama yang kulitnya keputihan dan terlalu pucat”
“Apapun warna kulit kita, yang penting kita bersyukur, Allah sudah ciptakan kita dengan sebaik-baik bentuk”, celetuk Vita dengan suara dan senyum kalemnya
Rima dan Astrid jadi mengalihkan pandangan mereka ke Vita,
“Betul itu”, jawab Astrid cepat, “tapi waktu belum berhijab, kamu sholat kan, Din?”, tanya Astrid ke Dinta, yang membuat Dinta mendelik padanya
“Ya, iyyalaah…., enak aja aku nggak sholat! Ya sholat, lah! Itu kan kewajiban!”, jawab Dinta cepat, pipinya bersemu merah lagi, membuat Rima dan Astrid tertawa melihat perubahan warna wajahnya
“Jangan marah, Dinta”, jawab Astrid lagi, “berarti beres, kan! Soal berhijab, memang butuh persiapan mental, kalau buat aku sih”, Astrid yang belum berhijab, tampaknya paling mengerti posisi Dinta sewaktu dia belum berhijab dulu, “jadi nggak setengah-setengah atau jadi jilboobs, tapi masih suka pamer-pamer bodi”, katanya lagi tegas
“Cieee…,yang lagi persiapan mental…!”, Dinta menimpali sambil tertawa, semua ikut tertawa dengan ledekan Dinta ke Astrid
“Ntar aja liat, kalau aku berhijab! Nggak lama lagi, kok!! Abis naik gunung, kali yaa..”Astrid jadi sedikit melamun, “Ngumpulin hijabnya dulu”, jawabnya lagi
“Percaya, Astrid”, sahut Rima, sambil tersenyum pada Astrid, “soal hijab, jangan khawatir, entar aku tambahin deh, aku punya banyak banget!”, katanya lagi
“Aku juga ikut, ah..mau nambahin hijab dan baju panjang atau gamis buat Astrid”, timpal Dinta, yang juga disela Vita, “kalau aku ikut nyumbang juga, boleh nggak nih?”
“Boleh ajaa…”, jawab Astrid, “Asal mau anterin ke kampus..”, katanya lagi sambil tertawa, Rima dan Dinta ikut tertawa, Dinta lalu menjelaskan bahwa Vita kuliah di fakultas kedokteran Trisatya
“Tenang aja Astrid, setelah berhijab, kita juga masih akan terus berproses, kok”, kata Vita ke Astrid, lalu dia memandang Dinta, sahabatnya, “Dinta, udah jangan dipikirin kata-kata Zelda, yang kita pikirkan sekarang itu, bagaimana kita setelah berhijab, bisa mempraktekkan pelajaran yang kita dapat di kelas kajian Islam dulu, yang kita ikuti di masjid. Kita berproses ke masa depan, bukan mundur kembali ke masa lalu”
“Iya Dinta”, Rima menimpali, “kata Al-Ghazali, masa lalu adalah sesuatu yang sudah tidak ada, sedangkan masa depan masih di angan-angan. Ngapain mikirin yang sudah tidak ada”, katanya lagi, “kita menjadikan masa lalu sebagai tolok ukur dan pelajaran untuk menjadi lebih baik di masa depan”
“Ya, betul itu”, Astrid pun tidak kalah, ikut berpendapat, “bagaimanapun kita di masa lalu, tapi kalau di masa sekarang, saat ini, seperti Dinta, yang konsisten dan serius dalam berhijab, lumayan syar’i, maksudnya bukan jilboobs, ikut kajian untuk belajar Islam, tahsin bahkan tahfidz, sepertinya, itu lebih baik, daripada pakai hijab atau pengajian hanya untuk ikut-ikutan atau untuk tujuan lain yang cuma main-main aja”
“Yo’i, bener banget”, sahut Rima, mereka semua jadi berpendapat, ingin memberikan pencerahan, ke dalam hati dan pikiran Dinta, supaya tidak kepikiran dan hatinya tidak buram berjelaga, karena ulah Zelda, mereka ingin menenangkan Dinta, “tau nggak, Allah lebih suka tangisan seorang pendosa yang bertobat, karena menyesal akan kesalahannya, takut serta mohon dan harap ampunan Allah, daripada ahli ibadah dan ahli ilmu yang sombong dengan ibadah dan ilmunya”
“Ya bener itu, Rima”, kali ini Vita yang berpendapat, “kalau mau lihat cewek yang hijrah, sih, ya liat Dinta, lah, emang bener-bener hijrah”, katanya sambil tersenyum pada Dinta, senyum yang menguatkan hati sahabatnya itu, “hijrah itu apa sih, pindah tempat, pindah sekolah, atau pindah dari sekolah jadi kuliah?”, tanyanya lagi, sebuah pertanyaan yang dia tidak minta ketiga temannya menjawab
Tapi dijawab oleh Astrid, “hijrah itu, berpindah dari perbuatan buruk atau tidak baik, menjadi perbuatan baik. Artinya mengubah dari perbuatan buruk jadi perbuatan baik, artinya lagiii..berubah menjadi lebih baik”, dia cepat-cepat menjawab, karena serunya dia, Rima dan Vita saling menimpali untuk menenangkan Dinta. Membuat Dinta yang masih sibuk dengan makanan terakhir yang mereka habiskan bersama, waffle cream coklat, jadi tersenyum-senyum sambil kadang bengong memperhatikan ketiga sahabatnya sambil ia mengunyah makanannya
“Dan semua itu…, memang butuh proses”, Rima mengakhiri penjelasalan mereka bertiga, sambil ia juga menikmati waffle cream coklat bersama Dinta, Vita dan Astrid, “dan kita semua sekarang sedang berproses”, katanya mengakhiri pendapatnya
Dinta menghela nafasnya, ia lalu tersenyum lebar, “Makasih ya, bestie-bestieku. Kalian emang the best, deh!”, katanya, sambil menyuapkan waffle, “nggak rugi aku pesan makanan banyak gini, perut tercerahkan, hati dan pikiran juga tercerahkan”, katanya sambil nyengir, wajahnya kembali bersemu merah karena hepi, “gimana, kalian juga perut tercerahkan, kan??”, tanyanya dengan wajah innocent
“Iya, lah…makanannya banyak gini”, jawab Rima, geli dia melihat ekspresi Dinta
“Tapi yang paling banyak makan kamu, Dinta!”, celetuk Astrid sambil terkikik, membuat Dinta, Vita dan Rima tertawa
“Yuk ah, kalau udah, kita ke masjid lagi, takutnya kajian udah dimulai”, ajak Vita, “tenang aja Dinta, kita bakalan hindarin Zelda dan langsung balik aja setelah kajian”, Vita menenangkan Dinta
“Okee…siap, boss..”, Dinta mengiyakan ajakan Vita. Ia juga mengajak Rima dan Astrid ikut ke masjid untuk mengikuti kajian Islam, lalu setelah itu, ia janji, akan mengantar mereka pulang satu-satu. Rima dan Astrid menyetujui ajakan dan usulan Dinta. Mereka segera meninggalkan kafe dan bergegas ke masjid untuk mengikuti kajian Islam.
Hari itu, walaupun tidak langsung balik ke kantor, tapi nongkrong bersama sahabat-sahabatnya, sebenarnya Rima merasa mendapat suntikan semangat. Dan yang pasti pelajaran berharga baginya. Ia jadi teringat Erin, sahabatnya di SMK. Ya, dulu di SMK, bahkan sejak SMP, ia hijrah bersama Erin, mulai berhijab dan sama-sama aktif di rohis. Tapi dulu mereka tidak menyadari, bahwa mereka semua berproses. Dan walau sekarang lepas hijab, Rima yakin, Erin pun masih menjalani prosesnya dalam hijrahnya, berproses untuk kehidupan yang lebih baik, pribadi yang lebih baik.
******************************************************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar