Rima adalah seorang gadis manis dari keluarga
kalangan menengah yang baik dan cukup pintar. Rima dan keluarganya tinggal di
sebuah kota kecil, di dekat Ibukota, yang cukup ramai. Rima remaja berumur 18
tahun dari Sekolah Menengah Kejuruan Akuntansi, yang mempunyai cita-cita
tinggi. Keluarga Rima adalah keluarga yang cukup konvensional, dengan Ayah dan
Ibunya yang mengikuti pandangan umum mengenai hidup dan masa depan keluarga.
Sekarang Rima sedang bingung. Tidak seperti
kebanyakan teman-temannya yang lain, yang selepas SMK banyak yang langsung mau
bekerja ataupun menikah, Rima ingin melanjutkan pendidikannya dengan
melanjutkan kuliah di sebuah Universitas ternama di Ibukota. Sejak naik kelas
XII, Rima sudah mengatakan niatnya tersebut kepada orangtuanya. Tapi tampaknya
Ayah dan Ibunya kurang setuju. Kebanyakan saudara-saudara sepupu Rima, yang
lulus SMK, dulunya juga langsung bekerja ataupun menikah. Dan sekarang mereka
semua bisa hidup dengan sejahtera. Ditambah, Ayah Rima memperhitungkan biaya
kuliah di zaman sekarang yang cukup mahal, walaupun jurusan yang dipilih Rima
bukan jurusan eksakta ataupun teknik, yang membutuhkan biaya sampai puluhan
bahkan ratusan juta rupiah. Ayah Rima merasa tidak sanggup membiayai Rima, jika
biayanya terlalu mahal. Dan lagipula, menurut Ayah Rima, zaman sekarang, tidak
jaminan seorang sarjana bisa langsung bekerja dan mempunyai karir yang bagus.
Banyak lulusan perguruan tinggi yang malah jadi pengangguran. Ayah Rima tidak
punya koneksi dengan pejabat tinggi di instansi pemerintah ataupun BUMN. Ayah
Rima, yang berpandangan bahwa zaman sekarang kalau mau bekerja menjadi pegawai
negeri atau pegawai BUMN harus memiliki koneksi, mengatakan pada Rima, masa
depan Rima selepas kuliah nanti malah tidak jelas, karena Ayahnya tidak
memiliki koneksi ataupun cukup uang untuk memasukkan anaknya menjadi pegawai
negeri di instansi manapun.
Sedangkan Ibu Rima, membuat Rima lebih bingung
dan sedih lagi. Ibu Rima ingin Rima untuk segera menikah. Ibu Rima melihat Kak
Melly dan Mbak Sukma, yang selepas SMA dan SMK langsung menikah, sekarang bisa
hidup sejahtera dan menjadi ibu rumah tangga yang baik bagi suaminya. Kak Melly
suaminya yang pegawai swasta asing dan suami Mbak Sukma, seorang karyawan di
perusahaan televisi terkenal. Ada saudara jauh Rima, Aa Robby, yang cukup
mapan, punya usaha tambak yang cukup sukses, dan penghasilannya sudah bisa membuatnya
membeli dua rumah dan terus menambah koleksi mobil dan kendaraan lain kalau dia
mau, ataupun berinvestasi tanah atau membeli tambak baru. Aa Robby belum
menikah dan sedang mencari jodoh. Aa Robby cukup dikenal dekat dengan keluarga
Rima. Nenek Rima dari pihak Ibu adalah sepupu dua kali dengan Nenek Aa Robby.
Aa Robby juga sudah beberapa kali ke rumah Rima dan bertemu dengan Rima. Pada
waktu itu Rima belum tahu bahwa Aa Robby sedang mencari jodoh, lagipula pada
waktu itu Rima masih sekolah dan belum lulus.
Rima sedih. Rima bingung. Baginya, tidak ada
orang yang bisa mengerti dirinya dan cita-citanya. Padahal dia sudah belajar
keras sejak kelas X, dan nilai-nilainya di sekolah tidak pernah mengecewakan.
Dia bukan ingin melawan orangtuanya. Dia mengerti, penghasilan Ayahnya tidak
cukup besar dengan pekerjaannya sebagai pegawai rendahan honorer di sebuah instansi
Pemerintah Daerah di kotanya. Memang keluarga mereka tidak hidup berkekurangan,
tapi Ayah dan Ibunya juga tidak punya tabungan sebesar biaya untuk memasukkannya
ke Perguruan Tinggi dan biaya hidup Rima di Ibukota selama kuliah. Ibu Rima
sebenarnya tidak memaksa Rima untuk menikah, tapi Ibu Rima setuju dengan Ayah
Rima, kalau Rima tidak perlu kuliah, lebih
baik langsung menikah atau bekerja saja, seperti Kak Mawar, yang bekerja di
sebuah developer Perumahan dan sekarang bisa memiliki rumah, hadiah dari
developer tersebut, dengan karirnya selama 12 tahun lebih di developer
Perumahan tersebut.
Kak Mawar juga sering main ke rumah Rima, sebab
Kak Mawar adalah sepupu Rima dari pihak Ayah, yang cukup akrab dengan Rima. Kak
Mawar mengatakan pada Rima, kuliah itu menghabiskan uang, tapi modal biaya
kuliah belum tentu kembali. Cuma habiskan waktu dan uang saja. Tapi kalau
langsung bekerja, bisa dapat uang dan tetap bisa belajar dari tugas-tugas kerja
sehari-hari dan selalu ada training dari perusahaan. Penjelasan Kak Mawar
sempat membuat Rima berubah pikiran. Tapi Rima menyadari, belajar dari pengalaman
saja tidak cukup. Zaman sekarang, hanya lulus sarjana memang tidak istimewa.
Bahkan lulus pascasarjana pun masih biasa-biasa saja. Lalu, bagaimana nasibnya
yang cuma lulusan SMK? Tidak!! Rima ingin kuliah dan menjadi sarjana. Rima
ingin, setidaknya ia mempunyai titel sarjana. Mungkin ia bisa kuliah sambil
bekerja. Dan siapa tahu, di masa depan, dia bisa melanjutkan pascasarjana
sambil bekerja. Rima sangat optimis dengan kemampuannya, bahwa ia bisa kuliah,
bahkan mungkin bisa sambil bekerja. Tapi sepertinya tidak ada yang se-optimis
dirinya dalam hal kuliah ini. Rima semakin sedih kalau mengingat soal optimis
ini.
Sampai suatu hari, menjelang pengumuman kelulusan
ujian Nasional dari SMK tempatnya belajar, Ibu Rima memanggil Rima, untuk
bicara dengan Ibu dan Ayah Rima. Adik-adiknya sedang bermain bersama
teman-teman tetangga di kampung mereka. Adik Rima dua orang, dua-duanya
laki-laki dan duduk di bangku SMP dan SD.
“Rima, sini.., Ibu dan Ayah mau bicara”, panggil
Ibu dari ruang TV. Rima langsung keluar mendengar panggilan Ibunya,”Ya, Bu”,
walaupun dia mengeluh dalam hati, karena firasatnya mengatakan ini bukan
sesuatu yang diharapkannya, tapi dia tetap duduk di ruang TV di hadapan Ayah
dan Ibunya.
“Rima..”, Ayahnya memulai, “Kamu boleh kuliah di
Depok”, kata Ayah Rima, langsung tanpa basa-basi, “Ayah dan Ibu setuju kamu
melanjutkan kuliah”, kata Ayah lagi
Mulut Rima terbuka sedikit, dia terkejut, kenapa
orangtuanya berubah pikiran?
“Tanah warisan Kakek yang di luar kota laku
dibeli orang”, jawab Ayah, seakan mengerti keheranan Rima, “Uangnya bisa untuk
mendaftarkan kamu kuliah, jurusan kedokteran sekalipun”, lanjut Ayah, “dan Ayah
juga beli mobil pick-up untuk Ayah berdagang”
“Tapi Ayah..”, sela Rima, “bagaimana dengan biaya
hidup disana?”
“Ibu kemarin ngobrol dengan Aa Robby. Dia bilang
ada orang di Depok yang punya kantor, butuh karyawan, sekalian jaga dan
bersih-bersih kantor”, Ibu menyambung perkataan Ayah dan menjawab pertanyaan
Rima, “Kamu bisa tinggal di kamar belakang kantor, ada kamar mandi dan dapur
kecilnya. Tapi kamu juga harus bisa bersih-bersih kantor dan jaga kantor itu”,
lanjut Ibu, “Ibu tanya ke Aa Robby, apakah kamu akan diberi uang gaji? Kata Aa
Robby, tentu saja. Dan memang orangnya butuh perempuan, yang apik, rapi, pintar
bersih-bersih, bisa sedikit hitungan akuntansi dan mengetik, jadi kamu juga
akan mengerjakan sedikit administrasi kantor. Gaji kamu tidak sedikit untuk
ukuranmu, Rima”, kata Ibu lagi sambil kemudian menyebutkan angka gaji yang
diketahui Ibu dari Aa Robby. Rima menahan nafasnya mendengar semua penjelasan
Ibunya. ”Bagaimana Rima, kamu mau atau tidak bekerja di kantor itu?” tanya Ibu
lagi, sementara Ayahnya terus memandang Rima dengan kasihan
“Mau..mau, Bu. Tentu saja Rima mau”, jawab Rima
cepat, “Tapi kantor apa itu, Bu?” tanya Rima lagi, kesedihannya selama ini
mendadak hilang, berganti dengan harapan yang melambung
“Nak, kamu benar-benar beruntung”, jawab Ibu,
sambil tersenyum, “Itu kantor akuntan. Tapi Akuntannya sering bepergian, jadi
memang butuh orang untuk jaga kantornya”
“Ooohh..begitu..”, Rima semakin heran, kenapa
tampaknya semua doa dan harapannya terkabul
“Nah Rima”, Ayahnya membuyarkan keheranannya,
“Sekarang kamu hanya perlu belajar keras supaya lulus tes masuk Perguruan
Tinggi incaranmu. Ibu akan mengkonfirmasi Aa Robby atas kesediaanmu bekerja.
Ayah dan Ibu akan bantu sepenuhnya untuk segala biaya dan masalah keperluan pendidikan
dan biaya hidupmu”, jelas Ayahnya panjang lebar.
“Baik Ayah”, jawab Rima dengan patuh. Ibu Rima
menarik Rima ke pelukannya. Dibelai sayang rambut Rima oleh Ibu, “Nah, sekarang
ayo masuk kamar dan belajar. Biar lulus tes masuk Perguruan Tinggi”
“Iya Bu”, jawab Rima patuh dan segera masuk ke
kamarnya
Di dalam kamar Rima tidak langsung belajar. Ia
sujud syukur dan mengucapkan doa terimakasih atas semua harapannya yang
terjawab. Segera setelah itu, ia membuka bukunya dan mulai belajar persiapan
masuk perguruan tinggi idamannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar