Senin, 02 Februari 2026

BAB V -- Semua Muslim Bersaudara

 Tidak terasa, sudah tiga bulan Rima menjalankan rutinitas barunya, sebagai mahasiswa dan sebagai karyawan kantor. Walaupun setiap malam kelelahan, karena masih harus bersih-bersih kantor setelah pulang kuliah, tapi Rima masih bisa menjalani semua aktivitasnya. Bahkan kegiatan diluar kuliah pilihannya yang satu lagi, basket, bisa juga ia jalankan. Sebab basket ini setiap hari Jum’at sore, dimana jadwal kuliahnya memang pulang sore. Jadi menurut Rima, sekalian saja setelah kuliah ia langsung ikuti kegiatan basket dan setelah itu baru pulang. Toh, kegiatan basket itu cuma satu setengah jam. Masih cukup waktu baginya untuk segera pulang dan mengerjakan tugas-tugasnya di kantor.

Jadi setiap hari Jum’at adalah jadwal Rima yang paling padat. Pagi-pagi setelah subuh dia mulai mengerjakan tugas-tugas kantor membersihkan kantor dan membuka kantor, setelah itu dia siap-siap untuk pekerjaan kantor lainnya, sebab hari Jum’at jadwal kuliahnya siang sampai sore. Jadi dia stand-by di kantor untuk bekerja sampai dengan jam sebelas. Biasanya Bu Lenny minta tolong ia pergi belikan makan siang, untuk karyawan-karyawan yang laki-laki sebelum mereka berangkat shalat Jum’at dan untuk karyawan perempuan, yang makan pada saat jam karyawan laki-laki shalat Jum’at. Setiap hari Jum’at jadwal kantor pulang jam dua siang. Jadi setelah shalat Jum’at, biasanya pekerjaan para karyawan sudah tidak banyak dan suasana kantor menjadi lebih santai, sehingga kehadiran Rima sudah tidak terlalu dibutuhkan. Maka, sudah tepat kalau ia pamit jam 11 untuk segera pergi kuliah ke kampusnya. Dan sesuai jadwal, setiap jam sebelas ia langsung ke stasiun untuk berangkat ke kampus, mengikuti kajian rutin Keputrian setiap Jum’at sebelum shalat Jum’at dan setelah shalat Jum’at, jadwalnya kuliah sampai jam empat sore. Tapi Rima tidak bisa langsung pulang, sebab dia masih ada kegiatan basket. Rima mengikuti kegiatan basket sampai selesai, sebelum akhirnya ia pulang. Syukurlah, jarak antara kantor dan kampus hanya setengah jam, jadi Rima masih bisa mengerjakan tugas kantornya, bersih-bersih kantor pada saat semua karyawan sudah pulang dan menutup dan mengunci kantor, sebelum kembali ke paviliun kecilnya di belakang kantor.

Tidak seperti biasanya, dimana setiap Jum’at, sesuai jadwal sebelum shalat Jum’at, anggota baru Keputrian berkumpul untuk mengikuti kajian, tapi hari Jum’at ini, mereka diminta untuk datang ke ruang sekretariat Keputrian di Student Centre, yaitu area dimana sekretariat semua perkumpulan dan organisasi mahasiswa Fakultas Ekonomi berada. Rupanya mereka diundang untuk ikut meeting persiapan seminar yang akan diadakan DKM An-Nuur. Walaupun seminar itu diadakan bersama dengan ikhwan, tapi ada pembagian tugas yang jelas dalam kepanitiaan, jadi bisa tetap mengadakan meeting secara terpisah dan kemudian ketua DKM dan Keputrian saling berkoordinasi.

Dalam rapat hari itu, dibentuk panitia dari Keputrian yang berkoordinasi dengan ikhwan DKM An-Nuur. Dinta kebagian masuk seksi transportasi dan akomodasi, sebab ia punya kendaraan yang bisa membantu mobilitas panitia untuk persiapan dan pada saat acara. Rima dan Astrid sama-sama masuk seksi dokumentasi dan publikasi. Tugas mereka membuat dan menyebarkan brosur, flyer, pamflet dan sebaran lain sebagai publikasi acara yang akan diadakan. Selain itu mereka juga ditugaskan untuk membuat dan menyebarkan reel, video atau digital pamflet mengenai acara seminar di sosial media. Rima sudah cukup sibuk dengan pekerjaan kantornya, jadi ia memilih tugas yang paling ringan, yakni menyebarkan promosi acara dengan foto dan video di sosial media dan juga menempel dan menyebar poster di kampus. Tugasnya yang lain adalah membuat rekaman video dan foto, tapi nanti ketika acaranya berlangsung. Sementara Astrid dengan kakak-kakak pengurus lama, akan membuat desain leaflet, brosur dan lain-lain, juga membuat video dan reel promosi untuk disebarkan secara online dan offline. Dinta juga langsung kebagian tugas untuk pergi ke beberapa tempat, seperti ke rumah salah satu pembicara, melihat lokasi pemesanan catering, karena ada tiga rekomendasi catering untuk konsumsi acara, menjadi transportasi untuk seksi publikasi melakukan pemesanan pencetakan brosur dan leaflet, dan tugas mobilitas lainnya. Semantara Rima tidak akan terlalu sibuk dengan persiapan seminar, sebab ia sudah cukup sibuk membagi waktunya dengan pekerjaan di kantor, ia izin untuk diberikan tugas yang ringan atau mudah saja. Jadi diantara mereka bertiga, Hanya Rima yang tidak akan terlalu sibuk sebagai panitia. Astrid dan Dinta yang akan sibuk di Keputrian, sebagai panitia persiapan seminar.

Astrid dan Dinta yang ternyata sudah biasa membuat reel, leaflet dan video promosi selama SMA, saling membantu untuk menyelesaikan tugas kepanitiaan mereka. Astrid akan menginap di rumah Dinta, untuk menyelesaikan tugas membuat poster dan leaflet, sebab Dinta punya software aplikasi desain lengkap di komputer PC di kamarnya. Sementara Kak Lala, Kak Suni dan Kak Reva, kakak-kakak pengurus lama yang juga panitia seksi dokumentasi dan publikasi, akan membuat desain brosur dan baliho. Astrid juga akan membuat video promosi dengan Kak Lala dan Kak Reva, pada hari Sabtu siang. Sementara Dinta diminta untuk menemani seksi konsumsi untuk ke tempat catering, ada beberapa catering yang menjadi pilihan, sebelum keputusan diambil. Dinta juga nantinya akan bertugas mengantar seksi publikasi untuk memesan brosur, pamflet, baliho dan pesanan lain untuk dicetak. Jadi, mereka berdua akan benar-benar sibuk, tapi Astrid berjanji akan menemani Dinta kalau ia ingin ditemani sewaktu melakukan tugasnya.

Astrid juga berjanji pada Rima, leaflet akan sudah jadi pada hari Minggu pagi, pada saat acara kajian gabungan dengan DKM Masjid Al-Aliim, jadi Rima bisa segera mengerjakan tugasnya menyebar dan menempel poster di seluruh area kampus. Leaflet itu akan disebarkan di seluruh area Universitas setelah kajian. Jadi, sesuai kesepakatan dengan Kak Lala, Kak Suni dan Kak Reva, setelah kajian rutin hari Minggu pagi, Rima dan Astrid akan berkeliling ke fakultas-fakultas lain untuk menempel poster dan menyebar leaflet mengenai seminar yang akan mereka adakan. Rima setuju saja dengan semua usulan dan rencana Astrid. Dinta berjanji akan menemani mereka menempel dan menyebar brosur dan leaflet ke seluruh kampus, dengan mobil Dinta. Jadi, hari itu mereke janjian lagi, untuk bertemu dan melakukan aktivitas bareng pada hari Minggu nanti.

Hari Jum’at itu, Rima menyelesaikan tugasnya dengan kelelahan, karena begitu padatnya jadwalnya setiap hari Jum’at. Tapi ia tidak sedih dan masih senang dan bersemangat. Bahkan, setiap hari Minggu dia masih ada kegiatan dan tidak bisa istirahat di paviliunnya pun, ia masih senang dan semangat. Sebab ini pengalamannya pertama kali menjadi acara panitia seminar, yang akan mengundang alumni Universitas Nusantara yang tergabung dalam Ikatan Cendekiawan yang sudah menjadi Menteri, sebagai pembicara. Walaupun tugasnya untuk persiapan acara hanya menyebarkan leaflet dan brosur, tapi ia senang bisa berkontribusi sebagai panitia.

******************************************************************

Tiga hari telah berlalu sejak Rima berkeliling kampus untuk menyebarkan leaflet dan menempelkan poster promosi mengenai seminar DKM Fakultasnya. Minggu berikutnya, kabar mengenai acara seminar yang akan diadakan oleh DKM Fakultas Ekonomi yang akan mengundang Menteri Agama yang juga alumni Universitas Nusantara, sudah tersebar ke seluruh area kampus. Rima, Dinta dan Astrid pun terkadang mendapat pertanyaan seputar seminar itu dari teman-teman fakultasnya yang tahu bahwa mereka bertiga adalah aktivis DKM An-Nuur. Rima, Astrid dan Dinta senang mendapat pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya. Antusiasme teman-teman satu fakultas mereka tampaknya cukup besar, bahkan ada yang sudah mendaftar untuk mengikuti seminar tersebut, berhubung kuota terbatas, sesuai kapasitas aula di Fakultas Ekonomi.

Satu minggu pertama sejak poster-poster ditempelkan di semua Fakultas di Universitas mereka, setiap Rima, Astrid dan Dinta sedang berada di Sekretariat DKM Keputrian, ada saja mahasiswi dari Fakultas lain yang datang untuk menanyakan acara tersebut dan bahkan ada juga yang langsung mendaftar. Banyak yang tertarik mengikuti seminar ini, sebab, selain mengundang alumni yang sudah menjadi Menteri, pembicara yang lain adalah influencer dan juga seorang penyanyi di sosial media yang cukup dikenal di kalangan anak muda, yang sedang mengeluarkan album baru yang bernuansa religi. Apalagi, setiap peserta yang mendaftar juga mendapatkan goodie bag sewaktu pendaftaran, berupa kaus seminar, notebook dan pulpen, flashdisk dan juga stiker.

Rima, Dinta dan Astrid bersemangat mengerjakan tugas-tugas kepanitiaan mereka, selain membantu panitia yang lain, setiap kali mereka mampir ke Sekretariat, disela-sela jeda jam kuliah. Waktu itu, atmosfir nasional sedang panas-panasnya. Hal itu karena sedang terjadi peperangan besar di Timur Tengah yang mengakibatkan harga BBM naik sehingga banyak demo di jalan-jalan. Perang itu begitu dashyat, sampai-sampai masuk ke isu mengenai perpecahan umat Islam, karena dua pemimpin negara Timur Tengah yang diserang Amerika dan sekutunya, malah bertikai karena perbedaan aliran dan pandangan agama . Di tengah panasnya situasi, muncul isu-isu baru yang lain. Ada beberapa aliran sesat yang mengaku sebagai aliran Islam baru, yang dibongkar dan dibakar tempat ibadahnya. Pembongkaran dan pembakaran itu berujung rusuh dan pertikaian antara ormas dan beberapa organisasi Islam lainnya, sehingga memicu keresahan masyarakat dan berakhir dengan memicu kemarahan masayarakat, sampai-sampai pemimpin ormas yang melakukan pembongkaran dan pembakaran dilaporkan ke kepolisian, dan akhirnya memunculkan demo yang lebih banyak lagi. Isu tersebut terus berkembang, sampai pada puncaknya ormas tersebut dan beberapa cabangnya melakukan penggerebekan ke beberapa diskotik dan berakhir dengan kerusuhan di beberapa tempat di Jakarta.

Ini berimbas pada sikap masyarakat yang mulai berani. Ada beberapa kelompok yang melakukan intimidasi pada setiap orang yang diketahui sebagai anak pesantren (santri), Ustadz ataupun anak DKM, yang tidak diketahui asalnya, kenapa malah aktivis organisasi Islam, santri dan Ustadz yang diintimidasi. Beberapa kalangan menyebutkan, bisa saja itu karena orang-orang tersebut menganggap para santri, aktivis muslim, Kyai dan Ustadz bersikap arogan, sehingga seenaknya melakukan pembongkaran dan pembakaran. Opini tersebut tersebut terus berkembang sehingga kemudian menjadi pemicu pertikaian antara ormas dan organisasi Islam dengan pendapat mereka masing-masing.

Ketua DKM yang menyadari panasnya situasi, cepat-cepat mengadakan rapat gabungan dengan Keputrian, untuk mewanti-wanti, kalau-kalau sewaktu anggota DKM An-Nuur berada di luar kampus, mereka mendapat intimidasi. Ketua DKM juga dengan cepat melakukan upaya antisipasi, untuk mencegah sitausi apabila suasana panas di luar kehidupan kampus mulai masuk dan mempengaruhi kegiatan DKM. Rima, Astrid dan Dinta pada waktu mengikuti rapat gabungan tersebut, belum begitu ngeh dengan maksud dari Ketua DKM.

Sampai pada suatu hari, ketika Astrid mengajak Rima dan Dinta untuk makan siang di kantin Fakultas Sastra. Rima, Dinta dan Astrid kaget sekali, sewaktu melihat di papan pengumuman dimana biasa di tempel berbagai poster kegiatan organisasi mahasiswa, poster seminar DKM mereka sudah dirobek, dan ada tulisan : HOAX, bohong! Jangan ikut!

Rima cepat-cepat mencopot sisa robekan poster DKM mereka tersebut. Setelah makan siang, ia mengusulkan untuk melihat poster-poster yang telah mereka tempelkan di semua Fakultas. Dinta dan Astrid setuju sekali, sebab mereka juga kaget dengan keadaan poster seminar DKM mereka di Fakultas Sastra.

Keadaan poster seminar DKM mereka di Fakultas- Fakultas lainnya, ternyata ada  beberapa yang kurang lebih keadaannya dengan yang ada di Fakultas Sastra, walaupun banyak juga yang masih utuh dan masih tertempel rapi, seperti ketika pertama kali Rima dan Astrid menempelkannya. Ada dari poster-poster tersebut yang ditimpa atau ditutup dengan poster kegiatan dari organisasi lain. Ada juga yang bahkan ditulis : Ga asik! Mending ikut acara kita, lalu diikuti tanda panah ke arah poster organisasi lain.

Yang membuat Rima, Dinta dan Astrid bingung dan sedih, poster-poster mereka ditimpa oleh poster-poster dari DKM juga. Tapi dari DKM Fakultas lain, dan juga organisasi-organisasi Islam lain. Dinta yang paling terkejut dengan keadaan semua poster yang ditempelkan kedua rekannya yang tersobek-sobek dan dicoret-coret, mengatakan, ia tidak habis pikir, bagaimana sesama DKM, bisa berbuat demikian. Astrid dan Rima segera mencopot semua poster mereka yang telah robek dan dicoret-coret itu.

Dengan membawa beberapa lembar poster yang sudah mereka tempel yang robek dan dicoret-coret itu, Rima, Dinta dan Astrid kembali ke Sekretariat Keputrian An-Nuur di Fakultas Ekonomi. Waktu itu sudah mau maghrib, jadi mereka memutuskan untuk shalat maghrib di Masjid Universitas baru kemudian mereka ke Sekretariat.

Alangkah kagetnya Rima, Astrid dan Dinta, sewaktu sampai Masjid, banyak orang bergerombol, dan tampaknya suasana cukup rusuh. Ada asap di parkiran dan bahkan ada botol-botol yang dilempar. Ada beberapa pendemo yang menggunakan pakaian preman dan tampaknya bukan berasal dari kampus mereka. Mereka berteriak-teriak, shalat maghrib tidak usah berjamaah, tidak usah diadakan, kalau hanya suka membakar sesama umat Islam. Tampak Ketua DKM Al-Aliim berusaha menenangkan dengan beberapa security kampus. Rima, Dinta dan Astrid cepat ditarik oleh Kak Suni, yang kebetulan ada di Mesjid juga.

“Rima, Astrid, Dinta..ayo, ke mushalla Fakultas saja!”, ajaknya sambil menarik tangan Dinta, dan berlari menuju ke arah Fakultas mereka yang cukup dekat dengan area Mesjid. Dinta lalu menarik Astrid dan juga Rima, untuk ke mobilnya saja

“Kak, pakai mobil saja, ayo! Rima, Astrid, ayo, kita balik ke fakultas aja, biar mobil diparkir di fakultas aja”

Rima dan Astrid segera mengikuti Dinta yang menggandeng tangan Kak Suni ke arah mobilnya di parkir.

“Kak, kenapa Kak, kenapa di mesjid kok malah ada kerusuhan?”, tanya Astrid yang kebingungan dengan apa yang terjadi, sama dengan kedua sahabatnya

“Itu preman. Sepertinya bayaran. Gara- gara isu aliran Islam sesat dan ormas yang ramai di TV. Rupanya di sekitaran Monas dan beberapa tempat juga, hari ini sedang terjadi kerusuhan”, Kak Suni menjelaskan sambil mengikuti Dinta mendekati mobilnya, “Tadi saya dapat WA dari Ketua DKM An-Nuur untuk berhati-hati.”, lanjutnya, “Sebab karena demo itu, di sekitaran Sarinah arah ke Tanah Abang rusuh. Bahkan kepala preman di Tanah Abang sampai luka parah dan dibawa ke rumah sakit. Tapi siapa yang menyebabkan dia luka parah, belum jelas, apakah aparat kepolisian ataukah para pendemo dari ormas Islam.”, Kak Suni menjeda sebentar, sewaktu mereka berempat masuk mobil dan kemudian Dinta mengeluarkan mobilnya dari parkiran di belakang Mesjid Al- Aliim. Dinta keluar lewat jalan lain, jalan belakang mesjid, sesuai arahan security, yang memandu mobil-mobil yang ramai-ramai mau keluar meninggalkan area mesjid karena takut dengan suasana kerusuhan di parkiran bagian depan mesjid.

“Oleh karena belum jelas itu, tau-tau ada beberapa preman yang mulai melakukan kerusuhan di beberapa tempat lain, bahkan di mesjid-mesjid, sampai di mesjid kampus kita ini. Mereka teriak : teroris, islam munafik, pemecah belah umat dan pemecah belah bangsa”, tuntas Kak Suni

Rima dan Astrid bergidik mendengarnya. Rima sempat bertanya, bagaimana keadaan stasiun, apakah aman. Sebab ia jadi takut, kalau ia tidak aman, pada saat pulang nanti. Tapi Kak Suni tersenyum dan mengatakan keadaan stasiun aman, security Universitas, petugas keamanan commuter dan kepolisian sudah ditugaskan untuk berjaga-jaga di setiap stasiun, sejak kabar preman yang membuat rusuh di beberapa tempat. Rima dan Astrid lega mendengarnya. Ini pertamakalinya mereka melihat kerusuhan di kampus mereka, jadi membuat mereka sedikit cemas dengan keadaan di kampus dan diluar kampus.

Setelah shalat maghrib di mushalla Fakultas, mereka segera ke Sekretariat Keputrian di Student Centre. Kak Suni meninggalkan Rima, Dinta dan Astrid bertiga di Sekretariat bersama dengan Kak Reva dan Sita yang sudah ada di Sekretariat sejak sebelum mereka datang. Kak Suni dan Kak Oliv, yang juga ada di Sekretariat sejak tadi, lalu pergi menemui Ketua DKM An-Nuur untuk koordinasi mengenai peristiwa hari itu dan untuk antisipasi yang bisa mereka lakukan, agar semua bisa pulang dengan aman dan selamat.

Mereka bertiga dengan Kak Reva dan Sita yang tinggal di Sekretariat, lalu berdiskusi mengenai isu yang sedang panas di Jakarta dan juga di mesjid kampus mereka hari ini. Rima dan Astrid mengakui dengan jujur, mereka takut melihat keadaan yang rusuh tadi.

Belum selesai mereka berdiskusi, terdengar suara, PRAAK…!!!BRUUK..!!!PRANG!!!!

Rupanya pot-pot bunga dari tanah liat yang berada di luar Sekretariat, di area taman depan Sekretariat, ditendang orang yang, sayangnya, mereka tidak bisa kenali dengan jelas. Orang itu lari dan kabur dengan cepat sambil berteriak,

“GUE JUGA MUSLIM!! BATALIN AJA SEMINAR, KALAU CUMA PECAH BELAH UMAT!!!”

Kelima muslimah tersebut kaget dibuatnya. Cepat Kak Reva menghubungi Kak Suni. Ia juga meminta Dinta menghubungi Kak Oliv dan menceritakan apa yang terjadi. Sewaktu dihubungi Dinta, Kak Oliv bilang akan melaporkan kejadian itu pada Ketua DKM untuk berkonsultasi padanya mengenai antisipasi keadaan dan akan segera kembali segera setelah mereka selesai bertelefon.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Kak Oliv kembali bersama Kak Suni, Ketua DKM, Yani teman satu kelompok Rima sewaktu pertamakali pertemuan, dan dua orang ikhwan. Ketua DKM dan dua orang ikhwan tersebut datang ke ruang Keputrian untuk melihat pot-pot Keputrian yang hancur dan untuk mendengar detil cerita mengenai orang yang datang menghancurkan pot dan taman di depan ruang Keputrian. Ruang Sekretariat DKM ikhwan memang terpisah dengan Keputrian dan organisasi lain di Fakultas Ekonomi. DKM ikhwan diberi ruangan di belakang area mushalla An-Nuur oleh Fakultas. Jadi ikhwan bisa mengakomodir shalat berjamaah, adzan, dan lain-lain seputar masalah ibadah di mushalla An-Nuur.

Pada pertemuan singkat mereka, Rima dan Astrid juga menunjukkan dan menceritakan mengenai poster-poster seminar mereka yang dicoret-coret, disobek dan ditimpa dengan poster-poster dari organisasi lain. Ketua DKM dan kakak-kakak senior lain tersenyum mendengarnya,

“Kalau soal itu, sudah biasa”, Kak Ibrahim, Ketua DKM, memulai penjelasannya, “maksud saya, bukan sudah biasa kita diperlakukan buruk oleh pihak lain dengan menyobek-nyobek poster DKM kita”, lanjutnya, “Tapi, itu terjadi pada hampir semua poster yang ditempelkan di setiap papan pengumuman di Universitas ini”

Rima, Astrid dan Dinta jadi bengong, mereka belum mengerti maksud Kak Ibrahim

“Jadi…”, Kak Ibrahim melanjutkan lagi, “di Kampus kita ini kan banyak UKM, Unit Kegiatan Mahasiswa, dengan segala aktivitasnya. Nah, setiap UKM sering bikin acara. Nah, bayangkan, kalau satu hari ada 5 UKM di satu Fakultas yang megadakan dua acara, dengan dua poster. Padahal, papan pengumuman yang tersedia cuma tiga, paling banyak lima”

Rima, Astrid dan Dinta mulai mengerti. Rima menatap kakak-kakak senior dengan tersenyum, untuk memberikan pengertian bahwa ia sudah mulai mengerti

“Nah, belum lagi poster-poster dari fakultas lain yang ikut di tempel di papan pengumuman, berapa banyak poster yang harus tertempel. Dan seringkali, poster yang sudah begitu lama tertempel, tidak ada yang mencabut. Papan pengumuman tidak ada yang membersihkan, jadi langsung ditimpa, ditutup, dan ditempel dengan poster yang baru”, tuntas Kak Ibrahim sambil tersenyum kepada Rima, Astrid dan Dinta

“Ooooooo…….”, tanpa sadar Dinta bergumam, membuat kedua sahabatnya dan kakak-kakak senior yang akhwat tertawa. Dinta jadi tersipu malu. Dia jadi mengerti dan cukup puas dengan jawaban Kak Ibrahim, sebab tadi dia yang paling kaget dan heran, kenapa poster-poster mereka sampai disobek, dicoret dan ditimpa poster organisasi-organisasi lain

“Mengenai coret-coret di poster kita itu..”, Kak Ibrahim memulai lagi, “itu juga sudah biasa. Cobalah kalian  perhatikan, kampus kita ini cukup terbuka dan mudah diakses oleh orang-orang dari luar. Kadang ada orang-orang iseng, yang kalau lewat papan pengumuman sering mencoret-coret sesuka hati mereka. Saya sendiri pernah melihat langsung beberapa kali anak-anak yang lewat dan mencoret satu dua poster di papan pengumuman yang ada di  depan Fakultas kita. Waktu saya cegah, mereka cuma melihat saya dan langsung kabur”, kata Kak Ibrahim mengakhiri cerita dan penjelasannya

“Jadi.., maksud Kak Ibrahim….”, Kak Sena, kakak senior ikhwan yang satu lagi, menyambung perkataan Kak Ibrahim, “soal poster itu, bukan hal baru. Jadi bukan masalah. Don’t worry be happy, okay. La tahzan”, katanya sambil sedikit bercanda dan tertawa.

Dinta yang bengong mendengar penjelasan Kak Ibrahim dan Kak Sena jadi tertawa, kedua sahabatnya pun tertawa bersamanya.

“Oke, soal pot-pot bunga dan orang yang berteriak dan kabur tadi, nanti saya laporkan pada security  Fakultas dan juga Dosen Pembina DKM. Siapa tau beliau-beliau punya solusi”, Kak Ibrahim melanjutkan ke topik lain,”Sekarang sebaiknya akhwat pulang dulu aja. Ini udah hampir Isya. Setelah shalat jamaah Isya di musholla An-Nuur, sebaiknya langsung pulang, nanti diantar ramai-ramai ke stasiun oleh ikhwan yang juga mau pulang dan diantar security Fakultas”

“Sebaiknya kita saling menjaga, dan akhwat juga harus bisa jaga diri, jangan pulang malam dalam situasi yang sedang kurang baik seperti ini”, Kak Sena menyambung lagi perkataan Kak Ibrahim. Kak Sena adalah wakil ketua DKM dan sekaligus pembina divisi Tahfidz Al-Qur’an.

“Ya betul”, sambung Kak Ibrahim, “yuk, sekarang kita ke mushalla, biar sekretariat ini dikunci dan semua pulang”, Kak Ibrahim beranjak dari tempat duduknya

Sambil menunggu para akhwat bersiap pulang dan mengunci Sekretariat, Kak Ibrahim, Kak Sena, dan Attar, ikhwan satu lagi yang seangkatan dengan Rima, Astrid dan Dinta, ngobrol dengan teman-teman dari UKM lain yang sekretariatnya bersebelahan dengan Keputrian. Teman-teman UKM mengaku tidak melihat jelas orang yang merusak pot-pot Keputrian, sebab waktu itu masih baru selesai maghrib, masih dihitung waktu maghrib. Mereka semua ada di dalam ruang Sekretariat, karena banyak diantara mereka yang shalat di ruang Sekretariat masing-masing dan tidak ke musholla. Jadi, sama seperti akhwat, mereka tidak melihat jelas orang yang langsung kabur itu.

Kak Ibrahim dan Kak Seno mengucapkan terimakasih atas keterangan teman-teman UKM, lalu berpamitan pada teman-teman dari UKM-UKM di Student Center itu, dan kemudian mereka pulang, diikuti dengan para akhwat anggota Keputrian.

*********************************************************************

Seakan tiada habisnya, keesokan hari sewaktu Rima main ke Sekretariat Keputrian disela jeda kuliah, ia mendapat kabar yang kurang menyenangkan dari teman-temannya dan kakak-kakak seniornya, bahwa dari DKM Fakultas Hukum ingin DKM mereka, untuk mengundurkan waktu seminar. Sebabnya adalah, DKM Fakultas Hukum akan mengadakan lomba cerdas-cermat Agama Islam yang akan bekerjasama dengan Pemerintah Arab Saudi untuk kemudian akan ada olimpiade wawasan keislaman untuk pelajar SD dan SMP di lingkungan sekitar Kampus. Rencananya, DKM Fakultas Hukum akan mengundang Duta Besar Arab Saudi untuk datang ke DKM Fakultas Hukum, tapi ternyata waktunya berbarengan dengan seminar DKM Fakultas Ekonomi.

Sebenarnya, Fakultas Ekonomi, yakni DKM An-Nuur, sudah lebih dulu dalam persiapan seminar yang mengundang Menteri Agama, dan Fakultas Hukum baru mulai melakukan persiapan acara mereka beberapa hari sejak poster seminar DKM An-Nuur disebarkan. Masalahnya, cerdas- cermat wawasan Islam itu adalah acara rutin yang diadakan Fakultas Hukum setiap tahunnya. DKM Fakultas Hukum sudah empat tahun masuk ke sekolah-sekolah lingkungan sekitar kampus dan mengadakan acara tersebut. Tapi baru tahun ini, Fakultas Hukum berencana untuk tidak sekedar cerdas-cermat tapi mengadakan olimpiade dan berencana mengundang Duta Besar Arab Saudi ke acara tersebut. Karena acara yang sudah dianggap rutin itulah, DKM Fakultas Hukum merasa berhak untuk meminta DKM An-Nuur Fakultas Ekonomi, untuk mengundurkan waktu seminar mereka.

Kak Ibrahim, Ketua DKM An-Nuur, yang mengetahui bahwa persiapan seminar yang akan mereka adakan sudah lebih dulu daripada kegiatan DKM Fakultas Hukum, tentu saja menolak permintaan itu. Pada saat Rima mengikuti kuliah di kelasnya sebelum dia ke Sekretariat Keputrian, Kak Ibrahim dipanggil oleh panitia cerdas-cermat DKM Fakultas Hukum, untuk mendiskusikan hal itu di DKM Fakultas Hukum. Rima main ke Sekretariat Keputrian karena ingin bertemu dengan Dinta dan Astrid yang setiap jeda kuliah menyempatkan diri ke Sekretariat untuk menyelesaikan tugas kepanitiaan seminar. Di Keputrian, Rima mendengar berita tersebut, dan ia sempat melihat Kak Ibrahim yang sedang mengunjungi Sekretariat Keputrian, untuk memberi kabar kelanjutan mengenai orang yang menghancurkan taman dan pot Keputrian semalam sebelumnya. Kak Ibrahim juga menceritakan mengenai permintaan DKM Fakultas Hukum tersebut. Wajah Kak Ibrahim sedikit merah, mungkin karena jengkel atau karena kelelahan, yang pasti, kata Kak Sena, mereka mendapat cukup intimidasi karena hal itu.

“Intimidasi bagaimana, Kak?”, Astrid meminta penjelasan Kak Sena

“Yah, sebenarnya kami juga kaget, biasanya DKM Fakultas Hukum tidak se-ekstrim itu. Tapi tadi di Sekretariat DKM Fakultas Hukum, kami berdua dikelilingi oleh anggota DKM Fakultas Hukum yang memaksa kami untuk mengundurkan acara tersebut”, jawab kak Sena, menjelaskan kepada Astrid, dan juga akhwat-akhwat yang lain yang mendengarkan

“Lalu, apakah kita akan mengundurkan seminar?”, sela Kak Suni, yang merupakan Ketua Divisi Keputrian DKM An-Nuur

“Ya tentu saja tidak”, jawab Kak Ibrahim cepat, “kita akan terus melanjutkan persiapan seminar”, jelasnya lagi, “kalau DKM Fakultas Hukum memaksa dan memanggil kami lagi, saya akan coba konsultasikan hal ini pada Dewan Pembina”

“Ya, sepertinya itu solusi yang bagus untuk keadaan saat ini”, kata kak Suni, tampaknya ia juga terkejut dengan informasi dari Kak Ibrahim mengenai DKM Fakultas Hukum  

Kak Ibrahim dan Kak Seno kemudian kembali ke Sekretariat DKM di belakang mushalla, setelah sebelumnya memberitahu kepada akhwat di Keputrian bahwa pelaku perusakan taman masih diselidiki oleh security Fakultas.

***************************************************************

Tampaknya, ujian kesabaran untuk anggota DKM Annur, termasuk divisi Keputrian, belum berakhir, bahkan semakin parah.

Keesokan paginya, pada saat Rima di stasiun menunggu Astrid dan Dinta, ada yang menyenggolnya, hingga bukunya jatuh dan berserakan. Bukannya minta maaf, mahasiswa tersebut, malah menghardiknya, “DKM sombong!! Sok merasa benar sendiri!!”, lalu ia pun pergi dengan cuek, tanpa membantu Rima membereskan buku-bukunya yang jatuh.

Rima mencoba bersabar, sambil menunggu Astrid yang akan datang dengan kereta jadwal berikutnya, dan setelah itu mereka akan menunggu Dinta yang akan menjemput mereka di stasiun dan mereka bersama-sama naik mobil Dinta ke fakultas mereka.

Tidak lama Astrid pun datang, dan mereka segera ke tempat mereka biasa menunggu Dinta. Sambil menunggu, Astrid melihat-lihat papan pengumuman Universitas di samping halte tempat mereka menunggu. Rupanya ada poster yang baru ditempel.

“Rima, liat deh poster ini”, kat Astrid sambil menunjuk psoter yang ia baca

Rima melihat poster itu. Sebuah poster undangan kajian dari Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis Universitas Nusantara. Judulnya cukup membuat Rima takjub:

‘Kajian Kebhinekaan : Islam sebagai mayoritas, pemecah belah atau pemersatu bangsa?’, di bawahnya ada tulisan : “Menanggapi isu aliran Islam sesat dan komunitas-komunitas minoritas di Indonesia”

“Tampaknya cukup menarik”, jawab Rima datar, “kamu mau ikut?”

“Yah, kalau ada waktu dan ada teman, bisa aja, kamu mau?”, Astrid bertanya balik pada Risma, “mungkin Dinta juga tertarik”

Tidak lama kemudian, mobil Dinta datang dengan diikuti oleh bis Universitas, tidak jauh dibelakangnya. Rima dan Astrid segera bersiap, tapi tiba-tiba segerombolan mahasiswa yang sedari tadi juga menunggu di halte,  juga ikut bersiap akan naik bis dan menabrak Astrid dan Rima, tampaknya mereka sama-sama mahasiswa tingkat pertama, tapi dari fakultas lain. Salah seorang dari mereka membentak Astrid, “jalan liat-liat! Muslim sombong!!”, mahasiswa satu lagi menimpali, “Arogan!!”

Astrid dan Rima yang terkejut, tidak sempat membalas atau melakukan apapun. Mereka berdua justru bergegas ke arah mobil Dinta dan segera masuk. Sebelum masuk, mereka mendengar salah satu diantara gerombolan mahasiswa itu berteriak lagi, ”Kami juga muslim!!!”, lalu disusul oleh temannya yang lain, ”Kami mahasiswa demokratis nasionalis!!”, katanya sambil memperlihatkan lambang organisasi yang sama dengan lambang pada poster yang dibaca Astrid dan Rima di papan pengumuman tadi.

Rima dan Astrid segera menutup pintu mobil, dan Dinta yang menyadari ada hal yang tidak enak dialami kedua temannya, segera tancap gas meninggalkan halte mendahului bis yang masih menunggu mahasiswa dan mahasiswi yang akan naik. Dalam perjalanan ke fakultas, Astrid dan Rima menceritakan soal acara yang mereka lihat di poster di papan pengumuman halte tadi, dan kejadian yang mereka alami di halte. Rima juga jadi ingat dengan kejadian di stasiun sewaktu menunggu Astrid, jadi ia menceritakannya juga pada Astrid dan Dinta.

“Hmmm…bagaimana kalau kita konsultasi ke Kak Oliv atau Kak Suni, dan kita ajak sekalian kakak-kakak itu untuk datang ke acara tersebut?”, usul Dinta, “jadi kalau kita datang ke acara tersebut, kita tidak akan diintimidasi seperti tadi, karena jumlah kita cukup banyakan dan kita bersama dengan kakak-kakak yang lebih senior”

“Usul yang bagus”, kata Rima, “mahasiswa-mahasiswa tadi sepertinya masih tingkat pertama seperti kita”

“Okelah”, sahut Astrid, “nanti istirahat siang jam 12, kita sempatkan ke Sekre Keputrian sebelum shalat di mushalla”

“Oke, siapp”, dua sahabatnya menyetujui.

Mobil Dinta sampai di fakultas ekonomi, dia memarkir mobilnya dan mereka bertiga bergegas menuju ruang kelas dimana kuliah pertama mereka pagi ini berlangsung.

******************************************************************

Rima, Dinta dan Astrid tidak perlu repot-repot mencari Kak Suni dan Kak Oliv ke Sekretariat Keputrian. Di kantin, mereka bertemu dengan kedua kakak senior itu, juga Kak Lala dan Kak Reva, bahkan dengan Yani, Sita dan juga Tata dan Cika. Tata dan Cika adalah teman seangkatan mereka, anggota baru Keputrian, sama seperti mereka, hanya beda kelompok, sewaktu pertamakali mereka mengikuti pertemuan DKM di masjid Universitas.

“Rima, Dinta, Astrid, duduk sini aja!”, panggil Kak Suni, kepada ketiga gadis itu

Rima, Dinta dan Astrid segera mendekati meja teman-temannya dari Keputrian. Mereka membawa baki makanan yang mereka pesan ke meja tersebut. Teman-temannya dari Keputrian juga sedang makan siang.

“Kok tumben, kumpul-kumpul Keputrian komplit begini?”, sapa Astrid ramah, kepada teman-teman dan kakak-kakak seniornya itu

“Ga komplit amat sih, banyak yang belum kumpul, masih pada kuliah dan ada kegiatan lain”, jawab Kak Suni, sambil balas tersenyum ramah pada Astrid, “Ayo, sini duduk, kita makan bareng disini, ada hal penting yang saya mau sampaikan”, lanjut Kak Suni lagi

Rima, Dinta dan Astrid segera duduk di tempat yang disediakan untuk mereka, diantara teman-teman dan kakak-kakak seniornya

Rupanya kakak-kakak seniornya dan teman-temannya itu juga tengah menghabiskan makan siang mereka. Ada yang sudah mau habis, ada yang baru saja mulai makan. Tapi, wajah  mereka tidak tampak santai. Seperti ada ketegangan yang membayangi mereka.

“Ada apa, Kak, kok kayaknya ada sesuatu..?”, tanya Dinta

“Sesuatu banget….”, sambung Astrid

Rima dan Dinta tertawa dengan candaan Astrid, kakak-kakak senior dan teman-temannya juga ikut tertawa

“Ya emang, ada sesuatu”, jawab Kak Suni, “Tapi kalian makan dulu aja, nanti sambil kalian makan, akan saya ceritakan”

Rima, Dinta dan Astrid menuruti kata kakak seniornya itu, segera mulai menyantap makan siang mereka. Rima, seperti biasa, akan memadukan bekal yang ia bawa dari paviliunnya, yang ia masak sendiri setiap pagi, dengan lauk-pauk murah yang ia beli di kantin.

Sambil mereka makan, Kak Suni menceritakan bahwa masalah dengan DKM Fakultas Hukum belum selesai. Bahkan hari ini, mereka akan diundang untuk mengikuti pertemuan dengan Mahasiswa Demokratis Nasionalis. Perkumpulan itu mengundang DKM Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi sekalian, untuk datang dan mendiskusikan mengenai acara yang akan diadakan oleh ketiga organisasi itu. Kak Suni menambahkan, sekarang DKM Fakultas Hukum bersikap sedikit lunak, karena mereka mendapat intimidasi dari Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis. Tapi, DKM An-Nuur juga mendapatkan intimidasi serupa dari Perkumpulan tersebut. Jadi, sekarang DKM An-Nuur mendapat intimidasi, bahkan dari dua pihak, dari DKM Fakultas Hukum dan dari Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis.

Kak Suni menceritakan beberapa kejadian yang dialami Kak Lala dan Kak Reva sehubungan dengan komen-komen di sosmed pada vlog promosi event mereka dan juga sewaktu Kak Lala dan Kak Reva di kampus. Bahkan Tata dan Cika juga mendapatkan intimidasi, dan mereka mendapatkan intimidasi tidak hanya dari Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis, tapi juga dari anggota DKM Fakultas Hukum.

Setelah teman-temannya dari Keputrian menceritakan kejadian-kejadian yang menimpa teman-temannya itu, Rima dan Astrid juga menceritakan kejadian yang menimpa mereka berdua tadi pagi di halte bis kampus. Dinta menambahkan mengenai acara yang akan diadakan oleh Perkumpulan Mahasiswa Demokratis- Nasionalis, sekaligus menanyakan apakah kakak-kakak seniornya mau menghadiri kajian yang diadakan oleh Perkumpulan tersebut. Kak Suni tidak menjawab ajakan Dinta, ia malah melanjutkan perkataannya, “Hmmm…, security fakultas tadi pagi menghubungi Kak Ibrahim, dan menceritakan, kemungkinan yang merusak pot-pot dan taman Keputrian adalah anggota Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis. Tapi security belum bisa memastikan”, jelas Kak Suni, “Dan hari ini, Perkumpulan itu mengundang DKM An-Nuur untuk datang menemui mereka di Sekretariat mereka, bersama dengan Fakultas Hukum”,

“Tapi mereka meminta dengan intimidasi kepada Kak Ibrahim dan Kak Sena”, Cika menambahkan cerita Kak Suni

“Kak Sena dan Kak Ibrahim mau menghadiri pertemuan itu bukan karena diintimidasi. Tapi karena ingin memastikan informasi dari security fakultas”, Yani menimpali

“Kak Sena bilang, mereka juga ingin tahu, apa mau sebenarnya dari organisasi tersebut,…dan juga bagaimana kelanjutannya dengan DKM Fakultas Hukum”, Sita tidak mau kalah, ikut menambahkan juga

“Nah, Kak Ibrahim dan Kak Sena, mengajak kita, anggota Keputrian, untuk ikut dalam pertemuan itu, nanti sore, setelah ashar, kira-kira jam 4, setelah kuliah selesai”, Kak Suni menjelaskan lagi, kembali pada duduk perkara

“Kalian yang semester pertama, jam 4 nanti udah pada selesai kuliah, kan?”, katanya, sambil memandang adik-adik juniornya itu, “Kalau kami yang semester tiga keatas, sih, jam 4 udah pada nggak ada kuliah hari ini”, lanjutnya, yang diikuti anggukan setuju dari kakak-kakak lainnya. Adik-adik juniornya itu langsung menjawab masing-masing, hampir berbarengan bahwa hari ini, mereka juga tidak ada kuliah setelah jam 4 sore.

Kak Suni kemudian membuat kesepakatan, mereka untuk setelah kuliah pada jam 4 nanti, bertemu di mushalla, supaya bisa langsung bergabung dengan ikhwan, untuk bersama-sama menghadiri undangan pertemuan Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis di sekretariat perkumpulan itu.

Semua menyetujui usulan Kak Suni itu, lalu mereka melanjutkan menghabiskan santap siang mereka sambil mengalihkan ke obrolan lain yang lebih ringan, untuk mengurangi ketegangan yang mereka rasakan, akibat tekanan dari pihak luar yang mereka dapatkan akhir-akhir ini. Rima, Astrid, dan Cika bahkan sempat membanyol agar mereka bisa bercanda dan tertawa, untuk menghidupkan suasana. Kakak-kakak senior mereka ikut tertawa, dan ketegangan yang mereka rasakan menjadi sedikit berkurang.

************************************************************

Setelah kuliah terakhir hari itu selesai, Rima, Dinta dan Astrid segera ke mushalla dan melaksanakan shalat Ashar. Disana sudah ada teman-teman dan kakak-kakak seniornya yang tadi makan siang bersama dengan mereka. Kak Ibrahim, Kak Sena dan kakak-kakak ikhwan yang lain juga sudah berkumpul. Tanpa berlama-lama, mereka segera pergi ke Sekretariat Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis dengan berjalan kaki.

Sesampainya di Sekretariat Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis, tampak anggota perkumpulan itu sudah siap mengadakan diskusi. Selain itu, ada juga anggota DKM Fakultas Hukum yang menghadiri pertemuan itu. Tapi tidak tampak atmosfer bersahabat diantara keduanya. Malah, tampak Ketua kedua organisasi tersebut sedang bersitegang. Kak Ibrahim dan anggota DKM An-Nuur yang baru datang segera menyadari hal itu dan duduk di tempat yang telah disediakan.

Para anggota DKM Fakultas Hukum dan anggota Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis tidak terlalu memperdulikan Kak Ibrahim dan anggota DKM An-Nuur yang lain, karena rupanya mereka sedang terlibat debat panas diantara kedua kubu. Perdebatan itu kemudian dipotong oleh Ketua Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis selaku yang mengadakan acara,

“Oke, kita stop dulu debatnya. Ini dari DKM Fakultas Ekonomi udah pada datang. Ayo, sekarang kita mulai pertemuan hari ini”, katanya memulai, sambil memberi anggukan kepada salah satu temannya, yang oleh temannya itu, segera dilanjutkan

“Baiklah teman-teman, segera kita mulai aja acara hari ini. Saya, Aslam, selaku moderator dalam pertemuan ini. Maksud diadakan pertemuan ini adalah untuk menggali tema mengani acara yang akan diadakan ketiga organisasi dan diakhiri dengan kesepakatan mengenai jadi tidaknya dan waktu pelaksanaan masing-masing acara dari setiap organisasi yang ada disini”, dia memaparkan sambil memandang pada Kak Ibrahim, dan ikhwan dari DKM Fakultas Hukum. Tampaknya ikhwan itu adalah ketua DKM Fakultas Hukum.

“Baiklah”, lanjutnya, “untuk selanjutnya, saya serahkan pada Bang Jumadi, selaku Ketua Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis”, dia lalu menyerahkan mic kepada seorang mahasiswa yang bernama Jumadi.

“Oke, langsung saja ya, karena hari sudah sore, supaya selesainya tidak terlalu malam”, Jumadi memulai, “sebelumnya, perlu diketahui oleh para tamu undangan, DKM Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi, yang hadir disini sekarang, semuanya yang hadir disini saat ini, tidak semua anggota Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis, tapi hanya yang muslim saja”, Jumadi menyebarkan pandangan pada setiap orang yang hadir di ruangan itu, “ini sengaja, karena memang agenda kami hari ini untuk meminta kejelasan dari kedua DKM, terkait dengan isu yang sedang berkembang, baik di tingkat Nasional maupun di kampus kita ini”

“Singkat saja, Bang”, potong Aslam, dengan suara pelan

“Baik”, Jumadi melanjutkan sambil mengangguk ke arah Aslam, “menurut kami, sebaiknya kedua DKM batalkan saja acara yang akan diadakan, sebab situasi sedang tidak kondusif”, Jumadi langsung to the point, “yang paling cocok dengan situasi sekarang itu kajian yang akan kami adakan. Ini untuk kebaikan anggota DKM-DKM juga. Kalian kan tahu, kemarin Masjid Universitas diserang rombongan preman dari luar kampus”

“TIDAK BISA BEGITU!!”, tiba-tiba ikhwan DKM Fakultas Ekonomi memotong perkataan Jumadi, “Anda dan organisasi Anda tidak bisa memutuskan sepihak seperti itu!”

“Ya, makanya itu Bang Hasan, kami mengundang Abang dan rekan DKM lain untuk datang di pertemuan ini”, jawab Aslam, yang diikuti tertawaan cemooh dari teman-teman seperkumpulannya, menertawakan Hasan, yang rupanya adalah ketua DKM Fakultas Ekonomi.

“Kami kan disini undang rekan DKM, agar keputusan kami bisa disepakati, bahwa acara rekan-rekan DKM tidak perlu diadakan”, sambung Aslam lagi

“Ya, tapi kalian sudah bikin agenda untuk pembatalan acara kami dalam pertemuan ini. Itu sama saja sepihak”, sahut Hasan

“Bagaimana sih, Abang ini, kalau tidak setuju, mari kita bicarakan baik-baik”, Aslam menjawab sahutan Hasan dengan sinis

“Kepala dingin, Bang..”, salah satu anggota Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis nyeletuk

“Arogan tuh, kayak begitu”, anggota perkumpulan yang lain ikut nyeletuk

 

Anggota DKM An-Nuur dan Kak Ibrahim masih diam dan belum menaggapi situasi itu. Rupanya Kak Ibrahim dan Kak Sena bersikap bijak untuk mengamati dulu dan tidak ikut larut dalam suasana panas yang sepertinya sudah dimulai sebelum kedatangan mereka.

Hasan, ketua DKM Fakultas Hukum, dengan wajah memerah karena kesal, menyahut lagi, “Ya, saya selaku Ketua, mewakili DKM Fakultas Hukum, tidak setuju kami diminta untuk membatalkan acara olimpiade PAI”

Jumadi, Ketua Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis menjawab cepat, “Apa kalian selaku anggota DKM, bahkan ada yang pernah jadi santri di pesantren sebelum jadi mahasiswa, sudah biasa arogan begitu???!!”, jawabnya sambil memperlihatkan ekspresi bertanya dengan senyum lebar dan sangsi, dia melanjutkan lagi,

“Kalian selalu seenaknya mengadakan acara, setelah menghina orang-orang yang kalian anggap minoritas. Apa di DKM juga biasa diajarkan begitu, membongkar dan membakar properti milik pihak lain seenaknya??!!”, cecarnya dengan suara yang cukup keras didengar sampai keluar ruangan

“Apa urusannya dengan kami!!”, Hasan menjawab cepat, “Kami kesini untuk urusan kami dengan DKM kami, bukan dengan isu yang berkembang diluar kampus!”

“YA!!”, Jumadi menyahut cepat, “Tapi Anda muslim, saya muslim, kita semua muslim disini”, dia menatap Hasan tajam, “dan kita adalah bagian dari muslim di negara ini”, lanjutnya, “APA TIDAK MALU KITA DI CAP ANARKIS AROGAN DAN BAHKAN TERORIS??!!”, Jumadi menaikkan volume suaranya, sehingga sangat lantang dan menggelegar di ruangan itu, seorang aktivis Perkumpulan menyahut,

“Kita muslim, tapi kita dianggap muslim nyebelin, rempong, tamak, arogan dan sok!”

seorang aktivis Perkumpulan perempuan menyahut, “Yang cewek cuma penampilan aja berhijab, tapi akhlaqnya nggak ada! Julit, sok, rempong dan suka ikut campur urusan orang!”

Jumadi mengulangi lagi, “APA KITA TIDAK MALU DI CAP NGGAK ADA AKHLAQNYA SEMACAM ITU????!!!”

“Lalu kalian tidak perduli dengan keadaan diluar kampus???!!”, sahut anggota perkumpulan lain

“Muslim macam apa kaliaaan..!!!”, sahut aktivis perkumpulan lainnya, yang diikuti tertawaan dari semua aktivis Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis.

Rima, Dinta dan Astrid diam dan sedikit bengong dengan debat panas kedua organisasi mahasiswa tersebut. Kak Ibrahim tiba-tiba angkat bicara,

“Sebaiknya kita bicarakan semua masalah ini baik-baik dengan kepala dan hati yang dingin, bukan dengan debat dan saling berteriak seperti ini”

“YA BETUL!!”, Jumadi dengan cepat menyahut, “Anda dari Fakultas Ekonomi yang akan mengundang Menteri Agama, sebaiknya batalkan saja”, lanjutnya dengan semangat berapi-api, “ganti acara kalian dengan pertemuan internal kepada Menteri untuk membubarkan ormas-ormas Islam anarkis!!!”, lanjutnya lagi dengan ekspresi sangar dan menuding wajah Kak Ibrahim

“Ya, itu bisa kami agendakan”, jawab Kak Ibrahim tenang, “Kami memang ada pertemuan dengan Pak Menteri sebelum acara seminar yang akan kami adakan”

“Batalkan!!” sentak Jumadi, dan diikuti oleh teman-temannya, anggota perkumpulan yang lain, “batalkan..,batalkan…Batalkan…BATALKAN…!!!”, suara mereka semakin keras menggema

Beberapa dari mereka mulai bertepuk tangan sambil terus berteriak, “Batalkan!”, pada setiap anggota kedua DKM yang hadir. Suasana menjadi semakin panas.

“ADA APA INI???!”, tiba-tiba semua dikejutkan oleh suara yang tak kalah lantang dengan suara Jumadi. Semua menengok ke arah suara itu di pintu masuk ruangan.

Rupanya security Universitas. Dia segera masuk, dan menghampiri Jumadi

“Bang Jumadi, Anda dipanggil PR 3”, kata security itu

“Baik”, Jumadi menjawab dengan wajah jengkel kepada security yang datang itu, “tapi saya tidak mau datang sendiri. Saya akan membawa beberapa kawan”, dia berusaha menawar permintaan security tersebut, “dan juga saya mau para ketua DKM yang hadir hari ini juga ikut dipanggil, atau ikut saya menghadap PR 3” katanya sambil memandang Kak Ibrahim dan Hasan dengan galak

“Terserah Abang aja”, sahut security itu, “saya cuma jalanin tugas”

“Kapan dipanggilnya?”, tanya Jumadi

“Sekarang Bang”, jawab security, “pertemuan ini harus diakhiri sekarang. Ayo semua beres-beres dan pulang. Yang dipanggil saja yang ikut saya”

“Ibrahim, Hasan, jangan pulang. Harus ikut!”, sela Jumadi

Kak Ibrahim menjawab cepat, “Baik, tidak masalah”

Melihat ketenangan Kak Ibrahim, Hasan pun tidak jadi pulang, “Baik, saya akan ikut dan mengajak dua anggota DKM lainnya”

“Terserah!”, jawab Jumadi lugas, pada ketua kedua DKM tersebut, “yang penting tanggungjawab bersama atas acara ini”

Rima, Dinta dan Astrid memandang Jumadi dengan jengkel,

“Gimana siih..”, bisik Rima, “yang adain kan mereka, kok tanggungjawabnya bareng”, bisikannnya cukup pelan sehingga hanya didengar oleh teman-temannya yang bersebelahan dengannya

“Iya”, Astrid menyetujui, “Eh Rima, lihat itu dua cowok yang duduk mojok bersandar di tembok”, Astrid diam-diam menunjuk pada dua orang cowok yang sedari tadi duduk di bagian yang lumayan gelap di ruangan itu, “Itu kan yang kemarin di halte”

“Iya, mereka yang dorong-dorong kita”, Rima jadi kaget, dia juga melihat orang yang menyenggolnya hingga buku-bukunya jatuh berantakan

Kak Ibrahim melihat kepada para anggota DKM dan Keputrian yang ikut dengannya menghadiri pertemuan ini,

“Yang ikut dengan saya ke tempat Pak Purek 3 cuma Sena, Tata dan Arif, ya”, katanya memberi instruksi, “Mbak Suni juga, selaku ketua Keputrian”, tambahnya, melihat ke arah Kak Suni, lalu katanya lagi, “yang lain silakan pulang sekarang, sebelum maghrib. Nanti akan kami kabari mengenai hasil pertemuan”, pungkasnya menutup instruksinya agar semua anggota DKM, terutama yang masih junior dan baru agar cepat pulang.

Rima, Dinta dan Astrid segera beranjak dari tempat itu. Dinta mengajak kedua kawannya untuk segera ke mobilnya, dan ia akan mengantar mereka ke stasiun. Rima dan Astrid menyetujui, dan mereka pun pulang dengan perasaan yang masih tegang akibat pertemuan hari itu.

******************************************************

Keesokan harinya, sebenarnya Rima, Dinta dan Astrid sudah tidak sabar untuk pergi ke Sekretariat Keputrian, untuk mengetahui hasil pertemuan kakak-kakak senior DKM dengan Purek 3, tapi Tata, teman seangkatan mereka yang juga aktivis DKM, mencolek Dinta, dan memberitahu Dinta, Rima dan Astrid,

“nanti kita shalat dzuhur berjamaah setelah makan siang di mushalla, ya”, bisiknya, karena dosen sedang mengajar, “Kak Ibrahim setelah shalat dzuhur, akan memutarkan video pertemuan dengan Bapak Purek 3 kemarin”

“Wah, kebetulan, kita emang tadinya mau ke Keputrian untuk menanyakan hal itu”, jawab Dinta

“Emangnya ada makan siang bareng juga?”, tanya Rima

“Iya”, bisik Tata, “dikirim dari Pak Menteri Agama buat DKM An-Nuur”, bisik Tata, sambil melirik ke arah dosen yang sedang menulis di papan tulis

“Wah, asik dong, jadi gak perlu beli makan di kantin”, jawab Rima senang, sebab ini berarti dia bisa menghemat uangnya

“Kita makan siang bareng, sekalian shalat jama’ah di mushalla”, kata Tata, mengakhiri bisik-bisiknya, berhubung dosen sudah melirik ke arahnya

“Oke, ntar bareng aja”, sahut Astrid, lalu dengan cepat kembali melihat ke depan, ke arah dosen yang sedang mengajar.

Rima dan Dinta ikut mengangguk ke arah Tata, lalu mereka pun kembali mengikuti perkuliahan dengan serius.

Rima, Dinta dan Astrid paham, Menteri Agama adalah alumni Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara, dan sering memberikan perhatian khusus terhadap Fakultas Ekonomi, baik berupa sumbangan, ataupun hal lainnya.

*****************************************************************

Berhubung kuliah berikutnya, sekaligus kuliah terakhir hari itu dimulai pada jam 2 siang, Rima, Astrid dan Dinta jadi punya waktu dua jam, dari jam 12 waktu istirahat makan siang, untuk mengikuti acara makan siang bersama, shalat berjamaah dan nonton video dengan DKM An-Nuur.

Segera setelah kuliah selesai pada jam 12, mereka bertiga dengan Tata juga, pergi ke mushalla untuk mengikuti acara tersebut. Di mushalla, mereka sudah melihat Yani, Sita, dan teman-teman lain, Cika dan Tita juga ada, sedang bersiap-siap untuk shalat dzuhur. Mereka bertiga pun bergegas mempersiapkan diri untuk shalat berjamaah.

Selepas shalat berjamaah, sambil menikmati nasi kotak makan siang mereka dari Pak Menteri, anggota DKM An-Nuur mulai menyimak video hasil pertemuan Ketua dan Wakil DKM An-Nuur, Kak Ibrahim dan Kak Sena, dengan Bapak Purek 3. Diluar dugaan, ternyata di ruangan Purek 3 juga telah hadir Menteri Agama. Kata kak Suni, Pak Menteri kemarin hadir di ruangan Purek 3, setelah berdiskusi dengan Pak Rektor mengenai beberapa masalah- masalah kampus, Pak Menteri masih sering memberikan perhatian kepada almamaternya. Termasuk juga masalah preman yang masuk dan membuat kerusuhan di masjid, karena isu nasional yang sedang panas-panasnya. Kebetulan, Pak Menteri sebenarnya akan mampir ke Fakultas Ekonomi untuk membahas mengenai seminar yang akan ia hadiri. Tetapi baik Dewan Pembina DKM dan Pak Menteri tidak bisa berkomunikasi dengan para aktivis DKM untuk mengkonfirmasi kedatangannya, karena ternyata para aktivis DKM An-Nuur sedang ada pertemuan dengan DKM Fakultas Hukum dan Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis. Sewaktu security diminta untuk mencari keberadaan para aktivis DKM dan bermaksud menyampaikan pesan Pak Menteri, malah didapatinya anggota DKM sedang bersitegang dengan anggota Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis. Maka hal itu ia laporkan kepada Pak Menteri, dan Pak Menteri meminta para mahasiswa yang sedang bersitegang itu untuk datang saja ke gedung rektorat, untuk bertemu dengan dirinya dan juga Purek 3, yang bertanggungjawab masalah kemahasiswaan.

Di ruang Purek 3, para mahasiswa disambut dengan baik oleh Purek 3, beberapa Dekan dari berbagai Fakultas dan tentu saja, Pak Menteri Agama. Pak Rektor sendiri tidak hadir, karena pertemuannya dengan Pak Menteri sudah selesai. Sedangkan pertemuan ini hanyalah inisiatif Pak Menteri, sehubungan dengan kerusuhan yang terjadi di parkiran masjid yang melibatkan preman dan mahasiswa. Ia merasa bahwa ia juga perlu mengadakan pertemuan dengan para mahasiswa. Disana juga sudah hadir para aktivis masjid Universitas dan Dewan Pembina masjid universitas.

Setelah Purek 3 menjelaskan pada semua yang hadir, bahwa situasi kerusuhan telah ditangani dengan baik, bahwa preman-preman yang membuat kerusuhan itu juga sudah ditahan di Kepolisian, jadi tidak akan ada kerusuhan lagi di dalam kampus. Pada sesi tanya jawab, Pak Menteri bertanya pada para aktivis perkumpulan dan DKM, kenapa mereka sampai bersitegang. Padahal mereka masih mahasiswa dari satu Universitas yang sama. Jumadi langsung angkat bicara bahwa perkumpulannya akan mengadakan kajian yang berkaitan dengan isu nasional yang sedang memanas. Menurutnya, seminar DKM Fakultas Ekonomi dan olimpiade PAI yang diadakan Fakultas Hukum tidak perlu diselenggarakan, karena acara tersebut tidak memberikan solusi terhadap masalah-masalah aktual yang terjadi pada umat dan negara.

“Saya juga muslim, Pak”, jelas Jumadi, “dan saya malu melihat ulah sebagian muslim yang arogan, seenaknya melakukan perusakan dan pembakaran”

“Ya, kamu betul”, jawab Pak Menteri

“Apakah kita ini sebagai muslim, dengan ajaran Nabi yang mulia, malah bangga menunjukkan perilaku buruk, terutama pada kaum minoritas??”, lanjut Jumadi, “Dan, dengan segala hormat Pak Mentri, kita ini di cap teroris dan agama penuh kekerasan, lho!!”, sambungnya sambil melihat ke arah kawan-kawan mahasiswa

“Jangan kamu kira, kami tidak paham soal isu itu, Jumadi”, sela Hasan, ketua DKM Fakultas Hukum, “kami sangat paham dengan cap teroris dan agama kekerasan itu. Bahkan kami paham dengan soal islamophobia di luar negeri”

“Ya, tapi kenapa kalian malah seperti tidak perduli dengan apa yang terjadi di tengah masyarakat dan sibuk mengadakan acara sendiri?!”, sahut Jumadi cepat

“Lho, dengan kita mengadakan cerdas cermat dan masuk ke lingkungan di sekitar kampus, apa itu namanya bukan kami tidak perduli?!”, Hasan menjawab cepat

“Sudah!!”, Pak Purek 3 menengahi perdebatan Hasan dan Jumadi

“Jumadi, kamu benar”, kata Purek 3, “tapi kamu Hasan, kegiatan kamu juga bagus. Olimpiade PAI yang akan kamu akan adakan itu ide yang bagus”

Pak Menteri memotong kalimat Purek 3, “Coba, masing-masing ketua organisasi, ceritakan pada saya, acara apa saja yang kalian akan adakan, dan dimana titik masalah kalian sampai terjadi ketegangan semacam ini”, Pak Menteri melihat kepada Kak Ibrahim yang cukup ia kenal, “dimulai dari kamu, Ibrahim, lalu dilanjutkan dengan, siapa tadi, oh iya..Jumadi dan Hasan”

Kak Ibrahim langsung mengambil alih, sebelum kedua orang ketua organisasi, Hasan dan Jumadi, mulai perdebatan lagi. Ia melirik ke arah Jumadi dan Hasan, lalu mulai menjelaskan acara yang akan diadakan DKM An-Nuur dan masalah lain yang mereka hadapi, seperti desakan pengunduran waktu seminar, masalah intimidasi yang dialami para anggota DKM An-Nuur, samua masalah sampai pertemuan hari itu. Kak Ibrahim juga menceritakan soal perusakan taman di depan Sekretariat Keputrian di Student Center, tidak lama setelah kerusuhan di masjid.

Dekan Fakultas Ekonomi lalu angkat bicara, bahwa pelaku perusakan telah diketahui oleh security, ternyata adalah preman yang melintas dan akan keluar kampus. Kebetulan ia melihat papan nama Keputrian DKM An-Nuur, jadi ia menendang pot-pot di depan Sekretariat Keputrian dan taman di Student Center, sambil melintas pergi menuju keluar kampus. Dan, seperti keterangan Purek 3, preman-preman yang melakukan kerusuhan itu sudah ditangkap dan diserahkan ke kepolisian. Jadi sekarang suasana sudah aman.

Rima, Dinta dan Astrid yang menyimak video itu, bernafas lega dengan keterangan Dekan mengenai pelaku perusakan taman yang sudah ketahuan dan ditahan di Kepolisian. Mereka melanjutkan menyimak video, ketika Dekan Fakultas Ekonomi sudah selesai memberi keterangan dan Jumadi mulai menjelaskan kajian yang akan diadakan perkumpulannya. Setelah Jumadi selesai, Hasan pun ikut menjelaskan mengenai olimpiade PAI yang akan mengundang Duta Besar dari Arab Saudi.

Setelah semua selesai memberi penjelasan, Pak Mentri mulai memberi petuah,

“Semua acara yang kalian adakan sangat bagus. Semua bisa menjadi solusi dan jembatan untuk mempersatukan, tidak hanya umat, tapi juga mahasiswa dan masyarakat di sekitarnya”, Pak Mentri memulai petuahnya, “acara yang diadakan perkumpulan Jumadi bagus. Ini untuk memberikan pemahaman, bahwa sebagai mayoritas, bukan berarti kita, muslim, bisa sok berkuasa dan seenaknya sendiri”, Pak Menteri memandang Jumadi sambil tersenyum, lalu beliau memandang Hasan, “secara konkrit, tidak bersikap seenaknya, mungkin dengan melakukan pemberdayaan masyarakat, seperti acara yang rutin dilakukan oleh Hasan dan kawan-kawan. Dan olimpiade yang akan dimulai tahun ini, akan meningkatkan gairah para pelajar disekitar kampus untuk meningkatkan pengetahuan agama”, Pak Menteri juga tersenyum kepada Hasan, beliau kemudian memandang Kak Ibrahim, “dan semua itu, agar agama kita itu tidak seperti menara gading, hanya ilmu yang sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, Ibrahim dan teman-teman DKM An-Nuur dengan seminarnya akan berusaha memahamkan para mahasiswa dan masyarakat mengenai hal itu”, Pak Menteri tersenyum pada ketiganya, “sebenarnya acara kalian ada benang merahnya” katanya masih sambil tersenyum

Pak Menteri diam sejenak sebelum melanjutkan, “kalian kan mahasiswa, yang disebut agent of change atau agen perubahan. Beberapa kali negara kita ini terjadi perubahan karena mahasiswa. Masak kalian malah saling bersitegang?”, beliau menatap Jumadi, Hasan dan Ibrahim dengan tersenyum bijak, “apalagi kalian sesama muslim. Bukankah dalam Surat Al-Hujurat ayat 10, Allah berfirman, bahwa orang-orang muslim itu bersaudara?”, kali ini Pak Menteri juga tersenyum pada Purek 3 dan para Dekan yang hadir.

Beliau masih meneruskan wejangannya, “Rasulullah Shallallahu Alayhi Wassalaam bersabda, Janganlah kalian saling membenci, saling hasud, saling menggangu, mencari aib, berprasangka buruk dan saling menjatuhkan. Janganlah kalian saling memutuskan tali persaudaraan. Tapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara”

Beliau memberikan wejangannya yang terakhir, “janganlah kalian suka membanggakan diri dan mengolok-olok. Janganlah kalian saling mendengki dan sombong. Orang Islam adalah saudara bagi orang Islam yang lain, tidak boleh saling menganiaya, membiarkan, mendustakan, dan saling menghina. Takwa itu disini”,  Pak Menteri menunjuk dadanya tiga kali sebagaimana di dalam hadits, kemudian melanjutkan, “Setiap orang Islam terhadap orang Islam yang lain adalah haram darah, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh, rupa, harta, kedudukan dan amal-amal perbuatanmu. Tapi Allah memandang kepada hatimu”, Pak Menteri mengakhiri hadits yang dibacakannya dan kemudian memanggil Jumadi, Hasan dan Ibrahim, “Jumadi, Hasan dan Ibrahim, ayo maju sini ke dekat saya dan saling bersalaman untuk bermaafan”

Hasan, Jumadi dan tak ketinggalan Kak Ibrahim maju ke dekat Pak Manteri. Pak Purek 3 menambahkan kepada mahasiswa lain yang hadir, “Ayo, para anggota organisasi yang lain, mengikuti para ketuanya, ayo, saling bersalaman”, Pak Menteri dan para Dekan tersenyum, sementara para mahasiswa mulai bangkit dan saling bersalaman. Terlihat di dalam video, Kak Ibrahim, Hasan dan Jumadi saling bersalaman di depan Pak Menteri dan juga bersalaman dengan Pak Menteri. Video itu diakhiri dengan usulan Pak Menteri agar mereka mengadakan acara gabungan tiga organisasi, DKM Fakultas Hukum dan Ekonomi dengan Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis dengan memadukan ketiga tema acara mereka yang saling berhubungan. Tema ini bisa menjawab isu yang sedang hangat terjadi. Pak Menteri mengusulkan untuk diadakan panitia gabungan ketiga organisasi untuk acara gabungan tersebut.

Setelah mengusulkan acara itu, Pak Menteri mengakhiri pertemuan dan pulang dengan diikuti oleh ajudan dan para asisten dan sekretarisnya. Video itu pun selesai. Kak Ibrahim langsung mengambil alih forum, setelah video dimatikan oleh Tata,

“Nah, jadi, sekarang ada sedikit perubahan untuk acara seminar. Tapi waktunya tetap sama, hanya lebih panjang, dari satu hari seminar kita, menjadi tiga hari, dengan DKM Fakultas Ekonomi dan Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis”, ia mulai memberi keterangan. “Panitia dari DKM ini tidak akan berubah, hanya kita akan ada rapat gabungan dengan kedua organisasi tersebut, setiap hari Minggu setelah kajian di Universitas”, lanjutnya, “paling yang dirubah cuma publikasi aja. Poster dan lain-lain dirubah, termasuk juga yang di media sosial. Dan seksi publikasi juga harus berkoordinasi dengan seksi publikasi Fakultas Hukum dan Perkumpulan MDN, yaa, ketua seksi publikasi bisa hubungi saya untuk nomor kontak panitia dari dua organisasi itu” jelasnya, panjang lebar

Astrid tiba-tiba mengangkat tangannya, yang langsung ditanggapi Kak Ibrahim, kalau mau bertanya, “Kak”, kata Astrid, “jadiii…, apakah itu berarti kerjaan seksi publikasi dan dokumentasi bertambah?”, tanyanya dengan wajah polos

“Ya…kira-kira…bisa dibilang begitu”, jawab Kak Ibrahim

“Ey, masya Allah……!Oh My God..!”, Astrid langsung menepok jidatnya

Rima dan Dinta cekikikan, Kak Ibrahim pun sampai tertawa melihat kepolosan Astrid dengan tugas kepanitiaannya yang bertambah.

Acara hari itu diakhiri dengan petuah dari Dewan Pembina DKM sebelum akhirnya mereka bubar dan mengikuti perkuliahan selanjutnya.

***********************************************************

Seminggu telah berlalu sejak acara gabungan dengan DKM Fakultas Hukum dan Perkumpulan Mahasiswa Demokratis Nasionalis diadakan. Acara itu sukses luar biasa. Pesertanya membludak. Selain mahasiswa, ternyata banyak masyarakat umum, dan bahkan aktivis LSM yang menjadi peserta. Acara olimpiade PAI meluas, tidak hanya di sekolah-sekolah sekitar kampus, tapi hampir di seluruh kota, ingin mengikuti olimpiade itu. Bapak Purek 3 mengucapkan selamat kepada ketiga ketua organisasi atas suksesnya acara yang didakan oleh organisasi yang mereka pimpin.

Malam itu, sepulang dari kampus dan membereskan pekerjaan kantor, sebelum tidur, Rima mengirimkan pesan melalui ponsel kepada Ibunya:

Assalamualaikum, Bu, gimana kabar hari ini, kok tumben tidak telfon atau kirim inbox ke Rima? Kalau Rima, hari ini seperti biasa, sibuk di kantor dan di kampus. Sepertinya bulan depan ada long weekend. Rima mau pulang. Kangen dengan Ibu, Ayah dan adik-adik. Sudah ya Bu, Rima mau tidur, capek, sudah malam, besok Rima kuliah pagi. Wassalamualaikum.

 

Rima kemudian tidur, membawa semua kelelahan dan sekaligus syukurnya, atas semua masalah yang berhasil ia atasi satu persatu, juga atas segala masalah yang berhasil dilalui oleh Keputrian DKM An-Nuur. Rima pun bersyukur, acara yang mereka persiapkan akhirnya bisa berjalan lancar bahkan sukses besar. Alhamdulillah, kata terakhir Rima, sebelum ia jatuh tertidur lelap.

***************************************************************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab VII- Astrid Berhijab! (Bagian 2)

  “ Well, kalau Astrid berdialektika karena kecintaannya dengan alam, maka aku berdialektika karena..hmm..apa..ya, namanya, budaya, mungkin,...