Tidak terasa, sudah tiga bulan Rima menjalankan rutinitas barunya, sebagai mahasiswa dan sebagai karyawan kantor. Walaupun setiap malam kelelahan, karena masih harus bersih-bersih kantor setelah pulang kuliah, tapi Rima masih bisa menjalani semua aktivitasnya. Bahkan kegiatan diluar kuliah pilihannya yang satu lagi, basket, bisa juga ia jalankan. Sebab basket ini setiap hari Jum’at sore, dimana jadwal kuliahnya memang pulang sore. Jadi menurut Rima, sekalian saja setelah kuliah ia langsung ikuti kegiatan basket dan setelah itu baru pulang. Toh, kegiatan basket itu cuma satu setengah jam. Masih cukup waktu baginya untuk segera pulang dan mengerjakan tugas-tugasnya di kantor.
Jadi setiap hari Jum’at adalah jadwal Rima yang
paling padat. Pagi-pagi setelah subuh dia mulai mengerjakan tugas-tugas kantor
membersihkan kantor dan membuka kantor, setelah itu dia siap-siap untuk
pekerjaan kantor lainnya, sebab hari Jum’at jadwal kuliahnya siang sampai sore.
Jadi dia stand-by di kantor untuk bekerja sampai dengan jam sebelas.
Biasanya Bu Lenny minta tolong ia pergi belikan makan siang, untuk
karyawan-karyawan yang laki-laki sebelum mereka berangkat shalat Jum’at dan
untuk karyawan perempuan, yang makan pada saat jam karyawan laki-laki shalat
Jum’at. Setiap hari Jum’at jadwal kantor pulang jam dua siang. Jadi setelah
shalat Jum’at, biasanya pekerjaan para karyawan sudah tidak banyak dan suasana
kantor menjadi lebih santai, sehingga kehadiran Rima sudah tidak terlalu
dibutuhkan. Maka, sudah tepat kalau ia pamit jam 11 untuk segera pergi kuliah
ke kampusnya. Dan sesuai jadwal, setiap jam sebelas ia langsung ke stasiun
untuk berangkat ke kampus, mengikuti kajian rutin Keputrian setiap Jum’at sebelum
shalat Jum’at dan setelah shalat Jum’at, jadwalnya kuliah sampai jam empat
sore. Tapi Rima tidak bisa langsung pulang, sebab dia masih ada kegiatan
basket. Rima mengikuti kegiatan basket sampai selesai, sebelum akhirnya ia
pulang. Syukurlah, jarak antara kantor dan kampus hanya setengah jam, jadi Rima
masih bisa mengerjakan tugas kantornya, bersih-bersih kantor pada saat semua
karyawan sudah pulang dan menutup dan mengunci kantor, sebelum kembali ke
paviliun kecilnya di belakang kantor.
Tidak seperti biasanya, dimana setiap Jum’at,
sesuai jadwal sebelum shalat Jum’at, anggota baru Keputrian berkumpul untuk
mengikuti kajian, tapi hari Jum’at ini, mereka diminta untuk datang ke ruang
sekretariat Keputrian di Student Centre, yaitu area dimana sekretariat semua
perkumpulan dan organisasi mahasiswa Fakultas Ekonomi berada. Rupanya mereka
diundang untuk ikut meeting persiapan seminar yang akan diadakan DKM
An-Nuur. Walaupun seminar itu diadakan bersama dengan ikhwan, tapi ada
pembagian tugas yang jelas dalam kepanitiaan, jadi bisa tetap mengadakan meeting
secara terpisah dan kemudian ketua DKM dan Keputrian saling berkoordinasi.
Dalam rapat hari itu, dibentuk panitia dari
Keputrian yang berkoordinasi dengan ikhwan DKM An-Nuur. Dinta kebagian masuk
seksi transportasi dan akomodasi, sebab ia punya kendaraan yang bisa membantu
mobilitas panitia untuk persiapan dan pada saat acara. Rima dan Astrid
sama-sama masuk seksi dokumentasi dan publikasi. Tugas mereka membuat dan
menyebarkan brosur, flyer, pamflet dan sebaran lain sebagai publikasi acara
yang akan diadakan. Selain itu mereka juga ditugaskan untuk membuat dan
menyebarkan reel, video atau digital pamflet mengenai acara seminar di sosial
media. Rima sudah cukup sibuk dengan pekerjaan kantornya, jadi ia memilih tugas
yang paling ringan, yakni menyebarkan promosi acara dengan foto dan video di
sosial media dan juga menempel dan menyebar poster di kampus. Tugasnya yang
lain adalah membuat rekaman video dan foto, tapi nanti ketika acaranya
berlangsung. Sementara Astrid dengan kakak-kakak pengurus lama, akan membuat
desain leaflet, brosur dan lain-lain, juga membuat video dan reel promosi untuk
disebarkan secara online dan offline. Dinta juga langsung kebagian tugas untuk
pergi ke beberapa tempat, seperti ke rumah salah satu pembicara, melihat lokasi
pemesanan catering, karena ada tiga rekomendasi catering untuk konsumsi acara,
menjadi transportasi untuk seksi publikasi melakukan pemesanan pencetakan
brosur dan leaflet, dan tugas mobilitas lainnya. Semantara Rima tidak akan
terlalu sibuk dengan persiapan seminar, sebab ia sudah cukup sibuk membagi
waktunya dengan pekerjaan di kantor, ia izin untuk diberikan tugas yang ringan
atau mudah saja. Jadi diantara mereka bertiga, Hanya Rima yang tidak akan
terlalu sibuk sebagai panitia. Astrid dan Dinta yang akan sibuk di Keputrian,
sebagai panitia persiapan seminar.
Astrid dan Dinta yang ternyata sudah biasa
membuat reel, leaflet dan video promosi selama SMA, saling membantu untuk
menyelesaikan tugas kepanitiaan mereka. Astrid akan menginap di rumah Dinta,
untuk menyelesaikan tugas membuat poster dan leaflet, sebab Dinta punya
software aplikasi desain lengkap di komputer PC di kamarnya. Sementara Kak
Lala, Kak Suni dan Kak Reva, kakak-kakak pengurus lama yang juga panitia seksi
dokumentasi dan publikasi, akan membuat desain brosur dan baliho. Astrid juga
akan membuat video promosi dengan Kak Lala dan Kak Reva, pada hari Sabtu siang.
Sementara Dinta diminta untuk menemani seksi konsumsi untuk ke tempat catering,
ada beberapa catering yang menjadi pilihan, sebelum keputusan diambil. Dinta
juga nantinya akan bertugas mengantar seksi publikasi untuk memesan brosur,
pamflet, baliho dan pesanan lain untuk dicetak. Jadi, mereka berdua akan
benar-benar sibuk, tapi Astrid berjanji akan menemani Dinta kalau ia ingin
ditemani sewaktu melakukan tugasnya.
Astrid juga berjanji pada Rima, leaflet akan
sudah jadi pada hari Minggu pagi, pada saat acara kajian gabungan dengan DKM Masjid
Al-Aliim, jadi Rima bisa segera mengerjakan tugasnya menyebar dan menempel
poster di seluruh area kampus. Leaflet itu akan disebarkan di seluruh area Universitas
setelah kajian. Jadi, sesuai kesepakatan dengan Kak Lala, Kak Suni dan Kak
Reva, setelah kajian rutin hari Minggu pagi, Rima dan Astrid akan berkeliling
ke fakultas-fakultas lain untuk menempel poster dan menyebar leaflet mengenai
seminar yang akan mereka adakan. Rima setuju saja dengan semua usulan dan
rencana Astrid. Dinta berjanji akan menemani mereka menempel dan menyebar
brosur dan leaflet ke seluruh kampus, dengan mobil Dinta. Jadi, hari itu mereke
janjian lagi, untuk bertemu dan melakukan aktivitas bareng pada hari Minggu
nanti.
Hari Jum’at itu, Rima menyelesaikan tugasnya
dengan kelelahan, karena begitu padatnya jadwalnya setiap hari Jum’at. Tapi ia
tidak sedih dan masih senang dan bersemangat. Bahkan, setiap hari Minggu dia
masih ada kegiatan dan tidak bisa istirahat di paviliunnya pun, ia masih senang
dan semangat. Sebab ini pengalamannya pertama kali menjadi acara panitia
seminar, yang akan mengundang alumni Universitas Nusantara yang tergabung dalam
Ikatan Cendekiawan yang sudah menjadi Menteri, sebagai pembicara. Walaupun tugasnya
untuk persiapan acara hanya menyebarkan leaflet dan brosur, tapi ia senang bisa
berkontribusi sebagai panitia.
******************************************************************
Tiga hari telah berlalu sejak Rima berkeliling
kampus untuk menyebarkan leaflet dan menempelkan poster promosi mengenai
seminar DKM Fakultasnya. Minggu berikutnya, kabar mengenai acara seminar yang
akan diadakan oleh DKM Fakultas Ekonomi yang akan mengundang Menteri Agama yang
juga alumni Universitas Nusantara, sudah tersebar ke seluruh area kampus. Rima,
Dinta dan Astrid pun terkadang mendapat pertanyaan seputar seminar itu dari
teman-teman fakultasnya yang tahu bahwa mereka bertiga adalah aktivis DKM
An-Nuur. Rima, Astrid dan Dinta senang mendapat pertanyaan-pertanyaan dari
teman-temannya. Antusiasme teman-teman satu fakultas mereka tampaknya cukup
besar, bahkan ada yang sudah mendaftar untuk mengikuti seminar tersebut,
berhubung kuota terbatas, sesuai kapasitas aula di Fakultas Ekonomi.
Satu minggu pertama sejak poster-poster
ditempelkan di semua Fakultas di Universitas mereka, setiap Rima, Astrid dan
Dinta sedang berada di Sekretariat DKM Keputrian, ada saja mahasiswi dari
Fakultas lain yang datang untuk menanyakan acara tersebut dan bahkan ada juga
yang langsung mendaftar. Banyak yang tertarik mengikuti seminar ini, sebab,
selain mengundang alumni yang sudah menjadi Menteri, pembicara yang lain adalah
influencer dan juga seorang penyanyi di sosial media yang cukup dikenal
di kalangan anak muda, yang sedang mengeluarkan album baru yang bernuansa
religi. Apalagi, setiap peserta yang mendaftar juga mendapatkan goodie bag
sewaktu pendaftaran, berupa kaus seminar, notebook dan pulpen, flashdisk dan
juga stiker.
Rima, Dinta dan Astrid bersemangat mengerjakan
tugas-tugas kepanitiaan mereka, selain membantu panitia yang lain, setiap kali
mereka mampir ke Sekretariat, disela-sela jeda jam kuliah. Waktu itu, atmosfir
nasional sedang panas-panasnya. Hal itu karena sedang terjadi peperangan besar
di Timur Tengah yang mengakibatkan harga BBM naik sehingga banyak demo di
jalan-jalan. Perang itu begitu dashyat, sampai-sampai masuk ke isu mengenai
perpecahan umat Islam, karena dua pemimpin negara Timur Tengah yang diserang Amerika
dan sekutunya, malah bertikai karena perbedaan aliran dan pandangan agama . Di
tengah panasnya situasi, muncul isu-isu baru yang lain. Ada beberapa aliran
sesat yang mengaku sebagai aliran Islam baru, yang dibongkar dan dibakar tempat
ibadahnya. Pembongkaran dan pembakaran itu berujung rusuh dan pertikaian antara
ormas dan beberapa organisasi Islam lainnya, sehingga memicu keresahan
masyarakat dan berakhir dengan memicu kemarahan masayarakat, sampai-sampai
pemimpin ormas yang melakukan pembongkaran dan pembakaran dilaporkan ke
kepolisian, dan akhirnya memunculkan demo yang lebih banyak lagi. Isu tersebut
terus berkembang, sampai pada puncaknya ormas tersebut dan beberapa cabangnya
melakukan penggerebekan ke beberapa diskotik dan berakhir dengan kerusuhan di
beberapa tempat di Jakarta.
Ini berimbas pada sikap masyarakat yang mulai
berani. Ada beberapa kelompok yang melakukan intimidasi pada setiap orang yang
diketahui sebagai anak pesantren (santri), Ustadz ataupun anak DKM, yang tidak
diketahui asalnya, kenapa malah aktivis organisasi Islam, santri dan Ustadz
yang diintimidasi. Beberapa kalangan menyebutkan, bisa saja itu karena
orang-orang tersebut menganggap para santri, aktivis muslim, Kyai dan Ustadz
bersikap arogan, sehingga seenaknya melakukan pembongkaran dan pembakaran.
Opini tersebut tersebut terus berkembang sehingga kemudian menjadi pemicu
pertikaian antara ormas dan organisasi Islam dengan pendapat mereka
masing-masing.
Ketua DKM yang menyadari panasnya situasi,
cepat-cepat mengadakan rapat gabungan dengan Keputrian, untuk mewanti-wanti, kalau-kalau
sewaktu anggota DKM An-Nuur berada di luar kampus, mereka mendapat intimidasi.
Ketua DKM juga dengan cepat melakukan upaya antisipasi, untuk mencegah sitausi apabila
suasana panas di luar kehidupan kampus mulai masuk dan mempengaruhi kegiatan
DKM. Rima, Astrid dan Dinta pada waktu mengikuti rapat gabungan tersebut, belum
begitu ngeh dengan maksud dari Ketua DKM.
Sampai pada suatu hari, ketika Astrid mengajak
Rima dan Dinta untuk makan siang di kantin Fakultas Sastra. Rima, Dinta dan
Astrid kaget sekali, sewaktu melihat di papan pengumuman dimana biasa di tempel
berbagai poster kegiatan organisasi mahasiswa, poster seminar DKM mereka sudah
dirobek, dan ada tulisan : HOAX, bohong! Jangan ikut!
Rima cepat-cepat mencopot sisa robekan poster DKM
mereka tersebut. Setelah makan siang, ia mengusulkan untuk melihat
poster-poster yang telah mereka tempelkan di semua Fakultas. Dinta dan Astrid
setuju sekali, sebab mereka juga kaget dengan keadaan poster seminar DKM mereka
di Fakultas Sastra.
Keadaan poster seminar DKM mereka di Fakultas-
Fakultas lainnya, ternyata ada beberapa
yang kurang lebih keadaannya dengan yang ada di Fakultas Sastra, walaupun
banyak juga yang masih utuh dan masih tertempel rapi, seperti ketika pertama
kali Rima dan Astrid menempelkannya. Ada dari poster-poster tersebut yang
ditimpa atau ditutup dengan poster kegiatan dari organisasi lain. Ada juga yang
bahkan ditulis : Ga asik! Mending ikut acara kita, lalu diikuti tanda panah ke
arah poster organisasi lain.
Yang membuat Rima, Dinta dan Astrid bingung dan
sedih, poster-poster mereka ditimpa oleh poster-poster dari DKM juga. Tapi dari
DKM Fakultas lain, dan juga organisasi-organisasi Islam lain. Dinta yang paling
terkejut dengan keadaan semua poster yang ditempelkan kedua rekannya yang
tersobek-sobek dan dicoret-coret, mengatakan, ia tidak habis pikir, bagaimana
sesama DKM, bisa berbuat demikian. Astrid dan Rima segera mencopot semua poster
mereka yang telah robek dan dicoret-coret itu.
Dengan membawa beberapa lembar poster yang sudah
mereka tempel yang robek dan dicoret-coret itu, Rima, Dinta dan Astrid kembali
ke Sekretariat Keputrian An-Nuur di Fakultas Ekonomi. Waktu itu sudah mau
maghrib, jadi mereka memutuskan untuk shalat maghrib di Masjid Universitas baru
kemudian mereka ke Sekretariat.
Alangkah kagetnya Rima, Astrid dan Dinta, sewaktu
sampai Masjid, banyak orang bergerombol, dan tampaknya suasana cukup rusuh. Ada
asap di parkiran dan bahkan ada botol-botol yang dilempar. Ada beberapa pendemo
yang menggunakan pakaian preman dan tampaknya bukan berasal dari kampus mereka.
Mereka berteriak-teriak, shalat maghrib tidak usah berjamaah, tidak usah
diadakan, kalau hanya suka membakar sesama umat Islam. Tampak Ketua DKM
Al-Aliim berusaha menenangkan dengan beberapa security kampus. Rima,
Dinta dan Astrid cepat ditarik oleh Kak Suni, yang kebetulan ada di Mesjid
juga.
“Rima, Astrid, Dinta..ayo, ke mushalla Fakultas
saja!”, ajaknya sambil menarik tangan Dinta, dan berlari menuju ke arah
Fakultas mereka yang cukup dekat dengan area Mesjid. Dinta lalu menarik Astrid
dan juga Rima, untuk ke mobilnya saja
“Kak, pakai mobil saja, ayo! Rima, Astrid, ayo,
kita balik ke fakultas aja, biar mobil diparkir di fakultas aja”
Rima dan Astrid segera mengikuti Dinta yang
menggandeng tangan Kak Suni ke arah mobilnya di parkir.
“Kak, kenapa Kak, kenapa di mesjid kok malah ada
kerusuhan?”, tanya Astrid yang kebingungan dengan apa yang terjadi, sama dengan
kedua sahabatnya
“Itu preman. Sepertinya bayaran. Gara- gara isu
aliran Islam sesat dan ormas yang ramai di TV. Rupanya di sekitaran Monas dan
beberapa tempat juga, hari ini sedang terjadi kerusuhan”, Kak Suni menjelaskan
sambil mengikuti Dinta mendekati mobilnya, “Tadi saya dapat WA dari Ketua DKM
An-Nuur untuk berhati-hati.”, lanjutnya, “Sebab karena demo itu, di sekitaran Sarinah
arah ke Tanah Abang rusuh. Bahkan kepala preman di Tanah Abang sampai luka
parah dan dibawa ke rumah sakit. Tapi siapa yang menyebabkan dia luka parah,
belum jelas, apakah aparat kepolisian ataukah para pendemo dari ormas Islam.”,
Kak Suni menjeda sebentar, sewaktu mereka berempat masuk mobil dan kemudian
Dinta mengeluarkan mobilnya dari parkiran di belakang Mesjid Al- Aliim. Dinta
keluar lewat jalan lain, jalan belakang mesjid, sesuai arahan security,
yang memandu mobil-mobil yang ramai-ramai mau keluar meninggalkan area mesjid
karena takut dengan suasana kerusuhan di parkiran bagian depan mesjid.
“Oleh karena belum jelas itu, tau-tau ada
beberapa preman yang mulai melakukan kerusuhan di beberapa tempat lain, bahkan
di mesjid-mesjid, sampai di mesjid kampus kita ini. Mereka teriak : teroris,
islam munafik, pemecah belah umat dan pemecah belah bangsa”, tuntas Kak Suni
Rima dan Astrid bergidik mendengarnya. Rima
sempat bertanya, bagaimana keadaan stasiun, apakah aman. Sebab ia jadi takut,
kalau ia tidak aman, pada saat pulang nanti. Tapi Kak Suni tersenyum dan
mengatakan keadaan stasiun aman, security Universitas, petugas keamanan commuter
dan kepolisian sudah ditugaskan untuk berjaga-jaga di setiap stasiun, sejak kabar
preman yang membuat rusuh di beberapa tempat. Rima dan Astrid lega
mendengarnya. Ini pertamakalinya mereka melihat kerusuhan di kampus mereka,
jadi membuat mereka sedikit cemas dengan keadaan di kampus dan diluar kampus.
Setelah shalat maghrib di mushalla Fakultas,
mereka segera ke Sekretariat Keputrian di Student Centre. Kak Suni meninggalkan
Rima, Dinta dan Astrid bertiga di Sekretariat bersama dengan Kak Reva dan Sita
yang sudah ada di Sekretariat sejak sebelum mereka datang. Kak Suni dan Kak
Oliv, yang juga ada di Sekretariat sejak tadi, lalu pergi menemui Ketua DKM
An-Nuur untuk koordinasi mengenai peristiwa hari itu dan untuk antisipasi yang
bisa mereka lakukan, agar semua bisa pulang dengan aman dan selamat.
Mereka bertiga dengan Kak Reva dan Sita yang
tinggal di Sekretariat, lalu berdiskusi mengenai isu yang sedang panas di
Jakarta dan juga di mesjid kampus mereka hari ini. Rima dan Astrid mengakui
dengan jujur, mereka takut melihat keadaan yang rusuh tadi.
Belum selesai mereka berdiskusi, terdengar suara,
PRAAK…!!!BRUUK..!!!PRANG!!!!
Rupanya pot-pot bunga dari tanah liat yang berada
di luar Sekretariat, di area taman depan Sekretariat, ditendang orang yang,
sayangnya, mereka tidak bisa kenali dengan jelas. Orang itu lari dan kabur
dengan cepat sambil berteriak,
“GUE JUGA MUSLIM!! BATALIN AJA SEMINAR, KALAU
CUMA PECAH BELAH UMAT!!!”
Kelima muslimah tersebut kaget dibuatnya. Cepat
Kak Reva menghubungi Kak Suni. Ia juga meminta Dinta menghubungi Kak Oliv dan
menceritakan apa yang terjadi. Sewaktu dihubungi Dinta, Kak Oliv bilang akan
melaporkan kejadian itu pada Ketua DKM untuk berkonsultasi padanya mengenai
antisipasi keadaan dan akan segera kembali segera setelah mereka selesai
bertelefon.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Kak Oliv
kembali bersama Kak Suni, Ketua DKM, Yani teman satu kelompok Rima sewaktu
pertamakali pertemuan, dan dua orang ikhwan. Ketua DKM dan dua orang ikhwan
tersebut datang ke ruang Keputrian untuk melihat pot-pot Keputrian yang hancur
dan untuk mendengar detil cerita mengenai orang yang datang menghancurkan pot
dan taman di depan ruang Keputrian. Ruang Sekretariat DKM ikhwan memang
terpisah dengan Keputrian dan organisasi lain di Fakultas Ekonomi. DKM ikhwan
diberi ruangan di belakang area mushalla An-Nuur oleh Fakultas. Jadi ikhwan
bisa mengakomodir shalat berjamaah, adzan, dan lain-lain seputar masalah ibadah
di mushalla An-Nuur.
Pada pertemuan singkat mereka, Rima dan Astrid
juga menunjukkan dan menceritakan mengenai poster-poster seminar mereka yang
dicoret-coret, disobek dan ditimpa dengan poster-poster dari organisasi lain.
Ketua DKM dan kakak-kakak senior lain tersenyum mendengarnya,
“Kalau soal itu, sudah biasa”, Kak Ibrahim, Ketua
DKM, memulai penjelasannya, “maksud saya, bukan sudah biasa kita diperlakukan
buruk oleh pihak lain dengan menyobek-nyobek poster DKM kita”, lanjutnya,
“Tapi, itu terjadi pada hampir semua poster yang ditempelkan di setiap papan
pengumuman di Universitas ini”
Rima, Astrid dan Dinta jadi bengong, mereka belum
mengerti maksud Kak Ibrahim
“Jadi…”, Kak Ibrahim melanjutkan lagi, “di Kampus
kita ini kan banyak UKM, Unit Kegiatan Mahasiswa, dengan segala aktivitasnya.
Nah, setiap UKM sering bikin acara. Nah, bayangkan, kalau satu hari ada 5 UKM
di satu Fakultas yang megadakan dua acara, dengan dua poster. Padahal, papan
pengumuman yang tersedia cuma tiga, paling banyak lima”
Rima, Astrid dan Dinta mulai mengerti. Rima
menatap kakak-kakak senior dengan tersenyum, untuk memberikan pengertian bahwa
ia sudah mulai mengerti
“Nah, belum lagi poster-poster dari fakultas lain
yang ikut di tempel di papan pengumuman, berapa banyak poster yang harus
tertempel. Dan seringkali, poster yang sudah begitu lama tertempel, tidak ada
yang mencabut. Papan pengumuman tidak ada yang membersihkan, jadi langsung
ditimpa, ditutup, dan ditempel dengan poster yang baru”, tuntas Kak Ibrahim
sambil tersenyum kepada Rima, Astrid dan Dinta
“Ooooooo…….”, tanpa sadar Dinta bergumam, membuat
kedua sahabatnya dan kakak-kakak senior yang akhwat tertawa. Dinta jadi tersipu
malu. Dia jadi mengerti dan cukup puas dengan jawaban Kak Ibrahim, sebab tadi
dia yang paling kaget dan heran, kenapa poster-poster mereka sampai disobek,
dicoret dan ditimpa poster organisasi-organisasi lain
“Mengenai coret-coret di poster kita itu..”, Kak
Ibrahim memulai lagi, “itu juga sudah biasa. Cobalah kalian perhatikan, kampus kita ini cukup terbuka dan
mudah diakses oleh orang-orang dari luar. Kadang ada orang-orang iseng, yang
kalau lewat papan pengumuman sering mencoret-coret sesuka hati mereka. Saya
sendiri pernah melihat langsung beberapa kali anak-anak yang lewat dan mencoret
satu dua poster di papan pengumuman yang ada di depan Fakultas kita. Waktu saya cegah, mereka
cuma melihat saya dan langsung kabur”, kata Kak Ibrahim mengakhiri cerita dan
penjelasannya
“Jadi.., maksud Kak Ibrahim….”, Kak Sena, kakak
senior ikhwan yang satu lagi, menyambung perkataan Kak Ibrahim, “soal poster
itu, bukan hal baru. Jadi bukan masalah. Don’t worry be happy, okay. La
tahzan”, katanya sambil sedikit bercanda dan tertawa.
Dinta yang bengong mendengar penjelasan Kak
Ibrahim dan Kak Sena jadi tertawa, kedua sahabatnya pun tertawa bersamanya.
“Oke, soal pot-pot bunga dan orang yang berteriak
dan kabur tadi, nanti saya laporkan pada security Fakultas dan juga Dosen Pembina DKM. Siapa tau
beliau-beliau punya solusi”, Kak Ibrahim melanjutkan ke topik lain,”Sekarang
sebaiknya akhwat pulang dulu aja. Ini udah hampir Isya. Setelah shalat jamaah Isya
di musholla An-Nuur, sebaiknya langsung pulang, nanti diantar ramai-ramai ke
stasiun oleh ikhwan yang juga mau pulang dan diantar security Fakultas”
“Sebaiknya kita saling menjaga, dan akhwat juga
harus bisa jaga diri, jangan pulang malam dalam situasi yang sedang kurang baik
seperti ini”, Kak Sena menyambung lagi perkataan Kak Ibrahim. Kak Sena adalah
wakil ketua DKM dan sekaligus pembina divisi Tahfidz Al-Qur’an.
“Ya betul”, sambung Kak Ibrahim, “yuk, sekarang
kita ke mushalla, biar sekretariat ini dikunci dan semua pulang”, Kak Ibrahim
beranjak dari tempat duduknya
Sambil menunggu para akhwat bersiap pulang dan
mengunci Sekretariat, Kak Ibrahim, Kak Sena, dan Attar, ikhwan satu lagi yang
seangkatan dengan Rima, Astrid dan Dinta, ngobrol dengan teman-teman dari UKM lain
yang sekretariatnya bersebelahan dengan Keputrian. Teman-teman UKM mengaku
tidak melihat jelas orang yang merusak pot-pot Keputrian, sebab waktu itu masih
baru selesai maghrib, masih dihitung waktu maghrib. Mereka semua ada di dalam
ruang Sekretariat, karena banyak diantara mereka yang shalat di ruang Sekretariat
masing-masing dan tidak ke musholla. Jadi, sama seperti akhwat, mereka tidak
melihat jelas orang yang langsung kabur itu.
Kak Ibrahim dan Kak Seno mengucapkan terimakasih
atas keterangan teman-teman UKM, lalu berpamitan pada teman-teman dari UKM-UKM
di Student Center itu, dan kemudian mereka pulang, diikuti dengan para akhwat
anggota Keputrian.
*********************************************************************
Seakan tiada habisnya, keesokan hari sewaktu Rima
main ke Sekretariat Keputrian disela jeda kuliah, ia mendapat kabar yang kurang
menyenangkan dari teman-temannya dan kakak-kakak seniornya, bahwa dari DKM
Fakultas Hukum ingin DKM mereka, untuk mengundurkan waktu seminar. Sebabnya
adalah, DKM Fakultas Hukum akan mengadakan lomba cerdas-cermat Agama Islam yang
akan bekerjasama dengan Pemerintah Arab Saudi untuk kemudian akan ada olimpiade
wawasan keislaman untuk pelajar SD dan SMP di lingkungan sekitar Kampus.
Rencananya, DKM Fakultas Hukum akan mengundang Duta Besar Arab Saudi untuk
datang ke DKM Fakultas Hukum, tapi ternyata waktunya berbarengan dengan seminar
DKM Fakultas Ekonomi.
Sebenarnya, Fakultas Ekonomi, yakni DKM An-Nuur,
sudah lebih dulu dalam persiapan seminar yang mengundang Menteri Agama, dan
Fakultas Hukum baru mulai melakukan persiapan acara mereka beberapa hari sejak poster
seminar DKM An-Nuur disebarkan. Masalahnya, cerdas- cermat wawasan Islam itu
adalah acara rutin yang diadakan Fakultas Hukum setiap tahunnya. DKM Fakultas
Hukum sudah empat tahun masuk ke sekolah-sekolah lingkungan sekitar kampus dan
mengadakan acara tersebut. Tapi baru tahun ini, Fakultas Hukum berencana untuk
tidak sekedar cerdas-cermat tapi mengadakan olimpiade dan berencana mengundang
Duta Besar Arab Saudi ke acara tersebut. Karena acara yang sudah dianggap rutin
itulah, DKM Fakultas Hukum merasa berhak untuk meminta DKM An-Nuur Fakultas
Ekonomi, untuk mengundurkan waktu seminar mereka.
Kak Ibrahim, Ketua DKM An-Nuur, yang mengetahui bahwa
persiapan seminar yang akan mereka adakan sudah lebih dulu daripada kegiatan
DKM Fakultas Hukum, tentu saja menolak permintaan itu. Pada saat Rima mengikuti
kuliah di kelasnya sebelum dia ke Sekretariat Keputrian, Kak Ibrahim dipanggil
oleh panitia cerdas-cermat DKM Fakultas Hukum, untuk mendiskusikan hal itu di
DKM Fakultas Hukum. Rima main ke Sekretariat Keputrian karena ingin bertemu
dengan Dinta dan Astrid yang setiap jeda kuliah menyempatkan diri ke
Sekretariat untuk menyelesaikan tugas kepanitiaan seminar. Di Keputrian, Rima
mendengar berita tersebut, dan ia sempat melihat Kak Ibrahim yang sedang
mengunjungi Sekretariat Keputrian, untuk memberi kabar kelanjutan mengenai
orang yang menghancurkan taman dan pot Keputrian semalam sebelumnya. Kak
Ibrahim juga menceritakan mengenai permintaan DKM Fakultas Hukum tersebut.
Wajah Kak Ibrahim sedikit merah, mungkin karena jengkel atau karena kelelahan,
yang pasti, kata Kak Sena, mereka mendapat cukup intimidasi karena hal itu.
“Intimidasi bagaimana, Kak?”, Astrid meminta
penjelasan Kak Sena
“Yah, sebenarnya kami juga kaget, biasanya DKM
Fakultas Hukum tidak se-ekstrim itu. Tapi tadi di Sekretariat DKM Fakultas
Hukum, kami berdua dikelilingi oleh anggota DKM Fakultas Hukum yang memaksa
kami untuk mengundurkan acara tersebut”, jawab kak Sena, menjelaskan kepada
Astrid, dan juga akhwat-akhwat yang lain yang mendengarkan
“Lalu, apakah kita akan mengundurkan seminar?”,
sela Kak Suni, yang merupakan Ketua Divisi Keputrian DKM An-Nuur
“Ya tentu saja tidak”, jawab Kak Ibrahim cepat,
“kita akan terus melanjutkan persiapan seminar”, jelasnya lagi, “kalau DKM
Fakultas Hukum memaksa dan memanggil kami lagi, saya akan coba konsultasikan
hal ini pada Dewan Pembina”
“Ya, sepertinya itu solusi yang bagus untuk
keadaan saat ini”, kata kak Suni, tampaknya ia juga terkejut dengan informasi
dari Kak Ibrahim mengenai DKM Fakultas Hukum
Kak Ibrahim dan Kak Seno kemudian kembali ke
Sekretariat DKM di belakang mushalla, setelah sebelumnya memberitahu kepada
akhwat di Keputrian bahwa pelaku perusakan taman masih diselidiki oleh security
Fakultas.
***************************************************************
Tampaknya, ujian kesabaran untuk anggota DKM
Annur, termasuk divisi Keputrian, belum berakhir, bahkan semakin parah.
Keesokan paginya, pada saat Rima di stasiun
menunggu Astrid dan Dinta, ada yang menyenggolnya, hingga bukunya jatuh dan
berserakan. Bukannya minta maaf, mahasiswa tersebut, malah menghardiknya, “DKM
sombong!! Sok merasa benar sendiri!!”, lalu ia pun pergi dengan cuek, tanpa
membantu Rima membereskan buku-bukunya yang jatuh.
Rima mencoba bersabar, sambil menunggu Astrid
yang akan datang dengan kereta jadwal berikutnya, dan setelah itu mereka akan
menunggu Dinta yang akan menjemput mereka di stasiun dan mereka bersama-sama
naik mobil Dinta ke fakultas mereka.
Tidak lama Astrid pun datang, dan mereka segera
ke tempat mereka biasa menunggu Dinta. Sambil menunggu, Astrid melihat-lihat
papan pengumuman Universitas di samping halte tempat mereka menunggu. Rupanya
ada poster yang baru ditempel.
“Rima, liat deh poster ini”, kat Astrid sambil
menunjuk psoter yang ia baca
Rima melihat poster itu. Sebuah poster undangan
kajian dari Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis Universitas Nusantara.
Judulnya cukup membuat Rima takjub:
‘Kajian Kebhinekaan : Islam sebagai mayoritas,
pemecah belah atau pemersatu bangsa?’, di bawahnya
ada tulisan : “Menanggapi isu aliran Islam sesat dan komunitas-komunitas
minoritas di Indonesia”
“Tampaknya cukup menarik”, jawab Rima datar,
“kamu mau ikut?”
“Yah, kalau ada waktu dan ada teman, bisa aja,
kamu mau?”, Astrid bertanya balik pada Risma, “mungkin Dinta juga tertarik”
Tidak lama kemudian, mobil Dinta datang dengan
diikuti oleh bis Universitas, tidak jauh dibelakangnya. Rima dan Astrid segera
bersiap, tapi tiba-tiba segerombolan mahasiswa yang sedari tadi juga menunggu
di halte, juga ikut bersiap akan naik
bis dan menabrak Astrid dan Rima, tampaknya mereka sama-sama mahasiswa tingkat
pertama, tapi dari fakultas lain. Salah seorang dari mereka membentak Astrid,
“jalan liat-liat! Muslim sombong!!”, mahasiswa satu lagi menimpali, “Arogan!!”
Astrid dan Rima yang terkejut, tidak sempat
membalas atau melakukan apapun. Mereka berdua justru bergegas ke arah mobil
Dinta dan segera masuk. Sebelum masuk, mereka mendengar salah satu diantara gerombolan
mahasiswa itu berteriak lagi, ”Kami juga muslim!!!”, lalu disusul oleh temannya
yang lain, ”Kami mahasiswa demokratis nasionalis!!”, katanya sambil
memperlihatkan lambang organisasi yang sama dengan lambang pada poster yang
dibaca Astrid dan Rima di papan pengumuman tadi.
Rima dan Astrid segera menutup pintu mobil, dan
Dinta yang menyadari ada hal yang tidak enak dialami kedua temannya, segera
tancap gas meninggalkan halte mendahului bis yang masih menunggu mahasiswa dan
mahasiswi yang akan naik. Dalam perjalanan ke fakultas, Astrid dan Rima
menceritakan soal acara yang mereka lihat di poster di papan pengumuman halte
tadi, dan kejadian yang mereka alami di halte. Rima juga jadi ingat dengan
kejadian di stasiun sewaktu menunggu Astrid, jadi ia menceritakannya juga pada
Astrid dan Dinta.
“Hmmm…bagaimana kalau kita konsultasi ke Kak Oliv
atau Kak Suni, dan kita ajak sekalian kakak-kakak itu untuk datang ke acara
tersebut?”, usul Dinta, “jadi kalau kita datang ke acara tersebut, kita tidak
akan diintimidasi seperti tadi, karena jumlah kita cukup banyakan dan kita
bersama dengan kakak-kakak yang lebih senior”
“Usul yang bagus”, kata Rima,
“mahasiswa-mahasiswa tadi sepertinya masih tingkat pertama seperti kita”
“Okelah”, sahut Astrid, “nanti istirahat siang
jam 12, kita sempatkan ke Sekre Keputrian sebelum shalat di mushalla”
“Oke, siapp”, dua sahabatnya menyetujui.
Mobil Dinta sampai di fakultas ekonomi, dia
memarkir mobilnya dan mereka bertiga bergegas menuju ruang kelas dimana kuliah
pertama mereka pagi ini berlangsung.
******************************************************************
Rima, Dinta dan Astrid tidak perlu repot-repot
mencari Kak Suni dan Kak Oliv ke Sekretariat Keputrian. Di kantin, mereka
bertemu dengan kedua kakak senior itu, juga Kak Lala dan Kak Reva, bahkan
dengan Yani, Sita dan juga Tata dan Cika. Tata dan Cika adalah teman seangkatan
mereka, anggota baru Keputrian, sama seperti mereka, hanya beda kelompok,
sewaktu pertamakali mereka mengikuti pertemuan DKM di masjid Universitas.
“Rima, Dinta, Astrid, duduk sini aja!”, panggil
Kak Suni, kepada ketiga gadis itu
Rima, Dinta dan Astrid segera mendekati meja
teman-temannya dari Keputrian. Mereka membawa baki makanan yang mereka pesan ke
meja tersebut. Teman-temannya dari Keputrian juga sedang makan siang.
“Kok tumben, kumpul-kumpul Keputrian komplit
begini?”, sapa Astrid ramah, kepada teman-teman dan kakak-kakak seniornya itu
“Ga komplit amat sih, banyak yang belum kumpul,
masih pada kuliah dan ada kegiatan lain”, jawab Kak Suni, sambil balas
tersenyum ramah pada Astrid, “Ayo, sini duduk, kita makan bareng disini, ada
hal penting yang saya mau sampaikan”, lanjut Kak Suni lagi
Rima, Dinta dan Astrid segera duduk di tempat
yang disediakan untuk mereka, diantara teman-teman dan kakak-kakak seniornya
Rupanya kakak-kakak seniornya dan teman-temannya
itu juga tengah menghabiskan makan siang mereka. Ada yang sudah mau habis, ada
yang baru saja mulai makan. Tapi, wajah
mereka tidak tampak santai. Seperti ada ketegangan yang membayangi
mereka.
“Ada apa, Kak, kok kayaknya ada sesuatu..?”,
tanya Dinta
“Sesuatu banget….”, sambung Astrid
Rima dan Dinta tertawa dengan candaan Astrid,
kakak-kakak senior dan teman-temannya juga ikut tertawa
“Ya emang, ada sesuatu”, jawab Kak Suni, “Tapi
kalian makan dulu aja, nanti sambil kalian makan, akan saya ceritakan”
Rima, Dinta dan Astrid menuruti kata kakak
seniornya itu, segera mulai menyantap makan siang mereka. Rima, seperti biasa,
akan memadukan bekal yang ia bawa dari paviliunnya, yang ia masak sendiri
setiap pagi, dengan lauk-pauk murah yang ia beli di kantin.
Sambil mereka makan, Kak Suni menceritakan bahwa
masalah dengan DKM Fakultas Hukum belum selesai. Bahkan hari ini, mereka akan
diundang untuk mengikuti pertemuan dengan Mahasiswa Demokratis Nasionalis.
Perkumpulan itu mengundang DKM Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi sekalian, untuk
datang dan mendiskusikan mengenai acara yang akan diadakan oleh ketiga
organisasi itu. Kak Suni menambahkan, sekarang DKM Fakultas Hukum bersikap
sedikit lunak, karena mereka mendapat intimidasi dari Perkumpulan Mahasiswa
Demokratis Nasionalis. Tapi, DKM An-Nuur juga mendapatkan intimidasi serupa
dari Perkumpulan tersebut. Jadi, sekarang DKM An-Nuur mendapat intimidasi,
bahkan dari dua pihak, dari DKM Fakultas Hukum dan dari Perkumpulan Mahasiswa
Demokratis Nasionalis.
Kak Suni menceritakan beberapa kejadian yang
dialami Kak Lala dan Kak Reva sehubungan dengan komen-komen di sosmed pada vlog
promosi event mereka dan juga sewaktu Kak Lala dan Kak Reva di kampus. Bahkan
Tata dan Cika juga mendapatkan intimidasi, dan mereka mendapatkan intimidasi
tidak hanya dari Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis, tapi juga dari
anggota DKM Fakultas Hukum.
Setelah teman-temannya dari Keputrian
menceritakan kejadian-kejadian yang menimpa teman-temannya itu, Rima dan Astrid
juga menceritakan kejadian yang menimpa mereka berdua tadi pagi di halte bis
kampus. Dinta menambahkan mengenai acara yang akan diadakan oleh Perkumpulan Mahasiswa
Demokratis- Nasionalis, sekaligus menanyakan apakah kakak-kakak seniornya mau
menghadiri kajian yang diadakan oleh Perkumpulan tersebut. Kak Suni tidak
menjawab ajakan Dinta, ia malah melanjutkan perkataannya, “Hmmm…, security
fakultas tadi pagi menghubungi Kak Ibrahim, dan menceritakan, kemungkinan yang
merusak pot-pot dan taman Keputrian adalah anggota Perkumpulan Mahasiswa
Demokratis Nasionalis. Tapi security belum bisa memastikan”, jelas Kak
Suni, “Dan hari ini, Perkumpulan itu mengundang DKM An-Nuur untuk datang
menemui mereka di Sekretariat mereka, bersama dengan Fakultas Hukum”,
“Tapi mereka meminta dengan intimidasi kepada Kak
Ibrahim dan Kak Sena”, Cika menambahkan cerita Kak Suni
“Kak Sena dan Kak Ibrahim mau menghadiri
pertemuan itu bukan karena diintimidasi. Tapi karena ingin memastikan informasi
dari security fakultas”, Yani menimpali
“Kak Sena bilang, mereka juga ingin tahu, apa mau
sebenarnya dari organisasi tersebut,…dan juga bagaimana kelanjutannya dengan
DKM Fakultas Hukum”, Sita tidak mau kalah, ikut menambahkan juga
“Nah, Kak Ibrahim dan Kak Sena, mengajak kita,
anggota Keputrian, untuk ikut dalam pertemuan itu, nanti sore, setelah ashar,
kira-kira jam 4, setelah kuliah selesai”, Kak Suni menjelaskan lagi, kembali
pada duduk perkara
“Kalian yang semester pertama, jam 4 nanti udah
pada selesai kuliah, kan?”, katanya, sambil memandang adik-adik juniornya itu,
“Kalau kami yang semester tiga keatas, sih, jam 4 udah pada nggak ada kuliah
hari ini”, lanjutnya, yang diikuti anggukan setuju dari kakak-kakak lainnya.
Adik-adik juniornya itu langsung menjawab masing-masing, hampir berbarengan
bahwa hari ini, mereka juga tidak ada kuliah setelah jam 4 sore.
Kak Suni kemudian membuat kesepakatan, mereka
untuk setelah kuliah pada jam 4 nanti, bertemu di mushalla, supaya bisa
langsung bergabung dengan ikhwan, untuk bersama-sama menghadiri undangan
pertemuan Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis di sekretariat
perkumpulan itu.
Semua menyetujui usulan Kak Suni itu, lalu mereka
melanjutkan menghabiskan santap siang mereka sambil mengalihkan ke obrolan lain
yang lebih ringan, untuk mengurangi ketegangan yang mereka rasakan, akibat
tekanan dari pihak luar yang mereka dapatkan akhir-akhir ini. Rima, Astrid, dan
Cika bahkan sempat membanyol agar mereka bisa bercanda dan tertawa, untuk
menghidupkan suasana. Kakak-kakak senior mereka ikut tertawa, dan ketegangan
yang mereka rasakan menjadi sedikit berkurang.
************************************************************
Setelah kuliah terakhir hari itu selesai, Rima,
Dinta dan Astrid segera ke mushalla dan melaksanakan shalat Ashar. Disana sudah
ada teman-teman dan kakak-kakak seniornya yang tadi makan siang bersama dengan mereka.
Kak Ibrahim, Kak Sena dan kakak-kakak ikhwan yang lain juga sudah berkumpul.
Tanpa berlama-lama, mereka segera pergi ke Sekretariat Perkumpulan Mahasiswa
Demokratis Nasionalis dengan berjalan kaki.
Sesampainya di Sekretariat Perkumpulan Mahasiswa Demokratis
Nasionalis, tampak anggota perkumpulan itu sudah siap mengadakan diskusi.
Selain itu, ada juga anggota DKM Fakultas Hukum yang menghadiri pertemuan itu.
Tapi tidak tampak atmosfer bersahabat diantara keduanya. Malah, tampak Ketua
kedua organisasi tersebut sedang bersitegang. Kak Ibrahim dan anggota DKM
An-Nuur yang baru datang segera menyadari hal itu dan duduk di tempat yang
telah disediakan.
Para anggota DKM Fakultas Hukum dan anggota
Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis tidak terlalu memperdulikan Kak
Ibrahim dan anggota DKM An-Nuur yang lain, karena rupanya mereka sedang
terlibat debat panas diantara kedua kubu. Perdebatan itu kemudian dipotong oleh
Ketua Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis selaku yang mengadakan acara,
“Oke, kita stop dulu debatnya. Ini dari DKM
Fakultas Ekonomi udah pada datang. Ayo, sekarang kita mulai pertemuan hari
ini”, katanya memulai, sambil memberi anggukan kepada salah satu temannya, yang
oleh temannya itu, segera dilanjutkan
“Baiklah teman-teman, segera kita mulai aja acara
hari ini. Saya, Aslam, selaku moderator dalam pertemuan ini. Maksud diadakan
pertemuan ini adalah untuk menggali tema mengani acara yang akan diadakan
ketiga organisasi dan diakhiri dengan kesepakatan mengenai jadi tidaknya dan waktu
pelaksanaan masing-masing acara dari setiap organisasi yang ada disini”, dia
memaparkan sambil memandang pada Kak Ibrahim, dan ikhwan dari DKM Fakultas
Hukum. Tampaknya ikhwan itu adalah ketua DKM Fakultas Hukum.
“Baiklah”, lanjutnya, “untuk selanjutnya, saya
serahkan pada Bang Jumadi, selaku Ketua Perkumpulan Mahasiswa Demokratis
Nasionalis”, dia lalu menyerahkan mic kepada seorang mahasiswa yang bernama
Jumadi.
“Oke, langsung saja ya, karena hari sudah sore,
supaya selesainya tidak terlalu malam”, Jumadi memulai, “sebelumnya, perlu
diketahui oleh para tamu undangan, DKM Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi,
yang hadir disini sekarang, semuanya yang hadir disini saat ini, tidak semua anggota
Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis, tapi hanya yang muslim saja”, Jumadi
menyebarkan pandangan pada setiap orang yang hadir di ruangan itu, “ini
sengaja, karena memang agenda kami hari ini untuk meminta kejelasan dari kedua
DKM, terkait dengan isu yang sedang berkembang, baik di tingkat Nasional maupun
di kampus kita ini”
“Singkat saja, Bang”, potong Aslam, dengan suara
pelan
“Baik”, Jumadi melanjutkan sambil mengangguk ke
arah Aslam, “menurut kami, sebaiknya kedua DKM batalkan saja acara yang akan
diadakan, sebab situasi sedang tidak kondusif”, Jumadi langsung to the
point, “yang paling cocok dengan situasi sekarang itu kajian yang akan kami
adakan. Ini untuk kebaikan anggota DKM-DKM juga. Kalian kan tahu, kemarin
Masjid Universitas diserang rombongan preman dari luar kampus”
“TIDAK BISA BEGITU!!”, tiba-tiba ikhwan DKM
Fakultas Ekonomi memotong perkataan Jumadi, “Anda dan organisasi Anda tidak
bisa memutuskan sepihak seperti itu!”
“Ya, makanya itu Bang Hasan, kami mengundang
Abang dan rekan DKM lain untuk datang di pertemuan ini”, jawab Aslam, yang
diikuti tertawaan cemooh dari teman-teman seperkumpulannya, menertawakan Hasan,
yang rupanya adalah ketua DKM Fakultas Ekonomi.
“Kami kan disini undang rekan DKM, agar keputusan
kami bisa disepakati, bahwa acara rekan-rekan DKM tidak perlu diadakan”,
sambung Aslam lagi
“Ya, tapi kalian sudah bikin agenda untuk
pembatalan acara kami dalam pertemuan ini. Itu sama saja sepihak”, sahut Hasan
“Bagaimana sih, Abang ini, kalau tidak setuju,
mari kita bicarakan baik-baik”, Aslam menjawab sahutan Hasan dengan sinis
“Kepala dingin, Bang..”, salah satu anggota Perkumpulan
Mahasiswa Demokratis Nasionalis nyeletuk
“Arogan tuh, kayak begitu”, anggota perkumpulan
yang lain ikut nyeletuk
Anggota DKM An-Nuur dan Kak Ibrahim masih diam
dan belum menaggapi situasi itu. Rupanya Kak Ibrahim dan Kak Sena bersikap
bijak untuk mengamati dulu dan tidak ikut larut dalam suasana panas yang
sepertinya sudah dimulai sebelum kedatangan mereka.
Hasan, ketua DKM Fakultas Hukum, dengan wajah
memerah karena kesal, menyahut lagi, “Ya, saya selaku Ketua, mewakili DKM
Fakultas Hukum, tidak setuju kami diminta untuk membatalkan acara olimpiade
PAI”
Jumadi, Ketua Perkumpulan Mahasiswa Demokratis
Nasionalis menjawab cepat, “Apa kalian selaku anggota DKM, bahkan ada yang
pernah jadi santri di pesantren sebelum jadi mahasiswa, sudah biasa arogan
begitu???!!”, jawabnya sambil memperlihatkan ekspresi bertanya dengan senyum
lebar dan sangsi, dia melanjutkan lagi,
“Kalian selalu seenaknya mengadakan acara,
setelah menghina orang-orang yang kalian anggap minoritas. Apa di DKM juga
biasa diajarkan begitu, membongkar dan membakar properti milik pihak lain
seenaknya??!!”, cecarnya dengan suara yang cukup keras didengar sampai keluar
ruangan
“Apa urusannya dengan kami!!”, Hasan menjawab
cepat, “Kami kesini untuk urusan kami dengan DKM kami, bukan dengan isu yang
berkembang diluar kampus!”
“YA!!”, Jumadi menyahut cepat, “Tapi Anda muslim,
saya muslim, kita semua muslim disini”, dia menatap Hasan tajam, “dan kita
adalah bagian dari muslim di negara ini”, lanjutnya, “APA TIDAK MALU KITA DI
CAP ANARKIS AROGAN DAN BAHKAN TERORIS??!!”, Jumadi menaikkan volume suaranya,
sehingga sangat lantang dan menggelegar di ruangan itu, seorang aktivis
Perkumpulan menyahut,
“Kita muslim, tapi kita dianggap muslim nyebelin,
rempong, tamak, arogan dan sok!”
seorang aktivis Perkumpulan perempuan menyahut, “Yang cewek cuma
penampilan aja berhijab, tapi akhlaqnya nggak ada! Julit, sok, rempong dan suka
ikut campur urusan orang!”
Jumadi mengulangi lagi, “APA KITA TIDAK MALU DI
CAP NGGAK ADA AKHLAQNYA SEMACAM ITU????!!!”
“Lalu kalian tidak perduli dengan keadaan diluar
kampus???!!”, sahut anggota perkumpulan lain
“Muslim macam apa kaliaaan..!!!”, sahut aktivis
perkumpulan lainnya, yang diikuti tertawaan dari semua aktivis Perkumpulan
Mahasiswa Demokratis Nasionalis.
Rima, Dinta dan Astrid diam dan sedikit bengong
dengan debat panas kedua organisasi mahasiswa tersebut. Kak Ibrahim tiba-tiba
angkat bicara,
“Sebaiknya kita bicarakan semua masalah ini
baik-baik dengan kepala dan hati yang dingin, bukan dengan debat dan saling
berteriak seperti ini”
“YA BETUL!!”, Jumadi dengan cepat menyahut, “Anda
dari Fakultas Ekonomi yang akan mengundang Menteri Agama, sebaiknya batalkan
saja”, lanjutnya dengan semangat berapi-api, “ganti acara kalian dengan
pertemuan internal kepada Menteri untuk membubarkan ormas-ormas Islam
anarkis!!!”, lanjutnya lagi dengan ekspresi sangar dan menuding wajah Kak
Ibrahim
“Ya, itu bisa kami agendakan”, jawab Kak Ibrahim
tenang, “Kami memang ada pertemuan dengan Pak Menteri sebelum acara seminar
yang akan kami adakan”
“Batalkan!!” sentak Jumadi, dan diikuti oleh
teman-temannya, anggota perkumpulan yang lain,
“batalkan..,batalkan…Batalkan…BATALKAN…!!!”, suara mereka semakin keras
menggema
Beberapa dari mereka mulai bertepuk tangan sambil
terus berteriak, “Batalkan!”, pada setiap anggota kedua DKM yang hadir. Suasana
menjadi semakin panas.
“ADA APA INI???!”, tiba-tiba semua dikejutkan
oleh suara yang tak kalah lantang dengan suara Jumadi. Semua menengok ke arah
suara itu di pintu masuk ruangan.
Rupanya security Universitas. Dia segera
masuk, dan menghampiri Jumadi
“Bang Jumadi, Anda dipanggil PR 3”, kata security
itu
“Baik”, Jumadi menjawab dengan wajah jengkel
kepada security yang datang itu, “tapi saya tidak mau datang sendiri.
Saya akan membawa beberapa kawan”, dia berusaha menawar permintaan security
tersebut, “dan juga saya mau para ketua DKM yang hadir hari ini juga ikut
dipanggil, atau ikut saya menghadap PR 3” katanya sambil memandang Kak Ibrahim
dan Hasan dengan galak
“Terserah Abang aja”, sahut security itu,
“saya cuma jalanin tugas”
“Kapan dipanggilnya?”, tanya Jumadi
“Sekarang Bang”, jawab security,
“pertemuan ini harus diakhiri sekarang. Ayo semua beres-beres dan pulang. Yang
dipanggil saja yang ikut saya”
“Ibrahim, Hasan, jangan pulang. Harus ikut!”,
sela Jumadi
Kak Ibrahim menjawab cepat, “Baik, tidak masalah”
Melihat ketenangan Kak Ibrahim, Hasan pun tidak
jadi pulang, “Baik, saya akan ikut dan mengajak dua anggota DKM lainnya”
“Terserah!”, jawab Jumadi lugas, pada ketua kedua
DKM tersebut, “yang penting tanggungjawab bersama atas acara ini”
Rima, Dinta dan Astrid memandang Jumadi dengan
jengkel,
“Gimana siih..”, bisik Rima, “yang adain kan
mereka, kok tanggungjawabnya bareng”, bisikannnya cukup pelan sehingga hanya
didengar oleh teman-temannya yang bersebelahan dengannya
“Iya”, Astrid menyetujui, “Eh Rima, lihat itu dua
cowok yang duduk mojok bersandar di tembok”, Astrid diam-diam menunjuk pada dua
orang cowok yang sedari tadi duduk di bagian yang lumayan gelap di ruangan itu,
“Itu kan yang kemarin di halte”
“Iya, mereka yang dorong-dorong kita”, Rima jadi
kaget, dia juga melihat orang yang menyenggolnya hingga buku-bukunya jatuh
berantakan
Kak Ibrahim melihat kepada para anggota DKM dan
Keputrian yang ikut dengannya menghadiri pertemuan ini,
“Yang ikut dengan saya ke tempat Pak Purek 3 cuma
Sena, Tata dan Arif, ya”, katanya memberi instruksi, “Mbak Suni juga, selaku
ketua Keputrian”, tambahnya, melihat ke arah Kak Suni, lalu katanya lagi, “yang
lain silakan pulang sekarang, sebelum maghrib. Nanti akan kami kabari mengenai
hasil pertemuan”, pungkasnya menutup instruksinya agar semua anggota DKM,
terutama yang masih junior dan baru agar cepat pulang.
Rima, Dinta dan Astrid segera beranjak dari
tempat itu. Dinta mengajak kedua kawannya untuk segera ke mobilnya, dan ia akan
mengantar mereka ke stasiun. Rima dan Astrid menyetujui, dan mereka pun pulang
dengan perasaan yang masih tegang akibat pertemuan hari itu.
******************************************************
Keesokan harinya, sebenarnya Rima, Dinta dan
Astrid sudah tidak sabar untuk pergi ke Sekretariat Keputrian, untuk mengetahui
hasil pertemuan kakak-kakak senior DKM dengan Purek 3, tapi Tata, teman
seangkatan mereka yang juga aktivis DKM, mencolek Dinta, dan memberitahu Dinta,
Rima dan Astrid,
“nanti kita shalat dzuhur berjamaah setelah makan
siang di mushalla, ya”, bisiknya, karena dosen sedang mengajar, “Kak Ibrahim
setelah shalat dzuhur, akan memutarkan video pertemuan dengan Bapak Purek 3
kemarin”
“Wah, kebetulan, kita emang tadinya mau ke
Keputrian untuk menanyakan hal itu”, jawab Dinta
“Emangnya ada makan siang bareng juga?”, tanya
Rima
“Iya”, bisik Tata, “dikirim dari Pak Menteri
Agama buat DKM An-Nuur”, bisik Tata, sambil melirik ke arah dosen yang sedang
menulis di papan tulis
“Wah, asik dong, jadi gak perlu beli makan di
kantin”, jawab Rima senang, sebab ini berarti dia bisa menghemat uangnya
“Kita makan siang bareng, sekalian shalat jama’ah
di mushalla”, kata Tata, mengakhiri bisik-bisiknya, berhubung dosen sudah
melirik ke arahnya
“Oke, ntar bareng aja”, sahut Astrid, lalu dengan
cepat kembali melihat ke depan, ke arah dosen yang sedang mengajar.
Rima dan Dinta ikut mengangguk ke arah Tata, lalu
mereka pun kembali mengikuti perkuliahan dengan serius.
Rima, Dinta dan Astrid paham, Menteri Agama
adalah alumni Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara, dan sering memberikan
perhatian khusus terhadap Fakultas Ekonomi, baik berupa sumbangan, ataupun hal
lainnya.
*****************************************************************
Berhubung kuliah berikutnya, sekaligus kuliah
terakhir hari itu dimulai pada jam 2 siang, Rima, Astrid dan Dinta jadi punya
waktu dua jam, dari jam 12 waktu istirahat makan siang, untuk mengikuti acara
makan siang bersama, shalat berjamaah dan nonton video dengan DKM An-Nuur.
Segera setelah kuliah selesai pada jam 12, mereka
bertiga dengan Tata juga, pergi ke mushalla untuk mengikuti acara tersebut. Di
mushalla, mereka sudah melihat Yani, Sita, dan teman-teman lain, Cika dan Tita
juga ada, sedang bersiap-siap untuk shalat dzuhur. Mereka bertiga pun bergegas
mempersiapkan diri untuk shalat berjamaah.
Selepas shalat berjamaah, sambil menikmati nasi
kotak makan siang mereka dari Pak Menteri, anggota DKM An-Nuur mulai menyimak
video hasil pertemuan Ketua dan Wakil DKM An-Nuur, Kak Ibrahim dan Kak Sena,
dengan Bapak Purek 3. Diluar dugaan, ternyata di ruangan Purek 3 juga telah
hadir Menteri Agama. Kata kak Suni, Pak Menteri kemarin hadir di ruangan Purek
3, setelah berdiskusi dengan Pak Rektor mengenai beberapa masalah- masalah
kampus, Pak Menteri masih sering memberikan perhatian kepada almamaternya. Termasuk
juga masalah preman yang masuk dan membuat kerusuhan di masjid, karena isu
nasional yang sedang panas-panasnya. Kebetulan, Pak Menteri sebenarnya akan
mampir ke Fakultas Ekonomi untuk membahas mengenai seminar yang akan ia hadiri.
Tetapi baik Dewan Pembina DKM dan Pak Menteri tidak bisa berkomunikasi dengan
para aktivis DKM untuk mengkonfirmasi kedatangannya, karena ternyata para
aktivis DKM An-Nuur sedang ada pertemuan dengan DKM Fakultas Hukum dan
Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis. Sewaktu security diminta
untuk mencari keberadaan para aktivis DKM dan bermaksud menyampaikan pesan Pak
Menteri, malah didapatinya anggota DKM sedang bersitegang dengan anggota
Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis. Maka hal itu ia laporkan kepada
Pak Menteri, dan Pak Menteri meminta para mahasiswa yang sedang bersitegang itu
untuk datang saja ke gedung rektorat, untuk bertemu dengan dirinya dan juga
Purek 3, yang bertanggungjawab masalah kemahasiswaan.
Di ruang Purek 3, para mahasiswa disambut dengan
baik oleh Purek 3, beberapa Dekan dari berbagai Fakultas dan tentu saja, Pak
Menteri Agama. Pak Rektor sendiri tidak hadir, karena pertemuannya dengan Pak
Menteri sudah selesai. Sedangkan pertemuan ini hanyalah inisiatif Pak Menteri,
sehubungan dengan kerusuhan yang terjadi di parkiran masjid yang melibatkan
preman dan mahasiswa. Ia merasa bahwa ia juga perlu mengadakan pertemuan dengan
para mahasiswa. Disana juga sudah hadir para aktivis masjid Universitas dan
Dewan Pembina masjid universitas.
Setelah Purek 3 menjelaskan pada semua yang
hadir, bahwa situasi kerusuhan telah ditangani dengan baik, bahwa preman-preman
yang membuat kerusuhan itu juga sudah ditahan di Kepolisian, jadi tidak akan
ada kerusuhan lagi di dalam kampus. Pada sesi tanya jawab, Pak Menteri bertanya
pada para aktivis perkumpulan dan DKM, kenapa mereka sampai bersitegang.
Padahal mereka masih mahasiswa dari satu Universitas yang sama. Jumadi langsung
angkat bicara bahwa perkumpulannya akan mengadakan kajian yang berkaitan dengan
isu nasional yang sedang memanas. Menurutnya, seminar DKM Fakultas Ekonomi dan
olimpiade PAI yang diadakan Fakultas Hukum tidak perlu diselenggarakan, karena
acara tersebut tidak memberikan solusi terhadap masalah-masalah aktual yang
terjadi pada umat dan negara.
“Saya juga muslim, Pak”, jelas Jumadi, “dan saya
malu melihat ulah sebagian muslim yang arogan, seenaknya melakukan perusakan
dan pembakaran”
“Ya, kamu betul”, jawab Pak Menteri
“Apakah kita ini sebagai muslim, dengan ajaran
Nabi yang mulia, malah bangga menunjukkan perilaku buruk, terutama pada kaum
minoritas??”, lanjut Jumadi, “Dan, dengan segala hormat Pak Mentri, kita ini di
cap teroris dan agama penuh kekerasan, lho!!”, sambungnya sambil melihat ke
arah kawan-kawan mahasiswa
“Jangan kamu kira, kami tidak paham soal isu itu,
Jumadi”, sela Hasan, ketua DKM Fakultas Hukum, “kami sangat paham dengan cap
teroris dan agama kekerasan itu. Bahkan kami paham dengan soal islamophobia
di luar negeri”
“Ya, tapi kenapa kalian malah seperti tidak
perduli dengan apa yang terjadi di tengah masyarakat dan sibuk mengadakan acara
sendiri?!”, sahut Jumadi cepat
“Lho, dengan kita mengadakan cerdas cermat dan
masuk ke lingkungan di sekitar kampus, apa itu namanya bukan kami tidak
perduli?!”, Hasan menjawab cepat
“Sudah!!”, Pak Purek 3 menengahi perdebatan Hasan
dan Jumadi
“Jumadi, kamu benar”, kata Purek 3, “tapi kamu
Hasan, kegiatan kamu juga bagus. Olimpiade PAI yang akan kamu akan adakan itu
ide yang bagus”
Pak Menteri memotong kalimat Purek 3, “Coba, masing-masing
ketua organisasi, ceritakan pada saya, acara apa saja yang kalian akan adakan,
dan dimana titik masalah kalian sampai terjadi ketegangan semacam ini”, Pak
Menteri melihat kepada Kak Ibrahim yang cukup ia kenal, “dimulai dari kamu,
Ibrahim, lalu dilanjutkan dengan, siapa tadi, oh iya..Jumadi dan Hasan”
Kak Ibrahim langsung mengambil alih, sebelum
kedua orang ketua organisasi, Hasan dan Jumadi, mulai perdebatan lagi. Ia
melirik ke arah Jumadi dan Hasan, lalu mulai menjelaskan acara yang akan
diadakan DKM An-Nuur dan masalah lain yang mereka hadapi, seperti desakan
pengunduran waktu seminar, masalah intimidasi yang dialami para anggota DKM
An-Nuur, samua masalah sampai pertemuan hari itu. Kak Ibrahim juga menceritakan
soal perusakan taman di depan Sekretariat Keputrian di Student Center, tidak
lama setelah kerusuhan di masjid.
Dekan Fakultas Ekonomi lalu angkat bicara, bahwa
pelaku perusakan telah diketahui oleh security, ternyata adalah preman
yang melintas dan akan keluar kampus. Kebetulan ia melihat papan nama Keputrian
DKM An-Nuur, jadi ia menendang pot-pot di depan Sekretariat Keputrian dan taman
di Student Center, sambil melintas pergi menuju keluar kampus. Dan, seperti
keterangan Purek 3, preman-preman yang melakukan kerusuhan itu sudah ditangkap dan
diserahkan ke kepolisian. Jadi sekarang suasana sudah aman.
Rima, Dinta dan Astrid yang menyimak video itu,
bernafas lega dengan keterangan Dekan mengenai pelaku perusakan taman yang
sudah ketahuan dan ditahan di Kepolisian. Mereka melanjutkan menyimak video,
ketika Dekan Fakultas Ekonomi sudah selesai memberi keterangan dan Jumadi mulai
menjelaskan kajian yang akan diadakan perkumpulannya. Setelah Jumadi selesai,
Hasan pun ikut menjelaskan mengenai olimpiade PAI yang akan mengundang Duta
Besar dari Arab Saudi.
Setelah semua selesai memberi penjelasan, Pak
Mentri mulai memberi petuah,
“Semua acara yang kalian adakan sangat bagus.
Semua bisa menjadi solusi dan jembatan untuk mempersatukan, tidak hanya umat,
tapi juga mahasiswa dan masyarakat di sekitarnya”, Pak Mentri memulai
petuahnya, “acara yang diadakan perkumpulan Jumadi bagus. Ini untuk memberikan
pemahaman, bahwa sebagai mayoritas, bukan berarti kita, muslim, bisa sok
berkuasa dan seenaknya sendiri”, Pak Menteri memandang Jumadi sambil tersenyum,
lalu beliau memandang Hasan, “secara konkrit, tidak bersikap seenaknya, mungkin
dengan melakukan pemberdayaan masyarakat, seperti acara yang rutin dilakukan
oleh Hasan dan kawan-kawan. Dan olimpiade yang akan dimulai tahun ini, akan
meningkatkan gairah para pelajar disekitar kampus untuk meningkatkan
pengetahuan agama”, Pak Menteri juga tersenyum kepada Hasan, beliau kemudian
memandang Kak Ibrahim, “dan semua itu, agar agama kita itu tidak seperti menara
gading, hanya ilmu yang sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Nah, Ibrahim dan teman-teman DKM An-Nuur dengan seminarnya akan berusaha
memahamkan para mahasiswa dan masyarakat mengenai hal itu”, Pak Menteri
tersenyum pada ketiganya, “sebenarnya acara kalian ada benang merahnya” katanya
masih sambil tersenyum
Pak Menteri diam sejenak sebelum melanjutkan,
“kalian kan mahasiswa, yang disebut agent of change atau agen perubahan.
Beberapa kali negara kita ini terjadi perubahan karena mahasiswa. Masak kalian
malah saling bersitegang?”, beliau menatap Jumadi, Hasan dan Ibrahim dengan
tersenyum bijak, “apalagi kalian sesama muslim. Bukankah dalam Surat Al-Hujurat
ayat 10, Allah berfirman, bahwa orang-orang muslim itu bersaudara?”, kali ini
Pak Menteri juga tersenyum pada Purek 3 dan para Dekan yang hadir.
Beliau masih meneruskan wejangannya, “Rasulullah
Shallallahu Alayhi Wassalaam bersabda, Janganlah kalian saling membenci,
saling hasud, saling menggangu, mencari aib, berprasangka buruk dan saling
menjatuhkan. Janganlah kalian saling memutuskan tali persaudaraan. Tapi jadilah
kalian hamba Allah yang bersaudara”
Beliau memberikan wejangannya yang terakhir, “janganlah
kalian suka membanggakan diri dan mengolok-olok. Janganlah kalian saling
mendengki dan sombong. Orang Islam adalah saudara bagi orang Islam yang lain,
tidak boleh saling menganiaya, membiarkan, mendustakan, dan saling menghina.
Takwa itu disini”, Pak Menteri
menunjuk dadanya tiga kali sebagaimana di dalam hadits, kemudian melanjutkan, “Setiap
orang Islam terhadap orang Islam yang lain adalah haram darah, kehormatan dan
hartanya. Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh, rupa, harta,
kedudukan dan amal-amal perbuatanmu. Tapi Allah memandang kepada hatimu”, Pak
Menteri mengakhiri hadits yang dibacakannya dan kemudian memanggil Jumadi,
Hasan dan Ibrahim, “Jumadi, Hasan dan Ibrahim, ayo maju sini ke dekat saya dan
saling bersalaman untuk bermaafan”
Hasan, Jumadi dan tak ketinggalan Kak Ibrahim
maju ke dekat Pak Manteri. Pak Purek 3 menambahkan kepada mahasiswa lain yang
hadir, “Ayo, para anggota organisasi yang lain, mengikuti para ketuanya, ayo,
saling bersalaman”, Pak Menteri dan para Dekan tersenyum, sementara para
mahasiswa mulai bangkit dan saling bersalaman. Terlihat di dalam video, Kak
Ibrahim, Hasan dan Jumadi saling bersalaman di depan Pak Menteri dan juga
bersalaman dengan Pak Menteri. Video itu diakhiri dengan usulan Pak Menteri
agar mereka mengadakan acara gabungan tiga organisasi, DKM Fakultas Hukum dan
Ekonomi dengan Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis dengan memadukan
ketiga tema acara mereka yang saling berhubungan. Tema ini bisa menjawab isu
yang sedang hangat terjadi. Pak Menteri mengusulkan untuk diadakan panitia
gabungan ketiga organisasi untuk acara gabungan tersebut.
Setelah mengusulkan acara itu, Pak Menteri
mengakhiri pertemuan dan pulang dengan diikuti oleh ajudan dan para asisten dan
sekretarisnya. Video itu pun selesai. Kak Ibrahim langsung mengambil alih
forum, setelah video dimatikan oleh Tata,
“Nah, jadi, sekarang ada sedikit perubahan untuk
acara seminar. Tapi waktunya tetap sama, hanya lebih panjang, dari satu hari
seminar kita, menjadi tiga hari, dengan DKM Fakultas Ekonomi dan Perkumpulan
Mahasiswa Demokratis Nasionalis”, ia mulai memberi keterangan. “Panitia dari
DKM ini tidak akan berubah, hanya kita akan ada rapat gabungan dengan kedua
organisasi tersebut, setiap hari Minggu setelah kajian di Universitas”,
lanjutnya, “paling yang dirubah cuma publikasi aja. Poster dan lain-lain
dirubah, termasuk juga yang di media sosial. Dan seksi publikasi juga harus
berkoordinasi dengan seksi publikasi Fakultas Hukum dan Perkumpulan MDN, yaa,
ketua seksi publikasi bisa hubungi saya untuk nomor kontak panitia dari dua
organisasi itu” jelasnya, panjang lebar
Astrid tiba-tiba mengangkat tangannya, yang
langsung ditanggapi Kak Ibrahim, kalau mau bertanya, “Kak”, kata Astrid,
“jadiii…, apakah itu berarti kerjaan seksi publikasi dan dokumentasi
bertambah?”, tanyanya dengan wajah polos
“Ya…kira-kira…bisa dibilang begitu”, jawab Kak
Ibrahim
“Ey, masya Allah……!Oh My God..!”, Astrid langsung
menepok jidatnya
Rima dan Dinta cekikikan, Kak Ibrahim pun sampai
tertawa melihat kepolosan Astrid dengan tugas kepanitiaannya yang bertambah.
Acara hari itu diakhiri dengan petuah dari Dewan
Pembina DKM sebelum akhirnya mereka bubar dan mengikuti perkuliahan
selanjutnya.
***********************************************************
Seminggu telah berlalu sejak acara gabungan
dengan DKM Fakultas Hukum dan Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis
diadakan. Acara itu sukses luar biasa. Pesertanya membludak. Selain mahasiswa,
ternyata banyak masyarakat umum, dan bahkan aktivis LSM yang menjadi peserta.
Acara olimpiade PAI meluas, tidak hanya di sekolah-sekolah sekitar kampus, tapi
hampir di seluruh kota, ingin mengikuti olimpiade itu. Bapak Purek 3
mengucapkan selamat kepada ketiga ketua organisasi atas suksesnya acara yang
didakan oleh organisasi yang mereka pimpin.
Malam itu, sepulang dari kampus dan membereskan
pekerjaan kantor, sebelum tidur, Rima mengirimkan pesan melalui ponsel kepada
Ibunya:
Assalamualaikum, Bu, gimana kabar hari ini, kok
tumben tidak telfon atau kirim inbox ke Rima? Kalau Rima, hari ini seperti
biasa, sibuk di kantor dan di kampus. Sepertinya bulan depan ada long weekend.
Rima mau pulang. Kangen dengan Ibu, Ayah dan adik-adik. Sudah ya Bu, Rima mau
tidur, capek, sudah malam, besok Rima kuliah pagi. Wassalamualaikum.
Rima kemudian tidur, membawa semua kelelahan dan
sekaligus syukurnya, atas semua masalah yang berhasil ia atasi satu persatu,
juga atas segala masalah yang berhasil dilalui oleh Keputrian DKM An-Nuur. Rima
pun bersyukur, acara yang mereka persiapkan akhirnya bisa berjalan lancar
bahkan sukses besar. Alhamdulillah, kata terakhir Rima, sebelum ia jatuh
tertidur lelap.
***************************************************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar