Senin, 02 Februari 2026

BAB I - Harapan dan Cita-Cita Rima

 


 

Rima adalah seorang gadis manis dari keluarga kalangan menengah yang baik dan cukup pintar. Rima dan keluarganya tinggal di sebuah kota kecil, di dekat Ibukota, yang cukup ramai. Rima remaja berumur 18 tahun dari Sekolah Menengah Kejuruan Akuntansi, yang mempunyai cita-cita tinggi. Keluarga Rima adalah keluarga yang cukup konvensional, dengan Ayah dan Ibunya yang mengikuti pandangan umum mengenai hidup dan masa depan keluarga.

Sekarang Rima sedang bingung. Tidak seperti kebanyakan teman-temannya yang lain, yang selepas SMK banyak yang langsung mau bekerja ataupun menikah, Rima ingin melanjutkan pendidikannya dengan melanjutkan kuliah di sebuah Universitas ternama di Ibukota. Sejak naik kelas XII, Rima sudah mengatakan niatnya tersebut kepada orangtuanya. Tapi tampaknya Ayah dan Ibunya kurang setuju. Kebanyakan saudara-saudara sepupu Rima, yang lulus SMK, dulunya juga langsung bekerja ataupun menikah. Dan sekarang mereka semua bisa hidup dengan sejahtera. Ditambah, Ayah Rima memperhitungkan biaya kuliah di zaman sekarang yang cukup mahal, walaupun jurusan yang dipilih Rima bukan jurusan eksakta ataupun teknik, yang membutuhkan biaya sampai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Ayah Rima merasa tidak sanggup membiayai Rima, jika biayanya terlalu mahal. Dan lagipula, menurut Ayah Rima, zaman sekarang, tidak jaminan seorang sarjana bisa langsung bekerja dan mempunyai karir yang bagus. Banyak lulusan perguruan tinggi yang malah jadi pengangguran. Ayah Rima tidak punya koneksi dengan pejabat tinggi di instansi pemerintah ataupun BUMN. Ayah Rima, yang berpandangan bahwa zaman sekarang kalau mau bekerja menjadi pegawai negeri atau pegawai BUMN harus memiliki koneksi, mengatakan pada Rima, masa depan Rima selepas kuliah nanti malah tidak jelas, karena Ayahnya tidak memiliki koneksi ataupun cukup uang untuk memasukkan anaknya menjadi pegawai negeri di instansi manapun.

Sedangkan Ibu Rima, membuat Rima lebih bingung dan sedih lagi. Ibu Rima ingin Rima untuk segera menikah. Ibu Rima melihat Kak Melly dan Mbak Sukma, yang selepas SMA dan SMK langsung menikah, sekarang bisa hidup sejahtera dan menjadi ibu rumah tangga yang baik bagi suaminya. Kak Melly suaminya yang pegawai swasta asing dan suami Mbak Sukma, seorang karyawan di perusahaan televisi terkenal. Ada saudara jauh Rima, Aa Robby, yang cukup mapan, punya usaha tambak yang cukup sukses, dan penghasilannya sudah bisa membuatnya membeli dua rumah dan terus menambah koleksi mobil dan kendaraan lain kalau dia mau, ataupun berinvestasi tanah atau membeli tambak baru. Aa Robby belum menikah dan sedang mencari jodoh. Aa Robby cukup dikenal dekat dengan keluarga Rima. Nenek Rima dari pihak Ibu adalah sepupu dua kali dengan Nenek Aa Robby. Aa Robby juga sudah beberapa kali ke rumah Rima dan bertemu dengan Rima. Pada waktu itu Rima belum tahu bahwa Aa Robby sedang mencari jodoh, lagipula pada waktu itu Rima masih sekolah dan belum lulus.

Rima sedih. Rima bingung. Baginya, tidak ada orang yang bisa mengerti dirinya dan cita-citanya. Padahal dia sudah belajar keras sejak kelas X, dan nilai-nilainya di sekolah tidak pernah mengecewakan. Dia bukan ingin melawan orangtuanya. Dia mengerti, penghasilan Ayahnya tidak cukup besar dengan pekerjaannya sebagai pegawai rendahan honorer di sebuah instansi Pemerintah Daerah di kotanya. Memang keluarga mereka tidak hidup berkekurangan, tapi Ayah dan Ibunya juga tidak punya tabungan sebesar biaya untuk memasukkannya ke Perguruan Tinggi dan biaya hidup Rima di Ibukota selama kuliah. Ibu Rima sebenarnya tidak memaksa Rima untuk menikah, tapi Ibu Rima setuju dengan Ayah Rima, kalau Rima  tidak perlu kuliah, lebih baik langsung menikah atau bekerja saja, seperti Kak Mawar, yang bekerja di sebuah developer Perumahan dan sekarang bisa memiliki rumah, hadiah dari developer tersebut, dengan karirnya selama 12 tahun lebih di developer Perumahan tersebut.

Kak Mawar juga sering main ke rumah Rima, sebab Kak Mawar adalah sepupu Rima dari pihak Ayah, yang cukup akrab dengan Rima. Kak Mawar mengatakan pada Rima, kuliah itu menghabiskan uang, tapi modal biaya kuliah belum tentu kembali. Cuma habiskan waktu dan uang saja. Tapi kalau langsung bekerja, bisa dapat uang dan tetap bisa belajar dari tugas-tugas kerja sehari-hari dan selalu ada training dari perusahaan. Penjelasan Kak Mawar sempat membuat Rima berubah pikiran. Tapi Rima menyadari, belajar dari pengalaman saja tidak cukup. Zaman sekarang, hanya lulus sarjana memang tidak istimewa. Bahkan lulus pascasarjana pun masih biasa-biasa saja. Lalu, bagaimana nasibnya yang cuma lulusan SMK? Tidak!! Rima ingin kuliah dan menjadi sarjana. Rima ingin, setidaknya ia mempunyai titel sarjana. Mungkin ia bisa kuliah sambil bekerja. Dan siapa tahu, di masa depan, dia bisa melanjutkan pascasarjana sambil bekerja. Rima sangat optimis dengan kemampuannya, bahwa ia bisa kuliah, bahkan mungkin bisa sambil bekerja. Tapi sepertinya tidak ada yang se-optimis dirinya dalam hal kuliah ini. Rima semakin sedih kalau mengingat soal optimis ini.

Sampai suatu hari, menjelang pengumuman kelulusan ujian Nasional dari SMK tempatnya belajar, Ibu Rima memanggil Rima, untuk bicara dengan Ibu dan Ayah Rima. Adik-adiknya sedang bermain bersama teman-teman tetangga di kampung mereka. Adik Rima dua orang, dua-duanya laki-laki dan duduk di bangku SMP dan SD.

“Rima, sini.., Ibu dan Ayah mau bicara”, panggil Ibu dari ruang TV. Rima langsung keluar mendengar panggilan Ibunya,”Ya, Bu”, walaupun dia mengeluh dalam hati, karena firasatnya mengatakan ini bukan sesuatu yang diharapkannya, tapi dia tetap duduk di ruang TV di hadapan Ayah dan Ibunya.

“Rima..”, Ayahnya memulai, “Kamu boleh kuliah di Depok”, kata Ayah Rima, langsung tanpa basa-basi, “Ayah dan Ibu setuju kamu melanjutkan kuliah”, kata Ayah lagi

Mulut Rima terbuka sedikit, dia terkejut, kenapa orangtuanya berubah pikiran?

“Tanah warisan Kakek yang di luar kota laku dibeli orang”, jawab Ayah, seakan mengerti keheranan Rima, “Uangnya bisa untuk mendaftarkan kamu kuliah, jurusan kedokteran sekalipun”, lanjut Ayah, “dan Ayah juga beli mobil pick-up untuk Ayah berdagang”

“Tapi Ayah..”, sela Rima, “bagaimana dengan biaya hidup disana?”

“Ibu kemarin ngobrol dengan Aa Robby. Dia bilang ada orang di Depok yang punya kantor, butuh karyawan, sekalian jaga dan bersih-bersih kantor”, Ibu menyambung perkataan Ayah dan menjawab pertanyaan Rima, “Kamu bisa tinggal di kamar belakang kantor, ada kamar mandi dan dapur kecilnya. Tapi kamu juga harus bisa bersih-bersih kantor dan jaga kantor itu”, lanjut Ibu, “Ibu tanya ke Aa Robby, apakah kamu akan diberi uang gaji? Kata Aa Robby, tentu saja. Dan memang orangnya butuh perempuan, yang apik, rapi, pintar bersih-bersih, bisa sedikit hitungan akuntansi dan mengetik, jadi kamu juga akan mengerjakan sedikit administrasi kantor. Gaji kamu tidak sedikit untuk ukuranmu, Rima”, kata Ibu lagi sambil kemudian menyebutkan angka gaji yang diketahui Ibu dari Aa Robby. Rima menahan nafasnya mendengar semua penjelasan Ibunya. ”Bagaimana Rima, kamu mau atau tidak bekerja di kantor itu?” tanya Ibu lagi, sementara Ayahnya terus memandang Rima dengan kasihan

“Mau..mau, Bu. Tentu saja Rima mau”, jawab Rima cepat, “Tapi kantor apa itu, Bu?” tanya Rima lagi, kesedihannya selama ini mendadak hilang, berganti dengan harapan yang melambung

“Nak, kamu benar-benar beruntung”, jawab Ibu, sambil tersenyum, “Itu kantor akuntan. Tapi Akuntannya sering bepergian, jadi memang butuh orang untuk jaga kantornya”

“Ooohh..begitu..”, Rima semakin heran, kenapa tampaknya semua doa dan harapannya terkabul

“Nah Rima”, Ayahnya membuyarkan keheranannya, “Sekarang kamu hanya perlu belajar keras supaya lulus tes masuk Perguruan Tinggi incaranmu. Ibu akan mengkonfirmasi Aa Robby atas kesediaanmu bekerja. Ayah dan Ibu akan bantu sepenuhnya untuk segala biaya dan masalah keperluan pendidikan dan biaya hidupmu”, jelas Ayahnya panjang lebar.

“Baik Ayah”, jawab Rima dengan patuh. Ibu Rima menarik Rima ke pelukannya. Dibelai sayang rambut Rima oleh Ibu, “Nah, sekarang ayo masuk kamar dan belajar. Biar lulus tes masuk Perguruan Tinggi”

“Iya Bu”, jawab Rima patuh dan segera masuk ke kamarnya

Di dalam kamar Rima tidak langsung belajar. Ia sujud syukur dan mengucapkan doa terimakasih atas semua harapannya yang terjawab. Segera setelah itu, ia membuka bukunya dan mulai belajar persiapan masuk perguruan tinggi idamannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab VII- Astrid Berhijab! (Bagian 2)

  “ Well, kalau Astrid berdialektika karena kecintaannya dengan alam, maka aku berdialektika karena..hmm..apa..ya, namanya, budaya, mungkin,...